
"Berani sekali kau bersikap seperti itu pada Xiyun'er!?" teriak Qi Tianwen pada Yohan sembari menunjuk pemuda itu. "Tenang saja Xiyun'er, aku yang akan bertarung dengannya dan memenangkan teratai spiritual itu untukmu!?" lanjutnya sembari berjalan mendekati Yohan.
"Tapi…" belum selesai bicara, Qi Tianwen sudah pergi lebih dulu. "Dasar bodoh." rutuknya.
Qi Tianwen melesat menyerang Yohan yang sudah bersiap akan serangan pria itu. 'Kekuatan cinta? Heh, menggelikan.' pikir Yohan saat melihat Qi Tianwen segenap hati menyerangnya. 'Eh, ngomong ngomong tentang cinta, aku sedikit rindu kata kata cinta dari mulut wanita itu.' pikirnya yang langsung teringat pada Zhu'er.
Dari kejauhan Ming Jiajun memperhatikan pertarungan Yohan dengan Qi Tianwen. Kekuatan mereka berbeda dua tingkat dengan Yohan yang ada di atas Qi Tianwen. 'Pergerakannya berbeda dengan Zhen, dia bertarung dengan gerakan lebih halus sedangkan Zhen bertarung secara nalurinya. Apa dia hanya kebetulan memiliki elemen yang sama dengan Zhen? Bekas luka itu juga? Tidak, kurasa terlalu banyak kebetulan. Ditambah lagi dengan api sejati yang seharusnya dimiliki naga suci. Apalagi yang kau sembunyikan, Liu Yohan?' pikirnya.
Merasakan tatapan dari seseorang Yohan berusaha tidak berpaling ke arah seseorang yang mengawasinya. Ia hanya melirik Ming Jiajun yang saat ini sedang mengawasinya dengan tatapan yang tajam. Dirinya merasa seperti tahanan berbahaya yang sedang diawasi. Dengan sekali gerakan Yohan membuat mundur Qi Tianwen. Dirinya rasa sudah cukup untuk bermainnya. "Karena kau pangeran ke-3 kurasa aku tidak boleh membunuhmu sembarangan." ujar Yohan.
Tapi sepertinya apa yang baru saja dikatakannya membuat Qi Tianwen sedikit terhina. Seharusnya dia yang menang dan bukannya seorang gembel seperti Yohan yang saat menodongkan pedangnya ke leher pria itu. Dia melirik Xiu Xiyun, melihat bagaimana wanita itu menatapnya sekarang. Tapi Xiu Xiyun bahkan tidak melihatnya. Wanita itu menatap Yohan dengan tatapan yang berbinar binar. Pria itu menggertakkan giginya kesal, "Aku belum kalah!?" ujarnya masih mengoceh.
"Benarkah? Tapi ak_"
Rrooaarr
Terdengar suara raungan keras dari belakang Yohan. Saat melihat ke sumber suara, matanya terbelalak melihat sesosok makhluk air besar, kepala seperti ikan lele dan tubuh seperti manusia kerdil berwarna hitam. Monster itu muncul dari dalam danau dengan tubuh berukuran sebesar rumah. "Besar… sekali…" ucap Yohan terbata bata, melihat makhkuk besar dihadapannya.
__ADS_1
Makhluk itu melihat Yohan yang memegang bunga teratai ditangannya, dia kembali meraung sembari memukul Yohan dari atas dengan tangannya. Dengan cepat Yohan menghindari serangan makhul berkepala lele itu. 'Sepertinya dia adalah penjaga asli bunga kecil ini.' pikir Yohan. Meskipun ini hanya tebakan tapi ia sangat yakin dengan tebakannya ini. Yohan dan monster itu bertarung karena Yohan mengambil teratai spiritual yang dilindungi monster berkepala lele tersebut.
Tidak jauh dari tempat mereka bertarung Qi Tianwen terkekeh melihat Yohan dihajar monster air. "Rasakan itu rakyat jelata!? Lebih baik kau memberikan bunga itu padaku!? Karena bunga itu akan lebih berguna pada Xiyun'er daripada pada mu." ujarnya sembari mengejek Yohan.
Tidak lama ia terpikir satu ide, ia menyeringai dengan idenya itu. "Jika Yang mulia sangat menginginkannya apa boleh buat, ambillah!?" ujarnya sembari melempar bunga ditangannya.
