Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 17. Ming Jiazhen


__ADS_3

Flashback


Didalam sebuah penjara bawah tanah terlihat seorang pemuda yang dipenuhi banyak luka disekujur badan. Tak tinggal juga darah dengan bau anyirnya yang menyengat indra penciuman. Siapa dia? Dia adalah seorang pemuda dengan segudang cerita menyedihkan didalam hidupnya. Ming Jiazhen. Namanya.


Nama yang tidak akan pernah dilupakan didalam klan Guaiwu. Nama yang juga tidak akan pernah di lupakan dunia tentang kekejaman dan kegilaannya dengan teror serta pembantaian berdarah. Seorang tokoh jahat yang tidak boleh dilupakan dan tidak akan pernah dilupakan. Penjahat dunia yang gila. Kenapa gila? Mungkin kalian sendiri sudah tahu apa itu gila atau sudah menerka didalam otak kalian arti gila itu sendiri. Dan dia, benar benar gila.


Akan tetapi dibalik kejahatan yang selalu diperlihatkan, terukir sebuah kisah yang tidak pernah diketahui dunia. Dan kisah itu adalah awal kisah bagaimana Ming Jiazhen menjadi penjahat gila. Sebuah julukan yang sederhana namun sesuai dengan namanya.


"Ming Jiazhen, akui saja kejahatan yang telah kau perbuat. Dengan begitu siksaan yang kau dapat akan segera berakhir." Ujar seorang wanita paruh baya yang masih terlihat kecantikannya. Bahkan tidak terlihat penuaannya.


"………" Ming Jiazhen hanya terdiam dengan pertanyaan dari wanita tersebut. Kejahatan? Kejahatan apa? Dirinya hanya duduk diam didalam kamar dan berjalan jalan kecil di sekitar kediaman. Apa itu sebuah kejahatan? Kalau benar itu sebuah kejahatan maka semua orang yang melakukan itu adalah seorang penjahat. Terlihat senyuman getir di wajahnya yang kotor dengan darah. Tapi saat mendongakkan wajahnya ke atas, senyuman getir itu digantikan dengan senyuman ceria yang terlihat kaku karena luka robek disudut bibirnya, "Kejahatan apa yang ibu maksud?" tanyanya.


Wanita dihadapannya mengernyitkan dahinya tidak suka mendengar kata 'ibu' dari mulut pemuda di depannya. Dia berjalan mendekati Ming Jiazhen, lalu…


Plak


Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Ming Jiazhen hingga terlihat darah keluar dari sudut bibirnya. Rasanya sangat nyeri dan membuat mata berkunang kunang. Tapi meskipun begitu tidak terlihat sedikitpun rintihan kesakitan, malahan ia tersenyum. "Waah, tamparan ibu yang terbaik seperti biasa!? Dari mana ibu belajar menampar seseorang seperti in_"


Buk buk buk buk


"DIAM!? Aku tidak butuh pujian tidak berguna dari orang gila sepertimu!? Dan lebih baik jangan memanggilku ibu!? Aku bukan ibu dari orang sinting!?"Wanita itu memukulkan balok kayu berukuran panjang ke tubuh Ming Jiazhen dengan brutal. Tak peduli pemuda itu kesakitan atau tidak yang penting kemarahannya mereda. Setelah reda dia menyudahi memukul pria itu.


Terlihat kebiru biruan dan darah segar yang mengalir dari kepala pemuda itu, "Bukan? Pfftt ha ha ha ha ha ha ha ha, jika bukan kenapa kita terlihat mirip? Lihat? Ibu cantik dan aku tampan," ujarnya sembari tersenyum senang. Tapi senyum itu lagi lagi harus hilang karena beberapa detik kemudian wanita didepannya melempar Ming Jiazhen dengan balok kayu yang dipegangnya. Darah segar mengelir dari atas kepalanya cukup banyak. "Ah ha ha ha ha, ibu pasti saaangat senang dengan kenyataannya, bukan?" meskipun nyeri dikepalanya yang ditimpuk dengan balok kayu cukup keras, ia masih saja tersenyum menggoda wanita didepannya.


