
Saat ini sedang terjadi suatu perselisihan. Yohan mencekik leher Lao Yunzi hingga gadis itu sulit bernafas. Matanya terlihat dingin memandang Lao Yunzi yang dicekiknya.
"Kenapa…kau…?" tanyanya sulit berkata kata.
Akan tetapi Yohan masih diam belum mengatakan alasan kenapa ia mencekik gadis itu.
Karena kesal dirinya dicekik tiba tiba, Lak Yunzi dengan pukulannya memukul wajah Yohan.
buk
Bagus kalau dia berhasil memukulnya sampai kena. Sayangnya benda bertekstur lembek dan kuat berwarna hitam pekat berkabut menahan pukulannya hingga hanya dapat mencapai permukaan wajah Yohan. 'Kenapa dia tiba tiba seperti ini? Apa aku membuat kesalahan? Apa tanpa sengaja aku menginggung hatinya? Tidak, kurasa bukan itu.' Lao Yunzi melirik tangan kanan yang tersibak sebuah tatto ular. 'Ah, jadi dia tahu tatto ini?' pikirnya langsung mengerti alasan Yohan mencekik lehernya tiba tiba. "A aku… bi_"
Bruk
Tiba tiba pria itu ambruk ke samping Lao Yunzi dengan tenaga yang lemah. Tidak seperti sebelumnya yang persis orang kesurupan, Yohan tergeletak lemah dengan wajah memerah, tubuhnya panas, dan matanya terpejam dengan nafas yang sulit bernafas.
Segera Lao Yunzi memanfaatkan waktu itu saat ada kesempatan. Dirinya segera bangun dan menjaga jarak antara dia dan Yohan. Ketika dia ingin bangun dan lari karena identitasnya ketahuan, dia berhenti saat mengingat senyum riang pemuda itu sebelumnya yang terlihat sangat polos. Meskipun setelahnya seperti orang kesurupan yang ingin membunuh dirinya.
Dia berbalik dan melihat Yohan yang masih dalam keadaannya yang kesakitan. Lao Yunzi mendekati pria itu dan menempelkan tangannya ke keningnya. Namun belum satu detik berlalu dirinya segera menarik tangannya. 'Panas sekali, aku tidak percaya orang ini sudah menahannya selama perjalanan. Pantas saja kalau dia pingsan sekarang.' pikirnya setelah mengecek keadaan Yohan. Dia menatap Yohan agak lama dengan pikiran yang bimbang. Apakah dia harus menolong pria ini atau tidak? Memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Tapi pada akhirnya dia menolong Yohan. "Aku hanya membalas kebaikan kecilmu." ujarnya.
...***...
Terlihat di gerbang menuju lapisan kedua labirin bagian dalam, sekelompok pria dengan satu wanita sudah sampai. Mereka tak lain adalah Yin Fan, Shin, Jingmi dan juga Zhu'er. Beberapa wajah diantara mereka terlihat kesal dan ada juga yang merasa memiliki salah.
"Aku yakin kalau ada yang bilang kita akan bertemu seseorang diperjalanan. Setelah itu aku bisa membalas perbuatan keji orang itu, kan? Paman Fan?" tanya Shin dengan tatapan matanya yang sinis dan nada yang sarkas.
"Oh? B benarkah?" tanya Yin Fan balik sembari memalingkan wajahnya.
"Benar!? Dan orang yang mengatakan itu adalah kau!? Gadis aneh itu bahkan tidak merasakan adanya tanda tanda orang gila disini!? Agh, aku sangat kesal sampai ingin menggorok leher Jingmi." ujarnya menahan amarah.
Sontak Jingmi yang mendengar itu mengendap endap bersembunyi dibelakang Zhu'er. Sudah cukup ada siksaan psikopat di latihan, tidak perlu menambahnya diperjalanan.
Yin Fan menelan ludahnya kasar, 'Bukannya orang gila itu juga dirimu?' pikirnya yang ingin mengatakan itu. Namun dirinya masih sayang kesehatan mental. "Yah, prediksiku tidak semuanya benar. Aku bukan dewa yang tahu segalanya. Kau berdoa saja kita bertemu orang gila itu di lapisan kedua ini." ujar Yin Fan tidak membantu.
Mereka memasuki lapisan kedua melalui lorong yang panjang. Keluar dari lorong panjang, mereka memasuki lapisan kedua dari labirin bagian dalam. Cahaya hangat menyambut kedatangan mereka. Sebuang pemandangat luar dengan angin sepoi sepoi tertiup damai. Lapisan kedua labirin bagian dalam, laut pasir putih. "Eh? T tunggu, kenapa bukan flower garden?" tanya Yin Fan penuh tanya.
"Flower garden?" tanya Shin dan Jingmi bersamaan.
