
Jrat
Darah berceceran kemana mana. Tubuh si informan terpotong menjadi beberapa bagian. Dia mati begitu cepat tanpa bisa berteriak. Yohan keluar dari sisi gelap ruangan. Ia menatap mayat yang beberapa saat yang lalu masih hidup. Tidak diduganya ia bisa membunuh semudah ini tanpa rasa bersalah. "Kurasa aku adalah orang yang jahat." ujarnya. Lalu melirik beberapa buku yang berisi informasi tentang dirinya dan teman temannya yang lain.
Yohan mengambil buku catatan tentang dirinya. Cukup banyak informasi yang tercatat di buku itu.
Blarr
Dengan mudah ia membakarnya hingga jadi abu. Dirinya membaca buku buku itu sebelum ia membakarnya satu persatu. Ia tersenyum tipis sembari membakarnya, "Mereka harus berterima kasih padaku karena menghentikan informasi tentang mereka bocor." ujarnya bangga. Hingga salah satu buku yang berinformasi tentang Zhu'er. Dibuku itu ada beberapa kata tentang hutan hitam. Tempat itu selalu membuat Yohan penasaran. Mendengar nama itu membuatnya merasa harus tahu.
Black Forest (hutan hitam) dan semua yang berhubungan dengan itu membuat sesuatu dihatinya merasakan kemarahan yang amat besar. Oleh sebab itu, Yohan sangat penasaran tempat macam apa Black Forest itu. Ia sudah mencari informasi tentang Black Forest ke semua tempat informan. Namun, informasi yang berhubungan dengan tempat itu hanya sedikit. "Apa dia tahu sesuatu?" gumannya pelan.
"Tahu. Apa?" ujar Zhu'er yang tiba tiba ada dibelakang Yohan.
Sontak Yohan langsung bangun dengan posisi siaga. Saat dilihat baik baik ternyata gadis aneh yang mengaku cinta padanya. "Kau, bagaimana bisa kau ada disini?" tanyanya masih belum percaya itu Zhu'er. Ia tiba bisa merasakan keberadaan wanita itu sama sekali.
Wanita itu menatap datar Yohan, "Mengikuti. Mu?" jawabnya sambil menunjuk Yohan.
"Tidak mungkin. Kalau kau mengikutiku aku pasti sudah merasakan keberadaanmu sejak awal."
"Karena. Kau. Lemah." jawab wanita itu membuat Yohan kesal. Ditambah lagi dengan ekspresi menyebalkan wanita itu.
"Kau…" rasanya ia ingin sekali menyumpal mulut wanita ini. Tidak hanya aneh tapi dia juga menyebalkan. Yah, bukan Zhu'er jika tidak membuat orang lain kesal. Ah, kebetulan sekali ada wanita itu langsung. Yohan bisa menanyakan pertanyaan yang selama ini mengganjal hatinya langsung pada Zhu'er. Wanita misterius yang membuat banyak orang penasaran tentangnya.
Yohan berjalan mendekati Zhu'er tepat didepannya. Sangat dekat jarak diantara mereka. Saat berdekatan seperti ini, terlihat jelas tinggi mereka yang berbeda jauh. Tubuh jangkung pria itu membuat Zhu'er harus mendongakkan kepalanya melihat wajah Yohan yang berada diatasnya.
"Apa. Kau. Ingin. Menyatakan. Cinta. Padaku?" tanya Zhu'er berharap.
"Tidak!?" dan dijawab tegas oleh Yohan.
"Lalu. Apa?" tanyanya lagi.
Yohan sedikit lama bertanya karena masih ada sedikit keraguan, "Apa kau berasal dari Black Forest?" tanyanya.
Zhu'er juga sedikit lama menjawab, "………Ya." entah kenapa tatapannya jadi agak dingin.
Ketika mendengar jawaban Zhu'er, Yohan langsung membulatkan matanya. Ternyata informan yang paling dapat dipercaya selama ini ada didekatnya. Seketika wajah terkejutnya berubah menjadi sebuah senyuman licik yang mempesona. "Benarkah?"
...***...
