
Dunia atas, Labirin spiritual
Didalam sebuah lorong batu, seorang pria berambut merah dengan sepasang mata emas yang mirip seperti mata predator berlari menuju ke suatu ruangan didalam salah satu ruangan. Dia membawa surat di tangannya. Tampak dari raut wajahnya kalau saat ini dia sedang terburu buru.
"Ayah!? Apa Ayah ada disini?" panggil pria itu memasuki salah satu ruangan.
"Kau tidak perlu berteriak Lin'er, aku bisa mendengarmu." saut seorang pria yang terlihat mirip dengan pemuda yang dipanghil Ling'er. Bedanya pria itu terlihat lebih tua dan lebih tinggi. "Ada apa kau mencariku?" tanya pria itu, dia bernama Long Bing. Dan seseorang yang memanggilnya adalah anaknya, Zhao Lin. Mereka adalah ras naga yang tinggal di inti labirin spiritual.
"Aku baru saja mendapatkan surat dari cec*nguk hutan hitam Ming Jiajun. Ini dia!?" Zhao Lin memberikan gulunhan kertas pada kakaknya.
"Heh, apa rencana si sialan itu kali ini? Apa dia masih tidak puas setelah menghancurkan formasi labirin dan mencuri pedang Chu Ming?! Awas saja jika kali ini dia mempermainkan kita, aku tidak akan segan segan menyerang wilayahnya!?" gerutu Zhao Lan, dia masih kesal dengan kejadian henerapa ratus tahun yang lalu. Ras naga memang tidak mudah melupakan dendam mereka. Tapi meskipun begitu mereka bukanlah ras yang jahat.
Long Bing membuka surat dari seseorang bernama Ming Jiajun tersebut. Setelah membaca surat tersebut dia tersenyum marah yang memperlihatkan beberapa uratnya terlihat. Seketika surat itu terbakar habis di tangannya.
Adiknya, Zhao Lin kaget melihat ayahnya Long Bing tiba tiba begitu marah. "A apa ini suratnya?" tanya Zhao Lin. Dia merasakan adanya perasaan tidak enak. Pasti isi dari surat itu adalah sesuatu yang buruk.
"Baj*ngan yang lebih buruk dari kep*rat itu sudah bangun." ujar Long Bing penuh penekanan.
Zhao Lin terbelalak kaget mendengarnga, "Maksud Ayah…"
"Benar. Ming Jiazhen."
"Tidak mungkin!? Bukankah baj*ngan itu mati? Bagaimana bisa dia hidup lagi?"
"Lin'er, dia tidak sepenuhnya mati. Apa kau lupa jika baj*ngan itu juga bagian dari klan itu? Dan hal yang memalukannya adalah…" Zhao Lan tidak melanjutkan kata katanya yang mana membuat Zhao Lin penasaran.
"Hal yang memalukan apa?" tanya Zhao Lin.
"Lupakan saja. Di dalam surat dia mengatakan ingin bekerja sama dengan kita. Karena setiap beberapa tahun sekali, portal menuju labirin akan terbuka di dunia tengah. Didalam suratnya Kep*rat itu mengatakan dia akan memancing Baj*ngan Zhen ke dalam labirin. Sementara dia membuatnya maauk ke dalam labirin, kita akan menangkapnya. Karena kekuatan baj*ngan itu masih lemah untuk sekarang." jelas Long Bing.
Memang itu yang tertulis di kertas. Akan tetapi Zhao Lin merasa kalau Long Bing menglihkan pembicaraan. Tapi lupakanlah, suatu hari juga dia pasti akan tahu. "Ayah, apa kau tidak merasa aneh dengan rencana kep*rat itu? Dulu ketika Baj*ngan Zhen masih sangat kuat, dia sama sekali tidak meminta bantuan dari kita. Malahan lebih memilih menghancurkan formasi dan mencuri pedang warisan leluhur. Tapi sekarang karena Zhen melemah dia meminta bantuan kita? bukankah ini kurang masuk akal?" ukar Zhao Lin.
"Hmm, kau benar. Bisa saja ini semacam jebakan juga untuk kita atau dia sedang merencanakan sesuatu yang licik. Tapi untuk saat ini lebih baik kita mengikuti permainannya."
"Ya!?"
