Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 25. Menjadi penjahat


__ADS_3

Yohan menjatuhkan sebaskom air yang dibawanya untuk cuci muka Chen Zinyu. Seketika lantai menjadi basah karena air yang tumpah. Matanya sama sekali tak berkedip ketika ia melihat Chen Zinyu masih dalam posisi duduk diatas kursi goyang, kepalanya tertunduk, dengan mata tertutup. Tubuhnya sudah menjadi sedingin es dan tidak ada aura kehidupan sedikitpun darinya. Yohan berjalan mendekati Chen Zinyu dan memeriksa denyut nadinya, "Kau… mati?" ujarnya pelan di kata terakhir. Ia menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, mengepal kedua tangannya erat.


Setelah kepergian Chen Zinyu yang menggegerkan akademi Qing Luo dan kekaisaran Qi, banyak yang telah berubah. Pertama, posisi kepala akademi digantikan oleh Li Wei. Kedua, peringkatvakademi Qing Luo diantara akademi lainnya menjadi turun dari pertama menjadi posisi ke tujuh. Ketiga, keluarga Jiang mulai terang terangan menunjukkan permusuhan mereka. Karena sebelumnya ada yang mereka takuti, sekarang mereka mulai berani karena yang mereka takuti sudah mati.


"Ada apa kepala akademi Li memanggil?" tanya Yohan berada di belakang Li Wei.


"Kau pasti tahu, akademi saat ini sedang mengalami krisis keuangan. Kita membutuhkan uang saat ini. Kepala akademi sebelumnya menyembunyikan semua hartanya di suatu tempat yang hanya dia sendiri yang tahu. Apa kau tahu dimana kepala akademi sebelumnya menyembunyikan semua uangnya?" tanya Li Wei kini berbalik menghadap Yohan.


"Sayangnya tidak, Kepala akademi sebelumnya tidak pernah memberitahuku dimana dia menyimpan hartanya." jawab Yohan.


"Jangan mencoba berbohong!? Saat ini kita sedang memerlukan uang. Jika kau tetap tidak ingin memberitahu maka keadaan alademi akan semakin sulit." ujar Li Wei.


"Aku benar benar tidak berbohong!? Untuk apa aku membohongimu? Bukankah kepala akademi Li juga tahu, jika kepala akademi sebelumnya itu sangat pelit? Dia takut aku mengambil uangnya, jadi dia tidak memberitahuku apapun." sejujurnya Yohan sudah benar benar jujur. Chen Zinyu tidak pernah memberitahunya tempat dia menyimpan uang. Ia heran, bagaimana Chen Zinyu mengatur akademi tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Dia memang gila uang.


Terdengar Li Wei mengela nafas kasar. Sepertinya dia sangat pusing mengurus alademi Qing Luo yang berada di masa kritisnya. Dia lalu melihat Yohan, "Liu Yohan, maafkan aku. Sepertinya aku harus menjualmu!?" ujarnya membuat Yohan kaget.


"Apa?"


duak


Tidak lama ada yang memukul bagian belakang kepalanya. Disaat saat terakhir kesadarannya, ia melihat seorang pria berbadan kekar dengan pakaian berwarna emas keluar, pria itu menyeringai melihat dirinya tidak berdaya.


...***...


Perlahan Yohan membuka matanya. Disaat matanya terbuka hal pertama yang ia lihat adalah tanah hitam yang becek dengan darah, di atasnya saat ini adalah sebuah ranting ranting pohon yang saling bertautan membuat sebuah terowongan. Ditambah lagi ranting ranting itu meneteskan darah dari mayat mayat yang terjerat didalamnya. Dan di ujung terowongan ada cahaya putih. Ia berjalan menelusuri terowongan, setiap langkahnya selalu menetes darah dari atas sehingga membasahi tubuhnya. 'Apa ini mimpi? Atau nyata? Tidak, ini pasti mimpi. Terakhir kali aku ditipu oleh baji*gan Li Wei. Tapi kenapa mimpiku seram sekali.' pikirnya.


Sepanjang jalan Yohan berjalan, ia tidak pernah sampai ke cahaya itu. Bahkan, rasanya ia semakin jauh dari cahaya. Yohan melihat tangannya yang basah dengan darah, ia merasa cahaya itu tidak akan pernah digapainya. Dirinya tidak akan pernah keluar dari terowongan mengerikan ini. Ia akan terjebak disana selamanya. Sendirian.


