
'…asal kau tahu yang kau hadapi sekarang adalah penjahat gila yang terkenal.…' Yohan teringat kata kata pria misterius yang hampir melayangkan nyawanya kemarin. 'Penjahat gila' nama itu sudah terkenal di seluruh dunia tengah, dunia atas, juga dunia bawah. Siapa yang tidak mengenal sosok kejam yang menyandang julukan tersebut.
Pernah dirumorkan kalau beberapa tahun yang lalu bahwa yang membantai keluarga cabang Mo adalah penjahat gila. Walaupun ada rumor lain kalau pembantaian mereka dilakukan oleh keluarga lain yang memiliki dendam pribadi dengan keluarga Mo. Sebab keluarga Mo paling suka membuat banyak musuh.
Tapi yang membuat orang orang lebih percaya rumor penjahat gila yang membantai mereka adalah karena salah seorang pelayan yang bekerja di sana berhasil selamat setelah menyaksikan semua pembantaian diam diam. Katanya seorang pria muda dengan banyak darah di tubuhnya membantai seluruh penghuni kediaman, lalu dengan kejam meminum darah mereka langsung dari tubuh yang dirobek. Itu terdengar sadis.
Lalu ia teringat kalau dirinya baru saja memiliki mainan kecil. Yohan mengeluarkan gulungan kertas kecil dari cincin penyimpanan ruang yang ia dapatkan dari akademi. Ia membaca gulungan kecil yang ia dapat. Dan yang ia dapat adalah… sebuah tulisan yang kabur. Benar, tulisan di kertas kecil itu kabur karena air liur dan darah yang tercampur. Itu karena kertas yang Yohan ambil lebih tipis dari yang ia berikan pada guru. Sejujurnya, ini menyebalkan. Yohan pikir tulisannya akan jelas, tapi malah buram dan tidak jelas seperti ini. Namun jangan khawatir, masih ada beberapa kata yang terbaca. Kata yang terbaca ialah 'penjahat gila', 'melakukan', 'kebangkitan', dan 'tungku'. Sebenarnya Yohan tidak mengerti maksud dari kata kata tersebut. Tapi ia tahu penjahat gila yang dimaksud adalah pria bertopeng yang waktu itu ditemuinya.
"Siapa sebenarnya pria itu?" Tanyanya pada diri sendiri. "Tidak mungkin kan dia adalah penjahat gila sesungguhnya? Aku yakin dia hanya berpura pura demi menutupi iddntitas aslinya. Kalau dilihat dari perawakan, sepertinya dia seumuran denganku. Tapi sejujurnya dia hebat, di umur semuda itu bisa mencapai ranah yang bahkan anak anak dari keluarga besar belum mencapainya." racaunya. Meskipun Yohan masih amatiran, tapi ia masih bisa merasakan seberapa hebat seseorang. Dan pemuda misterius yang ia temui kemarin berada di ranah diatas immortal.
"Sudahlah, kenapa aku malah memikirkan hal ini? Seharusnya ini menjadi urusan para guru disini. Lebih baik aku berkultivasi saja." dirinya duduk bersila dengan mata tertutup mengatur nafasnya. Sedikit demi sedikit aliran energi (Qi) mulai terbentuk. Akan tetapi Yohan merasa teknik pengolahan Qi yang diajarkan guru akademi terasa sangat lambat untuk memproses pembentukan energi didalam tubuh. "Ukhuk!? ukh!?" ia menutupi mulutnya yang mengeluarkan darah. Matanya terbelalak kaget melihat banyak darah yang keluar dari mulutnya. 'Apa? Kenapa tiba tiba aku batuh darah?' pikirnya sangat sangat bingung.
Setiap kali ia melakukan kultivasi, maka setiap Qi-nya mengalir melalui meridian akan terasa sangat sakit seperti ditusuk pedang. Memang sedikit berlebihan, tapi memang seperti itulah rasanya. "Tidak bisa, aku harus memeriksa apa yang terjadi denganku." ujarnya bangun dari duduknya dan keluar dari kamar.
...***...
Seorang tabib sekarang sedang memeriksan tubuh Yohan didalam ruangan pengobatan. Tentu saja akademi Qing Luo memiliki klinik khusus sendiri. Karena akademi ini termasuk akademi besar.
