
"Kau telah membuat Qiu'er menangis!? Kau harus berhadapan melawanku!?"ujar Rudao.
Sangat membuang waktu berurusan dengan mereka. Lebih baik Yohan pergi dari sini.
"Mau kemana kau? Dasar pengecut!?"
Tidak peduli Rudao ingin berkata apa, yang penting dirinya bisa cepat pergi. Tugas dari Chen Zinyu jauh lebih penting. Tadinya ia berpikir begitu, tapi tiba tiba Rudao mencengkram pundaknya lalukenyerang dari belakang. Begitu pun dengan serangan serangan teman teman rudao yang lain. Dengan sigap Yohan menangkis segala serangan serangan kecil yang mudah ditebak. Ia membuat tepat mereka semua dengan mudah. Kemudian ia memelintir tangan Rudao ke belakang dan mencengkram tengkuk lehernya ke bawah.
"Aagh aakgg aahh, sakit!? Sakit!? Lepaskan bajingan!?" erangnya. Bukannya dilepaskan Yohan semakin menekannya dan menariknya membuat Rudao semakin kesakitan. "Aaggh aagh!?"
'Bagaimana jika kupatahkan saja tangannya? Paling cuma beberapa bulan sembuh. Lagipula dia menyebalkan, sok sok'an jadi pahlawan tapi tidak ada kemampuan. Dan yang dibelanya adalah perempuan menyebalkan juga. Kalau begitu… Eh tidak tidak, apa yang kulakukan? Seharusnya tidak oleh begini.' pikirnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa ribut ribut disini?" tanya seorang guru datang. Dia adalah guru Lao.
"Itu guru, Yohan ingin mematahkan tangan Rudao!?" lapor salah satu murid.
Seketika Yohan kaget mengapa malah dirinya yang disalahkan. Padahal Rudao sendiri yang duluan mengajaknya berkelahi. Dan lagi, ia tidak mematahkan tangannya. Hanya baru niat saja. Segera ia melepaskan tangan Rudao, "Bohong!? Aku sama sekali tidak mematahkan tangannya!?"
"Dia berbohong guru!? Tanganku sangat sakit karena dipatahkan olehnya!?" elak Rudao.
Jadi begitu, mereka berencana menjebak Yohan setelah tidak berhasil memberi dia pelajaran.
"Jadi mana diantara kalian yang benar? Apa ada yang ingin memberi saksi?" tanya guru Lao. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak ada yang berani.
"Aku!?" salah seorang yang berani memberi keterangan mengangkat tangannya. Dia adalah Shin.
Seketika senyum diwajah Yohan terlihat, dengan begini ia bisa lolos dari hukuman. Dan wajah masam diwajah Qin Qiu serta Rudao dan gengnya terlihat. "Aku merekamnya dengan mutiara perekam!?" ujar Shin.
Langsung saja terjadi basak bisik diantara para murid. Mutiara perekam adalah benda spiritual yang terbilang mahal. Dan kebenaran dari mutiara perekam tidak perlu diragukan lagi. Shin mengeluarkan sebuah cangkang kerang putih. Cangkang itu terbuka dan memperlihatkan mutiara indah. Tidak hanya sampai disitu, mutiara itu mengeluarkan gambaran gambaran yang ilusi dari kejadian beberapa menit lalu.
Guru Lao langung memelototi mereka yang bersalah dalam hal ini, "Kalian!? Pergi ke tempat hukuman dan menerima hukuman ka kalian disana!?" ujarnya tegas.
"Baik, guru." jawab mereka takut sambil menunduk kecuali Qin Qiu. Gadis itu hanya menunduk dan pergi menahan malu.
Guru Lao juga ikut pergi bersama mereka. Tidak lama kemudian kerumunan murid murid juga ikut bubar. Yah, tidak ada yang bisa ditonton lagi sekarang.
Yohan menatap riang Shin, "Terima kasih bantuannya!?" ujarnya senang. 'Untung sekali saja ada pria ini yang membantuku. Dan untung saja aku belum mematahkan tangan Rudao. Jika aku mematahkannya diwaktu itu maka aku bisa kena hukuman juga.' pikirnya panik campur senang.
"Sama sama." jawab Shin ramah. 'Terlihat sekali dia ingin mematahkan tangan serangga itu. Haah, kenapa tidak langsung dipatahkan saja? Padahal akan seru kalau darahnya kemana mana, kan? Dasar tidak punya nyali!? ' pikirnya greget campur kesal. "Ah, kau ingin kemana?" tanya Shin. Dia melihat berjalan keluar gerbang.
"Oh, aku ditugaskan untuk membeli beberapa keperluar dapur oleh kepala akademi."
"Sepertinya kau sangat dekat dengan kepala akademi, ya? Kau sering keluar masuk kediamannya walaupun salah jalan."
