
Beberapa hari kemudian
Didalam sebuah kedai tampak seorang pria bercaping hitam sedang meneguk tehnya. Dihadapannya juga berjejer makanan mewah. Tepat didepannya seorang wanita bertudung hitam serta berjubah hitam, duduk. Dia adalah Zhu'er.
"Aku turut berduka atas perginya tetua Chen." ujar pria itu.
"………" Zhu'er hanya diam membisu tanpa berniat menjawab. Dia lebih sibuk dengan makanan dibadapannya.
"Aku bilang, aku turut berduka atas kepergian tetua Chen!?" ulang pria itu ingin jawaban wanita didepannya.
"………" lagi lagi Zhu'er tidak mempedulikan pria itu.
"Dasar tu_"
"Aku. Tidak. Tuli." ujar Zhu'er tiba tiba.
Cukup, pria itu benar benar kesal sekarang. "Jadi kau hanya tidak ingin menjawabnya? Dasar gila." gerutunya lagi. "Lupakan saja. Aku kesini karena untuk menjalankan misiku. Jadi jangan buang buang waktuku. Tuan Jun ingin meminta mayat itu segera dikembalikan!? Kau tahu apa maksudku bukan?" tanya pria itu serius.
"Ya." jawab wanita itu datar.
"Mayat itu sangat berbahaya, sekali dia mencium bau darah maka dia bisa bangkit lagi. Karena dia tidak sepenuhnya mati. Tuan Jun hanya membuatnya terjebak didalam alam bawah sadarnya yang paling dalam. Meskipun Tuan Jun sudah menyegel meridian dan menghancurkan basis kultivasinya, itu tidak menutup kemungkinan dia masih berbahaya. Jadi…" pria itu melirik makanan dimeja yang habis dibabad oleh si tukang makan, "Kau!? Kenapa kau menghabiskan semuanya? Aku bahkan belum makan satupun!?"
"Aku. Lapar." ujarnya datar.
"Ugh, kau memang selalu lapar setiap hari." ujarnya kesal.
"Aku akan langsung saja, serahkan mayat itu sekarang!?"
"……" Zhu'er menatap pria datar, "Mayatnya. Hilang."
Mata pria itu terbelalak, dia langsung berdiri dan berteriak, "APA?" kagetnya. Seketika semua perhatian tertuju padanya. Dia kembali duduk. Wajahnya terlihat syok mendengar mayatnya hilang. 'Bagaimana ini? Apa aku harus kembali dan mengatakan mayatnya hilang? Tidak, aku tidak bisa kembali tanpa membawa apapun. Aku tidak bisa membuat Tuan Jun kecewa. Apa yang harus kulakukan?' pikirnya mencoba mencari solusi. Dia melirik Zhu'er yang sedang melihatnya datar.
"Apa kau yakin dia benar benar hilang?' tanya pria itu.
"Ya." jawabnya datar.
"Apa kau yakin, kau tidak sengaja membuat mayatnya hilang?" tanyanya curiga dengan Zhu'er.
"…… Ya." jawabnya.
Pria itu mengernyit, 'Ini ya yang tidak menghilangkan atau memang ya yang menghilangkan?' pikirnya jadi bingung.
...***...
"Hari ini~ juga sangat gelap~"
Yohan bernyanyi lagu tentang dirinya yang masih berada didalam penjara dengan kedua tangan dan kaki yang dirantai. Ia sudah tidak diberi makan berhari hari oleh mereka. Sepertinya mereka ingin membunuhnya secara perlahan. Hari ini ia lagi lagi bermimpi mimpi yang sama. Berjan didalan sebuah lorong yang terbuat dari ranting dan selalu terjadi hujan darah didalamnya. Cahaya yang dikejarnya meskipun dengan berlari masih tidak bisa di raih. Sepertinya ia akan berada ditempat ini sampai mati.
"Aku lapar~ aku~ sangat~ lapar~ "
Brak
__ADS_1
"DIAAM!?" teriak Jiang Jierui membuat seseorang yang bernyanyi kaget. "Berhenti menyanyikan lagu jelek itu!?" lanjutnya.
Masuk seorang pria dengan membawa sebuah pedang dengan bilah hitam putih. Pedang itu memiliki corak unik di bilahnya yang menjadi pembatas antara warna hitam dan putih. "Apa kau bingung mengapa aku membawa pedang hari ini?" tanya Kepala keluarga Jiang. "Hari ini aku akan memberimu sebuah kehormatan dengan menjadi yang pertama merasakan tebasan pedang Yu Chang!?" ujarnya sembari mengelus dan menatap pedang didepannya.
"Kau seharusnya bangga karena pedang Yu Chang adalah pedang legendaris yang sudah lama dicari keberadaannya. Tapi si bodoh Li Wei itu dengan mudah memberikan pedang ini dari penyimpanan harta akademi demi uang. Bukankah itu bodoh? ha ha ha ha ha ha…" Kepala keluarga Jiang tertawa mengingat kebodohan Li Wei.
