
"Kau yakin tidak mau ku bawa ke rumah sakit?"
"Tidak, tidak, aku baik-baik saja sayang.. percayalah.."
Sagaara memberinya sapu tangan yang baru saja di ambil dari dalam mobil, lalu mengusap bibir Vely.
"Kenapa bisa mual seperti ini? Aku sangat khawatir sayang.."
"Aku tidak apa-apa, pasti hanya masuk angin saja.. sudahlah, ayo kita pulang.. sudah senja."
"Baiklah, ayo..."
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil, dan segera melaju dengan kecepatan sedang menuju vila.
***
Di dalam kamar selepas mandi,
"Sayang?"
"Sstt..." Sagaara mengeratkan tangannya di pinggang Vely, membuat tubuh mereka jadi lebih sedekat ini. "Aku.."
"Hm? Kenapa sayang.."
"Aku.." wajahnya merona merah, Kenapa sulit sekali sih?
"Sayang, apa yang ingin kau katakan?"
"Em.. tidak ada apa-apa, ayo kita turun Nan sudah menyiapkan makan malam."
__ADS_1
"Iya.."
Turun menuruni anak tangga dan sampai di ruang makan Sagaara merasa kepalanya begitu berat, mungkin saja mau flu. ðŸ¤
Dia terlihat beberapa kali menggelengkan kepala untuk menghilangkan pusing.
"Sayang, kenapa?"
"Tidak apa-apa, ayo makan.."
Sagaara menarik kursi untuk istrinya duduki, "Makanlah yang banyak, aku meminta Nan memasak makanan yang sehat dan bergizi untuk -"
"Untuk?"
Tidak, kenapa aku bicara sembarangan seperti ini sih?
Benak Sagaara kembali di penuhi bayang-bayang sepasang anak kembar.
"Oh.. iya sayang, kau juga harus makan yang banyak supaya tetap sehat.." mengaduk-aduk makanan di atas piringnya.
"Kenapa tidak di makan? Malah di aduk-aduk?"
"Sayang, suapi aku ya.."
"Kenapa minta di suapi?" menoleh ke arah Nan, "Suapi dia.."
"Tidak, tidak." menggeleng, "Aku hanya ingin kau yang menyuapiku.. jika tidak, aku tidak akan makan.."
Tangan Sagaara bergerak menepis pelan paha Vely, "Kau ini semakin ku cintai, semakin ngelunjak ya?
"Pokoknya aku mau di suapi.." tiba-tiba berpindah tempat, dia duduk di atas pangkuan suaminya lalu kedua tangannya ia lingkarkan ke leher. "Suapi.." ucapnya dengan manja, binar manik coklatnya membuat Sagaara luluh tak jadi marah.
__ADS_1
Menghela nafas, "Ya sudah.. tapi janji ya kau harus makan yang banyak.."
"Terimakasih sayang.."
***
Usai menyantap makan malam sekarang mereka berdua sudah kembali ke dalam kamar, Vely benar-benar tak mau menjauh dari suaminya.
Bahkan saat mereka berbaring di atas ranjang pun, Vely memiringkan tubuhnya menghadap Sagaara dan terus memeluk.
"Kau ini kenapa, manja sekali.." Sagaara ikut memiringkan tubuhnya, wajah mereka bersitemu. Dia mengelus lembut wajah Vely, "Apa yang sedang kau inginkan, sampai-sampai menempel seperti perangko saja."
"Aku ingin makan pizza jumbo, sekarang.."
"Pizza?" Vely mengangguk, "Kenapa? Bukankah kau baru saja selesai makan?"
"Aku mau pizza.." membenamkan wajahnya di dada bidang Sagaara, lalu menjauhkan wajahnya dan mencium singkat bibir itu, muah!
Sagaara menyeringai, "Hanya cium saja?"
"Pizza.." manja, telunjuknya bergerak di dada Sagaara, sedang menggambar pola abstrak disana.
"Biarkan Nan yang membelinya.." Sagaara mengambil hp di atas nakas dan menelefon Nan, memintanya untuk membelikan pizza jumbo.
Wah, itukan hp yang tadi siang.. hp orang kaya memang berbeda ya.. masuk kedalam air masih bisa hidup hp nya.
"Sambil menunggu lebih baik kita lanjutkan yang tadi." dia tersenyum sembari menyusupkan tangannya kedalam piyama Vely.
Anehnya Vely bahkan tak menolak, jika biasanya akan ada adu mulut seperti yang sebelum-sebelumnya. Kali ini dia menerimanya begitu saja.
Kini piyama mereka sudah berserakan di atas lantai, "Kenapa kau begitu manis?" Sagaara mencium kening sang istri lalu memulai aktivitasnya dengan penuh cinta.
__ADS_1