"Oh? Aku belum menjelaskannya pada kalian ya? Flower garden adalah salah satu tempat di labirin bagian dalam yang satu satunya tidak terdapat monster di dalamnya. Disana kau bisa bersantai menikmati pemandangan taman seribu bunga. Di sana terdapat pondok seperti penginapan, kau bisa bersantai disalam dengan pelayanan khusus dari orang orang dari berbagai klan. Salah satunya adalah klan rubah ekor sembilan." jelas Yin Fan panjang lebar. Saat dirinya melihat mereka berdua kembali, tampak keduanya menatap dirinya dengan serius.
"Hmm, kadi intinya kita akan semakin sulit bertemu dangan orang itu kan?" tanya Shin dengan senyum dan mata liciknya.
"Heh~ aku pikir paman Fan tahu segalanya." tambah Jingmi. Mereka berdua menatap jeli Yin Fan.
__ADS_1
"Oh ayolah, aku bukan dewa yang tahu segalanya." ujar Yin Fan.
"Bagus, bagus sekali~ aku jadi memiliki alasan untuk membedah isi perutmu." ujar Shin sembari mengeluarkan pisau berkaratnya. Terlihat senyum miring yang terlihat licik diwajah tampannya.
"Khu khu khu khu!?" Jingmi diam diam mengeluarkan tali daei cincin penyimpanan. Dengan senyum jahat yang dia tahan tahan. Saatnya membuat Yin Fan merasakan latihan psikopatnya.
Yin Fan mundur dengan kaki gemetar, "Ap apa? Kalian…" Yin Fan tak bisa melanjutkan kata katanya. Dirinya tidak tahu lagi harus berbuat apa menghadapi dua orang gila ini. "Kalian, bercanda kan? a ha ha ha…" ujarnya dengan tawa kecil yang terdengar canggung.
Shin mulai mendekat, "Oh? Apa ini terdengar seperti candaan? Kalau begitu aku hanya tinggal mengeluarkan alat yang lebih besar agar kau tidak menganggapnya candaan lagi!" ujarnya sambil menyimpan belati dan mengeluarkan pedang.
Yin Fan mundur, "A apa? Bukan itu maksudku, itu_"dia tak bisa lagi berkata kata melihat dua orang gila ini tampak tak sabar mengeksekusi dirinya. "S sialan!? DASAR GILA!?" dia mengambil segenggam pasir putih dan melemparkannya pada kedua orang psikopat itu. Sedangkan dirinya kabur menyelamatkan diri.
"Akh!? Sial, pasir ini masuk ke mataku!?" ujar Jingmi mengucek ngucek matanya.
"Jingmi!? Jangan mengurusi matamu terus. Cepat kejar dia!?"
"Ah, t tunggu!?"
Mereka berdua segera mengejar Yin Fan yang lari seperti dikejar setan. Ketiga orang itu sibuk dengan urusan mereka, sedangkan Zhu'er sibuk menatap satu tempat yang berada jauh dari tempatnya.
Di tempat yang ditatap Zhu'er,
"Hmm, kakak, bukannya gadis itu melihat ke arah kita?" bisik seseorang yang sedang bersembunyi.
"Oh, aku kira dia sedang menatap kita. Kakak memang hebat!?"
"Tentu saja tidak bodoh!? Mana mungkin dia berhasil melihat kita dari kejauhan itu. Kita dari ras naga adalah yang paling kuat!?"
"Oh!? Benar benar, kita memang sangat kuat!? Gadis kecil sepertinya tidak mungkin dapat melihat kita!?" ujarnya, "Tapi, dimana gadis itu sekarang? Kenapa yang terlihat cuma tiga pria idiot?" tanyanya kemudian.
"Eh? Benar, dimana dia?"
Tiba tiba tubuh mereka terangkat ke atas. Keduanya tampak bingung mengapa mereka melayang di udara. Saat keduanya menengok ke belakang, sungguh sangat mengejutkan. Ternyata gadis yang mereka kira menatap pohon di samping mereka nyatanya menatap mereka.
Tampak wajah mereka yang sangat kaget melihat Zhu'er mencengkram kerah belakang baju mereka, salah satu bocah menunjuk kaget Zhu'er dan berkata, "K kau!? Kenapa kau bisa mengetahui keberadaan kami?" teriak seorang bocah kecil, dikepalanya ada dua tanduk bercabang, tampak bola mata berwarna biru tua bergaris lurus, serta beberapa bagian tubuh yang bersisik biru tua seperti tangan dan leher. Dan tampak juga di kedua pipi sampai ke leher angka angka dan sandi sandi berwarna biru langit.
"Benar!? Bagaimana kau tahu kami disini?" teriak bocah lain yang penampilannya tak jauh berbeda dengan bocah satunya. Hanya saja dia berambut biru tua panjang sedangkan bocah satunya berambut pendek sebahu.