Byurr


Seember air dingin di siram ke atas kepala seorang pemuda. Pemuda itu langsung bangun dengan sangat kaget. Belum selesai dengan itu sebuah tangan menjambak rambut atasnya membuat kepala pemuda itu mendongak keatas. Pelan pelan Yohan melihat pria yang menjambaknya. "Hmph ternyata ini bajingan yang telah membunuh anakku." ujar seorang pria paruh baya berkumis tipis. "Aku bertanya tanya kenapa pak tua itu melindungi keparat ini mati matian, ternyata dia hanya sampah yang bertubuh lemah." dia bangun dari hadapan Yohan. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, setidaknya kau harus merasakan penderitaan hidup dan mati lebih dulu. Cambuk dia seratus kali!?" ujar Kepala keluarga Jiang, Jiang Jierui.


Seorang algojo berbadan kekar berotot besar dan and berkulit agak gelap membawa cambuk tebal. Dia menganggat cambuk itu tinggi tinggi dan mencambuk Yohan sekuat yang dia bisa.


Cambukan itu terasa amat sangat panas dan perih. Sudah lama ia tidak merasakan siksaan seperti ini. Ternyata sifat anak tidak jauh berbeda dari orang tuanya. Terlihat senyum puas diwajah Kepala keluarga Jiang. Tapi senyum itu tak bertahan lama ketika dia melihat Yohan menyeringai. "Kenapa kau tersenyum?" dia tidak berharap Yohan tersenyum, karena dia menginginkan pemuda itu kesakitan.


"Pft, bukankah lucu melihat ayah dan anak ternyata sama sama bengisnya? Ah~ aku ingat, Jiang Feng juga pernah mencambukku seperti sekarang. Dia mengikat tangan dan kakiku di antara dua pohon. Lalu mencambukku sebanyak 150 kali. Ha ha ha ha, tapi akhirnya aku memotong tangan dan kakinya yang kurang ajar itu. Anda tahu? Dia sampai kencing di celana seperti bayi!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"

__ADS_1


Urat urat kemarahan terlihat jelas di pelipis dan leher Kepala keluarga Jiang. Dia mengeraskan rahangnya dengan mata melotot marah. "BAJI*GAN!?"


DUAK DUAK


"Ukh!?"


Dengan sangat brutal Jiang Jierui memukul dan menendang Yohan. Apalagi pukulan dan tendangannya itu dilapisi oleh Qi. Jadi terasa sangat sakit bagi Yohan. Jika orang biasa yang dipukuli seperti ini, mungkin saja mereka akan langsung mati.


Algojo yang melihat itu meneguk ludahnya kasar. Keringat dingin mengalir di lehernya. Jika dirinya berada di posisi Yohan sekarang, mungkin saja dirinya sudah menjadi mayat.


"Kau, bawa cambuk itu kemari!?" ujar Kepala keluarga Jiang.


Dengan cepat algojo itu memberikan cambuk di tangannya.


Yohan mendongak tajam melihat cambuk ditangan Kepala keluarga Jiang.


"Kau masih bisa melihatku dengan lancang, artinya pukulanku masih belum cukup!?" ujar Kepala keluarga Jiang, dia mengaliri cambuk itu ujar dengan aura Qi pedang. Tanpa jeda dia langsung melepaskan cambukan pada pemuda itu.


Tentunya Yohan tidak berteriak, dan itu membuat Kepala keluarta Jiang semakin geram.


Beberapa waktu kemudian


Mereka mengunci pintu tanpa memberikan makanan atau minuman pada Yohan. Darah menetes keluar dari luka cambuk. Cambukan yang di aliri qi pedang akan terasa lebih sakit dari cambukan biasa. Rasanya seluruh tubuhnya seperti remuk jatuh dari ketinggian seratus kaki. Kepala keluarga Jiang tidak tanggung tanggung memukulnya.


Yohan benci pada dirinya sendiri, kenapa ia masih bisa sadar ketika sudah disiksa sedemikian rupa? Seharusnya ia pingsan saja agar tidak merasakan sakitnya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya siksaan yang biasa diberikan Jiang Feng memberi efek padanya tahan dengan siksaan dengan kesadaran penuh.


