
Jleb
Beberapa es berujung runcing menusuk kepala serba bagian tubuh yang lain hingga membuat tubuh jiangshi tersebut berlubang lubang. Dilihatnya Shin sudah menggerakkan tangannya kedepan membuat gerakan serangan yang tepat waktu. Bagaimana ini? Belum apa apa dan Yohan sudah akan apa apa duluan. Beruntungnya dia Shin ikut bersamanya. Jika tidak? Dirinya tidak tahu akan jadi seperti apa nasibnya nanti.
"Aku akan memancing perkumpulan mayat mayat bodoh itu untuk menjauh dari altar dan mengulur waktu selama mungkin. Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?" tanya Shin.
"Ya," jawab Yohan mantap.
"Bagus, setelah kau berhasil mengambil bukunya panggil aku." lanjutnya. Dia langsung pergi menuruni bebatuan di dalam goa dan langsung memancing para jiangshi sebanyak mungkin.
Setelah Shin dengan misinya, kini tinggal Yohan dengan misinya yang tergolong mudah. Bahkan anak kecil umur lima tahun bisa melakukannya. Ia turun ke jalan bebatuan yang lain. Sampailah dirinya ke bawah. Hanya berjarak sepuluh meter dari posisinya sekarang ke altar batu. Ia berlari menuju altar agar misinya segera berakhir happy ending. Namun sayangnya perjalanan menuju happy ending masih jauh karena dia bertemu dengan masalah.
Slash
"Agh!?" Yohan terjatuh ketika perjalanannya baru sampai setengah. Punggungnya terasa perih. Ia merasa cairan lengket nan hangat mengalir di punggungnya. Tangannya meraba rama punggung yang ternyata penuh darah. Matanya seketika terbelalak. Ia mendongak dan melihat seekor jiangshi bertubuh tinggi besar tepat berdiri di depannya dengan wajah yang amburadul.
Sebagian wajahnya hancur seperti digesrek semen hingga terlihat tulang rahangnya, matanya merah penuh, giginya semua bertaring tajam lengkap dengan air liur yang menetes, dan yang terakhir yang paling membuat merinding, sebagian tubuhnya terkelupas dengan belatung yang muncul disela sela daging busuknya.
"Hmp!?" Yohan hampir saja ingin muntah padahal ia belum makan apapun. Bau busuknya sangat menyengat ke hidungnya.
Duak!?
Kaki besar jiangshi besar tersebut hampir saja akan menginjak Yohan. Untungnya ia segera menghindar ke samping. Jika jiangshinya kecil mungkin ia akan bisa melawan sedikit, akan tetapi kalau jiangshi sebesar dan sekuat didepannya ia ragu apakah bisa melukai satu jarinya. Lebih baik ia kabur dan segera berlindung ke dalam area altar. Karena pelindung berwarna biru kehitaman tersebut dapat melindunginya. Saat ia bangun tiba tiba punggungnya yang juga sedang terluka di pukul dari belakang.
Buak!!
Gabruk
Yohan semakin merintih kesakitan karena serangan yang sama lagi lagi di punggungnya. Ia sudah merasakan tulang punggungnya ada keretakan.
Greb
Tidak sampai disitu saja, jiangshi tersebut mencengkram leher Yohan dan mengangkatnya tinggi tinggi. "Uhuk!?" ia batuk darah lantaran luka di punggungnya serta cengkraman di lehernya.
"Ggrr…to…lo…ng…"
Mata Yohan melebar mendengar suara yang samar samar terdengar dari jiangshi yang mencekiknya itu. Maksudnya jiangshi ini ingin minta tolong padanya begitu? Tapi maaf saja, sekarang saja dirinya sedang diambang kematian bagaimana caranya menolong jiangshi yang kuat ini. Ia memegang tangan besar jiangshi tersebut dengan kedua tangan lidinya. Mencengkram kuat sembari berusaha mengeluarkan apinya. Tapi tangan besar jiangshi tersebut juga semakin mencekik erat lehernya sampai Yohan kehilangan kesadaran.
...*...
...*...
Di alam bawah sadarnya Yohan melihat seorang pria bertubuh tinggi besar berotot penuh, dengan rambut pendek, kulit sawo mateng, sedang bertarung melawan seseorang yang sepertinya tampan dari belakang. Dia seorang pria berambut puih bersih, berbaju putih biru langit, dia menodongkan pedang ke arah pria besar didepannya. Karena Yohan berdiri di belakangnya dan hanya belihat pria besar itu saja. Akan tetapi melihat pria besar itu, rasanya sangat familiar.
__ADS_1
"Aku tidak akan melupakan dendamku!? Bahkan jika aku menjadi jiangshi sekalipun aku pasti akan membalaskan dendamku!?" teriak pria besar itu dengan wajah marah. Tubuhnya sudah penuh luka pedang.
"Diamlah dan terima saja kematianmu!?" ujar pria tersebut. Tanpa aba aba dengan tebasan kilatnya dia menebas dada pria besar tersebut. Hingga akhirnya pria itu tumbang ke dalam jurang yang dalam.
