Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 9. Hadiah untukmu


__ADS_3

Terlihat Yohan yang sedang berjalan kesana kemari mencari perpustakaan. Namun sudah berjam jam lamanya belum juga ketemu. Sebenarnya akademi ini memiliki perpustakaan atau tidak? Atau, apa orang yang mencarinya yang tersesat? Bisa saja. 'Benar-benar, sebenarnya apa yang ku bisa? Tubuhku lemah, untuk berkultivasi saja aku harus minum obat lebih dulu, bahkan hanya untuk mencari perpustakaan saja aku tidak tahu harus kemana arahnya.' Yohan tidak tahu mengapa dirinya begitu tak berguna.


Ia akhirnya berteduh dibawah pohon rindang yang terdapat sebuah bangku panjang dibawahnya. Dia mengipas ngipas dirinya sendiri, hari ini begitu panas. Rasanya ingin kembali saja ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Tapi dirinya juga harus berkembang seperti yang lain.


Dari kejauhan Shin melihat Yohan sedang berteduh dibqwah pohon. Dia melihat terik matahari yanng begitu panas hari ini dan berganti , melihat Yohan. 'Hanya dengan panas segini dia sudah kelelahan? Benar benar lemah.' pikirnya meremehkan Yohan. "Sedang apa kau duduk disini?" tanya Shin datang dari samping Yohan.


Kedatangan pemuda itu membuat Yohan senang karena bisa bertemu Shin. Pria itu pasti tahu arah ke perpustakaan, "Apa kau tahu perpustakaan dimana?" tanyanya tanpa basa basi.


"Tidak." jawaban pria itu sungguh membuatnya kecewa. "Tapi kita bisa bertanya pada senior yang lain." ujarnya lagi.


Sebenarnya Yohan sudah bertanya seperti apa yang dilakukan Shin saat ini, tapi namanya juga buta arah, jadi apa yang diberitahukan padanya melenceng dari apa yang diarahkan. Nasibnya memang tidak beruntung.


Setelah beberapa menit berjalan akhirnya bereka berdua sampai. Fakta mengejutkannya ternyata perpustakaan hanya berjarah beberapa bangunan dari tempat mereka. Kalau ini jelas, Yohan yang tersesat.


"Apa yang ingin kau cari di perpustakaan?" tanya Shin. Meskipun dia sudah menebak apa yang ingin dilakukan pria ini, dia bertanya hanya untuk basa basi.


"Aku ingin mencari buku pembangunan fondasi." jawabnya sesuai tebakan Shin. Dia menyerahkan token murid pada seorang penjaga perpustakaan yang seorang pak tua bertongkat. Begitu pula dengan Shin yang menyerahkan token muridnya.


Satu jam berlalu keduanya mencari tapi yang ada di lantai satu hanyalah jurus tingkat rendah saja. Memang sih, apa yang diharapkan dari lantai pertama. Naasnya mereka tak diperbolehnya ke langai dua dan tiga karena disana hanya untuk senior yang lebih lama di akademi. 'Mungkin yang ini cukup bagus.' Yohan mengambil buku bersampul biru yang tertulis pembentukan tulang tingkat rendah.


Datang Shin dari arah kanannya, "Aku sudah mencari satu persatu buku, tapi tidak ada satupun yang berguna. Hm? Apa yang kau pegang itu?" tanya Shin penasaran dengan apa yang dipegang Yohan.


"Oh? Ini buku pembentukan tulang. Sudahlah, ayo!" ujar Yohan sembari berjalan menuju penjaga perpustakaan. Diikuti dengan Shin dibelakangnya. Yohan menyerahkan buku bersampul biru ditangannya untuk dicatat sebagai pinjaman.


Penjaga perpustakaan itu menatap lama Yohan. "Apa kau ingin meminjam buku ini?" tanya penjaga perpustakaan yang mana seorang kakek tua.


Yohan dan Shin saling pandang mendengar pertanyaan yang sudah jelas itu. Kalau ia menyerahkannya berarti ia ingin meminjamnya, "Apa tidak boleh?" tanya Yohan balik.


"Tentu saja boleh, kenapa tidak boleh?" balas pak tua itu balik dengan seringai di wajah keriputnya. "Hanya saja aku sepertinya memiliki buku yang lebih cocok untukmu." lanjutnya.


"Apa itu?"


"Buku itu jauh didalam gunung belakang akademi. Jika kau mau, aku akan memberikannya padamu secara cuma cuma." ujarnya.

