Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 30. Bestie


__ADS_3

Terlihat Shin masih berpikir tentang seseorang yang membuat pria misterius didepannya terjebak di alam bawah sadar begitu lama hingga ingatannya hilang. Pastilah orang itu adalah orang yang sangat kuat. 'Liu Yohan, kupikir kau adalah orang aneh, tapi tetnyata kau orang gila.' pikir Shin.


Tiba tiba saja Yohan bicara, "Masuklah, jangan diam diam menguping disana!?" ia menembakkan kekuatannya ke arah pintu,seketika pintu itu terbuka dan jatuh beberapa orang.


Bruk


Terlihat tiga orang yang jatuh karena menguping di depan pintu. Mereka adalah Jingmi, Zhu'er dan seorang pria yang belum diketahui identitasnya.


Shin terlihat kaget dengan adanya mereka bertiga yang diam diam menguping. "Kalian? Jadi selama ini kalian menguping pembicraan kami?" ujar Shin. Dia tidak mengira kalau ada yang diam diam menguping. Keberadaan mereka sama sekali tidak terasa. Jingmi jelas masih berada di bawah ranahnya. Dua orang itu mungkin berada di bawah tingkatan yang lebih tinggi. Meskipun tingkatan mereka tinggi atau rendah, Shin bisa merasakannya. Tapi sekarang dia tidak bisa? Apa yang terjadi?


Pemuda itu melirik Yohan yang mana bisa merasakan keberadaan mereka. Lain kali, dia harus menanyakan ini padanya. Harus.


"Kenapa kalian menguping pembicaraan kami?" tanya Yohan.


"A aku penasaran, jadi…" oke, jelas apa lanjutan dari jawaban Jingmi.


"Penasaran." jawab datar Zhu'er.


"………" sedangkan pria itu bingung harus menjawab apa. Padahal dia sudah menggunakan teknik penghilang keberadaan. Dia juga sudah menghilangkan keberadaan dua orang ini, tapi bagaimana bisa Yohan mengetahuinya? Awalnya dia hanya penasaran dengan apa yang sedang didengarkan Zhu'er dan Jingmi diam diam. Jadi dirinya juga megikuti mereka menguping. Hampir sebagian besar dia tahu apa yang mereka bicarakan. Lalu tiba tiba saja pintu terbuka dan acara menguping pun selesai.


Sekarang Yohan memikirkannya, bagaimana jika ia memanfaatkan mereka untuk membantunya mengingat kembali masa lalunya? Ia merasa jika dua orang itu kecuali Jingmi memiliki sangkut paut dengan dirinya. Mungkin secara tidak langsung, ataupun secara langsung. "Karena kalian sudah mendengarkan pembicaraan kami, aku akan memberi kalian penawaran." ujar Yohan membuat mereka semua bingung.


"Penawaran apa?" tanya Jingmi.


"Ayo kita buat sebuah kelompok."


'Kelompok?' pikir mereka bersamaan.


Yohan hanya tersenyum melihat reaksi mereka masing masing.


Setelah beberapa menit mereka duduk memutari meja bundar. Yohan mengusulkan membuat sebuah kelompok, yang mana tujuan dari kelompok tersebut adalah untuk membalaskan dendam mereka masing masing. Adapun tujuan lain adalah untuk menjadi kuat bersama sama. Tapi alih alih menjadi kuat, mereka sudah cukup kuat untuk mengalahkan seorang master ranah Yuzhou. Kalaupun untuk membalaskan dendam, beberapa dari mereka sama sekali tidak memiliki dendam pada siapapun.


Dua orang diantara mereka jelas memiliki dendam. tapi dua lainnya masih belum jelas.


"Aku sama sekali tidak memiliki dendam pada siapapun. Untuk apa aku ikut bergabung?" tanya pria misterius itu.


"Tidak ada yang memaksamu ikut bergabung, paman. Lagipula kau sudah tua, aku takut pinggangmu sakit." balas Yohan.


"Ap_siapa yang kau bilang tua?" ujar paman itu lagi dengan jengkel.


Sedangkan Jingmi dan Shin sudah terlihat akan mengikuti usulan Yohan ini. Karena mereka memiliki dendam pada keluarga besar. Mereka sadar tidak bisa membalaskan dendam jika sendiri sendiri. Karena itu mereka membutuhkan kekuatan Yohan. Kekuatan pria itu berbahaya, semakin berbahaya, semakin besar kesempatan mereka membalas dendam.


