Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 51. Labirin bagian dalam 2


__ADS_3

Angin dingin berembus hingga menusuk tulang. Semua tempat kemudian dipenuhi butiran butiran kecil berwarna putih yang dingin. Semuanya berwarna putih, tidak pernah Yohan melihat hak seperti ini. Kulitnya terasa beku dengan udara dingin ini. Ia melebarkan telapak tangannya menunggu butiran kecil nan dingin itu jatuh ke tangannya. Seketika tangannya menjadi dingin karena butiran tersebut. Ia melihat lebih dekat seperti anak kecil yang melihat mainan baru dipajang. "Apa ini?" tanyanya pada Zhu'er,


"Salju." jawabnya yang juga ikut melakukan apa yang dilakukan Yohan.


"Salju?" ujarnya masih melihat salju. Di kekaisaran Qi tidak pernah turun salju. Jadi ini adalah kali pertama Yohan melihat fenomena baru seperti melihat salju. "Ini sangat putih dan dingin, seperti…" entah kenapa ia malah teringat seseorang di benaknya. Ia langsung meremat salju di tangannya. "Ayo kita lanjutkan perjalanan!?" ujarnya sembari melihat Zhu'er. Saat melihatnya, wanita itu tetap memperlihatkan ekspresi datar.


Namun terlihat jelas dari tangannya yang gemetar bahwa dia kedinginan. 'Jiangshi tidak bisa merasakan sakit karena mereka mayat hidup, tapi apakah jiangshi hidup yang memiliki pikiran sendiri bisa merasakan dingin juga? Mungkin karena kelasnya lebih tinggi dari Jiangshi biasa dia bisa merasakan suhu di sekitar.' Yohan mengulurkan tangannya ke Zhu'er. Seperti yang biasa ia lakukan jika wanita itu sedang sulit bergerak.


Wanita itu melihat tangan putih Yohan mengulur kepadanya. Bodohnya pemuda itu masih bersikap baik meski tahu dirinya mengincar tubuh baru untuk dirinya sendiri. Meskipun benar kalau tubuhnya memang kedinginan. Dirinya hanya tidak bisa mengekspresikannya. Zhu'er meraih tangan itu lalu menggenggamnya. Tangannya terasa hangat, padahal mereka telah sama sama mengalami kematian. Tapi tangan miliknya malah dingin. Kelas mereka benar benar berbeda.


"Sepertinya akan ada badai, pastikan aku selalu memegang tanganmu. Karena aku mudah tersesat." ujar Yohan sambil melirik Zhu'er.


Zhu'er memejamkan matanya sambil tersenyum kecil, "Ya. Aku. Akan. Selalu. Menggenggam. Tangan. Mu. Dan. Memastikan. Kau. Berada. Di. Jalan. Yang. Benar." mana mungkin dia lupa. Pria ini mudah sekali tersesat meskipun dirinya sudah dipandu. Pemuda itu tahu betul kekurangannya. Karena itu, jika masalah jalan dia selalu bergantung pada Zhu'er. Karena inilah dia selalu menggenggam tangan wanita itu.


...***...


Whussh


Angin dingin bertiup kencang disertai butiran butiran salju putih. Di tengah tengah badai salju terlihat seseorang yang sedang berjuang melawan arusnya. Dia memakai jubah merah tebal lengkap dengan tudungnya yang terbuat dari bulu rubah. Dia adalah seorang wanita yang memakai cadar merah di wajahnya.


Lao Yunzi, dia terpisah dengan rombongan yang bersamanya saat di lapisan pertama bagian luar labirin. Lebih tepatnya, rombongannya meninggalkannya sebagai tumbal untuk mereka sendiri kabur dari monster. Tapi karena identitasnya yang tidak biasa, menghadapi konster di bagian luar labirin adalah hal yang mudah. "Tidak ada gunanya aku bersama pada mereka. Yah, lagipula apa yang bisa dilakukan anak anak manja itu selain menghamburkan uang?" ujarnya masih kesal.


Bagaimana tidak? Dirinya yang seorang berbakat dari Xu Lau Yi dan dihormati di tempat nya malah dijadikan tumbal sesembahan untuk monster. Ini sungguh melukai harga dirinya sebagai putri dari ketua Xu Lau Yi. "Huft, menyebalkan!?" gerutunya dengan hati dongkol. Lebih menyebalkannya lagi sekarang, angin bertambah kencang seiring lama waktu perjalanannya. Rasa dingin ini menusuk kulit putihnya hingga menembus tulang. Jika bukan karena artefak jubah yang dikenakannya mungkin sekarang dirinya sudah menjadi patung es.


