
Saat ini Yohan sedang mengikuti dengan patuh dengan pria yang membantunya melarikan diri. Padahal dia yang membuat naga emas itu menangkapnya, tapi sekarang dia sendiri yang membebaskannya. Yohan sama sekali tidak mengerti mengapa pria ini melakukan hal yang sama sekali tidak menguntungkan dirinya.
"Jadi namamu adalah Liu Yohan?" tanya Ming Jiajun setelah sekian lama diam.
"Ya," jawabnya singkat. Rasanya sangat aneh bicara seperti ini dengan seseorang yang menangkapnya, atau membebaskannya? Entahlah, yang pasti aneh.
"Berapa umurmu sekarang?"
"16 tahun,"
"Siapa saja keluargamu?"
"Hanya… ibuku," Yohan merasa pertanyaan pertanyaan aneh mulai bermunculan. Sebenarnya ada apa ini?
"Apa warna_"
"Bisakah kau langsung ke intinya? Aku tidak suka dengan pertanyaan yang berbelit belit." potong Yohan tidak tahan lagi dengan pertanyaan rumit Ming Jiajun.
Untuk beberapa saat hening. Tapi tidak lama Ming Jiajun kembali berbicara, "Apa kau pernah bertemu Ming Jiazhen?" akhirnya pertanyaan combo keluar dari mulut Ming Jiajun. Membuat langkah Yohan berhenti dengan pertanyaan yang dilontarkan pria itu.
Ming Jiajun berbalik badan saling berhadapan beberapa langkah. "Tidak, kuganti pertanyaannya, Apa kau adalah… Ming Jiazhen?" ujarnya dengan memperlihatkan ekspresi serius__sangat serius.
"Siapa dia?" tanya Yohan tidak mengerti. Jujur saja, baru pertama kali ini dirinya mendengar nama itu. Namanya terdengar familier ditelinganya. Terasa akrab.
__ADS_1
Ming Jiajun menatap lekat lekat Yohan yang sekarang sedang kebingungan. 'Apa yakin orang itu juga memiliki tanda luka benang besi di lehernya.' pikir Ming Jiajun. "Kalau begitu, dari mana kau dapatkan luka itu?" tanyanya sembari menunjuk luka di leher Yohan.
"Ini?" Yohan menunjuk lehernya sendiri, diangguki oleh Ming Jiajun. "Beberapa bedebah di desa melakukan hal nakal padaku. Mereka bertaruh apakah aku masih hidup atau tidak tetelah benang tipis yang tajam menggorok leherku. Akhirnya karena aku masih hidup beberapa orang mengeroyok ku lagi bahkan saat aku diambang sekarat. Ha ha ha itu lucu sekali~" jelas Yohan dengan tawa renyah diwajahnya. Tidak tahu itu asli atau palsu, yang pasti tidak akan ada orang yang masih bisa tertawa menceritakan kalau dirinya pernah digorok. Apalagi berkata kalau pengalaman itu adalah hal yang lucu.
Maaf, tapi itu sama sekali tidak lucu. Tidak-sama- se-ka-li.
"Hmm," Ming Jiajun terlihat menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat kecil. Sangat kecil sampai semut saja tidak bisa dengar.
Yohan memperhatikan Ming Jiajun yang fokus memikirkan sesuatu. Ia menyipitkan matanya ketika Ming Jiajun mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Itu adalah sebuah sebuah gantungan untuk pedang terlihat cukup cantik. "Apa ini?" tanyanya heran mengapa pria didepannya memberikan benda itu padanya.
"Anggap saja ini hadiah dariku karena sudah menjawab pertanyaanku." sebuah senyuman penuh keramahan terpampang diwajahnya yang rupawan.
Yohan mengambil gantungan berwarna merah tersebut. Ia menatapnya dalam memperhatikan ukiran dan hiasan yang ada di gantungan tersebut. "Terima kasih." ucapnya datar masih menperhatikan benda yang ada ditangannya. Entah mengapa ia merasa de javu dengan situasi saat ini.
Seketika Yohan mendelik dengan omongan Ming Jiajun. Ia mengernyit dalam, lalu tertawa garing, "Sepertinya pertanyaan yang tepat adalah 'bagaimana kalau kau menjelajahi labirin bersamaku untuk memudahkanku mengawasi'mu?' benar, kan?" ujar Yohan dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Bisa dibilang begitu." jawab Ming Jiajun jujur.
