Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 8. Teman baru untuk orang aneh


__ADS_3

"Kalian, pegangi dia erat erat!?" ujar pria paling besar dan tangguh. Sontak keduanya langsung memegangi kedua tangan Yohan. "He he he he he he bersiap siaplah untuk aku menghancurkan wajahmu!?" ujar pria itu.


Buk


Sebuah pukulan keras mendarat diperut Yohan. Terlihat Yohan yang kesakitan mendapat pukulan keras itu.


"Eh, tunggu sebentar!? Bukannya kau sudah menguasai penggunakan Qi luar? Ayo gunakan saja itu agar dia lebih kesakitan." ujar salah satu teman yang memegangi tangan Yohan.


"Kau benar, aku akan mrnggunakan Qi dalam pukulanku." Dia langsung mengiyakan dan memukul Yohan lebih keras dari yang tadi.


Krak


Terdengar suara sesuatu yang retak, "Agh!?" Yohan menahan rasa sakitnya saat tulang tusuknya retak.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Ketiga orang itu malah tertawa melihat Yohan kesakitan. "Bagaimana bisa senior Jiang terbbunuh oleh sampah yang tidak bisa berkultivasi seperti ini?


Buk buk buk duak duak


Pada akhirnya mereka mengeroyok Yohan dengan menggunakan Qi luar agar pukulan dan tendangan mereka lebih keras.


Sedangkan Yohan sendiri tidak mengerti mengapa setiap tempat yang ia tinggali selalu ada yang melakukan hal seperti ini padanya. Yohan mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan rasa sakitnya. Tapi sebuah pemikiran muncul, sampai kapan ia akan terus bertahan tanpa melakukan apapun? Yang ada dirinya hanya akan direndahkan selamanya.


Setidaknya ia harus melakukan sesuatu agar mereka tidak memukulinya lagi. 'Ayo fokus bagaimana cara menggunakan elemen apiku.' Di tengah keadaan yang dipukuli, Yohan berusaha fokus mengeluarkan potensinya. Meskipun tidak berkultivasi, elemen masih bisa digunakan selama masih memilikinya. Kultivasi hanya memperkuat penggunaan elemen. Ia mencoba mengingat ingat bagaimana Shin mengendalikan air dari tangannya.


BLARRR


Sebuah api emas muncul disekitar tubuh Yohan dan membakar ketiga orang tersebut. Seketika ketiga orang itu berteriak kesakitan dengan panasnya api emas yang membakar tubuh mereka.


"Aagghh!?" teriak mereka berguling guling di tanah.


Yohan bangun dengan luka bonyok di seluruh tubuh dan sudut bibir yang sobek mengeluarkan darah. Ia melihat ketiga orang itu dengan tatapan tak percaya kalau ia melakukan hal seluar biasa ini. Yohan tersenyum senang karena ia berhasil menggunakan elemennya. Ini pertama kali untuknya menggunakan kekuatan. Tapi api itu tidak juga kunjung padam sebanyak apapun mereka berguling. Senyumnya mulai pudar saat mereka tetap terbakar.


"Aagghh tolong!? Tolong aku!?" Teriak mereka tetap berusaha memadamkan api dengan keadaan masih sadar.


"B bagaimana caranya memadamkan apinya? Bagaimana ini? Bagaimana ya?" Yohan mulai terlihat panik saat api tidak ingin padam. Ia hanya bermaksud menakuti mereka agar tidak mengganggunya lagi, tapi apinya malah tidak bisa padam.


Prok prok prok

__ADS_1


Dari samping kiri Yohan melihat Shin yang bertepuk tangan dengan senyum diwajahnya, dia datang menghampirinya. Dia membungkukkan tubuhnya melihat ketiga pria itu kesakitan karena terbakar api. Senyum terlihat jelas diwajahnya sekarang, "Aku tidak menyangka, ternyata kau hanya berpura pura polos sebagai korban, tapi malah menyiksa mereka dengan kejam. Ck ck ck, aku hampir saja tertipu olehmu!?" Ujarnya melihat Yohan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


'Benar juga, dia bukannya memiliki elemen air? Aku bisa meminta bantuannya memadamkan api!?' Saat Yohan ingin meminta tolong, Shin sudah bilang…


"Lupakan saja untuk meminta bantuanku menolong mereka. Api yang kau miliki sepertinya tidak akan bisa padam jika objeknya belum menjadi abu." Ujar Shin sudah menebak apa yang ingin Yohan katakan.


