Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 18. Gadis aneh 1


__ADS_3

Jleb


Baru saja seekor rusa besar berhasil di panah oleh Yohan. Dia memasukkan hasil buruannya itu kedalam cincin penyimpanannya. "Kurasa cincin penyimpanan ini sudah hampir penuh. Sepertinya aku harus membeli yang baru. Tapi dari mana aku mendapatkan uang untuk membelinya?" ujarnya pada diri sendiri. Dirinya sama sekali tidak memiliki uang. Sangat menyebalkan jika tidak memiliki uang.


"Baiklah, kurasa aku akan menangkap beberapa lagi untuk ku jual. Lagipula pak tua itu hanya membutuhkan satu." ujarnya.


Beberapa jam ia berburu di hutan, tidak ada keanehan apapun. Tidak ada rubah merah, tidak ada binatang buas, dan tidak ada jiangshi. Oh, ralat, jiangshi hanya ada di gunung kun jian. Setelah memanah beberapa rusa Yohan merasa sudah cukup untuk hari ini. Apa ini memang hari keberuntungannya? Hari ini ia mendapatkan rusa cukup banyak. Dirinya rasa sudah waktunya untuk pulang.


"Aaahh!? Tolong!? Tolooong!?"


"Aaah!?"


Tidak lama terdengar suara teriakan dua orang yang bertemu Yohan saat di awal memasuki hutan. Mereka terlihat berantakan dan ketakutan. "A ada apa? Kenapa kalian lari?"


Kedua orang itu bergenti untuk memperingati Yohan, "Nak, larilah!? Ada rubah merah disana!?"


"Rubah merah?"


Tanpa menjawab pertanyaan itu mereka kembali melarikan diri.


"H Hei!? Tunggu aku!?" Yohan berlari mengejar dua orang itu, namun ia tertinggal jauh dengan lari mereka yang kencang. Sepertinya hari ini adalah hari baik juga sialnya. Astaga, sekarang ia mulai panik dengan adanya rubah merah ini. Sudah pasti ia akan diterkam bukan? Meskipun rubah merah katanya adalah hewan suci, tapi tetap saja makanannya adalah daging. "Benar, ada peta!? Aku gunakan itu saja!?" ujarnya yang terlihat senang pada peta yang diberikan Chen Zinyu.


Saat ia membuka peta itu, dirinya sama sekali tidak bisa membaca posisinya berada di mana. Dasar payah!? Tidak berguna!? Ingin sekali ia mengumpat pada dirinya sendiri yang bodoh dalam mencari arah. Padahal bahaya sudah ada. "Ehm, mungkin ke arah sini!?" ujarnya asal dalam menebak. Lagipula tidak mungkin dirinya bertemu rubah merah secepat kilat.


Beberapa menit ia berjalan, terdapat beberapa bangkai serigala di seitarnya. Terlihat tiga cakaran besar di dada para serigala itu. Tidak hanya itu, hawa disekitar sini juga terasa aneh. Yohan mendekati salah satu dari mayat serigala, ia merasakan suhu tubuh mereka. Hangat. Sepertinya mereka belum lama mati. Yang artinya, mungkin sesuatu yang membunuh mereka masih ada di sekitar sini.


Terasa hembusan nafas hangat di belakang punggung serta tengkuk lehernya. Tubuhnya tiba tiba saja membatu, karena sosok besar dibelakangnya. Untuk beberapa saat Yohan sulit bernafas.


"Ggrrr!?" Suara itu terdengar seperti predator.


Slash


Yohan memberanikan diri mengangkat pedangnya menyerang sosok dibelakangnya. Sayangnya serangannya sama sekali tidak mengenai sosok itu. Sosok itu adalah seekor rubah setinggi Yohan, berbulu merah dan putih dibawah dagu juga perut, matanya juga berwarna merah, dengan ekor panjang yang bercabang dua. "Dia… bukannya dia yang ada di gunung kun jian? Kenapa ada disini?" ujarnya tak mengerti.


Rubah itu berusaha menerkam Yohan, akan tetapi pria itu berhasil menghindar dan malah mengenai pohon.


Braak


Satu pohon tumbang karena salah sasaran. 'Apa aku akan jadi seperti itu juga jika terkena terkamannya?' pikirnya yang kini merasa takut. Kekuatan rubah itu begitu besar sampai pohon saja tumbang saat tidak sengaja di terkam olehnya. Tiba tiba rubah itu menengok ke arah Yohan, dia beralih menyerang Yohan sekarang. Sebisa mungkin Yohan menahan serangan serangan rubah ini.

