Contract Marriage

Contract Marriage
Hukuman (2)


__ADS_3

Malam yang dingin membuat Vely mengeratkan pelukannya pada tubuh Sagaara, dimana pria itu ternyata masih terjaga.


Sagaara menarik selimut dan menutupi tubuh polos Vely sampai ke leher, lalu mencubit pelan hidungnya.


"Upik abu.."


Seolah tak puas memandangi wajahnya, Sagaara kembali menghujani wajahnya dengan kecupan.


Lama kelamaan dia pun menguap, "Selamat malam sayang.." tak lupa dia juga menyapa benih yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim Vely, "Selamat malam anak papah.." dia mengecup lembut perut Vely yang masih rata.


Sagaara memeluk tubuh mungil Vely, mendekapnya dengan hangat dan terlelap dalam tidur indahnya.


***


Malam terus bergulir hingga mencapai puncaknya, deringan alarm terdengar di hp Sagaara.


Jam digitalnya sekarang sudah menunjukan pukul 4 pagi, dia mengerjap lalu bangun untuk meraih hp nya.


"Cepat sekali pagi datang.." Sagaara menekan tombol kecil di sebelah kiri hingga layarnya menyala, di lihatnya wallpaper hp yang selalu membuatnya tersenyum dan kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


Dia mengusap layar hp dan menciumnya tepat di wajah Lovely, "Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang lebih cantik dari mu dan mommy.."



Vely yang tertidur pulas itupun mendadak gelisah dengan miring ke kanan, lalu ke kiri.

__ADS_1


Dengan terpaksa dia bangun lalu berlari kecil masuk ke bath room, tentu saja apa lagi kalau bukan Sagaara yang di hantam kepanikan.


"Sayang ada apa denganmu?" dia pun ikut menyusul, di wastafel itu Vely sedang mual ingin muntah.


Mengingat usia kehamilannya sekarang sudah hampir masuk tiga bulan, jadi hal itu wajar saja jika dia mengalaminya.


Tapi yang namanya tuan muda, dia sudah se panik itu.


"Sayang ada apa dengan mu?"


Vely tak menjawab karena masih fokus pada rasa mual yang mengganggu.


"Sayang jawab aku, kau kenapa?"


"Menjauh lah dariku, jangan mengganggu ku.." Vely memegangi perutnya lalu kembali mual.


Sagaara baru saja menyentuh pundak Vely, tapi malah dimarahi.


"Sayang jangan ganggu aku, keluarlah dulu.. aku tidak bisa muntah dengan benar jika kau terus melihat ku seperti ini."


"Apa, aku ini sedang mengkhawatirkan mu.. lihatlah sikap apa yang kau tunjukan pada -"


Tangan Vely membungkam mulutnya, "Kan aku bilang keluar dulu sayang.." membalikan tubuh Sagaara ke arah pintu, dan mendorongnya dengan pelan menuju ambang pintu, "Biarkan aku menyelesaikan mual muntah ku ya, setelah ini baru kita bicara."


"Hei kau ini berani sekali ya, kau mau aku memperpanjang masa hukuman mu."

__ADS_1


"Ssstt..."


Vely menutup pintu dan segera menguncinya supaya bisa tenang sejenak.


***


Setelah terbebas dari rasa mual muntah yang tak nyaman tadi, Vely juga sudah mandi sekarang dia datang menghampiri suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Sayang?"


"Hm.."


Vely mengambil sisir, tapi bukan untuk me nyisiri rambutnya.


"Apa yang kau lakukan pada rambutku?"


"Mengikatnya.."


"Jangan aneh-aneh, aku bukan perempuan.."


mau menepis tangan Vely tapi tak jadi saat ia menatap manik coklat yang berbinar indah itu. Haaaah... Sagaara menghela nafas pelan, "Sisir saja tak usah mengikatnya.."


"Biarkan aku mengikatnya sayang, anak mu sendiri yang menginginkannya."


"Hmph!" tuan muda tak percaya, dia menarik tangan Vely dan membuatnya duduk di atas pangkuannya, "Kau kira aku akan percaya, bagaimana bisa anak yang belum lahir mampu mengatakan keinginannya."

__ADS_1


"Dia menyampaikannya melalui ke inginan ku.."


"Hei kau nona muda sayang, lalu bagaimana jika aku mengatakan aku ingin melahap mu sekarang!" seringaiannya membuat Vely merinding.


__ADS_2