
Yohan menyimpan cincin Qi Tianwen di saku balik bajunya. Menyimpannya untuk dikembalikan lagi pada pemiliknya. Dia memang pria yang aneh, kadang baik kadang juga jahat.
Tidak lama, terdengar suara langkah kaki seseorang dari belakang. 'Apa itu ilusi lainnya?' pikirnya kembali was was.
Slash
Ia mengayunkan pedang pada seseorang yang baru saja datang. Matanya terbelalak melihat Zhu'er lah yang datang. "Kau, kenapa kau… apa kau ilusi?" tanya Yohan kini menatap tajam Zhu'er. Ia memperhatikan Zhu'er yang masih tetap datar meskipun ujung pedang menggores lehernya. Terlihat darah merah menetes dari goresan itu. 'Lupakan saja, tidak ada ilusi yang bisa menyamai wajah datarnya itu.' pikir Yohan, ia menurunkan pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarung pedang. Sebenarnya, bagaimana bisa gadis itu selalu tidak memiliki ekspresi?
"Bagaimana kau menemukanku didalam kabut tebal ini?"
"Anak kecil." jawabnya singkat.
"Apa kau mempermainkanku? Tidak ada anak kecil disini." ujarnya membuat Zhu'er bingung. Dia melihat anak yang menggenggam tangannya, tapi anak itu sudah hilang tanpa jejak.
Anak itu hilang seperti ditelan bumi, padahal jelas jelas tadi Zhu'er menggenggam tangan dinginnya. Sekarang dia melihat tangannya sendiri, apa yang tadi adalah ilusi? Karena anak itu lebih banyak diam. Membuatnya merasa nyaman hingga tidak menyadari kalau itu hanya ilusi.
"Sudahlah, ayo kita mencari yang lain." ujarnya sembari berbalik mencari teman teman yang lain. Namun ia menyadari kelau Zhu'er sama sekali tidak mengikutinya. Wanita itu masih tak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini. Ia mendengus melihat Zhu'er yang sepertinya jadi bingung. Karena itu ia menghampiri wanita itu lalu mengulurkan tangan padanya, "Kenapa kau hanya diam? Ayo!?" ajaknya yang menampilkan tangan bernoda darah.
Melihat uluran tangan yang membuatnya merasa seperti pernah mengalami ini, membuat Zhu'er ragu untuk meraih uluran tangan yang kedua kalinya, apalagi sikap pria itu yang terlihat tidak stabil. Karena biasanya di bersikap acuh tak acuh padanya, apalagi saat mendengar kata cinta darinya.
__ADS_1
Karena keraguan dari Zhu'er, Yohan jadi berpikir kalau gadis itu tidak mau meraih tangan yang kotor. Apalagi yang bernoda darah. Jadi ia kembali menarik tangannya tanpa sepatah katapun. Tapi siapa sangka kalau Zhu'er dengan cepat meraih tangan Yohan secepat kilat. Membuat pria itu sedikit kaget. Apalagi genggamannya juga sangat erat seperti akan meremukkan seluruh tulang tangannya. 'Dia benar benar wanita? Kenapa tenaganya melebihi pria?' pikir Yohan merasa tangannya akan remuk. "Zhu'er, kau tidak perlu memegangku terlalu erat. Secukupnya saja." ujarnya tidak tahan dengan genggaman Zhu'er yang seakan akan ingin menghancurkan tangannya.
Akhirnya genggaman gadis itu melonggar meskipun agak erat tapi ini jauh lebih baik. Setelah itu Yohan menarik tangan wanita itu, menggandengnya erat meskipun dalam hal kekuatan wanita itu juaranya. Mereka berjalan bersama yang mana hanya mereka berdua. "Kurasa untuk saat ini kita harus bergandengan agar tidak terpisah kembali. Atau kau ingin tali saja sebagai penghubungnya?" tanya Yohan. Mungin saja wanita itu tidak nyaman jika ia menggenggam tangannya.
"Tidak!?" jawab gadis itu sedikit berteriak membuat Yohan sedikit tersentak. Ditambah lagi nadanya sedikit garang meskipun wajahnya mati ekspresi.
"Oh, B baiklah." jawabnya agak canggung karena gadis itu menolak keras keras tawarannya.
