Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 19. Ilusi hati 1


__ADS_3

Didalam kabut putih yang begitu tebal terlihat Yohan yang berjalan sendirian. Mereka awalnya masih bersama tapi kabut tebal ini memisahkan mereka satu persatu diawali dari Jingmi. Dan akhirnya tinggal Yohan sendiri. 'Dimana mereka?' ia mencari keberbagai tempat mencari keberadaan teman temannya. Saat ia berteriak memanggil satu persatu nama mereka, yang terdengar hanya gema suaranya sendiri.


"Zhen…"


Yohan berbalik untuk melihat siapa yang barusan bicara. Suara itu terdengar seperti suara seorang wanita paruh baya. "Siapa itu?" tanya Yohan. Ia mengedarkan pandangannya ke berbagai arah mencari sumber suara. Pandangannya terhenti pada sosok yang terlihat dari kejauhan. Sosok itu semakin mendekat dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Ia mengedipkan matanya beberapa kali melihat wanita itu. "Siapa kau? Apa kau salah satu peserta yang tersesat?" wanita itu tidak menjawab, tentu saja tidak. Yohan tahu pertanyaan itu konyol. Ia ingat semua wajah peserta yang memasuki labirin spiritual. Tapi ia malah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas.


"Apa kau tidak ingat siapa aku?" tanya wanita itu balik. Dia melihat Yohan dingin yang terkesan merendahkan.


"Apa aku mengenalmu?" tanya balik Yohan. 'Apa yang dia bicarakan?'


"Dasar bodoh!? Sepertinya kau tidak hanya gila, tapi juga bertambah bodoh!? Berhenti berpura pura dan melarikan diri. Berhenti berkhayal seakan kau masih waras!? Sampai kapanpun kau tidak akan bisa membodohiku, dasar sinting!?" maki perempuan itu. Dia berjalan mendekat pada Yohan. "Kau anak durhaka yang membantai keluargamu sendiri, ingin hidup bahagia? Jangan bermimpi Ming Jiazhen!? Kau pasti akan mendapatkan balasan pada apa yang telah kau lakukan dulu. Kau pasti akan mendapatkan karma mu!?" wanita itu bicara sambil berputar putar disekeliling Yohan. "Kau telah merasakannya rasakan sendiri, bahkan manusia manusia di luar hutan itu memperlakukanmu seperti hewan dan sampah. Sebagian dari mereka menyiksamu, sebagian lagi dari mereka melecehkanmu, dan banyak dari mereka yang menutup mata pada ketidak adilan yang kau dapatkan. Itu semua karena kau memang tidak pantas hidup didunia ini. Karena itu lebih baik kau mati dari pada menjadi beban."


Jiafen kini berdiri dihadapan Yohan dengan tangan yang siap mencekik leher pria itu. "Matilah untuk ibu, karena kematianmu membuatku senang." ujarnya sembari tersenyum ramah. Cekikan pada leher Yohan semakin lama semakin kencang. Tapi anehnya, tidak ada ekspresi ketakutan ataupun kesakitan diwajah peria itu. Ia malah menatap dingin Jiafen didepannya.


Slash


Hanya dalam sekali tebas, Jiafen terbelah menjadi dua. Setelah Yohan menebasnya, perlahan wanita itu menghilang.


"Tiruan yang buruk."


Kemudian ia berjalan mencari teman temannya yang lain. Tapi tidak semudah itu mengalahkannya, monster yang menciptakan ilusi yang nyata kembali membuat ilusi lain. "Kemana kau akan pergi?" tanya ilusi itu terdengar seperti suara seorang pria.

__ADS_1


Karena suara yang ia dengar sangat mirip dengan seseorang, Yohan berbalik ke belakang. Ia kembalikkan tubuhnya melihat kebelakang. ilusinya berbah ke sosok lain. Kini memperlihatkan ilusi yang memperlihatkan bentuk lain, bentuk yang dikenalnya dan tidak tahu kenapa wujut itu. 'Wujud itu…"


...***...


"Hallo? Shin disini!? Kalau kalian mencariku panggil saja namaku ya?" teriak Shin. Tidak lama,


"Iyaaa!?" jawabnya sendiri.


Meskipun dia tidak jelas tapi apapun yang ia teriakkan selalu tidak ada jawaban. Dan yang terdengar hanyalah gema dari suaranya. "Ha ha ha aku seperti orang gila." kekehnya pada diri sendiri.


