
Kedua orang dihadapan Yohan kini menatap Yohan dengan tatapan antara takjub dan heran campur kaget. Jika dari awal ia bisa mengalahkan monster itu, kenapa ia harus buang buang waktu dengan mengalihkan perhatian monster sekaligus melempar tanggung jawab pada mereka? Kenapa tidak ia menghabisi langsung saja tanpa harus membuat mereka susah? Jawabannya sudah pasti adalah, ia sengaja melakukannya. Dan alasan pastinya, hanya untuk melihat keduanya kesusahan dengan dirinya yang tertawa di bagian akhir melihat kedua seniornya memperlihatkan ketidak berdayaan mereka padanya.
Sekarang saja ia sedang tersenyum ramah, ralat mengejek pada kedua orang itu. Hal ini sungguh memalukan bagi Xiu Xiyun yang biasanya terlihat anggun dan kuat. Bagaimana bisa dirinya memperlihatkan kelemahannya pada bajingan didepannya ini. "Apa kau sengaja melakukannya? Kau bisa dengan mudah membunuh monster itu dari awal, tapi kau sengaja mengulur waktu dan malah memberikan teratai spiritual yang diincar monster itu pada pangeran ke-3. Dan melihat kami kesulitan menghadapinya, benar kan?" tanyanya dengan Yohan yang masih mendengarkan.
"Aku tahu aku salah telah meminta sesuatu darimu dengan tidak tahu malu, tapi apa yang kau lakukan bisa saja membunuh kami. Jika kami berdua terbunuh oleh monster itu, apa yang akan kau lakukan? Tertawa? Senang melihat kami mati? Atau kau akan mengadakan perjamuan untuk merayakannya?" beberapa detik suasana disana hening. Qi Tianwen masih tidak mengerti dengan yang dikatakan Xiu Xiyun, namun berbeda dengan Yohan yang langsung paham dengan apa yang dikatakan gadis itu. Karena jujur saja, ia kesal sebab wanita itu seenaknya meminta sesuatu yang dengan susah payah ia dapatkan. Keduanya bahkan tidak sedekat itu sampai meminta sesuatu seenaknya.
Plak
Xiu Xiyun melempar teratai spiritual ke wajah Yohan sebagai ungkapan rasa kesalnya. "Ambil saja bunga itu kembali, aku tidak membutuhkannya lagi." ujarnya dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Qi Tianwen sedikit bingung mengapa Xiu Xiyun memberikan kembali bunga yang diinginkannya pada Yohan. Dia menatap Xiu Xiyun dan Yohan secara bergantian. Lalu berakhir dengan menunjuk Yohan sewot, "Aku akan berurusan denganmu lagi nanti." ujarnya yang kemudian pergi mengejar Xiu Xiyun.
Yohan bingung sekarang, karena ia merasa menjadi penjahatnya setelah gadis itu mengatakan kebenarannya. Padahal ia hanya berniat melakukan kejailan kecil pada dua orang bangsawan yang menganggap statuslah yang paling penting. "Ha ha ha ha, ya ampun, aku ditampar secara tidak langsung." ujarnya yang masih tertawa sumbang. Ia melihat ke segala penjuru mencari keberadaan Ming Jiajun yang diabaikan. Tapi anehnya pria itu tidak ada disana. "Dimana dia? Bukannya dia bilang akan mengawasiku seharian?" ujarnya. "-------------" gumamnya pelan bahkan hampir tidak terdengar.
...***...
Di tepi sungai yang terdapat sebuah Goa di sisi lainnya, terlihat seorang anak dengan darah disekujur tubuhnya. Tentu saja dimana ada darah disitu ada luka. Dan luka anak itu bukanlah luka kecil yang ringan. Melainkan luka parah dibagian perutnya. Meskipun tidak sampai organ vital, tapi darah yang dikeluarkan sangatlah banyak hingga bisa saja membuatnya mati kehabisan darah.
__ADS_1
Ho Jingmi, hari ini berusia sebelas tahun. Anak anak seusianya seharusnya merayakannya bersama keluarga, tapi dirinya harus bertarung mempertaruhkan nyawa demi menjadi kuat demi ibunya. Dia tahu keinginannya kekanakan dengan bersikeras untuk ikut kedalam labirin spiritual. Sikap buru burunya mengharuskan dirinya melakukan itu. Tapi perkataan seseorang yang membuatnya semakin bertekad mengikuti kedalam bahaya. Seseorang yang pertama kali menemukannya di akademi.
Dia menutup lukanya dengan tangan agar darah yang keluar tidak semakin banyak. Walaupun dia berhasil membunuh monster yang beberapa saat yang lalu mengincar nyawanya, tapi dirinya juga terluka parah. "Hah… hah… hah…" Nafasnya terputus putus. Sekarang dia berharapa ada seseorang yang dengan ajjaibnya muncul menolongnya. Dan sepertinnya tuhan mengabulkan keinginannya itu, sebab…
"Pada akhirnya kau berakhir seperti ini, dasar nakal!?" ujar seseorang yang sangat dikenalnya.
Terlihat senyum lemah diwajah Ho Jingmi, "Ha ha…ha… aku tahu… kakak akan datang…" ujarnya melihat ke arah Yohan yang berjongkok didepannya. Saat kepergian kelas khusus di wartu akhir, dirinya sempat bertatap dengaan Yohan yang juga melihatnya. Meskipun pada akhirnya tidak sempat bicara karena wartu kepergian sangat singkat.
