
'Sepertinya dia kehilangan banyak darah. Apa aku harus menolongnya? Tapi orang ini telah masuk diam diam seperti penyusup. Bagaimana jika dia adalah musuh?' pikirnya bingung.
"Bawa dan obati dia!?" ujar Chen Zinyu sudah ada di ambang pintu.
" Ah oh baik." Yohan membawa pria itu sembari mengikuti Chen Zinyu dari belakang. Kini mereka sudah berada di salah satu kamar kosong. Mereka mengobati pria itu disana.
" Pergilah!? mulai dari sini aku yang urus. Kau urus saja tikus tikus diluar." ujar Chen Zinyu.
"Tikus?" tanya Yohan. Ia mulai mengerti maksud Chen Zinyu. Ini mirip seperti yang dia katakan beberapa saat yang lalu. Tapi bukannya dia bilang untuk tidak keluar karena ada beberapa tikus? Kenapa sekarang malah menyuruh Yohan keluar mengurus tikus? Pak tua pikun ini benar benar tak bisa ditebak. Jika itu tikus yang membuat pria itu terluka parah, pasti mereka sangat kuat kan? "Tapi bukankah…"
"Aduuh sepertinya pinggangku sakit lagi!?" teriaknya kesakitan.
Selalu seperti ini, pak tua itu selalu menggunakan alasan sakit pinggang. Padahal Yohan tahu sebenarnya dia tidak pernah merasakan sakit pinggang, "Berhentilah pura pur_"
"Aduh!? Kepalaku juga sepetinya sakit!? Teganya kau menyuruh pak tua ini mengurus tikus tikus diluar. Seharusnya kau malu menyuruh pak tua ini. Padahal kita adalah, keluarga?" unarnya sembari menatap Yohan dengan tatapan memelasnya.
"Kau…" Yohan menahan emosinya pada sikap tidak tahu diri dari pak tua licik satu ini. Padahal jelas jelas rubah tua ini bisa menyelesaikan semuanya dalam sekejap. Tapi malah melemparnya pada Yohan. Tidak tahu lagi harus berkata apa ia berjalan keluar dengan emosi.
Brak
Dibantingnya pintu hingga membuat Chen Zinyi sedikit kaget, "Ho ho ho tempramennya sama sekali tidak berubah, ya? Sekarang kau sudah boleh bangun!?" ujar Chen Zinyu menoleh ke arah pria yang terluka.
Pria itu bangun dari pingsannya dan segera memberi hormat pada Chen Zinyu, "Salam tetua Chen!? Terima kasih telah menolongku dari para pengejar itu. Aku benar benar terbantu oleh tetua." ujar pria itu, terlihat wajahnya yang agak kaku memberi hormat.
ChenbZijyu memperhatikan garis wajah pada rahang pria itu, "Kau pasti anjing setia ketua klan, aku dengar jika anjing setia ketua tidak pernah menunjukkan wajah aslinya." ujar chen Zinyu.
Agak lama menjawab, pria itu melirik Chen Zinyu sejenak lalu kembali menundukkan pandangannya, "Benar, tetua!?" dirinya tidak pernah memberitahu rahasia ini ke siapapun. Tapi dia dapat memakluminya karena Chen Zinyu adalah salah satu tetua yang dekat dengan ketua klan sebelumya.
"Ja.gan memanggilku tetua!? Aku sudah bukan tetua lagi di klan." ujarnya.
"Lalu, aku jarus memaggil apa?" tanyanya yang sudah menurunkan tangannya.
"Apa saja, tapi jangan tetua. Itu hanya akan menimbulkaan kecurigaan orang orang padaku."
"Baik, aku mengerti senior." jawabnya.
"Kau bawahan yang cepat tanggap." puji Chen Zinyu.
"Terima kasib, senior."
__ADS_1
"Aku akan memberimu perlindungan hanya untuk malam ini. Besok pagi kau harus segera pergi!?"
"Baik, terima kasih senior!?" ujarnya memberi salam. Setelahnya Chen Zinyu pergi keluar.
Setelah kepergian pak tua itu, pria itu melihat lukanya yang sedikit demi sedikit sembuh. Proses penyemhuhan lukanya memang agak cepat karena ia berasal dari suatu klan yang kuat. Tapi meskipun begitu penyembuhan ini masih terbilang lambat. Karena dia bukan keturunan asli klan. Kecepatan penyembuhan yang cepat hanya dimiliki oleh keturunan asli, yaitu ketua klan dan keluarganya.
