
Di sebuah kamar terlihat beberapa wanita dan seorang pria sedang tidur bersama. Ada banyak mewangian yang membuat suasana menjadi romantis dan erotis. Sekali lihat semua orang akan tahu kalau tempat itu adalah rumah bordil. Tempat para psk bekerja.
"Ah ha ha ha ha tuan, anda saangat tampan. Anda pasti dari keluarga bangsawan."
"Sebelum kami, tuan pasti sudah memiliki banyak perempuan lain, bukan?"
"Benar benar, siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan tuan?"
"Ah ha ha ha ha ha ha kata siapa aku punya banyak perempuan? Aku hanya memiliki kalian~"
"Bohong~ laki laki itu sangat suka berbohong~"
"Eeh~ tidak semuanya. Buktinya aku~"
"Ha ha ha ha ha tuan bisa saja~"
Shin saat ini sedang bersenang senang dengan para wanita di rumah bordil. Benar, yang saat ini sedang bersenang senang adalah Shin. Dibalik sikap ramah sekaligus dinginnya, dia seorang playboy yang suka bermain wanita. Dia pria kejam yang tidak disangka sangat pandai menggoda.
"Tapi tuan, murid tuan kenapa tidak sekalian saja bermain bersama kami?"
"Benar, dia terlihat tampan!?"
Para wanita itu melihat Jingmi yang sedari tadi hanya duduk diam dan mengamati guru baj*ngannya. Pipinya sedikit memerah ketika para wanita itu mengatakan kalau dirinya tampan. Biasanya orang orang akan mengatakan cantik ketika melihatnya. Karena bagaimanapun wajahnya terlihat seperti perempuan.
"Jangan begitu, muridku itu masih dibawah umur untuk melakukan ini. Jadi aku tidak bisa membiarkan keperjakaannya hilang di usia muda." ujar Shin sedikit membela Jingmi.
Tapi pembelaannya itu malah membuat jingmi tambah malu, 'Memang benar apa yang dia katakan. Tapi pilihan katanya itu…'
"Ya ampun tuan Shin, anda sangat baik sebagai guru."
"Hm, tuan benar juga. Murid tuan harus di jaga keperjakaannya!?"
"Tenang saja muridnya tuan Shin, kami tidak akan mengambil keperjakaanmu!?"
Saat para wanita mengatakan itu, Shin menahan tawanya melihat Jingmi memerah malu.
Tiba tiba Jingmi bangun dari duduknya dengan wajah merah padam. Dia tidak tahan jika para wanita itu menyebut keperjakaannya lagi. "Aku akan mencari udara segar di luar." ujarnya lalu buru buru pergi.
Para wanita itu melihat Jingmi keluar, "Oh, apakah dia malu? Lucunya~"
"Ha ha ha ha aku jadi ingin terus menggodanya~"
"Ya, kami jadi ingin mengambil keperjakaannya."
"Ya ampun~ ternyata para wanitaku jahat~ Ayo kita lanjutkan saja~"
Sedangkan di luar Jingmi berjalan dengan sangat kesal. Rasanya malu sekali para wanita itu terus menggodanya. Apalagi dengan Shin yang memulainya. "Benar benar…"
Bruk
"Ah, apa kau tidak punya mata?" tanya Jingmi tambah kesal ketika seseorang menambraknya.
__ADS_1
"Apa? kau sendiri yang berjalan tanpa melihat ke depanmu!? Kenapa malah menyalahkan orang lain?" ujar seorang gadis dengan dua kepangan rambut dan bermata coklat. Gadis itu terlihat seumuran dengan Jingmi.
"Jadi maksudmu aku yang salah begitu?"
"Tentu saja kau yang salah!?"
Diantara keduanya sama sekali tidak terlihat akan berdamai. Mereka malah adu cek cok tentang siapa yang salah diantara keduanya.
"Ck, lupakan saja!? Percuma bicara dengan gadis cupu sepertimu!?" ujarnya kesal. Dia berjalan meninggalkan wanita itu.
"Apa? Gadis cupu? Kau, dasar waria!?" balas gadis itu tidak kalah kesal.
Sontak kata kata itu langsung membuat Jingmi berhenti. Dia berbalik dengan ekspresi kesal, "Kau!?" dia menunjuk kesal gadis itu. Entah kenapa sepertinya hari ini ada banyak hal yang membuatnya kesal.
...***...
