
Dibawah pohon terlihat beberapa anak sedang membuat seorang anak lainnya berlutut. Anak itu bernama Ho Jingmi. Dan dua orang didepannya adalah Yuan Bing dan adiknya Yuan Lingyuan. Mereka adalah anak anak dari keluargga Yuan. Salah satu dari keluargga besar di kekaisaran Qi. Di temani dua orang lainnya disamping Yuan Bing sebagai bawahannya.
Yuan Bing melempar sepiring makanan didepan Jingmi. Piring itu berisi makanan anjing, makanan sisa, dan juga makanan basi. Semua makanan itu dicampur menjadi satu untuk dimakan oleh anak yang kini tengah berlutut. "Cepat makan itu, sampah!? Jika kau tidak mau memakannya maka aku akan membuat ibumu yang memakan makanan menjijikan itu!?" ujar Yuan Bing mengancam Jingmi.
"Pfft, makanan itu memang pantas dimakan oleh anak haram sepertimu. Bersyukurlah kami masih memberi mu makanan selevel ini. Nasibmu masih lebih baik dari gelandangan miskin di luar sana yang memakan roti keras." saut Yuan Lingyuan dengan kekehannya.
Jingmi meremas lututnya menahan amarah yang selama ini ditahannya. Bagaimana bisa mereka tertawa seperti itu ketika menyuruhnya memakan sampah? Benci. Dia sangat membenci mereka sampai ke akar akar lubuk hatinya. Seandainya saja dia tidak bersaudara tiri dengan orang orang itu, seandainya ibunya bukan mainan sekali pakai kepala keluarga Yuan, seandainya…… ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan keluarga Yuan. Pasti akan sangat bagus.
"Kenapa kau hanya diam saja, anjing? Cepat makanlah dan menggonggong!? Apa kau tuli?!" bentak Yuan Bing marah.
"Kakak, sepertinya kau harus memberi pelajaran pada anjing ini agar dia menurut!?" tuntut Yuan Lingyuan sembari menyilang kedua tangannya didepan dada.
"Kau benar adik, sepertinya anjing ini harus mendapatkan pelajarannya hari ini!?" ujar Yuan bing melemaskan jari jari tangannya.
Duak!?
Dia mendang dan memukul Jingmi yang sama sekali tidak bisa bela diri. Yuan Bing memukul bocah itu sampai bonyok. Lalu menjambak rambutnya, "Kau pikir bisa melawanku? Hari dimana kau melawanku itu tidak akan pernah datang, mengerti? Kau hanyalah seekor anjing, dan anjing harusnya menuruti majikannya!? Sekarang cepat makan itu!? Oh, apa kau ingin ibumu saja yang memakannya?" ujar Yuan Bing sembari tersenyum licik.
Jingmi menatap Yuan Bing sengit, tapi apa yang bisa dilakukannya? Tidak ada. Karena itu…
"Iiih, itu menjijikan!? Dia benar benar memakan itu!?"
"Hueeek!? Dia terlihat sangat menyukainya ha ha ha ha ha ha ha ha…"
"Sekarang ayo menggonggong!?"
Ini benar benar membuat mual. Rasanya sangat menjijikan dan perut Jingmi menolaknya. Berulang kali dia ingin memuntahkan sampah ini sekarang juga, akan tetapi nanti ibunya yang akan memakannya. Karena itu,… dia harus bertahan. 'Bertahanlah sebentar lagi… hanya sebentar saja.' pikirnya. Dia mengangkat kedua tangannya berpose selayaknya anjing, "Gok…gok…" gonggongnya seperti anjing.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha anjing!? Di benar benar anjing!? ha ha ha ha ha ha ha ha!?"
"Ha ha ha ha ha ha ha ha bagus bagus!? Anjing pintar!? Hi hi hi hi hi hi hi…"
Mereka cekikikan seperti melihat adegan komedi. Tawa mereka terdengar menjijikan di telinga Jingmi.
...-...
...-...
...-...
"Huek!?" di bawah pohon itu jingmi mengeluarkan makanan anjing yang dia makan. Rasanya sangat menjijikan, sudah bertahun tahun mereka melakukan itu padanya. Tapi itu tidak pernah membuatnya terbiasa. Dia mengusap bibirnya yang setelah mengosongkan perutnya.