"Sepertinya bukan begitu. Aku hanya sebagai pembantunya disana." Yohan menggaruk pelipis kepalanya, tidak enak dengan ucapan Shin.
__ADS_1
Shin membelalakkan matanya, "Pembantu? Ha ha ha ha ha ha ha…" dia kemudian tertawa. "Oh maaf maaf, aku berpikir kau mempelajari seni bela diri dari kepala akademi langsung karena kau sering sekali kesana." ujarnya tidak bisamenahan tawa. Karena Yohan terlihat bisa bela diri jadi Shin berpikir, mungkin bela dirinya itu langsung dipelajari dari kepala akademi langsung dengan meridian yang telah diperbaiki. Tapi kenyataaannya benar benar membuatnya ingin tertawa.
Wajah Yohan langsung masam, "Hah, orang tua pelit itu? mengajariku bela diri? Tidak mungkin!? Aku hanya memegang salah satu buku jurusnya saja dia akan langsung menggetak kepalaku dengan tongkat." ujar Yohan sangat kesal. 'Semoga orang tua pelit itu cepat mati.' kutuknya dalam hati. Dia sudah sangat geram pada Chen Zinyu yang benar benar sangat pelit membagi jurusnya. Yohan hanya memegang buku buku bela itu, tapi dia langsung marah dan menggetak Yohan dengan kesal. Kalau harus jujur, orang tua itu adalah orang terpelit yang pernah ditemuinya, sudah pikun, tukang ngomel, tukang nyuruh nyuruh, pelit, picik, licik, rakus, mata duitan, egois, tidak tahu diri, tidak tahu malu dan masih banyak lagi sifat jeleknya yang belum terungkap!?
Pernah sekali Yohan menjatuhkan koin silvernya yang menggelinding ke arah Chen Zinyu. Orang tua itu lalu mengambilnya, awalnya Yohan berpikir dia akan mengembalikannya padanya. Tapi orang tua itu malah berniat ingin menyembunyikannya dibalik lengan bajunya!? Sambil memastikan kanan kirinya aman atau tidak. Saat Yohan memergokinya dan meminta uangnya kembali orang tua itu malah berkata, "Jangan berbohong!? Ini uangku yang jatuh!? Anak kecil sepertimu mana mungkin memiliki uang sebesar ini!? Pergi pergi, jangan ganggu uangku!?" sejak saat itu Yohan tidak ingin menunjukkan uangnya pada Chen Zinyu. Dia benar benar orang tua picik!? Untuk membeli keperluan dapur sekarang saja memakai uang Yohan, bukannya ini pemerasan?
"Jika kau ingin pergi keluar, aku ikut!? kebetulan ada aku ingin makan di luar." ujar Shin.
"A apa aku boleh ikut juga?" ujar Jingmi yang tiba tiba ada ditengah tengah mereka.
"Astaga, aku tidak menyadari kehadiranmu. Sepertinya Shin melatihmu dengan sangat baik." ujar Yohan kagum.
"Ah, ha… ha ha…" Jingmi tertawa paksa mendengar perkataan Yohan. Apanya dengan sangat baik? Dirinya malah terus terusan disiksa oleh guru sendiri.
...***...
Didalam kerumunan pasar terlihat Yohan yang terpisah dari Shin dan Jingmi. Dia kebingungan mencari arah. Untungnya keperluan yang ia butuhkan sudah terpenuhi. "Seharusnya aku tidak lengah tadi." ujarnya. Ia terus berjalan mencari mereka berdua.
Bruk
"Ah, maaf." ujarnya tidak sengaja menabrak seseorang.
Orang itu adalah seorang perempuan cantik dari rumah bordil yang tengah menarik pelanggan di jalan. "Tidak apa apa jika untuk tuan muda yang tampan ini." ujar perempuan itu dengan nada genitnya. "Bagaimana sebagai permintaan maafnya tuan mampir ke rumah wewangian kami, kami jamin akan sangat harum disana Tuan muda pasti menyukainya." goda wanita itu sambil menggoda Yohan masuk rumah bordil.
"Eh, tidak tidak, aku tidak punya uang masuk ke sana." tolaknya.
"Baiklah, tapi aku hanya ingin melihat lihat."
"Tidak apa apa, melihat lihat juga tidak apa apa."
Akhirnya Yohan masuk ke dalam rumah mewangian.
Ketika pria itu masuk, seorang berjubah hitam yang menutupi wajahnya dengan tudung melihat Yohan memasuki rumah bordil. Lalu dia pun mengikutinya memasuki rumah bordil.
Didalam Rumah bordil yang bernama Rumah Mewangian ini ternyata sangat ramai. Ada banyak para penjudi yang ditemani wanita wanita cantik. Didepan mereka ada arak ada buah buahan. Tidak hanya itu, mereka juga sangat berisik dan ramai.