"Menjijikan," orang yang dipanggil ibu oleh Ming Jiazhen bernama Jiafen. Seorang wanita yang masih berparas cantik meskipun sudah memiliki anak. Ibu dari Ming Jiajun dan juga, mungkin Ming Jiazhen? Dia terlihat membenci anak keduanya itu. Tapi untuk anak pertama, jangan ditanya. Kasih sayangnya sangat berlimpah ruah. Apapun akan dilakukannya demi Ming Jiajun bahagia. Aneh bukan?


Jiafen pergi karena sudah muak melihat Ming Jiazhen tersenyum padanya.


Sedangkan pria itu hanya tersenyum miring melihat kepergian Jiafen. Ini bukan pertama kalinya ia dituduh dengan hal yang tidak masuk akal. Tapi ini adalah yang kesekian kalinya ia dituduh melakukan hal yang tidak masuk akal.


Ditengah kebengongannya, kabut hitam muncul mengelilingi tubuhnya, membentuk sebuah tubuh seseorang. "Wanita yang jahat. Padahal tuan tidak melakukan kesapahan apapun, tapi dia seenaknya menyiksa tuan. Kenapa tuan hanya diam saja? Tuan terlalu baik pada mereka." ujar Qiyu.


Terlihat senyum miring diwajah pemuda itu, "Kau pikir aku sebaik itu?" sorot matanya telah berubah menjadi lebih licik.

__ADS_1


"Bicara dengan siapa kau, idiot?"


Ming Jiazhen langsung melihat siapa orang yang memasuki ruangan berdarah ini. Seorang pria dengan bau bunga plum.


...***...


"……han!?"


"Liu Yohan!?" panggil Yin Fan sedikit berteriak.


Yohan sedikit tersentak dengan panggilan Yin Fan yang lebih mirip dengan berteriak. Ia melirik Yin Fan yang ada disampingnya dengan malas, "Apa?" tanya Yohan malas.


"Kenapa kau melamun dan memegangi kepalamu? Apa kau sakit? Tapi, apa orang sepertimu bisa sakit?" tanya Yin Fan. Sebab sepanjang perjalanan Yohan sering memegangi kepalanya dan meringis meskipun tanpa suara.


Ia masih melihat Yin Fan malas, tapi sedetik kemudian ia tersenyum jail, "Benar, sepertinya kepalaku sedikit pusing. Jadi, bisakah paman menggendongku?" ujarnya dengan sedikit gaya lebay. Sekarang giliran Yin Fan yang melihat Yohan dengan malas.


"Tidak, aku terlalu sibuk menggendong orang sepertimu."


"Eh? Orang sepertiku? Memangnya aku orang seperti apa?"


"Ah, benarkah? Ha ha ha ha terima kasih pujiannya."


"Itu bukan pujian bodoh."


Obrolan mereka terdengar oleh Ming Jiajun yang berjalan tiga meter didepan mereka. Disampingnya ada Shin juga Jingmi. Meskipun mereka sudah beberapa hari ini melakukan perjalanan bersama, tapi tak ada satupun dari mereka saling bicara. Dalam kelompok aneh ini, dia tidak tahu harus membicarakan apa selain mengawasi Yohan. Walaupun tidak ada yang mencurigakan dan pemuda itu terlihat normal normal saja. Tapi dia yakin sekali, kalau Yohan memang benar adalah seseorang yang dicarinya. Ming Jiazhen. 'Tinggal seminggu lagi, aku harus mencari bukti kalau dia benar benar Ming Jiazhen. Sepertinya aku harus membuat rencana untuk menjebaknya mengakui identitasnya. Mengingat dia sangat pandai berpura pura. Jika memang benar dia tidak berpura pura, aku hanya perlu membuatnya ingat kembali.' pikir Ming Jiajun. Dia melirik Yin Fan yang ada dibelakangnya. Memberikan kode untuk membantunya melakukan rencananya.


"Yin Fan!? Bantu aku menjebak Yohan ke dalam hutan kematian." ujar Ming Jiajun menggunakan transmisi suara pada Yin Fan.


Yin Fan melirik hutan yang jaraknya tak jauh dari mereka, "Untuk apa, tuan?"


"Apa aku perlu menjelaskannya padamu? Lakukan saja!?" jawabnya dingin.


