Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 40. Akar dari dendam


__ADS_3

Jrat!?… Jrat!?… Jrat!?…


Shin mengusap pipinya yang mana terdapat cipratan darah. Dia memperhatikan orang yang baru saja dia bunuh malam ini. "Harusnya aku bertanya informasi dulu padanya." Ujarnya terdengar dingin. Sayang sekali orang itu tidak bisa diintrogasinya karena terlanjur terbunuh dengan tubuh yang sudah dicincang. Tapi, tak lama senyum terlihat diwajahya, "Tidak apa apa~ tidak apa apa~ Lagi pula masih ada cadangan seranga disini. Iya kan nona manis?!" Tanyanya sembari berbalik badan dengan senyum merekah indah diwakahnya yang rupawan.


Nona manis yang dimaksud ialah sekutu orang yang baru saja dibunuh. Wanita itu tampak ketakutan dengan Shin yang baru saja membunuh temannya. Dia duduk gemetar sembari perlahan memundurkan tubuhnya.


Tak


Sayangnya tidak ada jalan kabur lagi dibelakang. Segera wanita itu bersujud sembari menenpelkan kedua tangan meminta ampun. Sembari menangis dia berkata, "J jangan bunuh aku!? Akan kukatakan semua yang kutahu asal kau tidak membunuhku. Kumohon!? Kumohon!?" Mohon wanita itu dengan suara yang bergetar ketakutan.


Shin menatap ke arah lain dengan malas, dirinya pikir akan ada perlawanan yang sia sia dari wanita itu. Tapi apa ini? Dia menyerah begitu mudah? Itu terlalu membosankan bagi Shin. Dirinya kembali menatap malas wanita dibawahnya yang sedang memohon ampun, "Memangnya informasi penting apa yang serangga sepertimu miliki?!" ujarnya sembari berjongkok mensejajarkan posisi.


Wanita itu terlihat sedang mencari informasi tentang yang bisa menyelamatkannya. "J jadi…" wanita itu begitu takut pada Shin hingga tak bisa berkata dengan benar.


Mata Shin menatap dingin wanita itu yang terlalu lama bicara. Dirinya bukanlah orang sabar yang bisa menunggu. Dia mengangkat pedangnya bersiap untuk menebas wanita itu.


"S saat ini, kaisar mengutus jendral muda Wei Yan untuk kenyelidiki kasus pembantaian keluarga Jiang." ujar wanita itu berhasil menghentikan gerakan Shin untuk membunuhnya. Dia gemetar ketakutan sekarang.


Saat mendengar nama Wei Yan disebutkan, Shin langsung mengingat siapa Wei Yan itu. Ya, siapa juga yang akan melupakan tukang bulli. Tapi ngomong ngomong soal Wei Yan, ada permintaan untuk Shin agar dirinya membunuh jenderal mida Wei Yan. Permintaan itu dari keluarga besar Wang. 'Ini menarik. Keluarga Wang ingin aku membunuh Wei Yan. Kudengar Wei Yan sudah merebut tunangan Wang Yilan dan mempermalukannya didepan umum. Mungkin karena itu mereka memintaku untuk membunuh Wei Yan. Meskipun resikonya besar, tapi bayarannya setimpal!? Asalkan aku tidak meninggalkan jejak semuanya beres. Dan kebetulan sekali, aku memang ingin membunuhnya?' pikirnya memperlihatkan senyum licik.


Pekerjaan utama Shin adalah seorang Assassin atau pembunuh bayaran dengan kode mana 'Tikus'. Yah, itu sangat cocok untuknya sebagai seorang pembunuh. Apalagi tidak ada yang tidak bisa dia bunuh. Dia bekerja sendiri. Jika ada seseorang yang membuat permintaan, hanya perlu pergi ke black market dan mampir ke toko toko tertentu dengan menyebutkan kode namanya. Dengan begitu permintaan akan segera dilaksanakan.


"Dimana Jenderal muda Wei Yan sekarang? Jika kau tidak menjawab, maka sepertinya nyawamu tidak akan selamat."


Wanita itu menelan ludahnya menatap takut Shin. Dia tidak sangka kalau master kuat sepertinya bersembunyi di rumah bordil. Karena biasanya master yang berada di puncak tertinggi memiliki kekayaan yang banyak sehingga tidak perlu menyempatkan diri datang ke rumah bordil, tetapi sebaliknya para wanitalah yang akan mendatanginya. "K kau janji tidak akan membunuhku?" ujarnya takut tapi harus diucapkan.