"Kau boleh kembali." ujar Long Bing.
__ADS_1
"……Baik." setelah itu beberapa saat kekudian, Zhao Lin pergi keluar. Meskipun ada sedikit keraguan untuk meninggalkan ayahnya sendirian. Tinggal Ling Bing seorang diri.
Helaan nafas terdengar dari pria itu. "Ini jadi semakin rumit." gumamnya.
Flashback
Terlihat Long Bing yang terlihat masih muda dengan seorang perempuan dihadapannya. Suasana diantara mereka tampak serius. Ditambah dengan hujan deras. "Kau pikir kemana kau akan pergi?" tanya Long Bing kehabisan nafas. Di beberapa bagian tubuhnya juga terlihat terluka parah. "Tanpa ijinku kau tidak bisa keluar labirin, kau tahu?" lanjutnya.
Perempuan didepannya hanya diam dengan beberapa luka. "Aku tahu." jawabnya.
"Kalau begitu ayo kita kemba_"
"Aku tidak bisa melakukan itu."
"Apa?"
"Sejak awal mereka tidak suka dengan keberadaanku. Ditambah dengan apa yang kubawa setelah dari tempat itu. Bagi mereka aku sama dengan aib. Jadi, kupikir akan lebih baik jika aku keluar dari ras." perempuan berambut hitam dan bermata emas itu tersenyum getir.
Long Bing menggertakkan giginya, "Kenapa kau peduli dengan mereka? Jangan pedulikan omongan mereka. Selagi mereka tidak mencoba membunuhmu maka semua akan baik baik saja. Jadi kembalilah ke dalam ras." Long Bing berusaha membujuk perempuan itu. Sayangnya tidak sedikitpun perempuan itu bergerak dari tempatnya. Dia hanya tersenyum tipis sebagai gantinya.
Sekarang
...***...
Didalam kerumunan terlihat Yohan sedang berjalan jalan di sekitaran tempat mereka menginap. Di sampingnya juga ada Zhu'er yang mengikutinya. Ia sebenarnya tidak memiliki kerjaan apapun, makanya sekarang ia berjalan jalan mengisi waktu luang. Di setiap jalan ia melihat pengemis di mana mana. Bahkan di setiap sudut. 'Apa mereka yang disebut dengan klan pengemis? Aku dengar kita bisa membeli informasi dari mereka? Kalau begitu apa mereka juga tahu tentang hutan hitam?' pikir Yohan berhenti sejenak memperhatikan salah satu pengemis tepat dihadapan pengemis itu. Alhasil pengemis itu merasa gugup diperhatikan oleh dua orang aneh. Ia merasa sedikit tertarik dengan hutan hitam.
"Ada. Apa?" tanya Zhu'er.
"Tidak, aku dengar kita bisa membeli informasi dari pengemis. Aku hanya ingin membeli informasi dari mereka. Tapi aku ragu apa mereka benar benar mengetahuinya." ujar Yohan.
"Kenapa kau pikir kami tidak akan mengetahuinya?" ujar seorang yang tampak seperti pengemis tapi tidak mengemis seperti pengemis lain.
Yohan perhatikan dari atas sampai bawah, 'Dia cukup kuat. Apa dia pemimpinnya?' pikirnya. "Jadi kalian mengetahui semuanya?" tanya balik Yohan.
"Tergantung seberapa banyak kau membayar kami." jawab pengemis itu dengan senyum bisnisnya.
"Hmm…" Yohan terlihat berpikir, tapi dia melirik Zhu'er. Masalahnya adalah ia tidak memiliki uang, dan yang memiliki uang banyak adalah gadis di sampingnya. "Untuk sekarang aku tidak punya uang, tapi nanti aku akan memiliki banyak uang. Jadi, bisakah aku utang dulu?" tawar Yohan dengan senyum bisnis.
__ADS_1
Seketika senyum bisnis pengemis itu berubah menjadi wajah masam. "Ada banyak cara untuk menipu." ujarnya berbalik pergi.
"Eh, eeh tunggu!? Tunggu sebentar!?" Yohan mengejar pengemis itu dan berdiri dihadapannya. "Aku tidak sedang menipumu, sungguh!? Aku akan membayarnya setelah aku kembali dari labirin spiritual!?" ujarnya dengan tatapan serius.
