
Tingkatan ranah
Lianqi
Juyuan
Zhuji
Bigu
Jindan
Yuanying
Chuqiong
Dujie
Yuzhou
Semuanya masing masing dibagi menjadi awal, menengah, akhir. Kecuali ranah Yuzhou yang menggunakan tingkatan tidak terbatas.
Saat seseorang mencapai ranah immortal, umur mereka akan bertambah lima puluh. Begitu pula dengan ranah diatas immortal, umur manusia akan bertambah lima puluh. Sama halnya dengan monster jika naik tingkat, umur mereka akan bertambah seratus tahun. Sedangkan untuk makhluk selain manusia dan monster umur mereka sudah ditentukan sejak lahir dengan umur panjang sampai ratusan tahun.
Ranah monster berbeda dengan manusia, kekuatan mereka dibagi dengan tingkatan satu sampai lima puluh.
Pada tingkat 1-10 kesadaran monster belum terbentuk, bisa juga disebut monster kelas bawah.
11-20 kesadaran monster sudah mulai terbentuk, disebut dengan monster kelas menengah.
21-35 Kecerdasan mereka mulai ada, disebut monster kelas atas.
36-45 Kekuatan mereka menjadi binatang ilahi.
46-50 Mereka sudah menjadi binatang legendaris.
Selesai dengan semua ranah juga monster kita beralih ke dunia.
Ada tiga dunia…
Dunia bawah
Dunia tengah, dan…
Dunia atas
__ADS_1
Pertama, dunia bawah adalah dunia yang dipenuhi penjahat, monster, iblis, hantu, dan makhluk jahat lainnya. Tempat itu adalah tempat buangan sekaligus penjara bagi para sampah dan penjahat. Seseorang yang berkuasa di tempat itu biasa disebut Raja Yama.
Kedua, dunia tengah adalah dunia dimana para pemula kultivator hidup. Dari ranah tanah sampai ranah Yuzhou. Dan tentunya kalian tahu siapa yang memimpin dunia tengah.
Dan yang ketiga adalah dunia atas adalah tempat dimana orang orang kuat berada. Tingkatan orang orang di dunia atas jauh lebih kuat dari pada di dunia tengah. Status seseorang akan jauh lebih kuat jika berhasil memasuki dunia atas. Bahkan Kaisar sekalipun harus tunduk jika bertemu seseorang berstatus rendah dari dunia atas. Karena tempat itu tidak bisa di masuki sembarang orang. Seseorang yang memimpin dunia atas adalah Raja Surgawi.
Demikian itulah penjelasan dari tingkatan dan dunia.
tuk
Sebuah buntalan kertas terlempar ke Yohan dari belakang. Saat dirinya melihat siapa orang iseng yang melakukan itu, dia ternyata seseorang yang baru baru ini berkuasa di kelas.
Rudao, dan teman temannya yang lain. Yohan rasa mereka hanya ingin melakukan iseng kecil kecilan seperti ini. Karena itu Yohan mengabaikan mereka. Tapi setelah diabaikan mereka semakin menjadi jadi. Semakin banyak gumpalan kertas kecil yang menyusul. Dan orang orang itu hanya cekikikan dibelakang.
Karena sudah terlanjur kesal, Yohan mengambil semua gumpalan kertas yang tadinya dilempar padanya. Laku menyentilnya ke arah mereka kembali dengan sedikit trik.
Tak!?
Tak!?
Tak!?
"Akgh!?"
Bruk
Ketiganya jatuh bersamaan. Rasanya seperti terkena hantaman dengan kerikil kecil tepat ke jidad mereka. "Ppfftt ha ha ha…" ia tertawa kecil melihat tingkah konyol mereka.
"LIU YOHAN!?" Sentak guru Wu. Sontak Yohan langsung terkejut dan melihat ke arah guru Wu yang marah ke arahnya. "Jika kau hanya ingin bermain main dikelasku maka silahkan keluar!?"
"Tapi mereka lebih dulu yang_"
"KELUAR!?" teriaknya sekali lagi sembari menunjuk ke luar kelas.
Shin melihat Yohan berjalan keluar. Dia merasakan aura yang sedikit berbeda dari pemuda itu setelah keluar dari goa jiangshi.
...***...
Yohan berjalan tanpa arah yang jelas. Dia hanya berjalan mengikuti kakinya saja. "Kemana, ya?" tanyanya bingung. Dirinya tidak tahu harus kemana setelah diusir oleh guru Wu.
Saat bingung akan kemana Yohan melihat seorang kakek tua berbadan bungkuk, memakai tongkat dengan baju yang lusuh. Dia terlihat kesulitan menaiki tangga yang begitu besar dan tinggi. Yohan langsung teringat dengan ucapan ibunya tentang, 'Jika kau melihat ada orang yang kesulitan maka jangan sungkan untuk membantunya, mengerti?' ingatnya tentang ucapan Daoyun. Segera ia berjalan mendekati orang tua itu.
