Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 27. Pembakaran sampah


__ADS_3

Shin bertarung dengan Jiang Jierui, kepala keluarga Jiang. Shin yang memakai dua pedang kembar dengan Jiang Jierui yang memakai sebuah tombak. Dalam serangan hebatnya yang seperti tornado, Jiang Jierui berbasil membuka topeng Shin. Dia terbelalak kaget melihat siapa master ranah Yuanjin ini. "Bukankah kau adalah anak ke 13 keluarga Wei? Sangat tidak disangka ternyata kau berteman dengan penjahat itu. Tunggu, jika kalian berteman, kau pasti ada campur yangam atas kematian anakku!?" tuduhnya mulai diliputi kemarahan.


"Apa? Jangan asal menuduh!? Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kematian anakmu, Tuan Jiang!?"


"Heh, mana ada penjahat yang mau mengaku!? Aku akan membinasakanmu disini!? Kemudian meminta pertanggung jawaban keluarga Wei!?"


Shin tidak bisa berkata kata lagi. Pria ini sudah tidak bisa mendengarkannya lagi. "Baik, kalau begitu aku juga akan membunuhmu disini!?" ujar Shin.


"Beraninya bocah bau kencur sepertimu berlaga di depanku!? Aku pasti akan mematahkan kesombonganmu itu!?" ujarnya dengan mata melotot marah. Dia mengeluarkan aura mematikan yang mencekam.


Shin sedikit ragu sekarang, apa dirinya harus melawan master ranah Yuzhou? Meskipun dirinya juga berada di tahap Yuzhou juga, tapi Kepala keluarga Jiang masih berada di atasnya. Dirinya rasa, dia akan melarikan diri saja.


"Aaagghhh!?"


Teriakan itu membuat perhatian mereka berdua tertuju pada arah lain. Mereka melihat seorang pria dengan kejam membunuh prajurid prajurid keluarga Jiang. Yang lebih kejamnya lagi, pria itu meminum darah para prajurid yang telah dibunuhnya.


"Yohan?" ujar Shin, dia beralih melihat ke sebelah Yohan yang hanya melihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, 'Dan disebelahnya, Jingmi? Dia berhasil menyelamatkan pria itu. Tapi ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat seperti orang kesurupan? Meminum darah lawan? Itu seperti teknik iblis. Teknik jahat yang bisa meningkatkan kultivasi dengan meminum darah lawannya. Apa dia diam diam mempelajari teknik jahat itu?' pikir Shin membuat kesimpulan.


"Tidak mungkin!? Aku sudah membunuhnya, bagaimana dia bisa hidup lagi?" ujar Jiang Jierui tidak percaya. Dia membelalakkan matanya melihat Yohan masih hidup.


Shin melihat ekspresi terkejut diwajah Jiang Jierui, 'Dia benar benar tidak berbohong. Jika benar Yohan sudah dibunuhnya, lalu siapa pria itu?' pikir Shin, kembali melirik Yohan.


Di sisi Jingmi, dia sangat terkejut melihat Yohan bisa sekuat dan sekejam itu. Dia seperti melihat iblis sekarang. Saat gerakan Yohan berhenti, disaat itu juga semua prajurit yang menyerang habis di bantainya. Pria itu menengok ke arah Jingmi.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak bertarung? Apa kau tidak bisa bertarung? Ah, tunggu tunggu biarkan aku menebaknya. Hmm,…" Yohan menutup matanya seperti sedang berpikir. Ia memperhatikan mimik wajah Jingmi yang terlihat gelisah dan sedikit ketakutan. "Aha, kau pasti ketakutan dan terkejut melihat aku bisa seperti ini kan?" tebaknya.


Jingmi hanya terdiam ketika Yohan menebaknya dengan benar. Kakinya mulai gemetar ketika pria itu melangkah mendekat ke arahnya. Yohan membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Jingmi lebih dekat.


"Apa aku semenakutkan itu?"


Rasanya atmosfer disekitar menjadi sangat padat. Jingmi merasa sangat takut melihat sepasang mata merah yang menatap matanya langsung. Dia bahkan tidak bisa bernafas dengan benar. Tapi, bukan hanya bela diri yang dipelajarinya dari Shin, melainkan ekting pria itu juga diapelajarinya. "Tentu saja tidak. Untuk apa aku takut dengan Yohan'ge? Bukankah Yohan'ge telah menolongku? Aku juga telah menolong Yohan'ge!? Jadi tidak ada alasan aku takut." ujarnya dengan senyum ramah yang terlihat sekali dibuat buat.