Zhu'er menatap mereka berdua bergantian, "Tanduk. Terlihat." ujarnya.
"Tanduk?" tanya mereka bersamaan.
Kemudian melihat tanduk satu sama lain. Tampak tanduk bocah berambut pendek yang menjulang tinggi ke atas dengan tiga cabang. Tampak juga tanduk bocah berambut panjang menjulang tinggi bercabang tiga. "Ah! Ini pasti karena tanduk mu sehingga gadis kecil ini bisa melihat kita!?" unjuk bocah berambut panjang ke bocah berambut pendek.
__ADS_1
"Apa? Tidak!? Ini karena tanduk kakak yang lebih panjang dari tandukku!?" unjuk bocah berambut pendek. Mereka jadi saling menyalahkan satu sama lain.
"Ah, tapi tunggu, mana pria yang bernama Yohan di rombonganmu gadis kecil?" tiba tiba bocah berambut panjang bertanya pada Zhu'er tentang Yohan.
"Benar juga, apa dia ada di salah satu tiga orang idiot itu?" tanya bocah satu lagi sembari menunjuk ketiga orang yang masih bermain kejar kejaran.
Zhu'er tampak sedikit melebarkan matanya mendengar pertanyaan tentang Yohan dari dua orang bocah didepannya. "Yohan?" ujarnya. Dia memperhatikan angka dan sandi pada kedua pipi serta leher kedua bocah di tangannya. Merlihat dari penampilannya kedua bocah ini sepertinya berasal dari ras naga. Dua orang anak dari ras naga yang mencari keberadaan Yohan?
"Iya, Liu Yohan!? Dia ada bersama rombonganmu kan?" tanya ulang bocah berambut panjang.
Tiba tiba Zhu'er tersenyum tipis, "Hmm. Benar." jawabnya. Yang sebenarnya tidak ada.
"Oh? Dimana?" tanya anak berambut panjang terlihat riang mendengar Yohan ada dirombongan.
Senyum tipis Zhu'er berubah menjadi senyum jahat yang memperlihatkan seluruh giginya. Dan senyum senang kedua bocah itu berubah menjadi kekagetan ketika Zhu'er mengikat keduanya dengan bulu rubah berwarna merah.
"Kau!? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengikat kami?" teriak anak berambut panjang dengan marah.
"Memang!? Kita tidak bisa mempercayai orang dari klan bre*gsek itu!?" timpal anak berambut pendek.
Selagi Zhu'er sedang diomeli oleh dua orang anak itu, Yin Fan melihatnya dari kejauhan. Dia menyipitkan matanya, memperhatikan apa yang sedang Zhu'er lakukan. "Apa yang gadis gila itu lakukan?"
"Apa kau akhirnya menyerah?" tanya Shin.
"Tahan, ini bukan saat untuk bermain. Lihatlah itu!?" tunjuk Yin Fan pada Zhu'er.
Mereka berdua melihat kearah yang ditunjuk Yin Fan. "Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Jingmi.
"Itulah yang kutanyakan juga." saut Yin Fan.
"Sepertinya dia sedang bicara dengan dua orang anak yang memiliki tanduk? Eh?" Jingmi tampak meragukan penglihatannya.
"Tidak, kau benar. Dia memang sedang bicara dengan anak anak yang memiliki tanduk dikepala mereka. Anak anak itu seperti…" Yin Fan semakin mempertajam penglihatannya. Kemudian tampak pusaran besar berwarna biru tua muncul tak jauh dari tempat mereka. Mata Yin Fan langsung terbelalak kaget, "Ayo cepat kita ketempat mereka!? Sekarang!?" teriaknya sambil berlari menuju Zhu'er sebelum wanita itu pergi bersama anak anak itu menuju pusaran biru.
Shin dan Jingmi saling bertatapan, untuk kali ini mereka akan percaya pada Yin Fan. Segera mereka berlari secepat mungkin menuju Zhu'er.
"Tungguuuu!?" panggil Yin Fan. Tapi seperti angin lalu, panggilannya tak dihiraukan meskipun Yin Fan yakin Zhu'er mendengarnya. Karena saat akan memasuki pusaran biru, gadis itu melihat ke arahnya dengan senyuman licik diwajahnya. Kemudian menghilang bersama anak anak itu.
Yin Fan sampai ditempat Zhu'er sebelumnya. Dia menggertakkan giginya kesal. "Sial!? Dasar rubah betina itu!? Kakek dan cucu sama sama liciknya!?" gerutunya keras.
"Apa yang baru saja terjadi? dan siapa anak anak itu?" tanya Shin.
"……" agak lama Yin Fan menjawab. "Mereka adalah anak anak dari ras naga, tepatnya naga ruang dan waktu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...