Ketika Yohan sampai dihadapannya orang tua itu terlihat kebingungan melihat Yohan yang terus menatapnya tajam. "Ada apa na_ N NAK? apa yang kau lakukan?" tanyanya sangat terkejut ketika Yohan menggendongnya ala tuan putri.
Dirinya menggendong si kakek sampai atas tangga lalu menurunkannya, "Sudah sampai!?" ujar Yohan.
Bukannya merasa senang kakek tua itu malah memukul Yohan dengan tongkat kayunya,
Tung tung tung
"Dasar anak nakal!? Aku baru saja turun dan kau membawaku naik ke atas lagi?" ujarnya yang di sambut kekagetan dari Yohan.
"K kalau begitu aku akan membawamu turun lagi!?" belum lama Yohan mengatakan itu pukulan tongkat kayu berkurang.
"Baiklah, sebagai hukumannya kau harus membawaku sampai ke tempat tujuanku." ujar kakek tua yang mulai tenang.
"Ya." jawab Yohan pasrah. Dia berjongkok untuk menggendong pak tua.
Kakek tua itu melihat heran dan kembali memukul Yohan, "Apa yang kau lakukan? Gendong aku seperti tadi!?" bawelnya melebihi ibu ibu.
Dengan sabar Yohan menggendong kakek tua itu ala tuan putri berkeliling akademi. "Nah, betul betul seperti ini!? Hem, Bagus bagus!?" pujinya yang memperlihatkkan gigi ompong.
Anehnya, Yohan merasa kuat menggendong kakek tua ini. Meskipun kakek ini tergolong ringan, tapi jika dulu ia takkan mampu mengangkatnya. 'Mungkin ini karena aku berkultivasi.' pikirnya tidak ingin ambil pusing.
...***...
__ADS_1
Terlihat Yohan yang sedang menggendong seorang kakek tua yang memegang tongkat kayu ditangannya. Kakek itu membuat Yohan harus berkeliling akademi untuk ke tempat tujuannya. "Senior!? Kemana sebenarnya kau ingin pergi?" tanya Yohan. Sebab mereka sudah berkeliling dua jam tanpa kakek itu mengatakan berhenti.
"Tunggu, aku ingin pergi kemana ya?" tanya kakek itu bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya dia sudah pikun. "Hei nak, apa kau tahu kemana aku akan pergi?" anya Kakek tua membuat Yohan kaget.
"Mana aku tahu…" Jawab Yohan asal.
"Sebentar, biar kuingat lagi!?" Kakek tua itu sedang berpikir keras. Dia berpikir cukup lama, "Ah!? Aku ingat, aku ingin ke perpustakaan!?" ujar kakek itu. "Ayo!? Sekarang tujuan kita adalah perpustakaan!?", ajak kakek itu sembari menarik narik baju Yohan.
Karena pemuda ini sama sekali tidak tahu arah, ia tidak tahu harus kemana. "Ehm a aku s sebenarnya buta arah." jawabnya pelan, namun sepertinya terdengar oleh kakek tua bawel.
Tung tung tung
"Dasar tidak berguna!? Apa kau hanya memiliki wajah yang tampan, hah?" omelnya lagi. Tapi dia sendiri juga tersesat, artinya ada dua orang tidak berguna. "Haaah, sudahlah. Aku juga sama. Kalau begitu ayo jalan lagi, mungkin keajaiban akan muncul." ujarnya lagi yang menyuruh kembali jalan. Mereka kembali berjalan tidak tahu kemana. Kakek tua itu melihat Yohan yang banyak mengeluarkan keringat dengan wajah yang semakin pucat. Tidak lama kakek tua melihat pohon besar yang rindang. Cocok untuk istirahat. "Berhenti disini!?"
Yohan melihat pohon besar diatasnya, "Apa disini perpustakaannya?" sepertinya akal sehatnya sudah hilang.
Tung
Kakek tua itu sekali lagi memukul Yohan, "Tentu saja tidak. Aku lelah, jadi aku ingin istirahat disini." sautnya yang dari tadi hanya digendong. Dia loncat turun dari gendongan Yohan dan dengan pelan duduk di atas kursi panjang bawah pohon.
'Kau bahkan tidak berjalan.' gerutu Yohan. Tapi memang dirinya juga sangat lelah terus menggendong kakek tua tersebut.
Melihat Yohan hanya berdiri membuat kakek itu berkata, "Kenapa berdiri saja? Cepat duduk!?" cerewetnya lagi semakin bawel.
