Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 37. Sebuah keadilan


__ADS_3

"Zhen'er, dengarkan ibu!? Jangan pernah mempercayai siapapun di tempat ini!?" ujar seorang wanita yang terbaring di tempat tidurnya. Tubuhnya begitu kurus tanpa lemak. Seperti seseorang yang terkena penyakit bertahun tahun. "Karena mereka akan lebih mudah untuk membunuhmu!?"


Yohan terbangun dari mimpi anehnya. Sebelumnya ia tidak pernah bermimpi. Tapi ini adalah mimpi pertama setelah bertahun tahun lamanya. Rasanya aneh ketika pertama kali bermimpi. Ditambah lagi mungkin saja mimpi itu adalah bagian dari ingatannya yang hilang. Yah, bagus juga jika ingatannya kembali dengan cepat. Dengan begitu ia akan tahu siapa dirinya, berasal dari mana, siapa musuhnya, dan hal hal semacam itu lainnya.


Yohan berjalan ke arah cermin melihat dirinya sendiri dengan pakaian dalam hanfu berwarna putih. Setiap kali ia bangun, ia akan melihat matanya yang berwana merah dengan garis lurus di tengahnya. Ia bertanya tanya apakah matanya ini memang seperti ini sejak lahir? Dan jawabannya sepertinya iya. Tapi kalau diperhatikan lagi ia terlihat menyeramkan, apalagi kalau ekspresinya dingin seperti sekarang ia tunjukkan didepan cermin. Karena itu ia harus menyembunyikannya, agar orang orang tidak takut ketika melihatnya.


"Kapan kau akan berhenti memandangi dirimu sendiri didepan cermin. Ayo turun ke bawah!?" ujar Yin Fan sudah ada di ambang pintu menyenderkan bahunya, "Mereka menunggumu."


Dirinya sedikit terkejut melihat Yin Fan tiba tiba berada disana. Ia rasa dirinya terlalu fokus pada hal yang tidak penting. Dalam waktu singkat ekspresinya berubah seperti biasa, "He he he he he kurasa aku tidak bisa berhenti mengagumi ketampananku." ujarnya dengan senyum percaya diri.


Terlihat ekspresi menjijikan di wajah Yin Fan mendengar hal itu. Terlihat sekali dia merasa jijik dengan apa yang Yohan katakan. "Jangan mengatakan omong kosong lagi. Kau membuatku merinding mendengarnya. Cepat pakai pakaianmu dengan benar dan turun ke bawah." omelnya.


"Baiklah~"


Setelah itu Yin Fan pergi sembari menutup pintu. Tapi dia tidak benar benar pergi. Dia sudah menahannya barusan, seluruh bagian tubuhnya merasa ketakutan. Sekarangpun terlihat jelas dadi wajahnya yang takut. 'Dia tidak terlihat seperti dirinya barusan. Dia terlihat seperti orang lain.' pikirnya.


Di bawah terlihat dalam satu meja sudah dipenuhi banyak makanan. Tentu saja sudah ada mereka yang duduk menghadapi makanan itu. Terlihat Jingmi beberapa kali mengusap air liurnya karena tidak sabar memakan daging di depan. Sama dengan Zhu'er yang mengawasi paha rusa agar tidak direbut oleh Jingmi. Ada juga Shin yang beberapa kali menguap karena sibuk semalaman bermain dengan beberapa wanita. Lalu Yin Fan yang menunggu dengan tenang di tempatnya.


Mereka terlihat seperti sekelompok orang aneh yang disatukan untuk menghancurkan dunia. Meskipun dirinya yang mengusulkan membuat kelompok itu, tapi ia juga masih belum mempercayai mereka. Yohan hanya mempercayai dirinya sendiri dan mewaspadai setiap orang. Karena mungkin bisa saja seseorang yang mengaku teman sebenarnya adalah musuh. Tak berselang lama ia berpikir matanya bertemu dengan Zhu'er. Seperti biasa tatapan gadis itu selalu diselimuti permusuhan dan ketajaman seperti pedang. Tapi ketika bertatapan dengan Yohan, dia melunakkan tatapannya.


Zhu'er mengangkat tangan kanannya seperti melambai tapi tidak digoyangkan. Dia lalu menyapa, "Hallo!?" sapanya datar.