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Tanya Yohan panik.


'Dia mudah sekali terkena panik, dasar aneh!? Padahal dia sendiri yang membakar mereka. Seharusnya dia tahu resikonya. Lihat dia sekarang, dia bahkan lebih terlihat gila dari pada aku. Yah, tapi siapa yang tahu jika yang dia miliki adalah api sejati dan bodohnya orang orang disini tidak ada yang tahu api sejati.' Pikir Shin. Dia menepuk pundak Yohan untuk membuatnya tenang, "Tenanglah, kau bisa menyingkirkan abu mereka. Lagipula apimu tidak mengeluarkan asap dan bau. Aku akan membantumu!?" ujarnya memberi solusi terbaik.


Seketika Yohan melihat Shin dengan mata yang berbinar binar seperti anak kecil, "T terima kasih banyak!? Kau orang yang sangat sangat sangat baik!? Aku tidak tahu jika kau tidak datang tadi." Ujar Yohan penuh rasa terima kasih dengan banyaknya kata 'sangat' yang malah terdengar aneh di telinga Shin.


'Tidak, aku rasa dia lebih dari aneh!?' Pikirnya yang melihat Yohan aneh.


...***...


Yohan dan Shin diam diam mengubur abu ketiga orang itu di bawah pohon besar di halaman belakang akademi. Sebenarnya dibiarkanpun dan dibuang asal tidak apa apa. Tapi ya namanya Yohan, ia selalu khawatir jika perbuatannya membunuh murid ketahuan. Itu karena di akademi di larang untuk membunuh seseorang. Karena alasan apapun, tapi membunuh seseorang didalam akademi tidak di halalkan. Jika ketahuan, maka akademi tidak segan segan akan mengeluarkannya.


Untuk Yohan sendiri kasusnya sudah berbeda, karena ia membunuh Jiang Feng sebelum menjadi murid, jadi apa yang dilakukannya tidak mendapat hukuman.


"Sudah!?" Jawab Yohan singkat.


"Kalau begitu ayo!?" ajaknya kembali. Tapi sesaat saat mereka berbalik…


"Hwaa!?" Keduanya kaget saat melihat Lao Yan ada di depan mereka.


Lao Yan melihat Yohan yang babak belur di wajahnya yang kotor karena tanah. Dia juga melirik Shin yang sedang memasang senyum palsu didepannya. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Lao Yan.


"Kami sedang bermain/berlatih!?" Jawab mereka tidak kompak. Dan keduanya saling tatap.


"Ehm, maksudnya aku sedang mengajak Shin bermain sambil berlatih!?" Jawab Yohan yang mulai…… ngaco.


Shin hanya bisa menepuk jidadnya mendengar jawaban polos Yohan.


Lao Yan tentu saja tidak percaya dengan omongan Yohan, dia melirik sesuatu yang dikubur Yohan. Seketika Yohan menggeser tubuhnya menutupi apa yang dikuburnya. "Apa yang kau kubur?"


"I itu…" Yohan tidak bisa menjawab pertanyaan Lao Yan.

__ADS_1


Karena terlihat mencurigakan Lao Yan melewati mereka berdua. Dia sudah sampai didepan gundukan tanah. Tempat Yohan mengubur sesuatu didalamnya.


Yohan dan Shin segera menghampiri Lao Yan untuk memberi alasan.


Blash


Sebuah serangan ringan gravitasi membuka gundukan tanah tersebut. Dan, itu adalah pecahan bola kristal yang pecah pagi tadi. Mereka berdua langsung lega melihat nya. "Pecahan kaca kristal? Kenapa kau harus menyembunyikannya?" tanya Lao Yan.


"I itu karena aku takut kau akan marah melihatnya. Sebab guru Meng juga marah saat aku memecahkan kristalnya." jawab Yohan.