"Tubuhmu sangat lemah, kusarankan untuk tidak terlalu memaksakan dirimu untuk berkultivasi. Untuk sekarang aku akan meresepkan obat untukmu." ujar seorang tabib muda. Dia adalah tabib bermarga Lu, Lu Xiao. Umurnya sekitar 27 tahun ini, bermata sayu, memiliki wajah yang tidak bulat tidak kecil, memiliki bentuk rahang yang tajam, alis yang tebal lurus ke atas dan memiliki senyum yang menggoda. Rambutnya yang panjang dan diikat longgar ke bawah menambah kesan kedewasaannya.
"Maksudmu tubuhku terlalu lemah untuk berkultivasi?" tanya Yohan. Ia tahu tubuhnya memang lemah, tapi bahkan sampai tidak bisa berkultivasi? Sungguh? Jika benar itu akan menjadi masalah terbesarnya.
"Kurang lebih begitu. Jika kau ingin tahu bagaimana kondisi tubuhmu sekarang tubuhmu seperti kayu yang keropos dimakan rayap." ujar tabib tersebut. "Datanglah sebulan sekali kesini untuk mengambil obat. Setidaknya dengan obat yang kubuat kau bisa bertahan untuk berkultivasi sehari." ujar Tabib itu sembari menggerus tanaman tanaman kering di alat khusus penggiling obat. Setelah selesai menggerus obat dia memasukkannya ke dalam botol putih kecil.
Yohan ingin mengambil botol itu namun tiba tiba tangannya ditampik oleh si tabib.
Plak
"Tidak ada yang gratis di tempatku." ujar tabib Lu Xiao sembari tersenyum bisnis.
Brak
Setelah membayar si tabib Yohan pergi dengan hati kesal karena tabib itu meraup hampir semua uangnya.
"Hm~ hm~ hm~" sedangkan Lu Xiao melantunkan nyanyian senang karena telah mendapat beberapa silver.
"Apa kondisinya separah itu?" tanya seseorang tiba tiba dari balik papan kayu. Suaranya terdengar berat dan seperti seorang kakek kakek.
__ADS_1
Lu Xiao melirik tempat asal suara tersebut, "Anda membuatku kaget kepala akademi~" ujar Lu Xiao sambil tersenyum ramah.
"Bensrkah? Ho~ maafkan aku telah membuat tabib mata duitan sepertimu kaget." saut seseorang yang dipanggil kepala akademi. "Tapi sepertinya kau tidak kaget sama sekali aku ada disini, ya?" lanjutnya.
"Mana mungkin~ aku bukan orang yang sehebat itu sampai bisa tahu kalau dari tadi kepala akademi menguping pembicaraanku dengan bocah itu." ujar Lu Xiao masih tersenyum ramah.
'Dia sudah tahu.' pikir kepala akademi. "Kau belum menjawab pertanyaanku!" lanjutnya.
"Lima koin perak untuk satu pertanyaan." ujar Lu Xiao.
"Apa? Dasar tabib gadungan!? Kenapa mahal sekali hanya untuk satu pertanyaan. Satu koin perak atau tidak sama sekali." protesnya tidak terima.
"Dasar pak tua pelit, aku tahu kau memiliki banyak emas di ruang penyimpanan hartamu!? Berikan aku beberapa dan juga, aku bukan tabib gadungan!?" tegas Lu Xiao.
"Tidak, aku tidak akan memberimu sepeserpun!? Semua emas itu akan kuberikan pada cucuku nanti. Jangan coba coba mengambilnya dasar penipu!?" dari tabib gadungan menjadi penipu. Kepala akademi tetap tidak ingin memberi emas emasnya pada Lu Xiao.
Mendengar cucu kepala akademi di bawa bawa Lu Xiao jadi bungkam. "Baik baik, satu koin perak. Berikan padaku!?" ujarnya sepakat dengan satu koin perak. Memang jika urusan tawar menawar kakek satu ini jagonya. Dari balik papan kayu terlempar sejeping koin perak. Dengan sigap Lu Xiao menangkapnya.
"Sekarang katakan padaku informasinya!?" ujar kakek tua itu kembali serius.