...***...


"Hei, kemana kau akan pergi dengan membawa pedang jelek itu?" tanya Shin.


"Jangan mmengejek pedangku!? Ini adalah pedang pusaka yang diberikan Yohan'ge padaku!? Nilainya sama dengan harta nasional!?" ujar Jingmi sembari merangkul pedang bersarung biru dipelukannya.


"Harta kepalamu!? Dia memberikan pedang itu karena ada yang cacat pada pedangnya. Aku tanya, kemana kau akan pergi?"


"Aku akan pergi menyelamatkan Yohan'ge!?" ujarnya penuh keyakinan.


"Menyelamatkannya dari keluarga besar? Kau ingin mati, dasae bodoh?"

__ADS_1


"Siapa yang peduli? Aku akan membunuh mereka satu persatu, mengeluarkan usus dari perut mereka, mencongkel matanya, dan memberikannya pada anjing!?" ujarnya penuh percaya diri ekspeesi yang garang.


Shin terbelalak mendengar perkataan Jingmi. Dengan wajah yang seperti perempuan itu dia mengatakan hal hal yang kejam, sangat tidak cocok. "Astaga, dari mana kau belajar hal kejam seperti itu?"


"Tentu saja darimu!? Kau hampir melakukan itu padaku kemarin!? Untungnya aku tidak bodoh!?" ujarnya sedikit sewot. Pasalnya Shin hampir saja menjadikan dirinya sebagai kelinci bedah.


"Oh, benar. Aku melakukan itu, ya? Jadi…" Shin menggantung kata katanya.


"Jadi?"


Dia tersenyum licik seperti merencanakan sesuatu, "Ayo kita lakukan itu pada mereka." ujarnya membuat senyuman di wajah Jingmi.


"He he he he he ha ha ha ha ha…" mereka tertawa bersamaan. Pada akhirnya mereka sepemikiran.


"Tapi, setelah mengambil langkah besar seperti ini, kau akan dianggap sebagai penjahat kekaisaran. Apa kau yakin ingin tetap melakukannya?" tanya Shin untuk memastikan kalau Jingmi benar benar yakin dengan keputusannya. Jika dirinya dianggap penjahat itu tidak masalah. Karena sejak awal dia memang penjahat. Tapi muridnya ini baru saja akan memasuki tahap awal sebagai seorang penjahat. Karena itu dia menanyakannya.


"Aku yakin!? Karena tujuanku adalah membantai keluarga Yuan. Pada akhirnya aku akan dianggap sebagai penjahat. Aku hanya mendapatkan gelar itu lebih awal." jawabnya mendapat senyuman dari Shin.


"Itu baru muridku!? Kalau begitu jangan buang waktu lagi, ayo kita pergi!?"


...***...


Di kamar Yohan, tepatnya di asrama laki laki akademi Qing Luo terlihat seorang perempuan yang mengenakan jubah hitam dengan rambut putihnya yang mencolok, berdiri di tengah ruangan itu.


Tidak lama dua orang datang melewati kamar tersebut. Mereka adalah Shin dan Jingmi.


"Sudah kubilang, biarkan aku melakukan sedikit percobaan pada tubuhmu!? Aku janji akan membuatnya kembali seperti sedia kala." ujar Shin dengan ide gilanya.


"Tidak!? Kau pikir aku tidak tahu? Kau hanya ingin melihat organ dalamku saja kan? Aku tidak bodoh." jawabnya. Sungguh, pembicaraan mereka di luar akal sehat manusia normal.


"Ah, itu_" Shin menggantung ucapannya dan malah bergegas membuka pintu kamar Yohan.


Brak


Tidak ada apapun disana. Kosong. Sepi. Sunyi. Hanya ada debu.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Kupikir ada seseorang didalam. Tapi sepertinya hanya perasaanku saja." ujarnya masih waspada. Kesensiyifannya pada kehadiran seseorang tidak pernah salah, pasti ada seseorang sebelumnya disini. Hanya saja orang itu kabur lebih cepat. "Ayo kita lanjutkan." ujarnya sembari menutup pintu kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2