Yohan mengangkat alisnya mendengar jawaban jujur pria didepannya. Tidak disangkanya kesan pertama yang awalnya terlihat seram ternyata sebenarnya orang yang tidak bisa ditebak dan blak blakan. "Kenapa kau ingin mengawasiku?" tanya Yohan penasaran. Akhir akhir ini banyak hal yang terjadi padanya. Tidak hanya itu, ia juga bertemu dengan berbagai macam 'teman' yang 'aneh'. Meskipun dirinya juga termasuk kedalam orang orang aneh itu.
"Aku pikir kau adalah orang yang kucari. Untuk memastikan kecurigaanku aku perlu menilik lebih jelas bagaimana dirimu yang sebenarnya."
"Setelah kecurigaanmu terbukti, apa yang akan kau lakukan padaku?"
__ADS_1
"Kalau kau bukan orang yang kucari, maka aku akan melepaskanmu tanpa mengusikmu, tapi… kalau kau benar adalah orang yang kucari, maka jangan salahkan aku untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri." jelas Ming Jiajun. Penjelasan yang lebih terihat seperti ancaman membuat siapapun sulit menelan ludah.
Namun, Yohan hanya melihat datar pria didepannya. Tanpa ekspresi ia menggenggam erat gantungan yang ada ditangannya. "Ppfftt ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" tanpa diduga pemuda itu malah tertawa disaat dirinya diancam akan dibunuh.
Ming Jiajun menautkan kedua alisnya heran, bagaimana bisa pemuda itu malah tertawa dengan omongan seriusnya. "Apa yang lucu?"
Tawa Yohan mulai reda, namun wajahnya masih memperlihatkan mimik yang menahan tawa. "Ah, jangan hiraukan tawaku, tadi aku hanya ingin tertawa." ujarnya dengan alasan yang tidak masuk di akal. Normalnya orang tidak akan tertawa saat tidak ada penyebabnya. "Tapi, apa kau yakin bisa membunuhku?" tanya Yohan, kali ini dengan ekspresi serius yang malah terlihat seperti ekspresi jahat. Ia melirik pedang bergagang putih yang terletak dibalik jubah Ming Jiajun.
"Kenapa tidak? Bahkan sekarang aku bisa saja membunuhmu!?" ujar Ming Jiajun dengan seulas senyum merendahkan diwajahnya.
Senyuman itu, Yohan tidak menyukainya. "Cepatlah mati. Aku tidak suka tipe orang sepertimu." ujar Yohan tanpa basa basi.
"Aju juga begitu." balasnya.
...***...
Dari tepi hilir sungai terlihat dua orang yang berpenampilan bertolak belakang sedang beristitahat di tepi sungai tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah mengungkapkan salah satu niat dari mereka.
Yohan terus berpikir kenapa pria disampingnya segitu yakinnya jika ia adalah orang yang selama ini dicarinya. Ia melirik sepepanjang hilir sungai uang tampak jernih bening. Bahkan bagian bawah dari sungai terlihat sangat jelas. Tapi entah mengapa ekspresinya tidak terlihat takjub sedikitpun. Padahal para peserta lain bahkan guru sekalipun selalu takjub melihatnya.
Bahkan Ming Jiajun selalu terpesona dengan keindahan sungai di labirin spiritual ini. Tidak ada bahaya lain selain keindahan yang terlihat. Sangat cocok untuk dipandangi dan dilukis. "Apa yang kau lihat?" tanya Ming Jiajun penasaran mengapa Yohan selalu melihat ke arah sungai.
"Sungainya, indah." ujarnya masih melihat ke sungai. Meskipun dirinya mengatakan itu, tapi yang dilihatnya berbeda dengan orang lain. Yang dilihat dimatanya adalah sungai yang dipenuhi warna merah dengan beberapa mayat mengapung di atasnya. Lupakan tentang apa yang dilihatnya, karena ia tahu itu hanya ilusinya saja. Darah dan mayat itu tidak benar benar ada. Dan sungai itu memang aslinya benar benar indah. Tapi ia harus ingat, tidak boleh memperlihatkan kecurigaan untuk Ming Jiajun membunuhnya. Tidak sedikitpun.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...