__ADS_1


Ia mengeluarkan elemen apinya yang tidak seberapa, tapi berhasil di kibas oleh ekor rubah itu. Yohan mundur beberapa langkah, dia memikirkan bagaimana cara menghindari rubah itu.dan melarikan diri darinya. Tiba tiba sebuah ide muncul. Saat rubah itu datang berlari ke arahnya untuk menyerang, Yohan menaburkan bubuk ke rubah itu sehingga membuatnya sulit melihat Lalu dirinya mengambil tali.dari cincin.penyimpanannya. Lalu melempar tali tersebut ke rubah itu, mengikatnya dengan menggunakan teknik mengikat yang ia pelajari dalam kelas.


Akhirnya rubah itu terikat dan terjatuh ke bawah. Yohan mengusap keringatnya yang bercucuran karena rubah satu ini. "Kenapa kau sangat merepotkan?" ujarnya. "Aku kesusahan karena kau, tahu?" omelnya pada rubah itu. Rasanya ia mulai gila karena bicara pada hewan buas sepertinya.


Yohan duduk di samping rubah itu, melihatnya begitu tenang ia rasa rubah itu tidak akan mencoba menerkamnya. Kemudian mulai berbicara lebih lanjut ke rubah itu, "Aku pikir aku mulai gila berbicara denganmu. Tapi, apa rahasianya kau bisa begitu kuat? Apa kau bisa mengajariku?" tanya Yohan sembari tersenyum licik.


"……"


"Tidak? Ya? Ah, aku lupa, kau tidak bisa bicara!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha… hah… kurasa aku sudah gila." jeda beberapa detik, "Tidak tidak, mana mungkin orang setampan diriku jadi gila? Tidak mungkin!?" ujarnya lagi pada diri sendiri. "Tunggu, orang gila bisa terjadi pada siapapun kan? Termasuk aku? Tapi tetap saja, mana mungkin aku gila!?" ia mulai berpikir apa dirinya gila sekarang. Lalu melirik rubah merah yang sekarang tengah menatapnya, "Apa kau berpikir aku gila? Tidak, kan? Ya, tentu saja tidak." ujarnya senbari memegangi bahu rubah itu.


Ia lalu berdiri, "Baiklah, kau pasti bisa dengan mudah melepas tali itu dengan kekuatanmu. Aku akan pergi sekarang, sampai jumpa!?" ujarnya sembari melambaikan tangan pada rubah itu. Tapi ia berhenti tiba tiba, "Tapi kenapa kau begitu kuat?" tanyanya pada rubah itu. Ternyata dia masih penasaran dengan kekuatan rubah merah. Karena ia juga ingin memiliki kekuatan seperti itu. "Ah, lupakan saja. Untuk apa aku bertanya pada hewan buas sepertimu." kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


Tiba tiba saja angin berhembus dari belakang, membuat Yohan khawatir. Dia lalu berbalik dan…


Bruk


Sebuah terkaman dari seorang wanita cantik yang kini berada di atasnya. Matanya terbelalak kaget melihat rubah merah itu yang berubah menjadi wanita cantik berambut putih. "Kau…!?" seketika Yohan teringat dengan pembicaraan dua pemburu sebelumnya, Chen Zinyu tentang cucunya dan Shin yang menambahkan informasinya.


"Ada banyak kultivator yang mencoba menangkap rubah itu dan menjinakkannya. Tapi mereka berakhir dengan kematian yang sia sia."


"di sini juga ada wanita cantik berambut putih, bermata merah, berkulit pucat dan memakai jubah hitam."


"Katanya dia ingin bertemu denganmu!?"


"Cucu kepala akademi? Yah, rumor bilang dia sangat cantik, rambutnya putih dan kemerahan dibawahnya, kulitnya putih pucat, dan dia sangat aneh."


"Katanya kepala akademi sudah gila hingga membangkitkan cucunya sebagai jiangshi!?"


Kalau diperhayikan lagi, apa yang mereka katakan benar adanya. 'Jadi pak tua itu tidak berkhayal? cucunya benar benar hidup? Tapi, kenapa sentuhannya terasa sangat dingin? Apa jangan jangan pak tua itu benar membangkitkannya sebagai jiangshi? Kalau dipikir pikir lagi, pak tua itu juga mengatakan hal hal aneh yang dilakukan cucunya. Ternyata dia benar benar gila!?' pikir Yohan mulai merangkai semua puzzle.


Wanita itu menatap datar Yohan, "Karena aku kuat." ujarnya.