__ADS_1


Sontak Yohan dan Shin kaget mendengar omongan pak tua didepan mereka. Buku macam apa yang dijaga oleh jiangshi? Apakah pak tua ini mengada ada? Dibelakang akademi memang ada gunung yang dipenuhi jiangshi, tapi buat apa kesana hanya untuk mengantar nyawa.


"Hei pak tua, jika kau berusaha menipu kami maka itu tidak mempan." ujar Shin sambil menyilangkan tangannya.


"He he he he, menipu, ya? Kau akan tahu apakah aku menipumu atau tidak setelah mencarinya. Lagipula apa untungnya bagiku menipu kalian?" ujarnya.


Mereka berdua diam. Memang sih, tidak ada untungnya dia menipu mereka. Namun ini terlalu mencurigakan. Dan juga memasukkan diri kedalam gunung jiangshi sama saja dengan bunuh diri. Disana dipenuhi mayat hidup yang kelaparan. Sekali masuk ke sana dijamin tidak akan selamat.


'Siapa juga orang bodoh yang mau mengantar nyawa demi buku yng tidak jelas asal usulnya.' pikir Shin. Dia berbalik bersiap untuk pergi. "Hmph, lupakan saja!? Yohan, ayo kita per_"


"Dimana tepatnya itu?" tanya Yohan.


Sontak Shin langsung menengok ke arah Yohan dengan mata terbelalak kaget. Ternyata orang bodohnya ada tepat disampingnya. "Tunggu!? Kau ingin ke tempat bau mayat itu? Kau yakin?" tanya Shin masih tak percaya. Ia tahu Yohan itu polos, namun dia tak tahu kalau dia sepolos ini. Mempercayai kata kata orang asing begitu saja tanpa curiga. Entah dia itu polos atau bodoh.


"Ya, aku akan ke sana." jawab Yohan tak bisa dipercaya.


"Kau? Sungguh? Dengan tubuh selemah itu kau ingin ke tempat berbahaya seperti gunung Kun Jian? Jangan bercanda," ujar Shin sungguh masih belum percaya. Dia tahu betul bagaimana kondisi pria didepannya ini. Bisa dilihat dari wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang kurus itu. Dilihat bagaimanapun ia terlihat seperti pasien rumah sakit. Dan apa? Ia ingin mencari buku yang belum jelas keberadaannya? Kenapa pemuda ini begitu gigih untuk sesuatu yang belum tentu ada?


Shin menatap jengkel pak tua itu. Namun kemudian tatapannya berubah jadi ramah. "Diamlah senior, bukankah awalnya senior yang ingin memberikan buku seni bela diri yang tidak jelas itu? Tolong jangan memperkeruh masalahnya dengan menyuruhku pergi ke tempat bau mayat yang ada di belakang akademi. Bisa, kan?" ujar Shin sedikit sarkas dengan senyum ramahnya.


Pak tua itu tertawa ringan mendengar Shin menyindirnya, "Ho ho ho jangan bilang kultivator muda ini takut pergi ke gunung Kun Jian?" kakek tua itu semakin memanas manasi Shin.


Sedangkan Shin masih menatap sinis dengan raut wajahnya yang tenang. Dia berusaha agar tidak terbawa emosi. Apalagi sepertinya kakek tua ini adalah seseorang yang sangat kuat. Meskipun pak tua itu menuembunyikan kekuatannya, tapi tekanan aura daringa masih terasa.


Yohan melihat mereka berdua bergantian. Dia berpikir, sepertinya pak tua penjaga perpustakaan ingin membuat Shin menjadi semacam pengawalnya. Tapi Shin tidaklah bodoh, dia pasti tahu rencana pak tua didepannya.


"Baiklah, tapi bukan berarti aku mengikuti saran senior. Aku hanya ingin tahu seberapa bagusnya hadiah yang senior siapkan untuk temanku ini." ujarnya dengan senyum sinis, lalu memalingkan wajahnya yang kemudian memperlihatkan wajah jengkel. Sepertinya dia masih tidak rela terjebak di situasi yang direncanakan pak tua itu.


Sedangkan pak tua itu tersenyum misterius sembari melihat Yohan yang terlihat senang dengan keputusan Shin.


...***...


Gunung Kun Jian, gunung yang terkenal dengan banyaknya jiangshi (mayat hidup) didalamnya. Para jiangshi itu tidak akan bisa keluar di siang hari, tapi akan beda cerita jika malam hari. Oleh sebab itu di setiap perbatasan ada tali besar yang sudah dimurnikan yang dapat membuat tubuh mereka terbakar jika melewatinya.

__ADS_1


Dan sekarang berdirilah Yohan di perbatasan itu. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mengambil resiko apapun. Dari luar saja sudah terasa ketidak murniannya. Apalagi jika masuk ke dalam. Yohan menelan ludahnya dengan paksa.