Setiap pagi. Dia selalu melakukan itu. Dan terkadang, dia melakukannya ketika Yohan baru keluar kamar. Rasanya dia tidak pernah bosan mengatakan kata yang sama dan gerakan yang sama. Bahkan ekspresi yang sama. Namun, itu sama sekali tidak melunakkan hati pria itu. Dan lebih anehnya, meskipun wanita itu tahu fakta tersebut dia tetap melakukannya. Wanita yang pantang menyerah.


Zhu'er terus menatap Yohan hingga pria itu duduk di kursi kosong tepat disampingnya. Ekspresinya selalu sama dan hanya ada dua. Pertama ekspresi permusuhan, dan kedua ekspresi datar. Saat ini dia sedang memperlihatkan ekspresi datar pada Yohan. Dan karena ekspresi itu Yohan jadi tidak tahu apa isi kepala wanita itu. Tingkah lakunya tidak bisa ditebak, dan jalan pikirannya seperti tembok besar yang sama sekali tidak bisa dipanjat apalagi di tembus. Karena itulah Yohan tidak mempercayai kata cinta yang Zhu'er katakan. Karena ia tidak bisa membaca wanita itu.


Tidak lama dari arah pintu terlihat sekelompok orang orang berpakaian suatu sekte yang berwarna putih dan emas memasuki penginapan. Mereka duduk di satu meja yang sama. Mereka adalah kelompok orang dari sekte fire dragon yang juga mempersiapkan diri untuk memasuki labirin spiritual.


"Pesan makanan atau akomodasi, tuan?" tanya seorang pelayan yang menghampiri meja mereka.


"Keduanya. Kami memesan lima kamar satu kamarnya berisi dua orang. Lalu tolong siapkan makanan untuk sekarang." salah satu dari mereka yang sepertinya pemimpin dari mereka berbicara dengan sopan pada si pelayan. Tidak lama si pelayan pergi untuk menyiapkan makanan orang orang dari sekte fire dragon.

__ADS_1


Di sisi meja mereka ada meja yang berisi lima orang yang sangat lahap memakan makanan mereka. Beberapa dari mereka berebut daging seperti orang kesurupan. Yah, mereka adalah pelanggan yangvpaling mencolok dari semua pelanggan disana. Bagaimana tidak? Kelompok yang berisikan empat pria dan satu wanita itu terlalu menarik perhatian. Seorang pria paruh baya yang tidak cocok dengan sekelompok anak muda, seorang pria berparas tampan yang terlihat seperti pria penghibur di rumah bordil, seorang pemuda yang terlihat seperti perempuan dan tidak disangka sangat suka makan, satu orang wanita yang terlihat pucat dan selalu mengeluarkan aura permusuhan. Dan yang terakhir seorang pria berparas tampan yang bahkan pria pun tertarik.


"Wow, mereka terlihat kelaparan seratus tahun ha ha ha…" ujar salah satu dari murid sekte fire dragon.


"Apalagi anak perempuan itu yang bersuara laki laki. Tunggu, jangan bilang dia laki laki? ha ha ha…"


"Pria tua itu juga sepertinya masih merasa dirinya masih muda."


"Apakah wanita yang disana adalah Jiangshi? Kenapa pucat sekali? Kurasa jika aku mengecupnya dia tidak akan pucat lagi ha ha ha…"


"Tapi dua orang lainnya sepertinya adalah seorang gigolo ha ha ha ha…"


Mereka bersuara kecil, akan tetapi Yohan dan yang lain mendengar semuanya tanpa terkecuali.


Jleb


Bruk


Tiba tiba Yohan bangun dan menghampiri mereka dengan ekspresi paniknya, "Oh ya ampun, maaf~ maaf~ sepertinya salah satu pisau ku terbang ke arah yang salah. Apa kalian sangat terkejut? Ha ha ha ha, itu sih sudah pasti. Tapi, bagaimana ini? Dua orang itu, mati? Aku, aku sungguh minta maaf. Aku tidak senga_"


"APA KAU PIKIR KAMI BODOH? KAU PASTI SENGAJA MELAKUKANNYA BAJ*NGAN!?" teriak ketua mereka. Dia menarik kerah baju Yohan dengan penuh emosi. Terlihat jelas dari pelototan mata dan rahang yang mengeras.


Tapi pria brengs*k bernama Liu Yohan itu malah melongo melihat kemarahan yang menggebu gebu tersebut. Tidak tahu apa yang dipikirkannya dibalik wajah polos itu. Tiba tiba ia baru tersadar kalau pria yang menarik kerahnya itu marah karena ia membunuh teman seper-sekte-nya. "Ah! M maafkan aku, aku tidak melakukannya lagi." ujar Yohan dengan ekspresi panik di wajahnya.