Tentu saja, mana bisa Zhu'er membiarkan kesempatan langka ini berlalu. Dirinya berharap pria itu benar benar jatuh hati padanya. Karena dengan begitu, dirinya bisa hidup.
...***...
Terlihat didalam kabut seorang pria dengan larinya yang pincang dan tangan kirinya memegangi perut, sedangkan tangan kanannya kehilangan jari jarinya. Dia lari seperti dikejar setan. Tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya, namun ketika dirinya memasuki area kabut ilusi hantu pendendam tidak lagi merasukinya. Tapi sebagai gantinya dia malah bertemu setan yang lebih ganas. "Sial sial sial, dia mencuri cincin penyimpananku!? Tunggu saja kau kep*rat!? Aku pasti akan membalasmu lebih dari hari ini!?" ungkapnya penuh memendam kemarahan dan kebencian.
Bruk
Baru beberapa detik lalu dia bersumpah kan membalas Yohan, tapi sekarang malah ketakutan memikirkan Yohan menemukannya. Qi Tianwen merangkak mundur sambil mengedarkan pandangan ke seluruh tempat memastikan tidak ada Yohan disana.
Tiba tiba dia merasakan dirinya menabrak seseorang dibelakang. Dengan sangat berat dia memutar kepalanya melihat kebelakang apakah itu adalah Yohan. Tapi ternyata itu bukan dia. Orang itu adalah Shin.
__ADS_1
"Heeh? Bukankah ini pangeran Qi Tianwen? He he he ada apa dengan penampilan anda yang herantakan itu?" kekehnya melihat tampilan berantakan sang pangeran. Shin berjongkok untuk melihat lebih detil luka Qi Tianwen.
"K kau bukannya anak haram dari keluarga Wei? Sekarang cepat obati aku!? Jika kau mengobatiku aku akan membuatmu menjadi anak sah." tawarnya.
"Hmm, anak sah? Tapi, bagaimana ya? Aku tidak tertarik menjadi anak sah. Justru aku lebih tertarik melihat bagaimana pangeran ke tiga Kekaisaran Qi mati?!" ujarnya tanpa ada yang disembunyikan. Sorot matanya menunjukkan kalau dia ingin membunuh seseorang.
Mata Qi Tianwen terbelalak kaget mendengar ucapan Shin. Disaat itu pula dirinya menyadari kalau seseorang didepannya saat ini, ingin membunuhnya. Tubuhnya ingin lari, tapi kedua kakinya membeku, begitu pula dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa lari dari psikopat lain disini.
Jleb
Sebuah bongkahan es yang tajam menusuk jantung Qi Tianwen. Membuat pria itu tidak bisa lagi bernafas. Tepat setelah jantung berhenti berdegup, es yang membekukan tangan dan kakinya hancur.
Bruk
Shin mencabut kembali bongkahan es tajam di dada Qi Tianwen. Bagaimanapun dirinya tidak boleh meninggalkan bukti dan jejak kalau dirinya sudah membunuh anak kaisar. Karena mereka akan kembali ke dunia tengah hidup atau mati.
Peraturan mengatakan kalau hidup dan matinya seorang peserta yang terbunuh didalam labirin spiritual, academi sama sekali tidak bertanggung jawab dan dianggap sebagai hal yang wajar. Begitu pula jika pembunuhan sesama peserta didalam labirin. Tapi meskipun begitu, keluarga keluarga besar apalagi keluarga kaisar tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari tahu siapa pelaku pembunuhan anak mereka.
Setelah selesai menghapus semua bukti, dia berdiri melihat arah kabur Qi Tianwen, "Kau harus berterima kasih padaku karena telah menyelesaikan pekerjaanmu." ujarnya yang lebih ditujukan pada Yohan. Dia sudah menduga kalau pria itulah yang telah membuat Qi Tianwen jadi mengenaskan seperti sekarang.
__ADS_1
Sekarang dia berjalan menuju arah Qi Tianwen sebelumnya. Dan sebagai info kecil, Shin sudah tahu bagaimana cara menghadapi ilusi ilusi itu. Meskipun awalnya tidak yakin tapi setelah di coba ternyata berhasil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...