Dalam perjalanan pulang Jingmi masih jenhkel.dengan gang terjadi beberapa saat yang lalu. Mulai dari Shin yang membuat para wanita menggodanya sampai gadis menyebalkan yang memanggilnya waria. Mereka semua menyebalkan dan menjengkelkan.
"Eh, siapa ini?"
Suara itu sepertinya pernah didengar Jingmi. Ya, suara itu sangat dikenalnya. 'Jangan bilang?' dia berbalik melihat ke arah sumber suara. Dan dia melihat seorang tuan muda berpakaian mewah berwarna ungu serta memakai gantungan giok berlambang keluarga Yuan di pinggangnya.
Yuan Bing
Pemuda itu beserta kawan kawannya yang mengikutinya menatap remeh Jingmi. "Aku pikir anj*ng ini mati di suatu tempat. Tapi ternyata dia berkeliaran ke sembarang tempat." ujar Yuan Bing dengan senyum merendahkan di wajahnya.
"Ha ha ha ha ha ha…" tak lama terdengar gelak tawa dari teman teman pemuda itu.
Jingmi masih mengingat betul siapa itu Yuan Bing. Dia adalah anak pertama dari kepala keluarga Yuan. Dia adalah seorang brengsek yang telah memukulinya dan memperlakukannya seperti hewan peliharaan. Tidak mungkin ia melupakan wajah itu barang sedetik. Jika dulu,mungkin dia akan lari ketakutan. Tapi sekarang dirinya sudah memiliki sedikit kekuatan.
Yuan Bing mengepalkan tangannya sekuat tenaga dengan mata memelotot marah.
"Beraninya kau_" sentak salah satu anak buah Yuan Bing, namun dicegat oleh Yuan Bing.
"Hoo, sepertinya kau mendapat sedikit keberanian setelah keluar dari kandang. Oh, apakah kau memiliki majikan baru sekarang?" tanyanya dengan nada yang menjengkelkan.
Tanpa diketahui oleh mereka, daei arah kedai yang sama sekali tidak jauh dari jarak mereka berelisib tampak Yohan sedang memperhatikan. Disampingnya juga ada Zhu'er yang tengah menonton sambil memakan pahan rusa.
"Apa. Kita. Tidak. Menolong. Nya?" tanya Zhu'er.
Yohan melirik wanita itu dengan tatapan sedikit terkejut. Tidak disangkanya kalau Zhu'er akan menanyakan hal seperti itu. Karena dia terlihat seperti tidak mempedulikan orang orang disekitarnya dan hanya peduli dengan diri sendiri. Tapi sepertinya dia masih sedikit memiliki simpati. "Tidak. Hari ini kita akan memperhatikan saja." jawab Yohan.
"Kenapa?"
"Karena dia lebih dari mampu mengurus mereka. Dan bukankah dia bertekad ingin balas dendam? Jika melawan sampah seperti mereka saja dia tidak bisa bagaimana dia akan membalas dendam?" jelasnya.
Jingmi mengernyit tak suka dengan yang baru saja Yuan Bing katakan. Apa dia pikir semua orang selain dirinya adalah hewan peliharaan? Orang itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu. "Untuk seorang sampah, kau sangat sombong. Majikan? Aku tidak memiliki majikan atau tuan. Tapi aku memiliki seseorang yang lebih baik daripada itu. Mereka adalah keluarga baruku, keluarga yang setidaknya menganggapku sebagai manusia. Walaupun mereka sedikit aneh, tapi mereka lebih baik dari keluarga sampah yang menganggap diri mereka permata." ujar Jingmi.
Beberapa saat itu membuat mereka terdiam dengan jawaban Jingmi. Yohan juga terdiam mendengar kata itu. Keluarga. Ia tidak menyangka akan mendengar kata itu dari bocah yang ia bodohi. 'Padahal aku hanya memanfaatkannya saja karena dia sepertinya sangat menginginkan hubungan seperti keluarga. Dasar bocah naif.' pikir Yohan. Tapi tidak disangkanya kalau kenaifan Jingmi membuatnya ingat sesuatu.
...***...
__ADS_1
FLASHBACK
"Berlutut dasar bod*h!?" teriak seorang bocah yang menginjak kepala seorang ank kecil yang saat ini berujud mencium tanah. Terlihat banyak memar disekujur tubuh dan wajahnya.