Yohan menggertakkan giginya, pantas saja ia seperti pernah melihat pedang itu. Ternyata pedang itu adalah salah satu koleksi pedang Chen Zinyu. 'Beraninya si bodoh itu menjual pedang kakek Chen!?' umpatnya dalam hati.
"Yah, siapa yang peduli? Berkat kebodohannya aku mendapatkan pedang Yu Chang." Kepala keluarga Jiang mengeluarkan bilah pedang. Dia menodongkan ujung pedang ke depan dada Yohan. Terlihat senyuman diwajah Jiang Jierui, Kepala keluarga Jiang. "Terimalah ini!? Untuk anakku!?"
Jleb
...***...
Duarr duarr duarr
Terlihat banyak ledakan ledakan dimalam hari. Banyak orang orang melarikan diri keluar dari kediaman Jiang. Ada juga yang tetap bertahan dan bersiap dengan musuh yang akan datang.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak ledakan disini?" tanya Kepala keluarga Jiang.
"Tuan, ada master ranah Yuzhou menyerang kemari." ujar salah satu prajurit yang bertahan.
"Ranah Yuzhou… dimana master itu sekarang?" tanya Kepala keluarga Jiang.
"D dia disana!" Bawahan itu menunjuk ke arah tempat dimana dua orang bertopeng putih melawan puluhan prajurit keluarga Jiang.
Kepala keluarga Jiang segera melesat pergi ke arah yang ditunjuk. Dia kini sudah dihadapan seorang penyerang. Penyerang itu adalah Shin. Dirinya dan Jingmi telah merencanakan menyerang kediaman Jiang. Tentu saja dengan memakai penyamaran. "Siapa kau? Kenapa kau menyerang kediamanku?!" tanya Kepala keluarga Jiang.
"Liu Yohan? Sayang sekali, aku baru saja membunuh orang itu." ujarnya dengan senyuman licik diwajahnya.
"Apa?" Shin terbelalak mendengar kalu Kepala keluarga Jiang baru saja membunuh Yohan. Memang tidak mustahil pria itu membunuh Yohan, karena dia jauh lebih kuat dari Yohan. Tapi pernyataan ini masih belum bisa dipercaya. "Dengar tuan, jangan coba coba coba membohongiku. Aku tidak bercanda dengan ancamanku." ujar Shin bohong. Sebenarnya dia tidak begitu peduli mau Yohan meninggal atau tidak. Karena yang dia inginkan hanya membunuh seseorang sekarang. Dengan alasan menyelamatkan.
"Untuk apa orang penting sepertiku berbohong padamu? Itu tidak ada gunanya bagiku. Kau lihat pedang ini? Aku baru saja menusuk jantungnya dengan pedang ini." ujarnya sembari memperlihatkan pedang Yu Chang yang terlihat berlumur darah. Tanpa disadari oleh mereka, darah dari Yohan perlahan meresap ke dalam pedang. Sedikit demi sedikit.
...***...
Jingmi yang memakai topeng putih seperti Shin menelusuri ruang bawah tanah seperti yang ada di peta. Sebelum menyerang kediaman Jiang, dirinya dan Shin sudah mencari tahu semua informasi tentang kediaman Jiang. Juga telah mencari tahu dimana Yohan ditahan. 'Pintu itu terbuat dari besi, kurasa disanalah Yohan'ge ditahan.' pikir Jingmi. Dia menghampiri ruangan yang berpintu besi tersebut. Pintunya sedikit terbuka, membuatnya sedikit heran. Tapi tidak terlalu dipikirkan. Dia masuk ke dalam, matanya terbelalak kaget ketika melihat Yohan tidak sadarkan diri dengan dada yang berlumur darah. "YOHAN'GE!?" panggilnya kaget sembari melepas topengnya.
Dia berlari menuju Yohan dengan wajah panik.. "Yohan'ge, bertahanlah!? Aku akan segera menolongmu!?" Jingmi mengeluarkan sebuah kunci, dia membuka gembok tangan dan kaki Yohan satu persatu. "Yohan'ge, sadarlah!? Kita harus segera keluar dan mengobatimu!?" ujar Jingmi mengguncang pundak Yohan. Tapi tak ada jawaban sedikitpun. Dia akhirnya memeriksa nadi di leher pria itu.
"Tidak mungkin. Dia sudah… Mati?" ujarnya dengan ekspresi syok.
...*...
...*...
...*...
Jleb
Sebuah tusukanbpedang dingin menembus jantung seorang pria. "Mati!? Kau harus mati!?" ujar pria berambut putih dengan tatapan bengisnya.
