
Yohan dan berhenti didepan dua tembok besar yang menjulang tinggi. Mereka telah sampai di pintu menuju lapisan kedua. Yohan melihat tombok besar didepannya. Ini pertama kalinya ia melihat tembok sebesar ini. Bahkan tinggi dan besarnya sepuluh kali lipat lebih besar dari benteng pertahanan. 'Jadi ini tembok labirin yang dimaksud Yin Fan. Besar sekali.' pikirnya masih mendongak ke atas. Ia masih mencari ujung dari tembok didepannya.
"Ha ha ha coba lihat dia! Melihat ke atas mencari ujung dari tembok didepannya! Ha ha ha…"
Yohan melirik ke asal suara orang yang jelas sekali membicarakannya. Orang tuli saja bisa langsung tahu. Mereka sepertinya seorang bangsawan, itu terlihat jelas dari gaya berpakaian mereka yang mewah serta kain sutra sebagai bahan utama pakaiannya. Mereka berjumlah empat orang. Tiga orang sepertinya berasal dari tempat yang sama. Sedangkan satu orang lagi hanya ikut ikutan bergabung.
"Oh? Kedengaran ya? Ha ha ha maaf, aku sengaja mengatakannya supaya orang kampung sepertimu bisa mendengarnya." ujar seorang pria berambut merah dan bermata coklat terang. Dia tersenyum ouas setelah menghina Yohan.
"Jangan seperti itu Wang Di~" ujar seorang wanita cantik yang warna bibirnya merah terang. Meskipun terdengar membela tapi tatapannya terlihat merendahkan Yohan.
"Pfft kalian jahat sekali." ujar seorang pria berpakaian putih dengan tatanan rambut coklat terang yang rapi. Masih terdengar tawa dibalik kipas putihnya.
Yohan merasa. nostalgia. Ya, ia sudah pernah merasakan candaan candaan jahat dan mencela seperti itu dulu. Dirinya sudah sangat kenyang mendengar mereka bercanda sambil merendahkan orang lain yang terlihat lebih buruk. Saking kenyangnya ia merasa mual. "Pfftt!?" ia menutup mulutnya agar tidak ketahuan kalau ia menertawakan mereka.
Tapi, tetap saja ketahuan. Mereka bertiga yang menghina Yohan menatap tajam dirinya. Yohan rasa ia benar benar ketahuan. 'Tunggu, bukannya aku sangat jahat sudah menertawakan mereka?' pikirnya.
Pria berambut merah bernama Wang Di menatap tajam sembari mengeraskan rahangnya marah. Dia merasa terhina dengan tawa Yohan. Tangannya menunjuk Yohan, "Kau terta_"
"YOHAN'GEEE!?" teriak seseorang dengan lantang.
Mereka langsung melihat ke sumber suara. Terlihat dua orang mendekati Yohan dan Zhu'er. Satu orang bersimbah darah dan satu lagi terlihat bersih nan rapi. Mereka adalah Jingmi dan Shin yang juga telah sampai ke pintu lapisan ke dua.
Jingmi berusaha mendekat tapi sebelum itu Yohan menahan kepalanya agar tidak mendekat lagi.
"Jangan dekat dekat, kau kotor." ujarnya.
Seketika Jingmi langsung sedih.
"Ck, siapa dua orang badut itu?"
"Dasar kampungan!?"
Jingmi yang sedih ditambah dengan cibiran mereka jadi kesal. Dia langsung melihat ke arab mereka dengan mmata melotot garang, "Siapa yang bicara barusan? Bac*t!?" sentaknya dengan bibir bawah manyun kedepan dan mata yanng meloyot seakan ingin memakan seseorang, itu addalah wajah yang super duper menyebalkan.
Wang Di yang dibilang bac*t oleh Jingmi langsung naik pitam. Dia tidak terima jika dicela oleh orang lain yang lebih rendah darinya, apalagi oleh seorang bocah yang yang terlihat seperti perempuan. "Dadar kau_" belum selesai membalas cacian Jingmi, bahunya ditahan oleh wanita disampingnya.
Wanita itu bernama Xiu Xiyun. Dia mmenahan Wang Di karena ia waspada dengan seseorang yang baru saja datang dari pihak lawan. Xiu Xiyun menggelengkan kepalanya sedikit. Dia memberi isyarat dengan melirik ke arah Shin yang sedang kelihat ke arah lain.