Lalu seorang anak lainnya berbosik ke arah anakyang menginjak kepala anak berambut hitam itu. Terlihat senyum jahat diwajah anak itu. Dia tiba tiba menjambak rambut panjang anak yang dia injak kepalanya itu. Membawanya dekat danau. Terlihat wajah kesakitan anak itu. Saat sudah sampai di dekat danau dia kembali membuat anak itu berlutut. "Aku dengar dari ibuku saat kau lahir, kau hampir tidak bisa hidup. Aku jadi penasaran jika kau mati apa kau bisa hidup lagi?" ujarnya dengan rencana licik dibaliknya.
"T tidak!? Jan_"
Sebelum menjawab kepalanya sudah di celupkan di air. Beberapa kali ia tidak bisa bernafas didalam air. Dari luar air terdengar gelak tawa dari mereka. Saat nafasnya sudah di ujung kepalanya diangkat ke atas.
"uhuk uhuk uhuk…"
"Kau masih belum mati? Ternyata kau gigih sekali. Kalau begitu sekali lagi." anak itu mencelupkan lagi kepala anak berambut hitam itu.
Untungnya ada seseorang yang tiba tiba menyerang anak anak nakal itu. Sehingga anak itu bisa bernafas di udara lagi.
"Siapa yang_ m maafkan kami!?"
"Y ya, kami akan pergi!?"
Mereka buru buru pergi dari sana. Anak anak itu terlihat ketakutan dengan seseorang yang baru saja datang itu. Anak itu menghampiri anak yang kesulitan bernafas karena air masuk ke paru parunya.
"Apa kau tak apa?" tanya anak itu.
Terlihat wajah anak itu yang basah. Ia melihat si penyelamat dengan mata merah yang lebih mirip mata predator. "T terima kasih."ujarnya penuh kegugupan.
"……" anak itu terdiam ketika melihat mata anak itu. Tidak ada yang memiliki mata seperti itu selain anak didepannya. "Bukan apa apa, bukankah kita adalah keluarga?" ujarnya dengan senyum ramah di wajahnya.
"Ke… luarga?" tanyanya heran.
"Benar, keluarga. Kau adalah adikku, Ming Jiazhen. Dan aku adalah kakakmu, Ming Jiajun." ujar anak itu lagi dengan senyum.
Anak yang bernama Ming Jiazhen atau Zhen itu melongo dengan mulut menganga dengan wajahnya yang lucu. Tidak pernah ia bertemu seseorang yang sebaik ini padanya. Sungguh seseorang yang baik. "Tapi…"
"Ada apa?"
"Ibu bilang untuk tidak mempercayai siapapun disini."
"Benarkah?" tanya Ming Jiajun. Zhen hanya mengangguk keras. "Kalau begitu kau hanya perlu percaya padaku. Aku janji akan selalu melindungimu dari anak anak itu."
"Tapi bagaimana kalau ibu tahu?"
"Kita hanya perlu merahasiakannya dari bibi, bukan?" bujuk Ming Jiajun sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir merah mudanya.
"Itu, ya!?" jawab Zhen dengan senyum polos yang juga menempelkan jari telunjuknya di bibir.
...***...
Yuan Bing terlihat menahan tawanya tapi akhirnya lepas kendali, "Pfft ha ha ha ha ha ha ha, lucu sekali. Keluarga katamu? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha bodoh sekali. Yah, mari kita lihat apa keluargamu akan menolong mu saat kau akan mati hari ini." ujar pria itu sembari mengisyaratkan bawahannya untuk menghajar Jingmi.
Dengan cepat Jingmi menghajar mereka bahkan hanya dengan satu jurus. Dia menendang satu bawahan Yuan Bing, lalu menyikut kepala bawahan lainnya dan mengadu tulutnya dengan kepala musuhnya. Habislah mereka dalam sekejap dan tinggal tersisa Yuan Bing sebagai Bos terakhir. Yuan Bing mundur satu langkah ketika Jingmi telah selesai dengan bawahannya. "Ck dasar ampas!?" gerutunya. Dia menggunakan langkah white clound yang membuat langkahnya cepat dan ringan seperti awan. Lalu melancarkan serangan peluru tanah yang menyerang Jingmi. Akan tetapi serangan itu dengan cepat dapat ditangkis oleh Jingmi. Tepat didepan Yuan Bing dia menghajarnya habis habisan.
__ADS_1
"Keluargaku tidak perlu menongku dari baj*ngan sepertimu. Karena aku bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuan mereka!?" ujarnya dengan senyum penuh percaya diri di wajanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...