Tapi bagi pengemis itu tatapan serius Yohan hanya tatapan seorang bocah. "Aku tidak menerima omong kosong, aku pikir kau adalah tuan muda dari keluarga kaya. Tapi sepertinya kau hanya seorang penipu kecil." ujar pengemis itu. Lalu berjalan melewati Yohan.
Beberapa saat kemudian Yohan kembali bersuara, "Kalau begitu, bagaimana kalau aku membuktikan kemampuanku?" ujar Yohan percaya diri dengan senyum licik diwajahnya.
Pengemis itu berbalik dan melihat Yohan, 'Dia memiliki senyum licik yang meyakinkan. Baiklah, mari kita lihat seberapa besar dia bosa beromong kosong.' pikirnya. Ya, awalnya dia berpikir seperti itu. Tapi hanya dalam sekejap dia dikalahkan oleh seorang pemuda yang awalnya ia kira penipu.
...***...
Mereka berada di sebuah tempat kecil, tempat biasa informasi didapatkan. Yohan duduk dihadapan seorang yang bertubuh krempeng dan terlihat lebih berpangkat dari pengemis sebelumnya.
Dia adalah ketua persatuan pengemis di ibu kota. Disampingnya adalah wakil dari ketua pengemis.
"Aku terkejut anak muda sepertimu bisa mengalahkan wakil dari satuan pengemis. Jika Yutang tidak mengatakannya sendiri aku mungkin tidak akan mempercayainya." ujar pak tua itu. "Mungkin sebelum itu aku harus memperkenalkan diri, panggil saja aku Guan Hwi. Jadi, informasi apa yang kau inginkan?" tanya Guan Hwi.
"Ah, apa kau tahu tentang hutan hitam?" tanya Yohan langsung ke intinya.
"Hutan Hitam? Sayangnya kami hanya memiliki sedikit informasi tentang itu. Yang kami tahu hanyalah tempat itu sangat misterius dan tertutup dari dunia luar. Tidak ada yang pernah selamat setelah memasuki hutan itu." jawab Guan Hwi.
Yohan tampak kecewa mendengarnya, kalau hanya sekedar itu dia juga tahu. Mau bagaimana lagi, sepertinya tidak mungkin untuk mengetahui tentang hutan hitam. Mungkin ia akan menanyakan informasi yang lain saja. "Kalau begitu, apa keputusan kaisar dan enam keluarga besar lainnya pada rapat mereka?" tanya Yohan.
"………" seketika suasananya menjadi hening sekali. Guan Hwi dan Yutang saling bertukar pandang. Mereka seperti mengatakan, 'apa dia serius menanyakan itu?'.
"Dengar nak, apa kau pikir kami tahu segalanya? Untuk menguping pembicaraan kaisan dan tujuah keluarga besar, apa kau pikir itu mungkin?" tanya Yutang.
"Kenapa itu tidak mungkin?" tanya Yohan balik.
Senjujurnya pertanyaan balik itu membuatnya kesal. Kenapa tidak mungkin? Mereka hanyalah berada di ranah Yuanying. Dan orang orang itu nauh diatasnyanya. Di tambah lagi mereka adalah para petinggi di kekaisaran.
"Yah, baiklah jika kalian tidak tahu itu. Bagaimana kalau…"
Beberapa saat kemudian…
Tidak ada satupun pertanyaan dari Yohan yang bisa di jawab dua orang itu. Ralat, bukannya tidak bisa. Tapi pertanyaan yang ditanyakan oleh Yohan sama sekali tidak ada yang masuk akal. Kedua orang itu sampai berpikir, 'Apa dia waras? Pertanyaannya dari awal sampai akhir selalu tidak masuk akal.' pikir mereka berdua.
__ADS_1
"Ah, bagaimana kalau yang ini?" Yohan mulai kepikiran satu pertanyaan yang selalu ingin ditanyanya. Tapi melihat dua orang itu berwajah kecut ia kira agak lucu, "Beberapa tahun lalu, ada pembantaian di keluarga cabang Mo." ujarnya jeda sejenak. Ia ingin melihat reasi mereka berdua, dan benar saja sepertinya kedua orang itu kali ini akan memberikan informasi yang berguna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...