
Terlihat Shin dan Jingmi tengah kebingung mencari Yohan. Mereka kehingan pria itu saat tidak diperhatikan sedikit saja, "Kemana si buta arah. Aku heran bagaimana dia bisa kembali dengan selamat." ujar Shin.
"A apa? Yohan'ge buta arah? Bukannya itu sangat gawat? Kita harus segera menemukannya!?", ujar Jingmi sangat khawatir.
"Jangan khawatir, meskipun perlu beberapa jam tapi dia akan kembali." ujar Shin santai. "Oh itu di…a?" ujarnya yang melihat Yohan berlari dengan seorang gadis mengejarnya, "Aku tidak tahu kalau dia begitu populer."
"Siapa perempuan itu?"
"Tidak tahu, sepertinya kekasihnya."
"Yohan'ge memiliki kekasih?"
"Tidak."
"Eh?"
Yohan lari sekuat tenaga. Berlari dari kejaran wanita gila itu. 'Sialan apa yang dia inginkan? Kenapa terus mengejarku?' pikirnya. Karena lelah akhirnya ia mulai memelankan langkahnya. Yohan berhenti di belokan gang dengan nafas memburu dan keringat yang bercucuran seperti mandi. "Apa maumu? Kenapa kau terus mengikutiku?" tanyanya langsung ke intinya. Gadis itu sudah ada dibelakangnya tanpa berkeringat sedikitpun.
"Karena. Aku. Mencintaimu." jawabnya.
"Apa? Hah, kau pikir aku akan mempercayai omong kosong itu?"
"Ya."
Dia benar benar gila. "Kenapa kau mencintaiku?" tanyanya. Terlihat jelas diwajahnya kalau ia tidak menyukai ungkapan cinta ini. Mereka baru bertemu beberapa kali, tidak mungkin ada rasa cinta secepat ini.
Terlihat kalau gadis itu kebingungan menjawabnya, "Karena. Kau. Tampan?" jawabnya.
Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Yohan. Apalagi gadis gila ini tidak yakin dengan jawabannya sendiri. "Cukup, aku tidak menyukaimu. Jadi jangan menggangguku lagi." ujarnya sembari pergi. Tapi Zhu'er tetap saja mengikuti Yohan. "Bukannya sudah kubilang untuk tidak…"
Ggrrkk
Terdengar suara perut yang besar, "Kau, lapar?" tanyanya. Zhu'er langsung mengangguk keras. Setelah berlari dirinya jadi lapar. "Oh, itu…pfft…" Yohan menahan tawanya. Tidak pernah ia mendengar suara perut sekeras itu. Kecuali kentut. "Karena kau cucu dari orang tua itu aku akan sedikit berbaik hati." ujarnya kemudian pergi.
Mereka kini berada di kedai makan. Uang yang Yohan dapatkan sangat banyak hingga masih ada sisa banyak setelah membeli cincin penyimpanan. Sekarang diatas meja berisi banyak makanan makanan mewah yang sebelumnya belum pernah ia coba. Sebenarnya ini juga sebagai rasa terima kasihnya jika bukan karena Zhu'er, ia tidak bisa melarikan diri semudah itu dari para penjaga.
Wanita itu makan dengan sangat lahap. Tidak malasah sebanyak apaoun dia makan karena Yohan memiliki banyak uang sekarang. Tapi yang jadi masalah adalah cara makannya. Dia makan seperti tarzan versi perempuan. Kembali ke zaman primitif.
"Ck ck ck, apa gadis muda zaman sekarang makan seperti itu?"
"Dia sangat cantik, sayangnya tidak tahu malu."
Beberapa bisikan yang didengar Yohan seperti itu.
"Apa kau tidak bisa menggunakan sumpit?" tanya Yohan.
"Tidak"
"Kalau begitu sendok saja.
"Tidak. Mau."
__ADS_1
Wanita ini sangat keras kepala, "Kau itu benar benar, ini, makan dengan ini." ujar Yohan memberikan sendok pada gadis itu.
Jika menggunakan alat untuk makan Zhu'er tidak bisa memuaskan rasa laparnya dengan benda kecil ini. "Tidak. Mau" jawabnya tetap sama.