Yin Fan heran melihat Yohan seperti itu. Dia yakin kalau pria itu tadi bersikap brutal dengan gagah berani, tapi kenapa sekarang malah ciut seperti jangkrik? Lalu tanpa sengaja dia mendapati Yohan meliriknya. Ralat, Yohan memang meliriknya dengan senyum meminta bantuan. 'Tunggu, apa ini yang sejak awal dia rencanakan? Ugh, dasar ular!?' pikirnya dengan raut kesal.


"Beraninya kau_" ketika pria yang menarik kerah Yohan ingin memukulnya, tiba tiba ada yang menahan pukulannya. Kalian tahu siapa dia? Ya, Yin Fan menahan pukulan pria itu.


"Tuan, kita bisa membicarakannya secara baik baik." ujar Yin Fan kalem.


Pria itu mengernyit tak suka, "Apa maksudmu bangs*t? Baj*ngan ini telah membunuh teman seper-sekte-ku dengan sengaja!? Dan kau masih ingin bicara baik baik?" ujarnya penuh emosi.

__ADS_1


"Ya, temanku ini memang telah membuat kesalahan. Dia itu seperti yang kau katakan, orang yang brengs*k, bangs*t, gila, sinting, cec*nguk tidak tahu diri, pem*ras, dan lebih parahnya lagi, dia tidak waras!?" Yin Fan mengatakannya dengan ikhlas dan bersungguh sungguh. Sampai sampai orang yang ingin memukulnya ragu apa Yin Fan memang rekan Yohan?


"H hei, paman, aku tidak seburuk itu kan? Setidaknya aku masih waras!?" ujar Yohan, merasa kalau Yin Fan sangat jujur mengenai dirinya.


"Diam!?" ujar Yin Fan tegas. Yohan langsung membungkam mulutnya. "Karena alasan itlah dia membunuh dua orang itu. Tapi, tidak hanya pria kurang waras ini yang membuat kesalahan," Yin Fan menunjuk Yohan, "Tapi juga kalian!?" lalu meralih menunjuk ketua dari kelompok itu.


"Apa?"


"Kalian dengan tidak sopan membicarakan kami tepat disamping meja kami. Tidak hanya itu, kalian juga menghina kami satu persatu, merendahkan kami dan bahkan menertawakan kami. Apa kami adalah sebuah lelucon bagi kalian? Hanya karena kalian dari sekte terkenal seperti fire dragon bukan berarti bisa merendahkan orang lain. Apa ini yang diajarkan sekte fire dragon? Membuat orang lain menjadi bahan tawaan?" Dengan cepat Yin Fan memutar balik keadaan. Orang orang yang melihat pertikaian mereka berubah arah menjadi sependapat dengan dirinya.


Orang orang dari sekte fire dragon merasa suasana tidak memihak mereka lagi. Jika mereka bertarung disini, nama sekte fire dragon bisa tercemar akan kehormatannya.


Ketika mata pria yang menatik kerah Yohan lengah, dirinya langsung menepis tangan itu dan mengambil tempat disamping Yin Fan.


Pria itu merasa kesal, "Kami akan menunggu kalian di labirin spiritual!? Ayo pergi!?" ujarnya pada yang lain.


Ketika mereka pergi, Shin memanggil mereka, "Tunggu!?" panggilnya. Mereka berhentu dan ketua dari mereka menatapnya tajam. Terlihat senyum miring di wajah Shin, "Apa kalian tidak membawa teman kalian?" ujarnya berubah jadi senyum ramah.


Seketika urat urat kemarahan mereka terlihat. Ini tidak beda jauh dari sebuah penghinaan. Namun, Pada akhirnya mereka membawa kedua mayat itu.


'Apa mereka berdua tidak akan puas jika tidak membuat musuh?' pikir Yin Fan. "Apa kau puas sekarang telah menambah musuh?" tanya Yin Fan dengan senyum menahan kesal.


Yohan melirik Yin Fan, "Aku hanya menegakkan keadilan saja~" ujarnya dengan raut wajah menyebalkan.


"Keadilan macam apa yang membunuh tanpa peringatan?"


"He he he he… tapi menurutku, kematian adalah sebuah keadilan." ujarnya sembari kembali duduk di kursinya.


"Kurasa kau memang benar benar tidak waras." ujarnya sambil melihat aneh Yohan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2