Lao Yan menghela nafas pelan, dia memegang kedua pundak Yohan. Melihat langsung ke mata anak laki laki itu, sangat merah terang dengan garis lurus yang mencolok. "Dengarkan aku, guru Meng hanya berlebihan menanggapinya. Kami masih memiliki banyak, dia hanya ingin mengganggumu kau tahu? Jadi kau tidak perlu memperdulikannya dan fokus saja dengan belajar dan meningkatkan kekuatanmu. Jika kau bertambah kuat maka tidak akan ada lagi irang orang yang memandangmu sebelah mata, mengerti?" ujar Lao Yan.


Yohan mengangguk paham, "Aku mengerti." jawabnya.


"Bagus, kalau begitu aku akan kembali." ujarnya ramah sembari berjalan menjauh.


Shin terus melihat Lao Yan sampai akhirnya pergi tak terlihat, "Dia baik sekali padamu."ujarnya.


"Apa itu aneh?" tanya Yohan.


"Tidak, hanya saja kebaikannya itu patut dicurigai." ujarnya. Dan juga, Shin tidak menyangka akan ada pecahan bola kristal di gundukan yang Yohan kubur. Dia sempat khawatir karena dirinya bisa saja terseret jika ketahuan. Shin melirik Yohan yang samar samar tersenyum licik, 'Aku rasa, orang sepertinya akan jauh lebih betbahaya jika menjadi musuhku!?' Pikir Shin yang awalnya berpikir Yohan hanyalah orang aneh tanpa akal pintar dan hanya memiliki bakat hebat. Tapi dirinya tidak menyangka jika dia jauh lebih licik dari dirinya.


...***...


Didalam kamarnya Yohan terlihat meminum semangkuk air obat berwarna coklat terak. Rasanya sangat pahit, namun memiliki khasiat yang luar biasa. Tidak disangkanya jika Lu Xiao begitu hebat meresepkan obat untuknya. Tidak sia sia uangnya terbuang.


Paru parunya sediki terasa ringan, nafasnya sedikit terasa lancar, dan sakit kepalanya mulai mendingan. Sebelum sebelum ini ia selalu mengalami sakit kepala yang berkepanjangan setiap malam. Apa mungkin karena ia minum obat? Kalau benar Yohan akan teratur memesan obat pada Lu Xiao. Meskipun agak mahal, tapi obat yang dia buat sangat manjur.


Bruk


Ia membaringkan tubuhnya diatas lantai kayu. Menatap langit langit kamar, merenung sejenak. Dirinya pusing memikirkan semua orang yang kini sudah tahu siapa yang membunuh Jiang Feng. Normalnya ia akan disidang dan ditanyai ini itu, tapi sekarang tidak ada panggilan apapun dari kepala akademi atau wakil kepala akademi. Apa mereka tidak peduli jika murid mereka seorang pembunuh? Tapi Jiang Feng juga melakukan itu, bedanya dia seorang bangsawan. Tidak ada yang berani menghukum bangsawan.


Yohan memejamkan matanya. Kepalanya terasa akan pecah dengan stress yang menumpuk. Terasa sepasang tangan sedang mengelus pipinya. Merasa ada yang aneh, Yohan perlahan membuka matanya. Di atasnya terlihat seorang wanita dengan bola mata berwarna emas bergaris lurus menatap mata merahnya bergaris lurus. Rambut panjangnya menjadi pagar agar Yohan hanya melihat wajah wanita itu.


'Ini hanya halusinasiku, ini hanya halusinasiku, ini hanya halusinasiku.' pikirnya sembari memejamkan mata. Berharap wanita di atas kepalanya menghilang. Dan benar saja, wanita itu menghilang ketika Yohan membuka matanya kembali. Khayalan wanita misterius akan selalu muncul ketika dirinya sedang sakit. Tiba tiba sebuah ide tersirat dikepalanya. Ia bangun segera duduk senyum diwajahnya. "Itu benar, perpustakaan Qing Luo pasti memiliki banyak kumpulan buku seni bela diri. Jika aku fokus ke latihanku saja, stress ku pasti akan hilang!?" ujarnya segera bersiap ke perpustakaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2