"Lepaskan tanganmu, aku akan mengobatinya!?" ujar Yohan. Ketika ia mengobati luka Jingmi, secara perlahan ia melihat luka itu perlahan menutup sendiri. Meskipun sangat pelan tapi ia yakin jika luka itu semakin mengecil dengan kecepatan yang masih lambat. 'Apa dia tidak sadar lukanya sembuh dengan sendirinya?' pikirnya sembari melirik bergantian antara luka dan Jingmi yang menutup matanya. "Selesai." ujarnya setelah memperban luka Jingmi.
"Hmm," Yohan memperhatikan bocah didepannya ini dengan tatapan mengidentifikasi.
"A apa?" tanya Jingmi gugup.
"Tidak, hanya saja sepertinya kau menjadi sedikit dewasa. Apa kau menyadari itu?" tanya Yohan sambil bertanya tanya. Sepertinya baru setengah tahun yang lalu tubuh bocah didepannya ini sangat kecil hingga bisa digendongnya, tapi lihatlah sekarang. Tingginya bahkan hampir setengah tubuh Yohan, dengan diikuti perubahan perubahan yang tak lazim. Dia lebih terlihat seperti anak laki laki berusia 13 tahun dengan pikiran remaja 16 tahun. Ditambah regenerasinya yang terbilang cepat untuk seukuran manusia biasa. "Diranah berapa sekarang kau?" tanya Yohan lagi.
Seharusnya ranah seseorang itu adalah termasuk privasi dan terbilang rahasia. Tapi karena Jingmi menganggap Yohan sudah seperti keluarga sendiri, dia akan dengan senang hati mengatakannya, "Aku di ranah api tingkat awal." jawabnya.
__ADS_1
"Di ranah api, ya?" gumam Yohan sembari menaruh kedua jarinya memegang dagu, sekian waktu berpikir ia tersenyum misterius melihat Jingmi yang melihatnya bingung. "Oh, iya!? Aku memiliki kejutan untukmu!?" Yohan mengeluarkan teratai spiritual dari cincin penyimpanannya. "Taraaa!?"
Jingmi terbelalak kaget melihat teratai berwarna putih transparan yang bercahaya biru indah. Selama di academi, ia mempelajari banyak hal. Termasuk teratai spiritual, tanaman spiritual yang berada pada peringkat ke tiga dari banyaknya tanaman ajaib lainnya. Jika dirinya mengonsumsi teratai spiritual maka tidak diragukan lagi ranahnya akan naik beberapa tingkat jauh lebih tinggi dari sekarang. "B bagaimana bisa kakak memiliki tanaman seberharga ini?" tanyanya gugup.
Yohan hanya tersenyum, "Tentu saja aku mendapatkannya dari suatu tempat yang tidak perlu kau ketahui. Intinya ada banyak orang yang menginginkan bunga ini saat aku mengambilnya. Termasuk wanita cantik yang menamparku secara tidak langsung. Sekarang bunga ini untukmu saja!?" ujarnya sembari menuodorkan teratai spiritual pada Jingmi. Sungguh tidak bisa dipercaya ia memberikan bunga itu secara cuma cuma pada bocah laki laki yang baru memasuki ranah api tingkat awal. Padahal jika Yohan mengonsumsi teratai spiritual itu sendiri mungkin saja ia akan naik tiga ranah sekaligus tanpa hambatan. Tapi siapa yang tahu apa yang ia pikirkan.
Agak ragu juga sebenarnya menerima pemberian berharga Yohan. Karena ini adalah teratai spiritual, bukan teratai KW. "Kenapa…" gumam Jingmi hampir tidk terdengar.
"Apa?" tanya Yohan tidak terlalu dengar.
Terlihat wajah bocah itu yang seperti akan menangis, "Kenapa kau begitu baik padaku? Padahal akan jauh lebih baik jika Kakak tidak perduli padaku seperti yang lain." ujarnya yang akhirnya berlinang air di matanya. Sejujurnya, tidak ada yang pernah sebaik ini padanya sampai sejauh ini. Karena sejak kecil dia hanya mendapat caci maki dari orang orang.
Yohan hanya melihat Jingmi dengan pandangan datar. Ia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, karena ia selalu tidak tahu bagaimana cara menenangkan seseorang yang menangis. Dirinya memberikan teratai spiritual bukan hanya karena cuma cuma, tapi juga karena tujuan lain. Karena di dunia ini tidak ada kebaikan tanpa tujuan dibaliknya. "Berhenti menangis!?" ujarnya nlmerasa risih dengan tangisan bocah didepannya. Masih terdengar tangisan dari Jingmi, "Aku bilang, berhenti menangis!?" tanpa diduga ia menyumpal mulut Jingmi dengan teratai spiritual agar bocah itu berhenti menangis.
"Huft!? Wuuf wwuu!?" Dengan bunga besar yang disumpalkan ke mulutnya membuat Jingmi tanpa sadar berhenti berpikir kalau pria didepannya ini malaikat melainkan iblis. Bagaimana bisa ia memperlakukan seseorang yang sedang terharu bahagia, malah menyumpal mulutnya dengan bunga besar? Pria itu benar benar tidak punya hati!? Jahat!? Brengsek!?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1