"Apa aku perlu melakukan ini?" ujarnya sembari menyodorkan sesendok nasi. Zhu'er melihat Yohan ingin menyuapinya, apakah dengan menuruti pria itu dirinya bisa menyebarkan benih benih cinta padanya? Zhu' er memakan sesendok nasi dari pria itu. Aneh Kenapa ada rasan sedikit manis dalam makanan ini di mulutnya Dia mengambil sendok itu dan memakan makanan yang lain. Benar, ada asam, manis, pedas, gurih dan rasa lainnya. Apa yang terjadi? Sebelum sebelumnya ia tidak bisa merasakan semua rasa ini.
Apa mungkin karena ia menggunakan sendok? Tidak mungkin. Apa karena makanan yang dimasak dengan cara khusus? Itu juga tidak mungkin. Zhu'er pernah makan disini dan tidak bayar, tapi rasanya tetap hambar. Kalau begitu, apa karena pria ini? Apa itu mungkin?
"Apa?" tanya Yohan melihat gadis gila itu menatapnya tajam.
"Rasanya. Enak."
"Tentu saja. Inikan makanan mahal." ujarnya. Makanan semahal ini mana mungkin tidak enak. Itu yang dipikirkan Yohan sekarang. Tiba tiba pandangannya tidak sengaja melihat ke arah meja lain yang menarik perhatiannya. Disana meja itu ada sekelompok kecil keluarga bahagia. Ada Ibu yang tertawa melihat kedua anaknya saling bercanda. Ayah yang ikut membuat tertawa kedua anak anaknya dan anak anak yang saling tertawa.
"Apa. Kau. Ingin. Punya. Anak?"
"Uhuk uhuk uhuk!?" pertanyaan Zhu'er membuatnya terkejut sampai tersedak lidahnya sendiri. Mana mungkin ia ingin punya anak, ia masih terlalu muda. "Fokus saja pada makananmu." ujarnya lanjut makan.
"Kalau. Kau. Mau. Aku. Bisa. Memberimu. Satu."
Bruss
Tidak sengaja Yohan menyembur air ke wajah datar gadis itu. "M maaf. Apa kau gila? Tunggu, kau memang gila. Berhenti bicara dan makan saja." ujarnya. 'Apa dia pikir membuat anak itu gampang? Apa lagi saat proses melahirkan. Aku selalu merinding mendengar teriakan mereka ketika mengeluarkan bayi dari dalam perut. Mereka seperti akan mati.' pikirnya. Setelah itu hanya ada keheningan diantara mereka.
"Rubah di hutan itu semakin hari semakin merepotkan saja."
"Ya, rusa yang biasanya banyak jadi jarang ditemui gara gara rubah sialan itu."
"Apa tidak ada yang bisa mmenjinakkan hewan buas itu?"
"Hei hei, apa kau tidak lihat aku akan menjinakkan rubah merah?" ujar salah seorang pemabuk.
"Kau? Ha ha ha ha ha ha, jangan bercanda. Kau mana mungkin bisa."
"Dasar keparat!? Ranah ku lebih tinggi darimu jangan menertawaiku. Kau lihat saja nanti, saat aku kembali dari hutan aku akan berkeliling menaiki kepala rubah sialn itu meliling kota Chifeng!? Ha ha ha ha ha ha…"
"Sungguh? Yah, ranahmu memang lebih tinggi dariku. Tapi apa kau bisa?"
"Tentu saja, aku sudah memesan senjata khusus dari pasar gelap!?" bisiknya. "AKU AKAN MENAIKI RUBAH MERAH BABI!? HA HA HAA , HA HA HA HA HA HA!?" sepertinya orang itu terlalu banyak minum sampai membual begitu besar. Tawanya diikuti dengan para preman pemabuk lain.
Yohan hanya menyimak pembicaraan mereka, 'Pelankan suaramu teman, rubah yang kau bicarakan ada disini.' pioir Yohan.
Zhu'er yang mendengar dengan jelas, mengambil segelas air di meja. Kemudian…
Cuuurr
Dia menyiramkannya ke atas kepala si pemabuk itu.
Klang
Terlihat urat urang yang menonjol di leher pria itu. Dia menahaan amarahnya yang memuncak, "KEPARAT!? SIAPA YANG BERANI MENYIRAM KEPALAKU?!" teriaknya keras sembari bangun dari kursi.
__ADS_1
Seketika suasananya jadi hening.
Pria itu melihat ke bawah, seorang wanita bertudung hitam berdiri dihadapannya dengan tatapan datar. Dengan penuh amarah dia menarik kerah Zhu'er, "Jadi kau ****** yang menyiramku, huh?"