Mendapat isyarat seperti itu langsung membuat Wang Di juga melihat ke arah Shin. Beruntungnya dia sudah menyadarinya sekarang sebelum dirinya berbuat lebih jauh. Dia tidak bisa memprediksi tingkat ranah Shin. "Lain kali jika kita bertemu lagi, kalian tidak akan selamat." kata kata klise yang biasanya diucapkan oleh seseorang yang tidak bisa menang.
Mereka pergi memasuki pintu menuju lapisan kedua. Salah satu dari mereka berhenti sejenak dan melihat Yohan. Namun tidak lama seorang gadis berwajah putih pucat berdiri didepan Yohan agar gadis itu tidak melihat Yohan lagi. Tatapan Zhu'er selalu terlihat tajam dengan penuh permusuhan. Dirasa dirinya ketahuan, dia langsung kembali mengikuti anak anak bangsawan itu. 'Ayah, mendekatinya tidak semudah yang kau katakan.' pikirnya yang tak lain adalah Lao Yunzi.
"Ayo kita masuk juga!?" ajak Yohan sembari menunjuk jalan menuju lapisan kedua.
__ADS_1
"Ya!?" jawab Jingmi ceria lagi.
...***...
"Uwaaaaahhhh!?"
"Kyaaaaaaaaaa!?"
"Aaaaaaahhhhh!?"
Yin Fan melirik tempat dimana seseorang berteriak, "Oh, itu sudah yang ke-seratus kalinya seseorang berteriak disana. Dasar anak muda, kenapa mereka tidak berhati hati? Apa karena kalian masih muda jadi gampang ceroboh?" ujarnya. Padahal dirinya juga ikut berteriak. Tapi untungnya dia sudah mencapai ranah Yuzhou, jadi ketika jatuh ia bisa terbang.
Terdengar lagi suara teriakan dari pintu masuk
"Uwaaaahhhh!? Tolooong tolooong, aku tdak mau matiiii!?"
"Aagghhh diamlaaah!? Aku tidak bisa memegangimu!?"
"Uwaaahh ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"
Yin Fan merasa aneh dengan teriakan satu ini. Teriakannya terdengar seperti beberapa orang gila yang dikenalnya. Terutama yang terakhir. Dia langsung memusatkan penglihatannya melihat ke arah pintu. Jelaslah ketika dia melihat siapa mereka. Yin Fan langsung tersenyum jahat yang memperlihatkan kerutan digaris pipinya, "Ketemu kalian!?" ujarnya.
Mereka berempat tidak menyangka kalau sekeluarnya mereka akan bertemu dengan jurang yang curam.
Sedangkan Shin berusaha untuk mengangkat mereka bertiga sendirian. Akan tetapi kata kata terakhir Jingmi dapat terdengar jelas olehnya, "Apa kau bilang? Beraninya kau mengatakan itu pada gurumu sendiri? Padahal aku sedang mencoba menyelamatkanmu dari kematian!?" teriaknya.
"Uwa ha ha ha ha ha ha ha ha ha… bukannya ini menyenangkan? Berada di ujung kematian? Rasanya deg degan ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"
'DIAMLAH ORANG GILA!?' teriak Shin dan Jingmi dalam hati, untuk pertama kalinya mereka kompak.
"………" sedangkan Zhu'er adalah yang paling anteng diantara mereka berempat.
Saat hampir mencapai tanah dan kecepatan mereka masih berbahaya, Shin tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin ia bisa enyelamatkan dirinya sendiri tapi tidak dengan mereka yang masih berada di bawah Yuzhou. Sekarang pilihan ada ditangannya.
Yohan hanya tersenyum samar melihat Shin yang masih berjuang menyelamatkan mereka. Dirinya sengaja tidak membuat Zhu'er menyelamatkan mereka. Karena ia ingin melihat seberapa sportifnya Shin dengan kelompok ini. Karena biasanya orang sepertinya mudah untuk berkhianat. Bila satu saja dia melepas salah satu dari mereka, maka selamat tinggal.
"Hu hu hu, aku akan mati… aku akan mati…" Jingmi memejamkan matanya ketakutan. Dia sangat gemetaran. Mungkin kematian adalah yang paling menakutkan baginya.
Yohan tahu rasanya, saat seseorang mencapai ujung dari hidup mereka, seluruh tubuh akan terasa sangat sakit. Apalagi mati seperti jatuh dari jurang seperti sekarang. Dan ketika tubuh sudah mati, hawa disekitar tidak akan terasa hangat lagi. Tubuh akan kaku dan sangat dingin. Tangannya berkeringat dingin. Sejujurnya ia juga takut mati meskipun sudah pernah merasakannya.
