
 
 
Di dalam
lelapnya tidur membuat Gaara tak sadar telah memeluk Vely dengan begitu hangat.
Tubuh
mungilnya hampir tenggelam di buatnya, rasanya sesak membuat Vely berkali-kali
harus adu tenaga dengan tuan muda Gaara.
Matanya yang
sudah sangat mengantuk mau tak mau harus beradu dengan tangan kekar sang suami
yang berada di atas perutnya.
Sesak
sekali, kenapa dia malah memeluk ku?
Dengan
perlahan Vely memindahkan tangan tersebut, namun dalam hitungan detik Gaara
kembali memeluknya.
"Tuan.."
seru Vely dengan suaranya yang sedikit parau, masih berusaha melepaskan diri
namun Gaara tak terbangun juga.
aaaaah ya
ampun, sudahlah.. pasrah saja.
Vely menatap
langit kamar hotel presidential itu, lalu menghembuskan nafas beratnya,
berharap pagi segera datang.
......
Pagi pun
menyapa di ufuk timur matahari terang sudah menampakan sinarnya, Gaara
terbangun mencoba untuk memeluk sesuatu di dalam baringnya, mungkin mencari
guling.. tapi inikan hotel mana mungkin mereka menyediakannya.
Kemana dia? Menatap jam dinding baru jam 6.30
pagi, Gaara mengusap wajah nya kemudian mendengar suara gemericik air dari
dalam bath room.
Gaara merasa
tidak enak badan, dia menaruh bantal dengan posisi berdiri lalu dia pun duduk
dengan menyandarkan punggungnya di bantal itu.
Klek!
Vely baru
saja selesai mandi, tubuh mungilnya itu tertutup kimono sepanjang lutut.
__ADS_1
"Selamat
pagi tuan.." Kenapa dia terlihat pucat ya?
"Hm,
pagi.." menjawab tanpa menoleh.
"Tuan
membutuhkan sesuatu?" Gaara menggeleng, "Tuan ingin minum?"
Lama
menjawab, "Kopi.."
"Baiklah,
akan saya buatkan.."
Segera Vely
mengeluarkan gelas dari dalam lemari kecil, lalu memasak air di teko listrik
yang memang sudah di sediakan di dalam kamarnya.
Membuka laci
untuk membuka cappucino sachet, setelah air mendidih Vely langsung
menyeduhkannya di dalam gelas cangkir kecil.
"Ini
tuan kopinya.."
Gaara hanya
diam saja tak menjawab melainkan meliriknya dengan ekor matanya yang dingin.
ini kenapa sih? Malah melihatku seperti itu..
Langsung
saja Vely meletakan kopinya di atas meja yang bersebelahan dengan sisi ranjang
yang di tempati Gaara.
Bermaksud
untuk pergi namun tangan Gaara lebih cepat mencengkramnya, menarik wanita itu
hingga terjerembab bersama dengan si tuan muda Sagaara.
Tubuh mungil
Vely berada diatas tubuh kekar Gaara, bahkan wajahnya saja sudah merona merah.
"Tu- tuan?"
Gaara
memejamkan matanya entah mengapa tapi sepertinya dia sedang mencoba merasai
denyut jantung mereka yang berdetak seirama.
"Tuan?"
Lalu Gaara
membuka kedua matanya, dengan dingin dia berkata "Menyingkir!"
Apa, dia ini
__ADS_1
kenapa sih? Mendadak baik, mendadak dingin..
"Kenapa?"
ketus Gaara.
"Em..
ti- tida apa-apa tua, maaf.."
Buru-buru
Vely beranjak dan segera melangkah menuju lemari untuk memakai baju.
***
Langit cerah
menemani perjalanan pulang sepasang suami istri menuju bandara internasional
kota Liu-Liu.
Mobil yang
dilajukan dengan kecepatan sedang, Vely mengedarkan pandangan matanya menatap
satu persatu bangunan megah dan pencakar langit yang mereka lewati.
"Kenapa
kau melihatnya seperti itu, kau tidak rela jika bulan madu kita berakhir?"
Sok tahu! Lalu Vely menggeleng, "Tidak
tuan.. hanya kebetulan saja.."
"Hm.."
Gaara meremas rambut sang istri, "Dengarkan aku baik-baik upik abu, jangan
katakan apapun tentang hal yang tak menyenangkan kepada orangtua ku!"
menyeringai, "Camkan itu baik-baik."
"Saya
mengerti tuan.."
***
Jet pribadi
sudah menunggu di hanggar, dengan langkah beriringan mereka pun memasuki jet.
Akhirnya
bisa pulang juga.. Vely bernafas
lega saat sudah duduk di kursi kabin, memperhatikan pramugari menjalankan
tugasnya.
Butiran air
yang tak jatuh itu berubah bentuk menjadi kumulan awan yang beterbangan mencoba
untuk menyesapi badan jet.
Cahaya indah
di pagi hari dengan pemandangan elok yang di suguhkan dari perjalanan udara.
__ADS_1
ngantuk
aaaaa😖😖😖😖