__ADS_1
Pria yang tertusuk pedang mundur beberapa langkah sembari melihat dadanya yang berlumur darah. "Kau, mengkhianatiku?" ujar pria itu yang tertusuk pedang. Alih alih merasa sakit, ia lebih merasakan pedih karena seseorang yang ia percayai menusuk jantungnya sekarang., Tanganya yang dipenuhi darah menutupi wajahnya, "Hm hm hm hm hm hm hm…" dia tertawa dengan wajah tertutup tangan. Kemudian dia menurunkan sedikit tangannya, memperlihatkan tatapan yang dipenuhi kebencian didalamnya. "Tiga ratus tahun. Sampai waktu itu habis hiduplah dengan damai bersama klan itu!? Setelah waktu itu habis juga, aku pasti akan kembali meskipun harus mulai lagi dari awal."
...*...
...*...
...*...
Jingmi berjalan bolak balik sembari menggigit kuku jarinya. Dia berusaha berpikir keras, masih tak bisa dipercaya Yohan telah meninggal. Apa dia salah periksa tadi? Tubuhnya masih terasa hanya, meskipun agak dingin. Tapi tetap saja, dia masih belum bisa percaya.
Disaat Jingmi bolak balik kepanikan, Yohan perlahan membuka matanya. Terlihat sepasang mata merah yang bergaris lurus di tengahnya. Ia menegakkan tubuhnya yang terasa sangat kaku, pandangannya sedikit kosong. Dilihatnya Jingmi yang kepanikan, lalu melirik sekitarnya yang berdinding besi. Saat dirinya akan bangun, terasa nyeri dibagian dadanya yang berlumur darah. Ia memegang dadanya dan melihat darahnya. Tanpa diduga duga, ia menjilat darahnya sendiri di tangannya.
"A aku akan memeriksa Yohan'ge lagi!? Mungkin aku sal_" ketika Jingmi berbalik ke arah Yohan, dia melihat pria itu ternyata masih hidup. "Yohan'ge!? Kau masih hidup?" tanya Jingmi terlihat senang. Tapi ekspresi senangnya pudar ketika melihat Yohan menatapnya dingin, "Ehm, aku… dan guru… datang untuk… menyelamatkanmu… jadi…" ujarnya terbata bata. 'K kenapa suasananya jadi dingin begini? Kenapa juga aku jadi gugup ditatap Yohan'ge? Duh, sial tanganku jadi basah karena keringat dinginku. Dia tidak akan membunuhku, kan?' pikirnya agak takut.
Yohan bangun dari duduknya. Sedangkan Jingmi tetap duduk berlutut bembatu. Dia tak bisa menggerakkan satu jaripun, seperti ada tangan raksasa yang menahan tubuhnya untuk bangun. Udara disekitar juga menjadi beku. Tiba tiba saja tekanan diruangan menjadi sepuluh kali lipat lebih besar.
"Kenapa kau tetap duduk dilantai? Apa kau tidak ingin menyelamatkan gurumu?" tanya Yohan.
"I itu…"
"Ayo, biar kubantu bangun!?"
Mendengar kata kata Yohan yang sama sekali tidak berubah dan masih sama seperti dulu, membuat Jingmi senang. "Ah, i iy_" Jingmi membulatkan matanya ketika mendongak ke atas. Dia menatap langsung mata Yohan yang berwarna merah bergaris lurus ditengahnya. Matanya terlihat lebih menyeramkan.
"Ah!?" sepertinya Yohan tahu kenapa Jingmi bersikap aneh seperti ini. "Aku akan menutup mataku jika kau takut." ujarnya sembari menutup matanya dengan tangan.
"E eh? K kau tidak perlu menutup matamu Yohan'ge!? Aku tidak takut, aku tidak takut!?" ujarnya langsung berdiri.
"Oh, baiklah tapi…" Yohan melirik kaki dan tangan pemuda itu yang gemetar. 'Dia sungguh takut padaku.'
Jingmi memimpin jalan didepan untuk menuju keluar. Punggungnya terasa dingin karena dibelakangnya mengeluarkan aura yang menekan.
Tiba tiba mereka bertemu dua orang penjaga. "Siapa kalian?" sentak salah satu penjaga.
Langsung saja, Jingmi mengeluarkan pedangnya. Dia menebas dua penjaga itu dengan cepat tanpa bisa diikuti keduanya. "Ayo kita lanjutkan, Yohan'ge. Hm? Yohan'ge?" Jingmi heran mengapa Yohan berdiri didepan penjaga yan sudab mati.
Tanpa diduga, Yohan menaruh kakinya di atas kepala penjaga itu.
Jrat
Dia menginjaknya hingga hancur.
Jingmi terbelalak melihat itu. Tak pernah disangkanya Yohan akan berlaku kejam seperti itu. Seketika dia tersentak ketika Yohan menengok ke arahnya. Meskipun tatapannya terlihat kosong, tapi entah bagaimana itu menusuk.
"Kau harus membunuhnya dengan benar."
"B baik!?"
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1