Lalu, Zhu'er. Wanita itu sudah pasti akan ikut bergabung. Dia tidak peduli dengan dendam atau menjadi kuat, karena dirinya sudah sangat kuat. Dia hanya ingin berdekatan dengan Yohan.


"Yah, aku rasa tidak ada salahnya membuat kelompok denganmu." ujar Shin, singkatnya dia setuju.


"Ya ya!? Yohan'ge selalu memiliki ide yang bagus!?" ujar Jingmi dengan senyum cerahnya. Didalam hati, 'Wa ha ha ha ha ha ha ha ha ha, bagus!? Bagus sekali~ Dengan begini aku bisa membunuh semua baj*ngan kep*rat keluarga Yuan.' pikir Jingmi kegirangan.

__ADS_1


"Ikut. Gabung." jawab Zhu'er. Sudah jelas apa tujuannya.


"Aku akan ikut gabung jika kalian membantu masalahku. Tentu saja aku juga akan membantu kalian." ujar pria itu.


Masing masing dari mereka terlihat memikirkan tawaran pria itu.


Shin berpikir, 'Aku tidak bisa merasakan ranahnya, aku yakin dia seseorang yang sangat kuat. Aku harus mendapatkan bantuannya!?'


Jingmi berpikir, 'Meskipun dia seseorang yang mencurigakan tapi janjinya adalah janji seorang seniman bela diri. Dan janji seorang seniman bela diri adalah sebuah janji yang sangat penting. Aku harus membantunya!?' pikir Jingmi terlihat tersenyum licik.


Zhu'er terlihat menatap datar pria itu. 'Apa. Yang. Dia. Rencanakan?' pikirnya curiga.


"Apa masalahmu?" tanya Yohan.


"Aku sedang mencari sebuah benda. Benda itu sangat berbahaya, jadi aku harus segera mendapatkannya!?" jelas pria itu.


"Baik, aku akan membantumu!? Tapi sebelum itu, tidakkah kau harus membuka topeng dan memperlihatkan wajah aslimu? Aku penasaran." ujar Yohan dengan senyum licik diwajahnya.


"Aku juga~"


"A aku juga!?"


Dua orang lainnya setuju. Mereka mendesak pria misterius itu untuk membuka topeng wajahnya. 'Orang ini, apa dia benar benar bisa melihat segalanya? Pertama dia bisa merasakan keberadaanku yang bahkan ranah Yuzhou tertinggipun tidak bisa merasakannya. Kedua, dia bahkan mengetahui kalau ini bukan wajah asliku. Sangat sulit untuk menyembunyikan kebohongan didepan pria aneh ini.' pria itu perlahan mengelupas kulit rahangnya. Sedikit demi sedikit tampak wajah asli pria misterius itu. Terlihat kulit yang kasar dan kusam, sedikit garis garis keriput, rahangnya tegas, beberapa rambut kecil dibagian rahang dan kumis terlihat, matanya sayu berwarna merah pudar, dan kulitnya merwarna sawo mateng. "Perkenalkan, namaku Yin Fan." salam dari Yin Fan.


"Liu Yohan." Yohan ikut berkenalan.


"Yueyin. Zhu."


"Ho Jingmi!?" ujar Jingmi bersemangat.


Entah kenapa ini menjadj acara perkenalan. Meskipun tanpa perkenalan sekalipun Yin Fan sudah tahu nama mereka masing masing. Tapi sudahlah, lebih bagus jika saling mengenal secara langsung.


Mereka semua setuju, terkecuali Zhu'er. Dengan begini mereka membentuk sebuah kelompok. "Kalau begitu, ayo kita buat kontrak. Untuk memudahkan interaksi dan tujuan kita." ujar Shin.


Untuk membuat kontrak mereka mengulurkan tangan kanan mereka ke depan. Masing masing mengeluarkan inti energi elemen mereka. Pertama, Shin mengeluarkan aura dinginnya, Jingmi mengeluarkan aura tekanan dari gravitasinya, Yin Fan mengeluarkan inti dari elemen besinya, sedangkan Zhu'er mengeluarkan aura dari energi binatang suci, dan yang terakhir…


"Cepatlah, kenapa kau lama sekali?" tanya Yin Fan.


Yohan mengeluarkan inti dari elemennya. Dari telapak tangannya keluar cahaya kehitaman dengan asap hitam. Tiba tiba saja suasana di sekitar berubah mencekam.


Yin Fan membulatkan matanya ketika melihat energi hitam itu.