Yohan memperhatikan ekspreai Jingmi, lalu tersenyum tipis, "Drama yang bagus. Tapi sayangnya aku tidak tertipu." Yohan menegakkan kembali tubuhnya. Sekarang semakin terlihat wajah kegugupan, "Bukankah sudah kubilang? Aku tidak akan membunuhmu, karena kau adalah keluargaku." ujarnya meniru seseorang ditambah dengan ekspresi yang melembut. Senyumnya mengubah atmosfer berat menjadi lebih ringan.


Seketika rasa ketakutan pada Jingmi langsung menghilang. Dia sekarang malah merasa bersalah. 'Padahal Yohan'ge menganggapku sebagai keluarga. Tapi aku malah ketakutan melihatnya. Hanya karena dia sedikit berbeda. Seharusnya aku membantunya, kan?' pikirnya merasa bersalah.


Terlihat samarsama senyum licik diwajah Yohan, 'Berhasil!?' pikirnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan bertarung dibelakangmu!?" ujar Jingmi penuh semangat.


"Baiklah!?" sangat mudah baginya mengubah mindsed bocah itu. Tidak, karena dia sudah lima belas tahun mungkin bisa disebut pemuda.


"Serang mereka!?" ujar seseorang yang memimpin segerombolan prajurit. Pertarunganpun kembali terjadi.


Kediaman Jiang sekarang sudah hambir terbakar oleh ganasnya api. Hampir semua bangunan terbakar oleh api. Dan seluruh kota saat ini sedang memperhatikan kebakaran besar di tengah malam.


"Ada apa disana?" tanya seorang penduduk.


"B BUKANKAH ITU ADALAH KEDIAMAN KELUARGA JIANG?" ujar keras seorang penduduk lainnya.


"Apa? Benarkah?"


Zhu'er dan seorang pria misterius melihat kebakaran besar dari kejauhan yang terlihat kecil dari jarak mereka. Disaat semua orang penasaran, mereka sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi dengan salah satu keluarga besar itu. "Hanya keluarga kecil saja, apa yang perlu diperhatikan?" ujar pria disamping Zhu'er.


"……" Zhu'er hanya melihat datar kebakaran tersebut. Memang tidak ada yang menarik disana. Dari pada memperhatikan sesuatu yang sama sekali tidak menarik, dia lebih memilih melanjutkan makan yang belum habis.


Duar


Ledakan besar tiba tiba terjadi di kediaman tersebut. Suaranya bahkan bisa terdengar dari kejauhan tempat Zhu'er dan pria misterius itu berada. Namun itu berhasil membuat langkah gadis itu berhenti, dengan mata yang terbelalak melihat ke arah kediaman. Lalu keluarlah sebuah senyuman jahat di wajahnya. "Ki ki ki ki ki ki. Ketemu. Kau!?" ujarnya dengan tawa seramnya.


"Tuan!? Anda belum bayar!?" ujar pemilik kedai penuh penekanan.


"Ah, tapi…" pria itu gelagapan sekarang. Sejenak dia bingung harus mengajar atau membayar lebih dulu. Tapi pada akhirnya dia membayar beberapa keping perak kepada pemilik kedai. Lalu dia segera mengejar Zhu'er meninggalkan pemilik kedai yang terlihat senang mendapat uang perak.


Di kediaman Jiang


Yohan menggunakan seni pertama tujuh rantai neraka. Yaitu 'Belenggu' yang mana adalah jurus pertama yang ia gunakan. Hampir semua prajurit mati dibunuhnya.


Terlihat Jingmi yang baru saja berhasil menebas musuh. Saat dia berbalik ke arah Yohan, dia melihat ada seorang wnita muda yang ingin menyerangnya diam diam dari belakang. "Awas!?" teriaknya kencang.


Trang


Sebuah pedang terlempar ketika Yohan menangkisnya dengan rantai hitam. Karena tidak bisa menyerang dengan senjata, gadis itu mencoba memukul Yohan dengan serangan angin kecilnya.