Tiba tiba dia teringat dengan seseorang yang diancamnya beberapa saat yang lalu. 'Siapa dia? Aku mencium bau yang sama seperti tuan Jun darinya.' pikirnya.
...***...
Sekarang ini Yohan berhadapan dengan salah satu pengejar yang mengejar pria yang baru ditolongnya. Lawannya berada di ranah hidup dan mati awal. Apa ia bisa mengalahkannya? Entahlah. Untuk membunuhnya itu terdengar mustahil. 'Berhadapan dengan lawan kuat seperti dia adalah mustahil. Tapi pertarungan ini mempertaruhkan nyawaku jadi ayo menangkan dengan segala cara. Meskipun harus menggunakan cara kotor atau memalukan sekalipun.' pikir Yohan.
Penyusup itu memprediksi kekuatan Yohan, "Apa kau ingin mencari mati nak? Menghadapiku dengan ranahmu yang masih berada di bawah immortal? Aku tidak tahu kau itu bodoh atau terlalu percaya diri. Tapi karena kau sudah melihatku, maka kau harus mati!?" ujarnya sembari mengeluarkan tekanan yang membuat mental lawan anjlok.
Yohan sedikit merasakan pertahanan mentalnya goyah, tapi ia tidak bisa menyerah sampai disini. "Apa hanya itu yang ingin kau katakan sebelum mati, paman?" tanya Yohan dengan senyum liciknya.
Priaitu mengernyitkan dahinya, "Ternyata kau kuat juga, ya? Ini tidak terduga. Tapi itu tidak akanbertahan lama!?" ujarnya. Seketika keberadaannya menghilang secepat kilat.
Yohan mencari keberadaan pria ituke segala tempat, tiba tiba…
Klang!?
Yohan menahan setiap serangan yang ditujukan padanya sembari mencari celah dirinya menyerang. 'Dia benar benar kuat dan cepat. Lawan seperti ini lebih sulitdihadapi. Apa aku coba jurus pertama saja? Menggunakan dia sebagai kelinci percobaan pertama.' Yohan melompat mundur. Mempersiapkan jurus pertama dari kitab rantai neraka.
"Seni pertama rantai neraka, belenggu." Rantai rantai kecil bergerak cepat dibawah tanah dan muncul keluar dari bawah pria itu.
Pria itu terbelalak kaget ada rantai hitam dari dalam tanah muncul. Dia segera menghindar. Akan tetapi rantai itu terus mengikutinya, dirinya seperti sudah ditargetkan. Karena ini merepotkan dia membentuk sebuah gravitasi berat di kepalan tangan lalu menghancurkan dua rantai itu. "Kekuatan lemah seperti itu tidak akan melukaiku." ujarnya.
Tiba tiba satu rantai berhasil mengikat satu kakinya. Tidak lama disusul dengan rantai lain yang mengikat cepat tubuhnya. Membungkus tubuh pria itu seperti mumi.
Prang
Dengan tekanan kuat dia berhasil menghancurkan rantai yang melilit tubuhnya. Tapi segera setelah itu rantai yang lain muncul dan bertambah banyak. Kembali melilit seluruh tubuhnya. Dia kembali menghacurkan rantai rantai itu. Tapi lagi lagi, rantai rantai itu kembali muncul lebih banyak. Dan setiap kali rantai dihancurkan maka rantai rantai lain akan muncul dan lebih kuat. 'Jurus apa ini? Kenapa aneh sekali? Kekuatan belenggunya sekarang hampir menyamai ranahku. Ini gawat, jika terus seperti ini aku akan kehabisan tenaga. Sebaiknya aku kabur sebelum rantai rantai itu mengikatku.' pikirnya. Pria itu kabur dari serangan Yohan.
Tapi Yohan tidak bisa melepaskannya begitu saja. Ia mengerahkan rantainya mengejar pria itu.
Bruk
Pria itu terjatuh karena salah satu kakinya dililit rantai hitam. Tidak lama rantai rantai itu semakin merambat melilitnya. Karena dirasa ini semakin membahayakannya dia meniup peluit pertolongan. Peluit itu memang tidak mengeluarkan suara apapun, tapi bagi beberapa orang tertentu suaranya akan terdengar sangat bising.