Bruk


Beberapa kali ia jatuh bangun karena cuaca dingin ini. Dia ingin segera mencari gua untuk berteduh dari badai salju. Naasnya, ia tidak juga menemukan sebuah gua. 'Salju disini melebihi dinginnya salju di kekaisaran wu. Jika begini terus, aku bisa mati kedinginan.' pikirnya masih tengkurap di atas salju. Saking dinginnya dia mulai merasa kantuk.


Plak plak


Lao Yunzi mulai menampar pipinya sendiri agar tidak tidur disaat seperti ini. Jika dirinya tidur, maka gugurlah dirinya didalam labirin. Yang artinya, dia tidak akan bangun lagi. Tapi, sebanyak apapun dia menampar, mencubir tangannya hingga berdarah, rasa kantuknya tidak bisa hilang dan malah semakin kuat.


Sampai…


Bruk

__ADS_1


"Agh, kenapa ada mayat ditengah jalan? Apa dia mati kedinginan atau bagaimana?" ujar seorang pria dengan nada kesalnya.


Lao Yunzi mengerjapkan matanya melihat samar samar siapa pemuda dengan suara halus dan nada bicara yang menjengkelkan itu. Hanya terlihat seseorang berambut panjang berwarna hitam, dan kulitnya yang seputih susu. Setelah itu pandangannya menjadi gelap.


...***...


Lao Yunzi mengerjapkan matanya melihat dinding putih kebiruan seperti es di atap atap. Namun tidak terasa dingin melainkan hangat. Dia melihat sebuah api di samping tak begitu jauh darinya. Api itu berwarna biru keemasan. Tidak seperti api lainnya yang harus memakai kayu untuk dibakar, api itu menyala bahkan tanpa adanya bahan untuk dibakar.


Lalu disebrang nya terlihat seorang pemuda yang tengah membakar sebuah daging rusa. Lao Yunzi membelalakkan matanya ketika melihat siapa dia. Pria itu adalah pria yang selama ini dirinya cari dilabirin spiritual. Liu Yohan.


Pemuda itu duduk sambil fokus dengan masakannya yang sedang di panggang di atas api. Tiba tiba mata merahnya melirik Lao Yunzi yang masih terbaring memejamkan mata. 'Apa hanya perasaanku? Aku merasa dia sudah bangun.' pikirnya masih memperhatikan Lao Yunzi. Tapi tak mau ambil pusing, ia kembali fokus untuk memberi bumbu pada daging tercintanya.


Tercium aroma wangi khas daging panggang yang dilumuri mentega dan kecap asin. Ada pula bumbu lain yang semakin menambah selera makan. Wangi itu terciun hingga hidung Lao Yunzi yang sedang pura pura pingsan. Dikarenakan dirinya belum mempersiapkan dialog romantis untuk menyapa Yohan, misinya yang sekarang. 'Baunya harum sekali, aku ingin memakannya juga. Tapi jika aku bangun sekarang, dialog ku belum siap. Dan dia juga bisa curiga.' pikirnya tanpa sadar menelan ludah sendiri dengan paksa.


Yohan mengambil gigitan pertama yang cukup besar. Ia memang tidak berkata apa apa, tapi hanya dengan suara makannya yang terdengar jelas di ruangan sepi sudah menjelaskan semuanya bahwa daging itu super duper enak. Saat ingin mengambil gigitan lagi ia mendengar suara…


Ggrrtt


Pemuda itu langsung berhenti dari makannya dan segera mencerna suara apa itu. Itu seperti suara monster yang kelaparan. Tapi di tempat aman yang ia pilih sendiri ini mana ada monster yang datang. Di dalam sana hanya ada dirinya dan si wanita bercadar. Segera ia menyadari kalau, "Berhentilah pura pura tidur!? Suara perutmu sangat jelas terdengar." ujarnya.


Tapi kemudian wanita itu bangun dari pura pura tidurnya. Dia melihat Yohan yang juga melihatnya.


"Kenapa kau pura pura tidur?" tanya Yohan.


Lao Yunzi menjawab, "Tentu saja aku pura pura tidur saat ada orang asing di sampingku." dalihnya.


"Aku memang orang asing, tapi orang orang biasanya akan bangun sesaat setelah mereka sadar. Mereka akan bertanya apa yang terjadi dan berterima kasih ketika orang asing sepertiku menolong mereka." balas Yohan.


"Kau mencurigakan." balas wanita itu.