"Ya, aku janji sebagai seorang kultivator!?" ujarnya gampang.


"D dia berada di penginapan Weijiang." jawabnya.


Shin tersenyum, "Terima kasih." ujarnya, Lalu berdiri berbalik pergi. "Bunuh dia!?" ujarnya pad Jingmi yang juga ada disana.


"A apa? Bukannya kau sudah berjanji untuk tidak membunuhku?" teriak wanita itu tidak terima.

__ADS_1


Shin berbalik lagi dengan senyum puas seperti penjahat diwajahnya, "Ya, 'aku' memang berjanji tidak akan membunuhmu, 'kan~?" ujarnya masih tersenyum.


"Kau, dasar iblis!?" umpat wanita itu dengan tatapan penuh kebencian yang berair.


...***...


Didalam sebuah kamar penginapan mewah terlihat seorang pria bertubuh kekar tengah memakai pakaiannya. Dia adalah Jenderal muda Wei Yan yang ditugaskan oleh kaisar Qi untuk menyelidiki kasus pembantaian keluarga Jiang. 'Berdasarkan apa yang dikatakan gadis keluarga Jiang itu, ada tiga orang penyerang. Satu orang master Yuzhou, satu orang lain master Yuanying dan satu orang lagi ranah master Bigu. Sejujurnya aku tidak mempercayai dua orang lain kecuali master Yuzhou yang memusnahkan keluarga Jiang. Mereka berdua terdengar meragukan, meskipun master ranah Yuanying itu kuat tapi dia tidak mungkin bisa mengalahkan salah satu keluarga besar. Apalagi ranah master Bigu yang masih berada di bawah Jindan.' selagi memikirkan bukti bukti yang ada, seseorang memasuki kamar.


"Tuan, makanan anda sudah siap!?" ujar seorang pelayan.


"Ya, taruh saja di meja."


Setelah makanan diletakkan, pelayan itu keluar dari kamar. Tak lama Wei Yan keluar dari balik papan ganti. Dia duduk dan memakan makanannya. Tapi tiba tiba dia memuntahkan makanannya yang terasa aneh.


"Cuih!? Ini beracun!?" ujarnya kaget. Segera dia merasakan kehadiran seseorang yang akan menyerangnya.


Klang


Suara logam yang terdengar nyaring memperjelas adanya assassin yang ingin membunuhnya. Meskipun samar terdengar pula suara langkah yang menjauh. Perlahan Assassin itu memperlihatkan dirinya. Terlihat seorang pria muda awal 20 an yang memakai kain hitam sebagai penyamaran. Dia tampak tak asing dimatanya. Tapi dia tak mengingat jelas siapa pria itu. "Katakan! Siapa yang mengirimmu? Apa keluarga Wang yang menyuruhmu?" tanya Wei Yan penuh curiga.


Klang klang


Adu pedang kembali terjadi. Pertempuran mereka semakin cepat. Tapi sebenarnya Wei Yan kesulitan menyamai kecepatan Shin. 'Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa tubuhku semakin berat? Apa mungkin karena racun itu? Sialan, racun jenis apa yang dia berikan padaku?' pikir Wei Yan. Dia merasa tubuhnya semakin sulit untuk digerakkan.


Ketika Wei Yang lengah sedikit, Shin mengayunkan pedangnya secara horizontal dan hampir mengenai wajah Wei Yan. Tapi kata hampir itu diubahnya menjadi, mengenai mata kanan Wei Yan. Shin mengubah, sedikit posisi pedangnya hingga menusuk salah satu mata Wei Yan.


"Aaggghhh!?" teriak Wei Yan kencang. Darah mengalir deras dari matanya. "AKAN KUBUNUH KAU SIALAN!?" umpatnya dengan wajah amat sangat marah.


Berbeda dengan Shin yang malah terswnyum kegirangan melihat kesakitan Wei Yan. Dia senang, bahkan sangat. Selama belasan tahun akhirnya ia berhasil membuat salah satu orang yang dibencinya kesakitan. 'Tapi ini tidak cukup! Aku masih ingin melihatnya kesakitan!?' pikir Shin tidak puas. Dia menginginkan lebih dari ini.


Wei Yan mulai menghadapi Shin dengan serius. Dirinya terlalu meremehkannya sampai harus kehilangan mata kanannya. Aliran Qi mengaliri pedangnya. Begitu pula dengan Shin yang mengaliri kedua pedangnya dengan aliran Qi berwarna biru.