Pemuda itu duduk disamping si kakek cerewet. Kakek itu kembali memperhatikan Yohan diam diam selagi pemuda itu memperhatikan ke arah lain. Tidak lama Yohan memergokinya sedang memperhatikannya, "Kita sudah lama kenal tapi aku belum tahu namamu. Siapa namamu?" tanya Kakek tua penasaran.
Yohan melihat kakek tua itu heran, mereka baru kenal beberapa jam yang lalu kenapa malah jadi lama? Tapi ia teringat kalau dia hanya kakek tua yang pikun. Jadi maklumi saja Tapi jujur saja pak tua di sampingnya terasa familiar, "Liu Yohan, senior." jawabnya singkat.
"Hm hm, nama yang tidak biasa. Kau pasti murid baru disini, apa kau bolos pelajaran?" Tanyanya, setahu dirinya jam jam segini para murid masih belajar. Tapi melihat Yohan yang ada di luar, menjadi sebuah pertanyaan.
"Aku dihukum keluar karena bicara di dalam kelas." Jawab Yohan.
"Di hukum, ya… dulu aku juga sering dihukum jadi kita senasib."
Apa hanya perasaannya saja? Atau memang pak tua ini mengobrol dengannya seakan sudah kenal lama?
...***...
"Nah, disini disini!? Sekarang turunkan aku!?" Beberapa jam kemudian, Yohan berhasil menemukan perpustakaan. Kakek tua itu turun dari gendongan Yohan.
"Kalau begitu aku pamit senior…" ujar Yohan lemas. Dia sungguh lelah menggendong kakek tua itu kemana mana. Tapi saat dirinya berbalik pergi tiba tiba kakek tua itu ada dibelakangnya tepat setelah ia berbalik. Matanya terbelalak kaget melihat pak tua itu begitu cepat padahal menuruni tangga saja susah. "K kau, bagaimana…" Kepalanya menengok ke belakang dan ke depan. 'Sialan, aku dikerjai oleh kakek ini.' pikirnya kesal.
Kakek tua itu terkekeh senang melihat wajah kesal Yohan. "Jangan kesal begitu, aku memang kesulitan dalam berjalan karena pinggangku selalu sakit. Untung saja ada kau yang membantuku kemari. Mampirlah dulu ke dalam, aku lihat wajahmu sangat pucat." ujarnya dengan nada ramah.
"Tidak, terima kasih. Aku harus berla_"
"Kepala akademi!? Akhirnya aku menemukan anda!?" Ujar Li Wei dari kejauhan.
Sontak Yohan kaget mendengar pria tua, pikun, bawel ditambah galak seperti ibu ibu didepannya adalah kepala akademi. Yohan pikir kepala akademi tidak akan setua dan sepikun dia. Tapi, apa apaan ini? Yohan mulai panik ketika didepannya berdiri sosok kuat yang ia pernah menggendongnya seperti tuan putri. 'D dia tidak mungkin mendengar suara hatiku saat menggerutunya kan? Kalau dia bisa membaca ini hati seseorang bagaimana? Apa aku akan dikeluarkan dari sekolah?' pikir Yohan cemas.
Wajah kakek tua itu terlihat terkejut, "Ah, Li Wei!? Aku pikir kau sudah mati di makan monster tahun lalu, kenapa masih hidup?" tanya kepala akademi bingung.
Terlihat Li Wei yang memperlihatkan wajah tak sukanya dengan kepikunan kepala akademi yang selalu menganggapnya sudah mati, "Tidak kepala akademi, aku masih hidup. Yang meninggal tahun lalu adalah cucu anda." ujarnya mengingatkan. Benar, tahun lalu cucu kepala akademi meninggal. Dan tahun lalu kepala akademi belum pikun seperti sekarang. Sepertinya kematian cucu satu satunya memberi dampak besar baginya.
Li Wei terlihat terkejut melihat Yohan disisi kepala akademi. "Kau!? Kenapa kau ada disini? Dasar tidak tahu tempat." usir Li Wei kasar. Dia terlihat semakin tidak senang dengan pemuda itu setelah mendengar rumor. Terlihat jelas dari tatapan sinisnya.
Tung
Tiba tiba kepala akademi memukul Li Wei dengan tongkatnya, "Dia telah membantuku jadi terserah padaku anak nakal ini ingin disini atau tidak. Jika kau tidak suka kau boleh pergi!?" bentak pria tua itu tegas nan garang. Nama aslinya adalah Chen Zinyu. Pendiri Akademi Qing Luo. Umurnya tidak diketahui.
Li Wei berdesis tidak suka Yohan mendapat perhatian Chen Zinyu. "Tapi dia adalah anak yang membunuh tuan muda Jiang." ujar Li Wei.
"Jiang Feng?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1