__ADS_1
Hujan deras yang tidak terlihat tanda tanda reda terus turun ke bumi. Tidak ada kata cerah yang terlihat diatas langit. Hanya ada mendung dengan awan hitam yang pekat. Dibawah guyuran hutan yang suram, terdapat seorang gadis berlatih mati matian dibawah pohon maple mengasah ketajaman ilmu pedangnya. Meskipun hari ini hujan, akan tetapi kebulatan tekad di matanya berapi api dalam setiap gerakan. Penuh dengan ambisi kuat didalamnya. Tidak peduli seberapa banyak dingin, tidak peduli seberapa parah cuaca sekarang, dia terus berlatih tanpa memikirkan keadaan sekitar.
Apa alasannya?
Apakah menjadi kuat?
Tentu saja itu adalah alasan utamanya. Akan tetapi ada alasan lain mengapa dia berlatih begitu giat sampai tak memikirkan dirinya sendiri. Membalas dendam akan pembantaian keluarga Jiang. Ya, gadis itu adalah Jiang Shuji.
Kematian keluarganya telah mengubah dirinya. Amarah, dendam, benci, takut, semua hal dia rasakan setelah hertemu dengan pria itu.
''Carilah kebenarannya!?''' omong kosong apa yang bajingan itu katakan? Dia mengatakan itu seolah olah keluargakulah yang bersalah. Dia hanyalah seorang penjahat. Tidak ada yang perlu didengar dari seorang penjahat.' pikir Jiang Shuji sembari menggertakkan giginya.
Dari kejauhan, tepatnya ditempat yang teduh dari guyuran hujan seorang pria melihat betapa gigihnya Jiang Shuji berlatih. Tidak lama seorang murid lain datang dan ikut melihat wanita itu berlatih.
"Kau masih melihat Nona Jiang berlatih? Jika kau begitu menyukainya kenapa kau tidak mengatakannya saja langsung padanya?" ujar Ruoli, salah satu murid inti sekte Blue Gate.
Pria disampingnya tampak gelagapan menanggapi ucapan Ruoli, "S ssttt, jangan terlalu keras mengatakannya! Bagaimana jika Nona Jiang tahu?" ujar Shumin murid khusus tetua sekte.
Ruoli berkacak pinggang agak kesal dengan temannya yang pengecut ini, "Baguslah jika dia tahu. Maka kau akan jauh lebih mudah mendapatkan hatinya!?" ujarnya blak blakan.
"Itu, bukannya akan terlalu cepat jika dia mendapatkan pernyataan cinta ketika keluarganya baru saja di bantai?" tanya dengan penuh kecemasan. Sambil bermain tangannya sendiri dia melihat ke bawah dengan tatapan cemas.
"Yah, itu benar. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuknya."
Sedangkan Ruoli hanya melihatnya tidak habis pikir, "Cinta benar benar membuatnya jadi bodoh." ujar Ruoli melihat aneh Shumin yang masih bisa tersenyum bersama Jiang Shuji di tengah tengah hujan. 'Tapi, seseorang yang berada di tingkatan ranah Yuzhou yang hanya bisa dicapai oleh segelintir orang, pastilah bukan kultivator biasa. Dia pasti orang yang sangat hebat sampai sampai bisa membinasakan salah satu dari tujuh keluarga agung. Meskipun Shumin memiliki kualifikasi untuk mencapai ranah tersebut, tapi memangnya bisa hanya dalam beberapa tahun? Itu tidak mungkin bahkan bagi seorang jenius. Aku khawatir dia akan binasa hanya karena cintanya itu.' pikir Ruoli cemas, dengan bahaya yang akan terjadi dimasa depan.
...***...
Di atas pohon besar Yohan sedang menyenderkan punggungnya sembari melihat awan. Dia sudah dengar informasi tentang Black Forest melalui Zhu'er. Sulit dipercaya jika Zhu'er ternyata dari tempat mengerikan seperti itu. Jika Zhu'er berasal dari tempat itu maka kemungkinan besar Chen Zinyu juga berasal dari sana. 'Dia tahu aku sedang mencari informasi tentang Black Forest, tapi kenapa dia hanya diam saja? Menyebalkan.' pikirnya sediki kesal.
Yang bisa ia simpulkan sekarang adalah ada suatu klan yang hidup didalam Black Forest. Semua anggota klan bukanlah manusia asli. Bisa dibilang mereka adalah manusia yang terlahir dengan inti monster. Sebagaimana monster yang sejak lahir memiliki inti yang berbentuk kristal sejak mereka lahir, klan ini juga memiliki inti kristal sejak lahir. Mereka berbentuk manusia, memiliki kecerdasan selayaknya manusia, dan tahu cara berkelompok. Berbeda dengan monster yang hidup secara terpisah dan mendapatkan kecerdasan setelah puluhan tingkat. Karena itu mereka disebut dengan Klan Guaiwu.