"Cuh." Zhu'er meludah ke wajah pria itu. Sepertinya akan ada keributan lagi.
"DASAR KAU ****** BODOH!?" pria itu mengepal erat kemudian melayangkan tinjunya ke Zhu'er.
Dengan cepat Zhu'er menghindar, bersamaan dengan itu dia melayangkan tinjunya ke ulu hati pria pemabuk itu. Seketika arak yang ada diperutnya keluar dari mulutnya. "Kalian… serang… dia…" ujarnya pada teman temannya.
Mereka menghajar seorang gadis, pertarungan antara tiga orang preman melawan seorang gadis gila.
Keributan benar benar terjadi lagi. Kali ini didalam kedai. Mereka saling melempar makanan satu sama lain. Terlihat pemilik kedai yang panik dengan keributan yang terjadi.
"Dia, gila." ujar Yohan. Bagus sekali Yohan menolaknya cinta gadis gila itu.
Pemilik kedai yang sempat melihat Yohan bersama Zhu'er segera memohon padanya, "Tuan, tuan tolong hentikan kekasih mu!?" mohonnya.
"Siapa yang kekasih gadis itu? Aku bukan kekasihnya!?"
"T tapi aku sempat melihat tuan semeja dengannya!?"
"Siapapun bisa semeja dengan pelanggan lain." elaknya, ia tidak ingin kena masalah dan juga tidak ingin mencari masalah.
"A apa, tapi…"
Tiba tiba sebuah makanan terlempar ke arah Yohan, membuat bajunya basah. Astaga, ini adalah satu satunya baju bagusnya. Baiklah, dirinya rasa ia akan membereskan mereka. Baru saja ia bertekad tidak ingin mencari masalah, sekarang malah sebaliknya.
Dan lagi, bukannya menyelesaikkan perang makanan mereka, ia malah ikut dalam perang itu. Membuat pemilik kedai semakin stres, "AAAHH HENTIKAN KALIAN SEMUA!?" teriak pemilik kedai.
...***...
"Waah, terima kasih atas uangnya dan semoga kalian tidak - kembali - lagi!?"
Brak
Meskipun wajah pemilik kedai tersenyum, tapi kelakuannya tidak begitu. Setelah mereka semua yang membuat seisi kedai berantakan, tentu saja harus ganti rugi. Dan yang paling dirugikan adalah Yohan. Ketiga preman itu hanya sedikit punya uang, dan gadis gila ini bahkan lebih parah lagi. Untung saja hari ini dirinya kaya. Uang memang yang terbaik. Sepertinya ia jadi mengerti kenapa Chen Zinyu sangat mencintai uang.
Seorang anak kecil yang membawa dua tanghulu di tangannya berlari didepan mereka dengan senyum cerah di wajah mungilnya. Zhu'er melihat anak itu dia akhirnya mengejarnya.
'Apa lagi yang ingin diperbuatnya?' pikir Yohan.
Lalu dia kembali dengan dua tanghulu di tangannya. Terlihat anak kecil itu yang benjol kepalanya dijitak Zhu'er. Belum lagi dia menangis karena tanghulunya dicuri gadis gila ini.
"Kau…" ah, Yohan kehilangan kata katanya dengan gadis ini. Bahkan anak kecilpun diajak ribut olehnya. "Lupakan saja." ujarnya.
Zhu'er mendekati Yohan, "Apa. Kau. Marah?" tanyanya. Tapi pria itu tidak menjawab. "Ini. Untukmu? Asal. Jangan. Marah. Ya?" bujuk wanita itu agar Yohan tidak marah dengannya.
Yohan membelalakkan matanya melihat gadis ini memberi semua tanghulunya. "Pfft, ha ha ha ha ha ha ha ha ha…astaga, kau ini kenapa…" sebenarnya ia tidak marah. Yohan hanya kehilangan kata kata menghadapi gadis itu. "Aku tidak mau tanghulu yang ini. Kembalikan pada anak itu. Aku akan membelikanmu yang baru." ujarnya.
Kemudian Zhu'er mengembalikan manisan anak kecil yang dia rebut. Meskipun saat anak itu mengambilnya sedikit sulit, karena Zhu'er memegangnya begitu erat. Sepertinya dia masih belum ikhlas mengembalikan tanghulu itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...