Tapi sumpah serapah pria besar itu masih berkumandang lantang, "Sampai matipun aku pasti akan membalaskan dendamku ----J----!?"
Yohan memegangi kedua telinganya karena dendam pria besar tersebut seperti sambaran petir ditelinganya. Akhirnya ia tidak bisa mendengar nama dari pria berambut putih yang membunuh pria besar tersebut. Saat ia menurunkan tangannya dirinya sudah berada didasar jurang tempat pria itu jatuh. Yohan melihat sebagian tubuh pria besar itu terkelupas karena gesrekan bebatuan jurang, serta sebagian wajahnya juga rusak. Tapi hebatnya pria itu masih sadar meskipun sudah sekarat.
"Aku… tidak akan… memaafkanmu… aku… tidak akan… memaafkanmu… -----J-----!?" lagi lagi saat mendengar nama pria berambut putih yang disebutkan pria itu namanya malah terdengar abstrak.
Lama kelamaan energi Yin yang kuat di gunung Kun Jian ini memasuki tubuh pria besar itu dan menjadikannya sebagai jiangshi tanpa akal.
...*...
...*...
Yohan kembali membuka matanya. Baru ia membuka matanya jiangshi besar didepannya ingin menginjaknya. Seketika ia serang jiangshi tersebut dengan api yang cukup besar berwarna biru. Tepat ke wajah jiangshi tersebut.
"GGRAAOOO!?" jiangshi itu langsung menjauh dari Yohan. Dia berusaha memadamkan apinya.
Yohan segera berlari menuju altar yang sudah dekat jaraknya. Dengan luka dan darah yang menetes netes dia berlari tanpa melihat kebelakang. Sampailah ia ke area altar. Dia duduk sambil bersendek ke batu basar berbentu kotak panjang di tengah altar. "Ukh uhuk uhuk!?" ia memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah tak henti hentinya. Saat ia melihat jiangshi besar itu lagi, dia sudah terduduk tanpa bergerak dengan kepala yang sudah memperlihatkan sebagian tengkoraknya, namun api biru masih tetap menyala.
Yohan bangun sambil memegangi batu didekatnya, dia mengambil buku ditengah batu tersebut. Namun ketika ingin diambil ternyata tidak bisa. Malahan buku itu masuk kedalam batu seperti tombol yang dipencet masuk ke dalam. Di situ Yohan kebingungan tengan apa yang terjadi. "Apa? Apa yang_" belum selesai dengan kebingungannya yang ini, tiba tiba lantai altar berlubang besar dan itu tepat di bawahnya. "Hwaaaa!?" teriaknya kencang sampai terdengar sampai ke arah pertarungan Shin dengan jiangshi.
'Apa yang terjadi dengannya sekarang?' pikir Shin sembari bertarung membunuh jiangshi.
...***...
Meskipun sakitnua seperti dirajam, ia tetap berusaha bangu. dengan daarah dipunggungnya yang masih menetes. Ditambah sepertinya kepalanya terbentur batu saat jatuh, karena ada darah yang mengalir sampai ke pelipisnya. Dalam keadaan seperti itu ia masih tetap bangkit dan berjalan menuju ke suatu kotak panjang yang menarik perhatiannya. Jalan yang langkahnya penuh kehati hatian serta kaki yang gemetar tetap berjalan ke depan. 'Sakit, sakit, sakit, sangat sakit, aku benar benar kesakitan, siapapun bisakah menolongku? Aku mohon,' untuk pertama kalinya belum pernah ia merasakan sakit yang melebihi siksaan Jiang Feng. Namun keluhannya hanya diteriakkan didalam hati. Walaupun ia tahu tidak akan ada yang menolongnya.
Sampai akhirnya ia sampai ke kotak panjang tersebut.
Bruk
Sampai disana Yohan terduduk tidak kuat menahan sakitnya luka di tubuhnya. Kedua tangannya ia letakkan diatas kotak persegi panjang tersebut. "……Apa ini?…? terdapat ukiran ukiran diatas kotak, dan nampaknya ukiran ini adalah ukiran yang biasanya ada di peti mati kuno.
"Jangan bilang… disini kuburan seseorang?" ujarnya panik. Kalau begitu selama ini ia tidur disamping makam seseorang, begitu? Peti besar berwarna hitam dengan ukiran ukiran yang rumit juga detail, "Bukannya ini sudah pasti peti mati bangsawan? Tapi bangsawan mana yang kuburannya terpencil didalam Goa? Terlebih di kelilingi jiangshi? Tunggu, apa para jiangshi itu tidak berani kemari karena peti mati ini? Mereka takut dengan seseorang didalamnya?" lama lama Yohan berasumsi serta membuat persepsi sendiri.
Dirabanya ukiran huruf di samping penutup peti. 'Ming… Jia…zhen? Namanya Ming Jiazhen?' bacanya dalam hati.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba tiba dari dalam peti ada yang bergetar seakan akan ingin terbuka. Tentu saja Yohan langsung menjauhkan tangannya dari peti. Dirinya ingin berdiri, tapi kakinya terasa kebas. "Sial…" gerutunya sambil menggertakkan giginya.