Tidak lama terdengar alunan seruling yang menenangkan. Suara yang dihasilkan terdengar sangat merdu. Bahkan beberapa burung datang hanya untuk mendengarkannya. Untuk beberapa saat Yohan mendengarkan alunan musik tersebut. Permainan musik tersebut berlangsung cukup lama.Karena penasaran Yohan melihat kebawah asal musik berasal.
Yohan melompat ke bawah untuk melihat siapa pemusik handal ini.
Disana bersender seorang pria berambut putih yang digerai, berpakaian putih dengan beberapa warna emas. Wajahnya sungguh rupawan, saat dia membuka mata terlihat bola mata biru yang lebih ke warna emas. Si pemusik berhenti ketika melihat Yohan didepannya. Dia tersenyum ramah melihat Yohan.
Di sisi lain Yohan merasa pernah melihat pria didepannya. Dia berpikir dimana ia pernah melihatnya. "Apa… aku pernah bertemu denganmu?" tanya Yohan.
__ADS_1
Pria itu tetap tersenyum seakan ada yang dia sembunyikan. "Tidak, aku pikir ini kali pertama kita bertemu." ujarnya terdengar ramah.
"Tidak, aku yakin kita pernah bertemu." sangkal Yohan tetap kekeh.
"Tidak, ini kali pertama." pria itu juga tetap kekeh.
"Tidak, kita bernah bertemu."
"Tidak, aku tidak pernah bertemu denganmu."
"Tidak, aku sangat yakin pernah bertemu."
"Ti_" pria itu tak melanjutkan kata katanya. Dia menatap Yohan datar. Pemuda didepannya sangat keras kepala dan aneh. Biasanya orang orang akan langsung percaya jika dibilang tidak pernah bertemu. Tapi pemuda itu bahkan tidak goyah sama sekali.
Sedangkan Yohan menatap tajam pria itu.
Tampak pria berambut putih itu menghela nafas panjang, "Haah, baiklah. Kita pernah bertemu."
Seketika wajah Yohan berubah cerah. Ia merasa sudah menang. "Benarkan?! Aku benar, kita pernah bertemu!?" ia tersenyum puas sekarang. "Tapi meskipun kita pernah bertemu aku tidak ingat namamu. Jadi siapa namamu?" tanyanya dengan ekspresinya yang antusias.
"Panggil saja aku Lin." jawabnya.
"Lin? Baiklah, aku percaya~" meskipun Yohan berkata begitu tapi ekspresinya mengatakan kalau dia curiga. Yohan segera mendekati Lin setelah pria itu memberitahu namanya. Duduk disamping Lin dan memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah. Ia yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana ya?
Lin berusaha mengabaikan tingkah Yohan yang terus memperhatikannya. Jujur, dirinya sangat tidak nyaman. 'Dia tidak akan langsung mengingatku, kan? Yin Fan sialan, dia bilang orang gila ini hilang ingatan. Tapi kenapa masih mencurigaiku?'pikirnya. Pria itu tidak lain adalah Ming Jiajun. Dua bulan mendatang portal menuju labirin spiritual akan terbuka. Sebelum itu dia ingin mendekati Yohan agar lebih mudah memancingnya. Tapi siapa sangka kalau pria gila ini begitu sensitif.
"Liu Yohan, bukankah itu namamu?" ujar Lin bertanya.
Yohan terkejut Lin tahu namanya, "Bagaimana kau tahu?"
"Bukankah kau bilang kita pernah bertemu? Jadi wajar saja jika aku tahu namamu." jawab Lin.
"Oh, benar juga. Tapi sebelumnya kau bilang kita tidak pernah bertemu!?" ujar Yohan lagi. Benar benar, Lin kerepotan harus menjawab apa. "Itu berarti kau awalnya ingin membohongiku, kan? Mencurigakan!?" Yohan melihat Lin dengan tatapan curiga.
Apa semudah ini identitasnya akan terbongkar? Ayolah, dirinya bahkan belum mengelabui Yohan secuilpun. Tapi pemuda itu sekarang bahkan sudah mencurigainya. "Tidak, itu hanya perasaanmu saja." ujar Lin.
"Tidak, aku benar."
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja."
__ADS_1
"Tidak, aku benar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...