"Hah, yang benar saja. Mati? AKU AKAN MATI SETELAH DENDAMKU HILANG, HHAAGGHHH!?" teriak Shin lantang. Dia mengeluarkan tenaga yang lebih besar lagi. Tubuhnya mengeluarkan cahaya kebiruan yang terang. Disaat saat seperti ini bisa bisanya dia naik ranah ke Yuzhou tingkat lima. Tapi berkat itu dia berhasil mempertahankan pegangannya pada kerah baju mereka.
Tepat ketika hampir sampai ke tanah, Shin melambat dan menjatuhkan mereka saat jarak ke bawah tidak terlalu jauh.
__ADS_1
Bruk bruk bruk
Mereka semua terjatuh bersamaan. Dan yang paling terakhir jatuh adalah Shin.
Bruk
Shin menjatuhkan dirinya ke tanah. Dia merasa seluruh sel tubuhnya menjerit kesakitan. "Haa haa haa aku, aku berhasil… selamat…" ujarnya dengan nafas terengah engah.
Jingmi meraba raba tubuhnya yang masih utuh, "Aku masih hidup!? Tidak ada yang kurang!?" ujarnya senang.
Yohan mengecek apa ada luka ditubuhnya, ternyata tidak. "Dan aku masih hidup." ujarnya sembari mengecek nafas hangatnya. Dirinya lega, dirinya masih hidup. Tidak lama Zhu'er juga ikut meraba raba tubuh Yohan apa ada yang sakit atau berdarah. Beralih ke wajahnya yang sudah dipegang erat dari kedua sisi oleh Zhu'er, "Apa yang kau lakukan?" tanyanya heran.
"Syukurlah. Kau. Baik. Baik. Saja." ujarnya dengan senyum tipis yang terlihat cantik diwajahnya.
Yohan tampak terdiam sejenak. "Syukurlah kau baik baik saja!?" seorang wanita menangis sembari memeluk seorang anak kecil yang dipenuhi luka. Ia mengingat sesuatu yang mirip dengan yang Zhu'er lakukan padanya. Segera menjauhkan wajah wanita itu dari wajahnya.
Jingmi melihat Shin yang sedang kelelahan, "Guru, kau sangat baik!?" pujinya dengan mata berkaca kaca.
"Bac*t!?" baru beberapa detik lalu bocah itu mengatakan dirinya kep*rat. Dan sekarang baru tahu kalau dirinya memang baik, sedikit. Shin memejamkan matanya sebentar. Dia rasa tidak bisa bangun dengan sendirin. Semua ototnya merasa tegang.
"Ayo bangun!?" ajak Yohan.
"Apa kau tidak liht aku tidak bisa_" saat membuka mata Yohan sudah mengulurkan tangan untuk membantunya bangun. Kemudian diausul dengan Jingmi yang matanya sambil melirik ke samping. Sepertinya dia menyesal telah mengumpat gurunya sendiri. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Rasanya aneh.
"Membantumu bangun." jawab Yohan dengan senyumnya.
"Maksudku, kenapa kau melakukan itu?" tanyanya curiga. Dia yakin pria itu memiliki maksud tersembunyi.
"Karena kau adalah keluarga ku." jawab Yohan. Membuat Jingmi disampingnya terpukau.
Itu kata kata yang sama ketika Yohan ingin menggaet Jingmi masuk ke dalam manipulasinya. "Apa kau pikir kata kata seperti itu akan bekerja padaku juga?" tanya Shin dengan senyum sinisnya.
Jingmi mengerucutkan bibirnya, "Yohan'ge benar!? Guru adalah keluarga!? Kenapa guru keras kepala sekali?" bentak Jingmi kesal.
"Diam kau!? Aku tidak bodoh sepertimu!? Dan kau, aku tidak akan terpengaruh dengan kata kata munafik seperti itu!?" dia masih kekeh dengan pendiriannya.
Yohan tersenyum miring mendengar Shin begitu kokoh dengan keyakinannya, "Benar, tentu saja kau benar. Tapi meskipun begitu aku akan tetap mengatakannya ratusan kali sampai kau mengakuinya." ujarnya semakin membuat Jingmi terkagum kagum.
Lalu Shin meraih tangan mereka. Sontak mereka menatapnya. "Kenapa hanya bengong? Bantu aku berdiri!?" ujarnya. Setelah itu mereka membantunya berdiri.
"Apa sekarang guru mengakuinya?" tanya Jingmi.
"Tidak, aku hanya sedang butuh bantuan."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...