Contract Marriage

Contract Marriage
Ch.44


__ADS_3

Merasakan cahaya pagi yang hangat membuat hidup jadi lebih bersemangat lagi, Vely baru saja terbangun.


Meregangkan tubuh nya hingga berguling ke sana ke mari, aaaah nikmat nya hidup ini.


Vely mendudukan tubuh nya, meluaskan pandangan nya ke seluruh ruangan kamar namun tak menemukan sosok tuan muda Sagaara.


Kemana dia? Kenapa tidak ada di kamar?


Klek!


Pintu bath room terbuka, Vely segera berdiri dan menatap tuan muda. Rambut nya yang masih basah dan hanya memakai handuk yang melilit sempurna di pinggang nya.



"Selamat pagi, tuan muda.." seru Vely malu-malu.


"Hm.. pergilah mandi, setelah itu kita akan pergi jalan-jalan.."


"E- eemh.."


Gaara beranjak ke meja rias, mengeluarkan hairdrayer dari dalam laci. Dari cermin yang ada dihadapan nya dia bisa melihat Vely yang masih berdiri di belakang nya.


"Kenapa?" bertanya dengan suara ringan dan tanpa menoleh ke belakang.


"Bolehkah saya membantu?"



"Hmph!"

__ADS_1


Gaara tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan segera duduk, "Terserah saja.."



Dengan rona merah di wajah nya, Vely mengulurkan tangan kanan nya meminta benda itu dari Gaara.


Setelah mendapatkan nya langsung saja Vely membantu Gaara untuk mengeringkan rambut nya.


10 menit kemudian dia pun selesai, mematikan hairdrayer lalu memasukan nya kembali ke dalam laci.


"Sudah tuan.."


"Hm, terimakasih.." Ini pertama kalinya Gaara mengucapkan kalimat sakral itu dari mulutnya.


Vely meletakan tangan nya di belakang pinggang, dia tersenyum menatap Punggung lebar itu yang sudah beranjak menuju lemari pakaian. Wajah nya kembali merona merah.


***


Mengingat ini adalah hari terakhir bulan madu mereka.



Jalan-jalan di taman kota yang terkenal dengan legenda romantis nya, siapa pun yang sudah datang ke taman itu maka mereka akan bertemu kembali di tempat ini, meskipun di kehidupan sebelum nya telah terpisah.


Batu prasasti yang menjadi ikon penting di taman ini, terlihat lebih besar dari yang pernah di tayangkan di tv.


"Tuan, kenapa kita kesini?"


Lah iya yah, kenapa malah ke taman legenda ini? Gaara sendiri pun hanya bisa mengernyit heran.

__ADS_1


"Nikmati saja.." lanjut Gaara dengan gaya coolnya.


"Tuan?"


"Hm.."


"Apakah kita tidak membeli oleh-oleh untuk mommy, daddy, dan pelayan?"


"Tidak perlu, untuk apa membeli oleh-oleh.. kebutuhan mereka sudah terpenuhi."


Hiiiuh mulai deh sombong dan sifat pamer nya keluar.


Lelah berjalan-jalan sekarang mereka tengah duduk di sebuah kursi panjang, muda mudi yang berkencan sedang berlalu lalang di hadapan mereka.


Gaara yang cuek mana faham dengan yang seperti itu, berbeda hal nya dengan Vely wajah nya bahkan sudah memerah tuh.


Eh?


Vely membelalak senang saat butiran salju menjatuhi nya.



"Waaah tuan lihat..." yah dan tanpa sadar dia merangkul lengan tuan muda Gaara dengan senyum bahagia nya yang mengembang.


Gaara yang menatapnya pun sama, dia menyunggingkan senyum tipis di kedua sudut bibirnya yang terangkat.


Jantung Gaara mulai berdetak cepat, entah perasaan apa yang mulai mengusik nya.


Oh ya ampun apa sih yang sedang ku fikirkan, ingat Gaara.. kau menikahi nya untuk sebuah taruhan. Dan aku tak pernah kalah!

__ADS_1


Ke egoisan itu membuat nya menepis jauh-jauh sesuatu yang ia rasa asing.


__ADS_2