"Ap_" belum selesai bicara Yohan menimpuk wajah Qi Tianwen dengan bunga ditangannya. "Apa yang kau lalukan? Berani sekali kau melempar ku dengan_ teratai spiritual? Tunggu, semudah ini?" ujar Qi Tianwen heran. Tapi raut wajahnya terlihat senang, "Xiyun'er coba lihat ini!? Aku berhasil mendapatkan teratai spiritual!?" teriaknya riang sembari berlari ke arah Xiu Xiyun.
Sedangkan Xiu Xiyun sendiri terlihat tidak senang dengan kedatangan Qi Tianwen, "Kenapa kau menerima jebakan darinya?" ujarnya kesal. Tidak disangkanya Qi Tianwen sebodoh ini. Apa yang dilakukan Yohan adalah jelas jebakan, tapi bisa bisa dia senang mendapatkan jebakan.
Raungan monster besar itu kembali bergema. Kini dia berjalan mendekati mereka berdua, ralat, Qi Tianwen lebih tepatnya. Habis sudah mereka berdua dihabisi oleh monster besar. Monster itu melayangkan tinjunya menyerang mereka berdua. Dengan cepat Xiu Xiyun menangkis serangannya dengan pedang yang dilapisi eksternal qi. Tapi, eksternal qi saja tidak akan cukup untuk menangkis serangan monster besar itu yang berukuran raksasa dan berada di tingkatan menengah kebawah.
Buak buak buak
Xiu Xiyun menahan pukulan monster sekuat tenaganya. Giginya menggertak kesal melihat Qi Tianwen yang malah bersembunyi dibelakangnya. 'Dasar laki laki tidak berguna!? Seharusnya dia yang melindungiku, tapi kenapa malah aku yang melindunginya? Dan kenapa orang itu malah menikmati hal ini?' pikirnya semakin kesal saat melihat Yohan malah menikmati pertunjukan didepannya.
Krak
__ADS_1
Pedang Xiu Xiyun sedikit retak akibat hebatnya hantaman monster pada pedang tersebut. 'Gawat!? Ini sangat gawat, pedangku akan rusak dan tidak ada seorangpun yang berguna disini. Aku harus meminta bantuan, siapapun.' dia melirik Yohan yang tampak duduk manis diatas batu besar melihat pertarungan yang berat sebelah itu. "A adik Yohan!? Bisakang kau membantu ku? Aku membutuhkan pertolonganmu!?" pinta Xiu Xiyun dengan sangat.
"Hm? Tapi, bukankah Yang mulia pangeran ke-3 lebih hebat dariku? Kenapa senior tidak meminta pertolongannya saja yang lebih hebat dariku?" tanya Yohan sambil melirik Qi Tianwen yang masih bersembunyi dibelakang Xiu Xiyun.
"Ah, i itu…" Xiu Xiyun melirik Qi Tianwen ragu. Dia tidak yakin pria pengecut dibelakangnya ini dapat diandalkan.
"Apa kau ingin aku melawan monster jelek itu lalu mati? Dasar tidak punya otak!? Lebih baik kau saja yang melawannya!? Kau hanya seorang rakyat biasa yang tidak memiliki status apapun, sedangkan aku yang seorang pangeran kekaisaran Qi adalah orang berharga dan penting. Jika aku mati di sini maka semuanya adalah salahmu yang tidak bisa melindungi pangeran kekaisaran Qi!?" ocehnya dan masih banyak lagi.
Yohan melihat datar tanpa ekspresi Qi Tianwen, lalu sebuah senyum muncul dibibirnya. "Ah ya ampun!? Yang mulia pangeran benar sekali. Sebagai rakyat kekaisaran Qi yang baik, aku harusnya melindungi calon raja masa depan, kan? Ha ha ha aku memang rakyat yang durhaka. Baiklah, tunggu aku pangeran!? Aku akan menolongmu~" ujarnya sembari bangun dari duduknya. Yohan menatap intens monster didepannya yang saat ini sedang fokus menyerang Xiu Xiyun. Dirinya mencari titik lemah dari monster itu untuk mengalahkannya.
Seulas senyum tampak diwajahnya yang telah menemukan titik lemah monster berkepala lele itu. Ia mencabut pedangnya dan mengalirkan internal Qi ke pedang untuk menperkuat serangan tebasannya. Tarikan nafas yang panjang terdengar darinya yang bersiap untuk menyerang monster itu. Lalu… Slash!? Ia berada di atas monster besar nan tinggi itu dan menebas lehernya dengan rapi.
Bruk
Kepala lele monster berbadan kerdil namun besar itu jatuh ke tanah dengan darah merah delima yang mengalir. "Nah pangeran, sekarang kau selamat!?" ujarnya ramah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1