Lalu berjalan pulang ke rumahnya.
Sesampainnya di rumah, dia melihat ibunya yang juga baru selesau bekerja sebagai pelayan di keluarga Yuan. Ya, dia dan ihunya diperlakukam seperti pelayan dan sama sekali tidak dianggap sebagai keluarga. Untungya mereka masih ada hati untuk memberi gaji. "Ibu sudah pulang?" tanyanya dengan seulas senyum tipis.
__ADS_1
Ho Peiyu, ibu dari Ho Jingmi. Dia melihat putranya yang terlihat babak belur, pakaiannya juga kotor, ditambah tldengan tubuhnya yang kurus kering. Dalam hatinya, Ho Peiyu sebenarnya sangat sedih melihat keadaan Jingmi. Akan tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan meskipun lawannya adalah anak kecil yang jauh lebih muda dibanding dirinya.
"Ayo makan, aku sudah memasak untuk mu. Dan sebelum itu kau harus mandi." ujarnya dengan seulas senyum.
"Baik!?" jawabnya semangat.
Mmereka makan malam bersama. Masakan Ho Peiyu sangat enak dibanding makanan anjing. Jingmi memakannya dengan lahap. Peiyu tersenyum senang melihat Jingmi makan dengan lahap meskipun seadanya. Akan tetapi senyumnya pudarketika dia teringat ada satu hal yang ingin dikatakannya. "Malam ini, keluarlah dari kediaman!?" ujar Ho Peiyu menatap serius Jingmi.
Perkataan wanita itu langsung membuat Jingmi menjatuhkan sumpitnya. "Apa? Kenapa? Aku tidak mau meninggalkan ibu!? Kenapa aku harus keluar dari kediaman?" tanyanya histeris.
"Keluarlah dari kediaman menjijikan ini. Kau tidak boleh kembali sebelum kau bisa menghancurkan keluarga Yuan." ujar Ho Peiyu. Kemudian dia menyodorkan sebuah kertas ke hadapan Jingmi. Dia berdiri dari kursi lalu kembali berkata, "Ibu akan mebencimu jika kau tidak pergi." lanjutnya kemudian berjalan menjauh.
Apakah dia akan benar benar meninggalkan keluargga Yuan?
...***...
Yohan mendengarkan cerita menyedihkan dari anak dua belas tahun didepannya. "Jadi kau ingin menjadi murid disini?" tanyanya.
"Ya!?" jawabnya sinhkat.
"Ehm, itu akan sulit. Maksudku, kau terlalu muda jika ingin menjadi murid di akademi Qing Luo. Mereka hanya menerima murid yang sudah berumur 15 tahun atau lebih. Karena di umur itu manusia biasa yang bukan keturunan kultivator baru bisa mempelajari seni bela diri. Tapi karena kau keturunan keluarga Yuan, aku pikir kau pengecualian jika kau mengatakan kau dari keluarga Yuan pada mereka_"
"Tidak!? Sampai matipun aku tidak akan pernah menggunakan nama dari keluarga menjijikan itu!?" bentaknya membuat Yohan kaget.
Sekarang bocah itu terlihat cemas. Dia ingin secepatnya kembali. Tapi umurnya yang sekarang sama sekali tidak mendukung. "Kalau begitu bisakah aku mempelajari seni bela diri secara diam diam?"
"………Apa kau ingin cepat mati? Sebelum kau mempelajarinya guru guru disini mungkin akan menangkapmu."
"Lalu apa yang harus ku lakukan supaya bisa menjadi kuat?" tanyanya frustasi.
Brak
"Yohan!? Apa kau disi_apa dia anakmu?" tanya Shin yang seenaknya masuk tanpa permisi. Dia melihat Jingmi tepat didepan Yohan.
"Siapa yang memiliki anak? Aku hanya sedang membantunya."
Shin berjalan mendekat dan duduk di samping Yohan. "Jadi, apa yang kau bantu?" tanya pria itu memperlihatkan smirk diwajahnya. Wajahnya yang tadi terlihat polos sekarang terlihat licik.