Dengan sigap Yohan menangkap tangan gadis itu. Seketika gadis itu membatu ketika melihat wajah dan mata pria itu. Bagaimana ya mengatakannya, dia seperti terpesona dengan pria itu. Gadis itu adalah adik dari Jiang Feng. Jiang Suwan. 'Apa benar dia adalah Liu Yohan? Setelah beberapa tahun tidak bertemu aku tidak menyangka dia sudah sekuat dan… tidak. Dia seseorang yang harus kubenci, mana boleh aku memuji bajingan jahat ini. Kakak pasti akan lebih bahagia di sana jika aku membalaskan dendamnya!?' pikirnya kembali ke jalan awalnya.

__ADS_1


"Hm? Jiang Suwan? Lama tidak bertemu ya~" sapa Yohan dengan cengiran di wajahnya.


Sungguh menjijikan melihat pembunuh ini cengengesan didepannya. Jiang Suwan ingin menampar pipi pria itu, tapi tangannya lagi lagi difangkap Yohan. "Lepaskan dasar brengsek!?" umpatnya.


"Baiklah!?" Yohan melepaskan genggamannya dari tangan gadis itu. Segera Jiang Suwan mundur beberapa langkah.


"Kau pasti senang telah membunuh Kakakku, benar kan? Heh, pria jahat sepertimu memang seharusnya mati." ujarnya penuh dendam.


Yohan agak bingung dengan perkataan Jiang Suwan, tapi akhirnya dia mengerti apa maksud perkataan gadis itu. "Kau benar, aku senang sudah membunuh Jiang Feng!?" ujarnya dengan senyum diwajahnya.


"Baj*ngan!? Beraninya kau tersenyum seperti itu!? Apa salah kakaku sampai kau membunuhnya? dia begitu baik, dan…" air matanya akan menglir keluar.


"Ppfft, baik? Itu sedikit…" Yohan menahan tawanya. Orang yang setiap hari memukul dan hampir membunuhnya, disebut baik?


"Berhenti tertawa!? Kau tidak tahu apapun tentang kakakku!? Kau hanya iri pada yang memiliki segalanya, benarkan? Karena itu kau membunuhnya!? Baj*ngan seperti memang harunya di neraka!?" ujarnya menggebu gebu penuh amarah.


"Jika kau sangat mengenal kakakmu, aku akan bertanya padamu. Apa yang kau ketahui tentang Jiang Feng?" tanya Yohan.


"Tentu saja dia_"


"Bukan sebagai keluarga mu, melainkan sebagai 'Jiang Feng'." ujar Yohan menekan kata kata terakhir.


"Dia…" Entah kenapa rasanya bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan Yohan tentang Jiang Feng, kakaknya. Karena Jiang Geng selalu bersikap baik padanya.


"Tidak tahu? Kalau begitu bagaimana dengan Jiang Jierui? Jiang Meilian, ibumu?" tanya Yohan beruntun.


Gadis itu masih tidak menjawab.


"Tidak tahu lagi? Yah, kalau kau sudah tahu jawabannya kau harus mencariku ya~ Setelah tahu, aku akan memberimu satu kesempatan untuk menikam ku." ujar Yohan sembari menunjuk dirinya sendiri diiringi dengan dengan senyum diwajahnya. Lalu meninggalkan Jiang Suwan, yang masih kebingungan.


"Tunggu!? Berhen_"


Duak


Jingmi memukul belakang leher gadis itu hingga membuatnya pingsan. Setelah itu Jiangmi mengejar Yohan dari belakang. Dia beberapa kali melihat Jiang Suwan yang pingsan, "Apa Yohan'ge benar benar akan membiarkannya tetap hidup? Bagaimana jika suatu hari nanti dia akan membalaskan dendamnya padamu? Bukannya itu berbahaya?" tanya Jiangmi. Karena yang dia tahu, tidak akan ada seorangpun yang bisa melupakan dendam mereka setelah anggota keluarga mereka dibunuh.


"Jangan khawatir. Dia gadis yang baik, meskipun sedikit bodoh." ujarnya tentang Jiang Suwan. "Sekarang, lebih baik kita mengurus sampah saja." ujarnya melihat Jiang Jierui yang kini sudah dihadapannya, "Ppfft, busuk!?" ujarnya sembari mengibas ngibaskan area hidungnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2