Yohan melihat salah satu permainan judi yang mana menebak angka kecil dan besarnya dadu didalam gelas. Seorang bos mengocok dadu didalam gelas dan menyuruh para penebak menebak angka apa yang akan keluar. "Jadi, apa tebakan kalian?"
"Besar dan besar!?"
"Aku bertaruh yang besar?"
"Besar semua!?"
"Apa yang kau katakan? tadi kulihat kecil semua. Aku bertaruh yang kecil."
__ADS_1
'Besar dan kecil.' pikir Yohan.
Saat bos itu membuka gelas, yang keluar adalah angka 6 dan 1. Jadi besar dan kecil. Bos itu tertawa dan mengambil uang para penebak yang kalah. Dia kemudian kembali mengocok dadu, patlra penebak kembali menajamkan matanya. Akan tetapi ketika angkanya menunjukkan angka besar dan kecil, bos itu melakukan sebuah trik yang membuat salah satu dadu berubah ke angka kecil.
'Merampok dari perampok, tidak apa apa kan?' pikir Yohan. Dia kemudian ikut andil dalam permainan dadu.
"Oh, ternyata ada pendatang baru yang ikut bermain. Kalau begitu apa jawabanmu?" tanyanya.
"Kecil dan kecil." jawab Yohan.
dan diikuti dengan yang lain menjawabnya.
Angka yang keluar adalah, kecil dan kecil.
"Woaah, apa ini adalah keberuntungan bagi pemula?" ujar salah satu penebak.
Sayangnya itu bukan keberuntungan. Tebakan berikutnya benar lagi, berikut dan berikutnya lagi. Bahkan sampai bos itu kebingungan, 'Bagaimana bisa pemula bisa sehebat ini? Dia pasti sebenarnya curang.' pikir bos itu.
Yohan sendiri kegirangan ia mendapatkan banyak tiket uang. Dengan menukarkan semua tiket ini ia bisa mendapatkan banyak uang dan membeli cincin penyimpanan baru. "Kalau begitu aku selesai." ujarnya. Dia pergi dengan membawa banyak tiket uang. Yohan kemudian mencoba banyak permainanlain yang menghasilkan banyak uang. satu per satu meja penjudi itu dia babad habis. Kenapa dia bisa sehandal itu? Karena sejujurnya ia pernah mengikuti semua perjudian itu. Meskipun hasilnya dia berakhir berkali kali kalah. Akhirnya setelah semua kekalahan itu ia baru menyadari kalau mereka berbuat curang.
Karena mereka curang, Yohan juga akan berbuat curang pada mereka.
"Tunggu!?" dua orang penjaga menghalau Yohan ke tempat penukaran uang dengan kedua tangan besar mereka. "Ikut dengan kami!?" ujar salah satu penjaga itu.
Mereka pasti akan menghajar Yohan dan merebut kembali tiket uang yang mereka berikan. Karena itulah yang Yohan alami dulu. 'Sudah kuduga mereka akan melakukan ini. Tapi aku bukannya tidak mempersiapkan apapun,' pikirnya. Ketika ia ingin menyerang mereka, tiba tiba ada keributan lain yang terjadi.
Seorang wanita berjubah hitam bertengkar dengan salah satu pelanggan rumah bordil.
"Dasar wanita ******!? Beraninya kau terus mengikuti kata kataku!?" ujar pelanggan itu marah.
"Beraninya kau terus mengikuti kata kataku!?" ulang wanita itu.
Pria itu melemparinya mekanan, begitupun dengan wanita itu yang melempari pria itu dengan buah di piring.
Yohan memperhatikan wanita itu, "Tunggu, bukannya itu…" ia membelalakkan matanya ketika menyadari siapa perempuan itu. Dia adalah Yueyin Zhu, cucu dari Chen Zinyu. Ternyata inilah sebabnya Chen Zinyu tidak mengisinkan Zhu'er ksluar dari hutan. Karena dia pembuat masalah, setiap tindakannya akan membuat orang lain kesal. Dan akhirnya ribut seperti sekarang. "Aku harus segera pergidan menukar semua tiket ini." untungnya para penjaga berusaha menenangkan Zhu'er dan pelanggan tersebut.
Yohan buru buru keluar rumah bordil setelah penukaran uangnya selesai.
"Perempuan gila ini menendang burungku!?"
"Gadis gila ini menjambak rambutku!?"
Setelah kepergian Yohan, Zhu'er melihat pria itu lari keluar ruangan. Dia menggigit salah satu tangan penjaga dan berlari keluar.
"Aagggh dia menggigitku!? Tahan perempuan gila itu!? Jangan sampai lepas!?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...