Beberapa saat Yohan tidak menjawab Shin. Dia sejenak berpikir, 'Bukankah Shin berada di ranah yang tinggi melebihi para guru disini? Dia hanya pandai menyembunyikan kemampuan aslinya dari mata orang orang disini. Tapi yang menjadi kekurangannya adalah dia seseorang yang haus darah. Tunggu, bukannya jingmi…… ha ha ha ha ha kombinasi ini akan sangat menarik.' pikir Yohan yang sedang cekikikan didalam pikirannya. "Nama anak ini adalah Ho Jingmi. Dia ingin memasuki akademi, tapi kau tahu? Akademi melarang seseorang memasuki akademi sebelum berumur 15 tahun. Walaupun dia anak diluar nikah dari keluarga Yuan dan memiliki kesempatan jika menggunakan nama keluarganya, tapi dia tidak ingin melakukan itu." jelas Yohan.
"Dia… anak diluar nikah?"
"Ya."
Shin memperhatikan Jingmi dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Disisi lain Jingmi merasakan firasat tidak enak ketika berhadapan dengan Shin. Instingnya mengatakan kalau dia harus lari dari pria ini. Walaupun dia tidak tahu kenapa harus lari dari pria yang terlihat baik ini.
"Boleh aku memeriksa nadi spiritualmu?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Y ya." Jingmi memberikan tangan kirinya pada Shin. Pria itu memeriksa nadi spiritualnya.
Tidak lama terlihat ekspresi senang diwajah pria itu. Tapi dia menahannya agar tidak terlalu kentara. 'Hebat!? Dia memiliki tubuh naga dan dan tubuh spiritual!? Tubuh spiritual, artinya dia sangat berbakat dan tubuh naga artinya dia memiliki regenerasi yang hebat. Sudah kuduga keturunan dari keluarga Yuan memiliki kemungkian memiliki tubuh spesial. Keluarga Yuan terkenal dengan tubuh naga mereka. Tubuh yang dapat dengan cepat sembuh seiring bertambahnya ranah. Tapi tiap generasi hanya satu keturunan yang dapat mewarisi tubuh naga. Bukankah ini adalah sebuah harta karun untukku?' Shin berpikir begitu lama sehigga membuat kedua orang itu bingung apa yang tengah dipikiran Shin.
'Sudah kuduga, dia akan sangat senang. Dasar psikopat!?' pikirnya sudah menduga pikiran psikopat satu ini. "Bagaimana? Apa, dia berbakat?" tanya Yohan pura pura tidak tahu.
"Hah? O oh!? Dia, sepertinya kurang berbakat." ujarnya bohong.
"Apa? Walaupun dia dari keluarga Yuan?"
"Ya!? Apa kau pikir semua anak dari keluarga besar itu berbakat? diantara mereka juga ada yang tidak memiliki bakat bela diri." bohong.
"Haih, apa kau dengar Jingmi? Katanya kau sama sekali tidak memiliki bakat!? Jadi seperti kau harus menyerah sampai disini saja."
Anak itu terlihat lebih cemas, "Tapi…" dia menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
"Begini saja, bagaimana jika kau menjadi muridku?" ujar Yohan membuat kedua orang itu mendelik padanya.
"Apa_"
"Tidak!?"
Jingmi dan Shin berucap bebarengan tapi yang paling terdengar adalah Shin. Sontak dirinyalah yang berganti di pendeliki oleh Yohan dan Jingmi. "Maksudku, kau sendiri tidak bisa berkultivasi. Bagaimana mau mengajari orang lain? Bukankah itu tidak mungkin." ulas Shin.
"Ya, kau benar. Tapi menurutku belajar tidak harus berasal dari seberapa hebat orang itu. Belajar bisa dari siapapun, bukan?" ujar Yohan yang menurut Shin terlalu naif.
'Tidak, tidak bisa dengan orang ini. Kalau begitu…'
"Aku akan mengajarinya, bagaimana?" ujarnya yang akhirnya mengajukan diri.
"Sungguh? Kau ingin mengajari Jingmi? Tapi…"
"Apa kau meragukanku?"
"Tidak,"
"Kalau begitu sekarang dia muridku." ujarnya final sembari tersenyum ramah. Dalam hati dia lebih dari tersenyum ramah. Karena telah mendapatkan harta karun sebagai samsak hidupnya.
Namun, ada yang lebih merasa menang dari Shin. Orang itu kini tersenyum puas secara samar tanpa diketahui mereka berdua. 'Aku menantikan bagaimana kalian akan bersenang senang.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1