"Shin'er!?"


Kekehannya berhenti ketika mendengar suara yang tak asing dikepalanya. "Apa sekarang aku berkhayal seperti orang gila?" tanyanya.


Shin langsung membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya menggunakan suara ibunya ini. 'Beraninya monster ini menggunakan suara ibuku!?' pikirnya emosi. Saat melihat ke belakang terlihat seorng wanita berpakaian seksi dengan wajah yang sangat cantik. Surai coklatnya yang terang tergerai dan manik matanya yang berwarna biru langit membuat siapapun kagum melihat kecantikan dewi ini. Shin tak bisa berkata apa apa ketika melihat sosok ibunya terlihat jelas dihadapannya.


Plak plak


Dia menampar wajahnya sendiri memastikan apakah ini mimpi atau hanya ilusi. Tapi rasa sakit dan nyeri ini, sampai sudut bibirnya berdarahpun sosok itu tidak hilang. Dia nyata dan ada, tepat didepannya. "Siapa kau?" tanyanya masih tak percaya. Tidak mungkin seseorang yang sudah mati lalu hidup lagi. Apalagi penampilannya sama dengan sebelas tahun yang lalu. Ini jelas sekali ilusi.


"Shin'er, kau tidak ingat ibu?"

__ADS_1


"Hah ha ha jangan bercanda, kau membuatku muak!?" ujar Shin terang terangan.


Wanita itu berkaca kaca mendengar perkataan Shin, "Kau tega sekali mengatakan itu pada ibu," dia menangis.


"Cukup!? Ektingmu sangat buruk sampai membuatku ingin muntah. Aku tidak suka kau terus meniru ibuku!?" ujar Shin sembari menjentikkan jarinya.


Seketika es dengan ujung yang runcing dan tajam, mungcul dari tanah dan menusuk wanita itu. Seketika ilusi itu menghilang. Seperti yang Shin duga, itu hanya ilusi semata. Seandainya yang tadi adalah nyata, mungkin dia akan sangat senang.


...***...


Di tempat lain, Ming Jiajun berhadapan dengan.seseorang yang tidak pernah disangka sangka. Sosok yang dia hadapi adalah seseorang yang 'lumayan' dekat dengannya, meskipun pada akhirnya dia harus membunuhnya. Ya, sosok yang dia hadapi saat ini adalah Ming Jiazhen. Sosok itu hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun.


Meskipun sudah tahu itu ilusi, tapi dia tetap menanggapinya seakan ilusi itu adalah yang asli. Karena mungkin, ada yang ingin dia katakan dan tidak bisa dia katakan langsung pada yang asli.


Ekspresinya masih terlihat tenang tanda ada emosi didalamnya, "Aku tidak menyangka yang akan keluar adalah kau." ujarnya memulai pembicaraan. Sosok itu masih tak bergeming dan hanya masih menatap datar Ming Jiajun, "Kau tahu? Kau itu menyebalkan. Selalu memasang wajah senang padahal kau menyimpan banyak rahasia yang menyakitkan. Orang orang mengatakan kau itu gila dan sinting, tapi uniknya kau bersikap sangat baik padaku. Kenapa? Apa karena hanya aku yang menunjukkan sedikit perhatian padamu sehingga kau bersikap baik padaku? Kenapa kau, sebegitu menyedihkannya menginginkan perhatian?" ujarnya sedikit menunjukkan emosi.


Ming Jiajun berjalan mendekati ilusi itu yang kini memperlihatkan senyumnya. Senyum yang sangat khas dari yang asli. "Kenapa kau tersenyum?"


"Karena aku senang. Ternyata kakak sama sekali tidak melupakanku." ujarnya.


"Ternyata ilusi dan kenyataannya sama saja. Sama sama bodohnya." ujarnya yang masih melihat senyum palsu diwajah ilusi Ming Jiazhen. Benar, senyum palsu adalah senyum khas darinya. "Kenapa kau tidak menyerah saja dan pergi ke tempat lain yang membuatmu bahagia? Kau selalu bertahan pada hal yang membuatmu menderita. Seharusnya kau lari saja dari kenyataan…." ujarnya sembari berbalik berjalan menjauh, "…Karena pada akhirnya hanya kematian yang menunggumu." lanjutnya. Sekarang hanya tinggal mencari yang asli. Hari ini dia terlalu banyak bicara, benar benar menguras energinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2