Brak


Kursi mereka jatuh. Seketika semua orang berdiri dan mengangkat senjata mereka masing masing. Mereka menodongkan senjata mereka ke satu sama lain.


Yin Fan menodongkan pedangnya ke leher Yohan, begitupun dengan Yohan yang menodongkan pedangnya ke Yin Fan. Zhu'er dengan cakarnya yang tajam mengancam leher Yin Fan, begitupun Yin Fan yang menodongkan belatinya ke leher Zhu'er. Jingmi menodongkan belatinya ke leher Zhu'er karena wanita itu lebih dulu mengancam kepalanya dengan tangan berkuku tajam yang panjang. Shin menodongkan pedang kembarnya ke Jingmi karena muridnya itu lebih dulu menodongkan belati ke lehernya. Dan yang terakhir, Shin menodongkan pedangnya ke Yohan karena pemuda itu mengeluarkan aura membunuh yang yang kuat, begitupun Yohan yang menodongkan belati ke leher Shin karena pria itu menempelkan pedang ke lehernya.

__ADS_1


"Apa ini? Kenapa malah saling menodongkan senjata?" tanya Yohan masih dengan tatapan waspada. Dia juga terlihat tersenyum licik.


"Aku mengancammu karena kau memiliki elemen kegelapan." ujar Yin Fan. Dia melirik Zhu'er, "Dan kenapa kau mengancamku dengan cakar mu yang setajam pedang itu?" tanya Yin Fan pada Zhu'er.


"Kau. Menyebalkan. Kau. Juga." ujarnya sembari melirik Jingmi. "Kalian. Menyebalkan." lanjutnya.


"Apa maksudmu aku menebalkan jadi kau ingin membunuhku, dasar gila!? Kau pikir aku tidak akan bisa melawan balik, blee!?" Jingmi menjulurkan lidahnya mengejek Zhu'er.


"Oh? Begitu? Lalu muridku tersayang, kenapa kau mengancam leher gurumu dengan belatimu? Apa kau ingin menjadi murid durhaka?" ujar Shin.


Jingmi hanya tersenyum canggung, "Guru, aku tidak bermaksud jadi mirid durhaka. Hanya saja kau mengancam Yohan'ge yang sudah menganggapku sebagai keluarganya. Karena itu aku tidak bisa diam saja saat guru mengelurkan senjata!?" ujar Jingmi.


"Lalu, kenapa kau menodongkan senjata ke leherku?" Tanya Yohan heran.


"Karena kau mengeluarkan aura membunuh yang kuat. Dalam dunia bela diri jika kau menegeluarkan aura membunuh kecuali saat pertarungan, itu dianggap sebagai penghinaan." ujar Shin.


Sejujurnya Yohan tidak tahu itu. Aura yang dirasaman Shin dan yang lainnya adalah aura bawaan dari elemennya. Ia tidak bermaksud untuk menghina mereka atau semacamnya. Tapi, bukankah situasi saat ini sedikit lucu? Yohan terlihat tersenyum, "Ha ha ha ha ha…"


Mereka saling melihat satu sama lain. Akhornya mereka tahu mengapa Yohan tertawa, "Ha ha ha ha ha…" Shin ikut tertawa kecil.


"Ha ha ha ha…" Jingmi ikut ikutan saja.


"Ki. Ki. Ki. Ki. Ki…" Zhu'er tertawa.


"Ha ha ha ha…" Yin Fan tertawa.


Mereka tertawa bersama. Senjata yang awalnya saling menodong ke satu sama lain, kini turun bersamaan dengan berhentinya tawa mereka.


1 detik


2 detik


Klang


Semuanya kembali menodongkan senjata mereka ke leher satu sama lain. Acara tertawa selesai. Acara berdamai selesai. Dan acara kembali menodongkan senjata dimulai. Lagi.


"Aku pikir kita sudah berdamai?" tanya Yohan.


"Tidak denganmu." ujar Yin Fan dengan tatapan tajamnya.


Tok tok tok


"Makanan datang!?"


Srak…


Dua orang pelayan datang dengan membawa beberapa makanan masuk. Terlihat lima orang tersebut sudah duduk tenang, damai, dan anteng di kursi masing masing. Beberapa kali mereka bercanda dan tertawa membuat dua orang pelayan itu berpikir, 'Waah, mereka dekat sekali. Pasti mereka teman sejati.' pikir mereka berdua.

__ADS_1


Ketika dua orang pelayan itu pergi, tawa dn candaan mereka berhenti. Digantikan dengan kewaspadaan masing masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2