__ADS_1
Saat peti mati itu membuka dirinya sendiri, hanya ada keheningan. "A apa itu barusan?" ujarnya masih tak percaya kalau petinya terbuka sendiri. Yohan kembali mencoba bangun dan mekberanikan diri melihat isi peti. Ternyata dan tak diduga didalamnya ada…
Kekosongan tanpa secuilpun debu.
"Apa yang… sebenarnya terjadi?" tanya Yohan bingung. Banyak hal hal aneh terjadi di tempat ini. Ia masih belum bisa memahami yang terjadi sebelumnya dan sekarang kebingungan lainnya datang silih berganti.
Tes tes
Darahnya mengucur tanpa henti. Ia lupa kalau saat ini dirinya kehilangan banyak darah dikarenakan luka besar dipungungnya. Yohan memegangi kepalanya yang berdenyut denyut kesakitan, ''Sialan… sialan… sialan… SIALAN!?" ia berteriak frustasi dengan situasi membingungkan dan menyebalkan ini. Semua ia pertaruhkan untuk satu harapan. Tapi harapan itu mengkhianatinya. Sekarang ia terjebak di tempat yang jauh dari manusia.
Pandangannya mulai buram dan ada titik titil hitam dipenglihatannya. Titik titik itu bertambah banyak hingga menutupi pandangannya.
Bruk!?
...***...
Diatas tempat tidur terlihat seorang anak yang sedang kesakitan menahan hawa panas dari dalam tubuhnya. Wajah putihnya memerah karena tubuhnya sepanas bara api, dadanya terasa sesak hingga sulit bernafas, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, belum lagi kepala kecilnya yang terus terusan berdenyut denyut. Matanya terus terpejam karena terasa sangat berat untuk membukanya. Keringat terus membasahi tubuhnya bahkan pakaiannya. Terasa pelukan dari seseorang di sampingnya. Ajaibnya pelukan itu membuat panas ditubuh anak itu sedikit mereda.
"Bertahanlah, bertahanlah sebentar saja. Kau pasti akan cepat sembuh." ujar seseorang yang terdengar seperti seorang wanita muda. Suaranya terdengar sayu dan sangat khawatir.
Suara yang lembut itu membuat anak yang sakit itu tenang. Saat membuka matanya pelan, pandangannya masih terlihat kabur. Terlihat wajah seseorang di atas wajahnya, samar samar pandangan yang kabur itu mulai terlihat jelas. Wajah seorang wanita bermata emas, berkulit putih susu, menatap senang anak itu. Senyumnya mengembang sangat cantik melihat anak itu sadar.
Tiba tiba Yohan bangun di suatu tempat yang terlihat familiar. "Apa aku berada di klinik tabib korup itu?" ujarnya tanpa pikir panjang.
Plak
Kain basah tiba tiba menampar wajahnya tanpa aba aba.
"Senang rasanya melihat kau sudah sehat mencaci seseorang yang mati matian menolongmu!?" ujar seseorang yang suaranya terdenngar familiar juga.
Tapi kain basah di wajahnya ini menghalangi pandangannya. "Apa kau tabib ko_Lu?" hampir saja ia keceplosan mengatakan korup.
"Ya!? Dan kau beruntung bisa selamat dari kematian karena aku." ujarnya.
Kain basah diatas Yohan terangkat dan memperlihatkan tabib Lu duduk dismpingnya sambil mencelupkan kain basah itu ke baskom air.
"Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Yohan. Karena sei.gatnya ia berada di ruangan rahasia di goa jiangshi.
Lu Xiao melirik Yohan dan teringat kembali kejadian seminggu yang lalu. Ketika tengah malam seorang pemuda menggendong Yohan yang sudah penuh darah dan luka di sekujur tubuhnya. 'Tolong, tolong dia!?' ujar pemuda yang membawa Yohan yang sudah pasti Shin. Hanya melihat sekilas saja Lu Xiao sudah yakin kalau Yohan tidak akan selamat. Luka di punggungnya disebabkan oleh jiangshi, yang mana cakaran jiangshi tersebut terdapat racun mematikan. Belum luka dalam dan tulang tulangnya yang patah.
Tapi lagi lagi seseorang memohon padanya untuk menolong pemuda ini. 'Sebenarnya siapa dia sampai sampai pak tua itu memohon untuknya?' pikir Lu Xiao. Awalnya dia pikir Yohan tidak akan selamat, apalagi melihat kondisinya yang kritis selama seminggu penuh. Tapi sepertinya pemuda ini belum ditakdirkan mati, karena sekarang dia tiba tiba bangun. "Temanmu yang bernama Shin." jawab tabib Lu Xiao. "Bersyukurlah kau memiliki teman yang baik." lanjut Tabib lu sembari membawa baskom air keluar.
'Shin? Aku pikir dia akan pergi tanpaku.' pikirnya tak menyangka kalau Shin membantunya keluar. Sementara itu tubuhnya terasa sangat sakit dan tak bisa digerakkan. Untungnya ia masih bisa selamat setelah kehilangan banyak darah. Dan ngomong ngomong, ia memimpikan mimpi aneh.
__ADS_1
...***...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...