__ADS_1
Yohan menutup telinganya dengan suara bising dari peluit itu. ''Suara apa itu? Apa dia mencoba meminta bantuan? Itu tidak bisa kubiarkan." ia menghancurkan peluit itu melalui rantai yang ia kendalikan.
Sekarang pria itu sudah tak bisa menghancurkan rantai rantai ini lagi. Tubuhnya sudah dililit sepenuhnya dari kepala sampai kaki. Kemudian, dengan sangat kejam Yohan meremas tangannya yang mana dia membuat rantai rantai itu meremas tubuh pria itu hingga hancur tak tersisa.
"Aagghh!?" sebuah teriakan menyakitkan keluar dari dalam gulungan rantai. Darah merah merembas keluar dari dalam, anehnya rantairantai hitam itu menyerap darah lawan sampai tak tersisa.
Terlihat senyum senang diwajah Yohan, dia melepaskan rantainya setelah merasakan tidak ada lagi kehidupan didalam gulungan rantai.
Prak
Hanya tersisa tulang belulang dan pakaian hitam serta rambut pria itu. Rasanya aneh, setelah membunuh pria itu ia merasa ingin membunuh lagi. Apa ini karena jurus yang dipelajarinya adalah jurus dari aliran hitam? Atau karena sejak awal ia memang ingin melakukan hal ini? Tapi yang pasti ia senang dan hasrat membunuhnya semakin kuat.
"Apa, yang terjadi?"
Yohan menoleh ke dua orang yang baru datang. Sepertinya hanya mereka yang tersisa. Kalau sebelumnya ia panik, sekarang ia senang karena dua orang ini lebih lemah dari musuh sebelumnya. "Selamat datang~" sambutnya dengan wajah penuh senyum. Dirinya rasa, ia akan segera naik ranah ke immortal malam ini.
"Kau!? Kau membunuh Wang Bo!?" teriak salah satu dari mereka.
"Sssttt!? Jangan berisik!? Kau bisa membangunkan kepala akademi." bisik Yohan seperti ketakutan. Dia seperti berubah menjadi orang lain.
"Diam!? Dasar gila!? Cai Ping, ayo kita bunuh orang gila ini!?" ujar pria itu emosi. Penyusup yang lain ikut mengangguk.
"Hiiiy takutnya~ ha ha ha ha ha ha ha ha…" pemuda itu malah tertawa disituasi sekarang ini. Membuat dua orang itu mengepal keras tangannya.
Tanpa peringatan dua orang itu langsung menyerang Yohan. Mereka menggunakan elemen masing masing menyerang Yohan dari kedua sisi. Tapi pria itu tersenyum licik, ia melentangkan kedua tangannya menahan kedua serangan dua orang itu. "Korosi." ujarnya kekudian keluar air hitam dari kedua tangannya melahap dua orang itu.
Dua orang itu masuk kedalam gumpalan air hitam. Kemudian beberapa detik berlalu air kembali masuk ketangan Yohan. Kedua orang itu sudah menjadi tulang belulang karena terkorosi oleh air hitam.
...***...
Pagi hari telah tiba, saatnya anjing setia ketua klan pergi. Sebelum matahari muncul, ia harus segera pergi. Setelah memakai penutup wajahnya, ia berbalik dan, "Hwaa!?" dia kaget sudah ada Yohan dibelakangnya. "K kapan kau masuk?" tanya pria itu. Dirinya sama sekali tidak merasakan keberadaan pemuda ini.
"Aku baru masuk. Oh dan, kau hampir ketinggalan ini." ujarnya sembari memberikan pedang.
"Ah benar, terima kasih umm…" dia tidak tahu harus memanggil pemuda itu siapa.
"Yohan." ujarnya seperti tahu apa yang dipikirkan pria itu.
"B benar, Yohan. S selamat tinggal!?" pria itu buru buru meninggalkan Yohan sendirian dikamar. Enyah kenapa rasanya sedikit merinding berbicara dengan pemuda itu. Auranya tambah mencekam dari pada semalam. 'Semoga kita tidak bertemu lagi.' lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...