Mendapat tatapan yang sudah dipahaminya, Yin Fan merasa sedikit ragu. Tapi meskipun begitu dia tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk samar. 'Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, tapi kita sudah hampir memasuki area terlarang. Apa mungkin,' Yin Fan melihat Yohan yang kini memperhatikannya. Untuk sesaat dia terkejut dengan Yohan yang sepertinya melihat interaksi diam diamnya dengan Ming Jiajun. "A ada apa?" tanyanya gugup.

__ADS_1


"Apa paman,… ingin buang air?" tanya Yohan yang langsung disambut kelegaan oleh Yin Fan.


"Tidak. Aku hanya tertarik ke arah hutan yang mengeluarkan aura dingin disana. Aku mendapat informasi kalau hutan yang mengeluarkan aura dingin seperti itu tidak salah lagi bernama hutan kematian. Disana terdapat beberapa kristal elemen yang dapat membangkitkan elemen lain selain elemen yang kita miliki sekarang. Tidak hanya itu, disana juga terdapat harta karun yang lebih berharga lagi. Bagaimana? Apa kau tertarik?" tawar Yin Fan.


Yohan menimang nimang bujukan Yin Fan, "Baiklah, tidak mungkinkan paman Fan berusaha menjebakku, kan?" ujarnya yang begitu menusuk Yin Fan.


"Benar." jawab Yin Fan sedikit merasa bersalah.


Shin melirik Yin Fan bergantian dengan Ming Jiajun yang menurutnya sedikit mencurigakan, "Tapi, disana pasti ada banyak bahaya yang lebih besar dari yang pernah kita temui sebelum sebelumnya, kan?" tanya Shin. Dia tidak tahu apa yang dikatakan Yin Fan benar tidaknya. Tapi yang dia tahu tidak akan ada yang mudah dari mendapatkan harta karun. Dia menggenggam erat pedang dipinggangnya. Alangkah baiknya jika dirinya mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Seandainya dirinya adalah raja drama, pasti kebohongannya ini mudah dipercaya. Tapi sayangnya bukan. Walaupun dia tidak berbohong soal harta karun, tapi didalam hutan kematian memang ada monster yang lebih kuat dari yang mereka lawan sebelum sebelumnya. Yiba tiba terdengar suara dari Ming Jiajun.


"Katakan saja sebenarnya, jika kau berbohong mereka hanya akan curiga padamu. Kau masih diperlukan untuk berada bersama mereka." Ming Jiajun kembali menggunakan transmisi suara.


Yin Fan melirik Ming Jiajun lalu beralih ke Shin yang masih menatapnya, "Tentu saja. Kau pikir akan mudah mengambil harta karun? Disana ada banyak bahaya yang menanti kalian. Tapi menurutku akan bagus jika kita memasuki hutan itu. Karena harta karun didalam lebih berharga dan lebih bernilai dari bahayanya. Bukankah akan lebih menantang kalau bahayanya lebih besar?" bujuknya pada Shin. Selain Yohan, Shin adalah salah satu target yang perlu diyakinkan. Karena otaknya yang penuh analitis itu merepotkan.


"Aku setuju setuju saja, tapi bagaimana dengan yang lainnya?" ujar Yohan menanyakan pendapat semua orang.


"……" Zhu'er akan selalu mengikuti apa yang diinginkan Yohan.


"Aku ikut senior Yohan saja." saut Jingmi dengan senyum khas anak anaknya.


"Baiklah." sambung Shin yang selalu memperlihatkan ekspresi yang tak bisa dibaca.


"Aku juga setuju." ujar Ming Jiajun. Yang memang awal dari rencananya.


"Kalau begitu semuanya sepakat. Ayo kita pergi ke hutan kematian!?" seru Yin Fan.


Tanpa dilihat oleh semua orang, tertarik sudut bibirnya secara samar bahkan hampir tak terlihat. Senyuman samar yang paling samar. Tidak sengaja Yohan melihat Zhu'er yang setiap saat selalu memperhatikannya dengan ekspresi datar andalan wanita itu. Kini ia tersenyum manis sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibir.


Seketika wajah datar itu berubah jadi wajah yang tersenyum jahat. Senyum yang menjadi andalannya menggoda Liu Yohan.


Dari depan Jingmi meringis ngeri melihat senyum jahat Zhu'er, melihat interaksi kedua orang itu yang aneh membuat dia berpikir, 'Kak Yohan memiliki selera yang aneh.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2