Dan hal yang paling tidak bisa dipercaya adalah, dia bisa bicara!? Setahunya, Jiangshi sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk bicara. Karena yang hidup hanya tubuh mereka dan naluri ingin membunuh. Sedangkan untuk kecerdasan, mereka sama sekali tidak memilikinya. Tapi mungkin Jiangshi diatasnya ini adalah pengecualian.


Yohan masih ragu untuk membalas ucapan wanita ini. Tapi pada akhirnya dia bicara hanya untuk memastikan apa dugaannya benar, "Siapa kau?" tanyanya.


"Siapa kau?" tanya ulang wanita itu.


"Tidak, jawab pertanyaanku lebih dulu. Siapa kau?"

__ADS_1


"Tidak, jawab pertanyaanku lebih dulu. Siapa kau?" ulang wanita itu.


Ini benar benar menjengkelkan, dia meniru ucapannya. Yohan memutar balik posisi mereka hibgga dirinyalah yang berada di atas wanita itu.


Bruk


Gadis itu tampak sdikit terkejut. "Jangan mengulang ucapanku!? Siapa kau?" tanya Yohan lagi. Bukannya menjawab gadis itu hanya memperhatikan pria di atasnya. "Apa? Kenapa tidak menjawab?" tanya Yohan.


"Merah." ujarnya singkat.


"Apa?"


Dia menunjuk mata Yohan lalu matanya, "Merah, merah."


"Lalu?"


"Serasi. Kau. Aku. Merah." ujarnya terbata bata.


Untuk memahami ucapan gadis itu, Yohan sedikit loading memahaminya. Lalu ia terbelalak ketika sudah paham maksudnya, "Siapa yang serasi denganmu!? Warna mata kita hanya kebetulan sama!?" ujar Yohan sedikit menaikkan suaranya. Gadis itu hanya mlihatnya dengan tatapan polos.


Yohan bangun dari posisinya sekarang. Diikuti dengan gadis itu yang juga bangun. "Lupakan saja." ujarnya yang sepertinya menyerah bicara padanya. Yang dikatakannya hanya mengulangi apa yang diucapkan orang lain dan kata katanya sendiri terbata bata serta singkat. Yohan pergi menjauh dari gadis itu yang masih saja melihatnya polos.


Tap tap tap tap


Suara langkah kaki seseorang seperti mengikuti Yohan dari belakang. Yohan melihat ke belakang dan terdapat gadis itu sedang mengikutinya. Dirinya berhenti gadis itu juga berhenti, "Kenapa kau mengikutiku? Jangan mengikutiku lagi!?" ujar Yohan. Lalu melanjutkan perjalanan.


Tap tap tap tap


Masih terasa dirinya diikuti gadis aneh itu. "Sudah kubilang, jangan mengikutiku!?" ujarnya geram. Ia paling benci jika ditatap polos seperti itu. Yohan melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan seperti biasa, untuk beberapa saat ia tak merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Tapi beberapa detik kemudian ia merasakan gadis itu mengikutinya lagi. Semakin lama gadis itu semakin dekat,mempersempit jarak mereka.


Lalu Yohan mulai berjalan dengan cepat, begitupun dengan gadis aneh itu yang berjalan dengan cepat. Yohan semakin cepat berjalan bahkan menyamai lari kecil, tapi sepertinya gadis itupun sama. Kemudian Yohan akhirnya berlari menjauhi gadis di belakangnya. Tapi gadis itu lagi lagi mengikuti Yohan dengan sama berlari. Bahkan larinya lebih kencang dari pada Yohan.


Tiba tiba Yohan berhenti dan berbalik ke gadis itu yang juga ikut berhenti, "KUBILANG JANGAN MENGIKUTIKU!?" teriaknya kencang membuat gadis itu tersentak. Kesabarannya sudah benar benar habis. Sekarang, dirinya malah terlihat seperti penjahatnya.


Ia menghela nafas panjang, "Kau, tetaplah disana!?" ujar Yohan sambil menunjuk gadis itu. Dirinya pergi dengan cepat. Sesekali ia melihat ke belakang memastika dirinya tak diikuti. Oke, masih aman. Dia masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik kemudian Yohan menengok ke belakang, kali ini juga masih aman. Sekali lagi ia menengok ke belakang setelah beberapa menit, sepertinya gadis itu benar benar berhenti mengikutinya. Dia masih setia di tempatnya berdiri.


Ketika Yohan benar benar pergi dan semakin jauh, gadis itu masih memandang ke depan. Tepat ke arah kepergian Yohan. "Kapan. Kembali?" ujarnya masih menunggu Yohan kembali ke arahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2