Setelah sekian lama ragu, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Didalamnya ternyata sama seperti hutan dan gunung pada umumnya. Ada burung burung yang berkicau, juga angin yang meniup pepohonan. "Aku hanya harus menemukaan Goa itu sebelum malam datang." ujarnya meyakinkan diri.


"Jangan banyak bicara, ayo cepat!?" ujar Shin jalan mendahului Yohan. Segera Yohan mengikuti di belakangnya.


Tidak lama terdengar suara rantai. Mereka berdua segera bersemhunyi di balik pepohonan yang berbeda. Baru saja memmasuki hutan dan sudah disambut dengan Jiangshi. Tampilannya pucat, bola matanya putih, mulutnya menganga sembari mengerang, terdapat rantai dikedua tangan juga kakinya, dan dia memakai pakaian lusuh penuh robekan. Yohan menahan nafasnya agar tidak dikejar oleh Jiangshi tersebut. 'Dia berjalan kemana?' pikirnya melihat Jiangshi itu berjalan menuju suatu tempat. Untuk menyembunyikan nafasnya, ia mengeluarkan kain hitam lalu mengikatkannya ke sebagian bawah wajah. Begitu pula dengan Shin yang mengikatkan kain putih ke sebagian wajahnya. Karena jiangshi akan sangat sensitif oleh makhluk hidup.


Setelahnya Yohan mengikuti Jiangshi itu dari kejauhan. Terlihat ada seekor kelinci putih kecil tak jauh dari Jiangshi, kemudian…


"Graooo!?" kelinci itu langsung di makan hidup hidup.


gretek


Jiangshi langsung memutar kepalanya kesamping setelah mendengar suara ranting patah. Tapi tak ada siapapun disana. Setelahnya dia lanjut memakan kelunci itu hidup hidup.


"Sssttt!?" Shin menggerakkan tanngannya memberi isyarat unntuk diamm, dia juga memberi isyarat untuk kembali mengikuti jiangshi itu yang sudah kembali berjalan setelah hanya mengoyak kelinci malang tersebut.


Astaga, sekarang Yohan tidak bisa bernafas dengan bebas. Jantungnya berdetak kencang seperti roller coaster. Ia membekap hidung dan mulutnya dengan tangan. Dasar, kenapa ia ceroboh sekali? Ia kembali mengintip si jiangshi. Setelah memakan kelinci yang terlihat hanya mengoyaknya saja, dia kembali berjalan dan Yohan kembali mengikutinya. 'Aku pasti sudah gila mempertaruhkan hidupku pada buku yang belum tentu ada.' pikirnya.Mereka terus mengikuti jianghi sampai akhirnya te sebuah goa.


Didalam Goa terlihat sangat gelap, lembab, juga dingin. Mungkin karena banyak energi yin didalam jadi terasa dingin. Tapi dari dalam terlihat cahaya kebiruan. "Bagaimana? Apa masih ingin lanjut?" tanya Shin.


Yohan mengangguk pelan, "Ya, kita… laniut!?" ujarnya sedikit memburu. Nafasnya memang sudah ngos ngosan seperti dikejar setan.


Shin yang melihatnya jadi memasang wajah datar menatap Yohan. "Asal kau tahu, aku tidak tanggung jawab jika kau tertangkap nanti." ujarnya memperingatkan untuk terakhir kalinya. Maksudnya baik agar tidak terjadi apa apa kedepannya. Apalagi melihat Yohan yang terengah engah padahal mereka baru sepertiga jalan. Tapi yang pemuda di sampingnya ini sangat keras kepala dan ingin tetap melanjutkan.


"Kau jangan khawatir… aku tidak akan… tertangkap." jawabnya susah payah.


Mendengar jawaban yang sama hanya beda kata, Shin sudah tidak ingin menggubris lagi. Dia sudah tidak peduli lagi kalaupun Yohan benar benar tertangkap dan dimakan ramai ramai. Mereka berjalan memasuki goa lebih dalam, ternyata disana terdapat sebuah altar batu dengan sebuah buku hitam diatasnya. Mata mereka terbelalak, ternyata kakek itu benar. Tapi sayangnya disekitar altar batu ada banyak jiangshi yang mengitari sekitar altar. Sepertinya altar itu memancarkan cahaya biru tua kehitaman yang membuat para jiangshi tak bisa mencapai buku.


"Ggrrrroow!?" tiba tiba terdengar raungan dari belakang mereka yang ternyata adalah jiangshi yang ingin menerkam Yohan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2