"Tubuh bocah itu lebih lemah dari seorang manusia biasa. Sebuah keajaiban dia bisa bertahan sampai sejauh ini tanpa meminum obat sekalipun. Hanya dengan tekanan kecil dari kultivator saja dia akan muntah darah dan mimisan. Kau bisa lihat bagaimana dia tidak bisa kultivasi karena tidak bisa menahan tekanan Qi di tubuhnya. Meskipun dia berbakat tapi percuma saja jika tubuhnya selemah itu." jelas Lu Xiao sambil menghitung satu persatu uangnya.
"Boleh saja, asalkan…"
"Aku akan membayarmu berapapun."
"Uhk uhuk uhuk!?" Lu Xiao tersedak kata katanya sendiri mendengar jawaban kepala akademi. "A apa? Bisakah anda mengulanginya?" pinta Lu Xiao masih tak percaya.
"Aku akan memberimu berapapun asalkan dia bisa berkultivasi dengan normal." ulang kepala akademi.
Terlihat Lu Xiao dengan wajah senangnya. "Kalau begitu_"
"Tidak dengan emas!? Aku akan membayarmu dengan sepuluh perak, perbulan, bagaimana?"
"Eh? Tunggu, bukannya kau bilang berapapun?" tanya Lu Xiao.
"Kapan aku mengatakan itu?"
__ADS_1
"Apa? Baru saja kau mengatakannya!?"
"Tidak, aku mengatakan akan membayarmu dengan sepuluh koin perak, paham?!"
Lu Xiao diam dengan seribu bahasa, "Aku punya pertanyaan, kenapa kau sangat pelit?"
...***...
Pagi ini, didalam kelas mereka memperhatikan Yohan dengan tatapan sinis. Yohan sendiri tidak tahu kenapa mereka tiba tiba menatapnya seperti itu. Padahal ia selalu diam dan anteng di kelas. Namun tiba tiba kejadian seperti sekarang muncul. Mendapatkan tataoan sinis dari semua orang. 'Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengaku? Kalau di pikir pikir saat berjalan kemari juga semua orang melihatku seperti itu. Sebenarnya ada apa?' Pikir Yohan tidak mengerti.
Yohan berjalan melewani beberapa meja, dan satu kaki dipasang untuk membuatnya jatuh. Ia melihat itu, sedangkan orang yang memasangnya pura pura melihat ke arah lain. Dengan mudah Yohan melangkahi kaki itu dan terakhir… menginjaknya.
"Aah!? Dasar baj*ngan!?" gerutu orang yang diinjak kakinya.
'Kau pikir aku takut? Dasar tonggos.' balasnya dalam hati melihat gigi orang itu yang maju ke depan.
Brak
Tiba tiba tiga orang datang menghampiri Yohan. Tubuh mereka besar dengan penampilan garang. "Hei pecundang yang membunuh tuan muda Jiang masih berani datang kemari?" tanya pria paling tengah.
Seketika Yohan membelalakkan matanya saat orang itu mengetahui ia membunuh Jiang Feng. Padahal waktu itu tidak ada siapapun yang mengetahui dirinya membunuh Jiang Feng, ataukah ada seseorang yang dim diam melihat pertarungan mereka?
"Apa? Kaget kami mengetahuinya? Hpmh, kau benar benar jahat membunuh seseorang yang sangat baik seperti Jiang Feng."
"Setelah kelas selesai bersiap siaplah mendapatkan pelajaran dari kami!?" mereka pergi setelah memperingati Yohan.
Yohan melihat orang orang yang dulu melihatnya kagum, tapi sekarang mereka memalingkan wajah mereka. Para gadis yang dulu sering senyum saat membicarakan dirinya sekarang tidak berani melihatnya.
"Pantas saja senior Jiang Feng tidak kelihatan, ternyata dibunuh olehnya? Dasar, jahat sekali dia membunuh senior yang baik."
"Itu menjelaskan kenapa aku selalu merinding menatap mata merahnya."
"Sekarang melihatnya saja sudah menjijikan."
"Bagaimana bisa sampah sepertinya membunuh senior? Dia pasti menjebak senior dengan sangat licik."
Jiang Feng terkenal memiliki kepribadian yang baik di depan semua orang. Meskipun sebenarnya adalah orang yang sering menindas, tapi status keluarganya membuat semua hal keji yang dilakukan Jiang Feng ditutupi dengan hal baik saja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...