Yohan tak mengerti maksudnya, ia melihat dirinya sendiri mencari dimana letak kecurigaannya. Apakah wanita itu tahu kalau dirinya gila? Tidak waras? Penjahat gila? Dan yang lebih rahasia lagi, apakah dia tahu kalau ia belum mandi beberapa hari ini? Itu tidak mungkin. Dirinya sudah bersikap senormal dan serealistis mungkin didepan orang lain. Yohan kembali menatap wanita itu, "Apanya yang mencurigakan?" tanyanya dengan tatapannya yang tajam.


"Itu…" Lao Yunzi bingung harus jawab apa karena alasannya mengatakan Yohan mencurigakan hanya alasan semata agar pemuda itu tidak curiga. "Saat pertama kali melihatmu saja aku tahu kau bukan orang baik." jawabnya.


Ditatapnya wanita itu, "Jadi maksudmu aku orang jahat, begitu?" tanyanya.

__ADS_1


"… Ya, begitulah." balas Lao Yunzi.


Pemuda itu kembali berpikir, dirinya memang terlihat seperti penjahat. Mata merah, baju serba hitam, sikapnya yang aneh, tidak heran banyak orang menjauhinya. "Ya sudah, karena aku orang jahat pergilah dari sini dan berikan semua uangmu padaku!?" ujarnya tanpa hati.


"A apa? Apa kau gila menyuruh orang yang baru saja kau tolong untuk keluar dan merampok ku terang terangan begini?" saut wanita itu marah.


Tapi Yohan menatap balik wanita didepannya dengan heran, "Kenapa kau begitu marah? Penjahat menjahati orang, itulah artinya penjahat. Aku adalah penjahat, inilah yang aku lakukan." balasnya membuat wanita bercadar itu memelototinya dengan marah.


Wanita itu bangun dengan amarah yang menggebu gebu dihatinya, "Kau!?" dia menunjuk Yohan dengan tangan gemetar saking kesalnya. Berdebad dengan pria yang tidak ingin kalah dan egois sepertinya benar benar menyebalkan. Rasanya ia ingin sekali meremas bibir merah jambunya itu. Mau tidak mau Lao Yunzi akui kalau penjahat gila didepannya ini adalah pemuda paling tampan yang pernah ditemuinya. Tapi tingkat menyebalkan pemuda itu juga sangat sangat sangat menyebalkan.


Lak Yunzi melihat di luar yang mana sedang terjadi badai salju, "Huff," dia mencoba tenang dan mengalah. Ya, lagipula dirinya juga salah telah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Baiklah, mari kita selesaikan masalahnya dan…


"Oh, aku berubah pikiran." ujar Yohan tiba tiba. Dia berdiri dan mendekali wanita itu, "Kau belum membalas budi padaku. Jadi sebagai balas budimu, layanilah aku dan cium kakiku!?" ujar Yohan dengan senyum menyebalkan diwajahnya.


Seketika akal sehat Lao Yunzi terputus.


Plak


Tanpa sadar dia menampar Yohan dengan tamparan yang belum pernah dia lakukan pada pria pria lain bahkan pada ayahnya yang brengsek. Itulah akibatnya kalau terlalu serakah. Seketika dia langsung sadar kalau perbuatannya bisa membuat rencana ayahnya betantakan, 'Gawat, apa aku menamparnya terlalu keras, dia terlihat kesakitan.' pikirnya khawatir.


Keluar darah dari hidung Yohan. Sontak Lao Yunzi langsung membulaykan matanya, dia jadi panik sekarang. Dia tidak tahu kalau penuda itu ternyata selemah ini. "Itu… aku…" kata katanya tersendat. Terlalu bingung harus berkata apa. Tiba tiba saja…


"Hiks… hu hu hu hu hu hu hu hu… ini sakit sekali…" Yohan menangis bercucuran air mata. Hah?


Lao Yunzi makin tidak bisa berkata kata. Kok bisa? Dia penjahat gila, kan? Masa iya dia menangis? Tidak ada jantan jantannya. Lao Yunzi malah tambah bingung dengan situasinya sekarang. Dia seperti berhadapan dengan anak kecil yang ditinggal ibunya. "Be berhentilah menangis! Baiklah, aku minta maaf padamu. Kau puas?" ujarnya untuk menenangkan Yohan.


Setelahnya pemuda itu berhenti menangis, "Kau sungguh minta maaf padaku?" tanyanya kemudian. Darahnya masih menetes ke bawah.


"Iya." jawab Lao Yun sambil meringis melihat darah yang keluar cukup banyak.


Wajahnya seketika ceria lagi, "Kalau begitu_"


"Jangan pernah berpikir melakukan hal itu padaku!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2