"Hhaaa!?" Wei Yan berteriak sembari melancarkan serangannya. Dia menamai tekniknya dengan nama 'moon splitter'. Sebuah teknik pedang pembelah bulan dari Keluarga Wei. Setiap anggota keluarga Wei akan diajarkan teknik ini sebagai tanda bahwa mereka adalah anak anak Keluarga Wei. Namun, tidak hanya Wei Yan yang mempelajarinya. Shin juga bisa menguasai teknik itu, meskipun belajar secara diam diam.

__ADS_1


Dalam sekejap mereka saling beradu pedang menggunakan teknik 'moon splitter' . Langkah kaki yang ringan dan tebasan tebasan yang cepat, serta luka yang tidak terlihat, teknik ini sangat cocok untuk membunuh tanpa bersuara.


Wen Yan terkejut melihat Shin bisa menguasai teknik Moon splitter jurus rahasia keluarganya. Moon splitter milik Shin terlihat seperti deburan ombak, sedangkan milik Wen Yan lebih terlihat seperti tanah longsor. 'Bagaimana dia bisa mengasai jurus ini?' pikir Wen Yan. Dia tidak pernah menyangka orang asing akan menguasai teknik yang sama. Kemudian dia sengaja untuk merobek kain hitam yang dikenakan Shin pada wajahnya. Betapa terkejut dirinya ketika melihat wajah itu. "Kau…Sh_"


Jret


Belum menyelesaikan kata katanya Shin sudah lebih dulu menebas leher Wen Yan. Dia sudah sangat geram ingin menebas leher itu. Tapi meskipun tenggorokannya sudah terbeset oleh pedang, Wei Yan masih memiliki kesadaran. Dia melihat Shin sengit dan tajam, "Kenaoa kau melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja ha ha ha ha ha… Apa kau kaget alu masih hidup? Apa kau akan melaporkannya pada ayah sialan itu? Hm~ tapi bagaimana ya, sepertinya kau tidak akan bisa melapor?" senyum senang terlintas di wajahnya. Shin berjongkok didepan Wei Yan, "Kau pasti akan kesepian di neraka kan? Tapi kau tenang saja, aku akan mengirim anak anak dan keluarga Wei untuk menyusulmu. Setelah itu, aku juga akan menyusul kalian di neraka dan menjadi keluarga bahagia!? Ha ha ha ha ha ha…" sepertinya suasana hatinya sedang senang.


"Da sar gi la…" ujarnya dengan susah payah.


Tawa Shin terhenti lalu melihat Wei Yan dingin.


Jleb


Shin meninju dada Wei Yan sangat keras hingga menembus dadanya. Dia meremad jantung Wei Yan agar mempercepat kematiannya itu. "Cepatlah mati, aku tidak butuh kritikanmu."


Tidak lama wajah Wei Yan yang kesakitan sudah tidak memiliki ekspresi lagi. Tatapannya juga jadi kosong. Dia mati. "Benar, pergilah ke neraka. Aku akan segera mengirim mereka juga. Aku juga mungkin akan menyusul kalian," ujarnya. 'Karena tempat untuk penjahat sepertiku hanyalah neraka.'


...***...


"Jadi kau adalah pemusik jalanan?" tanya Yohan.


"Ya, seperti itulah." jawab Lin.


"Hmm," Yohan merasa aneh. Untuk seukuran pemusik jalanan Lin terlalu mencolok. Dengan hanfu mahal yang dia kenakan dan penampilannya sendiri yang menarik, dia lebih seperti tuan muda dari keluarga bangsawan. "Meskipun kita pernah bertemu aku tidak ingat pernah bertemu dimana. Itu karena ingatanku tidak bagus." lanjut Yohan.


Lin mendengarkan Yohan bicara. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Kemudian Lin bangun sembari membawa kecapinya. "Hari sudah sore, ini waktunya aku pulang." ujarnya.


Segera Yohan juga bangun dari duduknya, "Ah, kalau begitu_"


"Untuk beberapa hari kedepan, berhati hatilah!?" ujarnya memotong ucapan Yohan. Dia kemudian berjalan menuruni bukit kecil. Belum sampai dibawah dia berhenti, "Entah kau percaya padaku atau tidak, itu terserah kau. Tapi, aku memiliki firasat yang cukup bagus." lanjutnya sembari menengok kebelakang. Terlihat senyum samar dibibirnya.


"Sampai jumpa lagi."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2