Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 28. Reuni


__ADS_3

Terlihat pertarungan sengit antara Yohan dan Jiang Jierui. Yohan yang menggunakan rantainya sebagai senjata, dan Jiang Jierui yang menggunakan pedang Yu Chang sebagai senjata. Keduanya terlihat sama sama kuat. Meskipun begitu, sebenarnya Yohan masih berada di ranah dibawah Jiang Jierui.


Terdengar suara rantai yang berusaha menyerah Jiang Jierui, rantai rantai itu mengikat pedang Yu Chang. Yohan berusaha menarik pedang itu, namun Jiang Jierui tetap mempertahankannya. "Serahkan saja pedang itu padaku!? Karena perang itu sudah menjadi milikku!?" ujar Yohan.


Jiang Jierui sama sekali tak mengerti maksud pria itu, "Hpmh, jangan mimpi. Pedang ini milikku!?" ujarnya. Dia mengeluarkan jurusnya yang mengalirkan petir melalui pedang. Petir itu merambat menghancurkan, kedua rantai milik pemuda itu.


Zzzttt Zzzttt


Untuk sesaat tubuhnya terkena dampak dari aliran petir tersebut. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.


Disaat itu Jiang Jierui berkesempatan menyerang Yohan. Dia menggerakkan tubuhnya maju dengan posisi menusuk lawan. Namun, ketika hampir akan mengenai tubuh pria itu, pedang Yu Chang berhenti di udara. Jiang Jierui berusaha menusuk Yohan dengan pedang Yu Chang, bahkan sampai dialiri dengan aura pedang. Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Pedang itu tidak ingin bergerak sedikitpun.


Sedangkan tubuh Yohan yang mulai bisa digerakkan, membuat pedang Yu Chang tertarik ke tangannya. Tepat setelah itu, dia menebas Jiang Jierui.


Pria paruh baya itu mundur dengan memegang dadanya yang berdarah. 'Bagaimana bisa pedang Yu Chang dikendalikan olehnya? Dia pasti menggunakan trik licik. Aku harus merebut kembali pedangku!? ' pikir Jiang Jierui. Dia mengeluarkan pedang lain di pinggangnya. Lalu dilihatnya Jiang Meilian, Istrinya.


''Suamiku, aku akan mengerangnya dari belakang. Kau persiapkan serangan terkuatmu!? Bagaimanapun, kita harus membalaskan dendam anak kita!?''' ujar Jiang Meilian, menggunakan teleport suara.


Jiang Meilian melayangkan serangannya berupa cambuk panjang. cambuk itu mengikat Yohan dari belakang. Pemuda itu melihat Jiang Meilian yang menarik cambuknya untuk mempererat ikatan di tubuhnya. Jiang Jierui mengeliri pedangnya dengan petir kuat. Setelah persiapan selesai, dia melesat dengan cepat dan…


Slash


Dengan sangat cepat dia menebas Yohan. Terlihat senyuman puas diwajahnya.


"S suamiku?" terdengar suara Jiang Meilian yang kesakitan.


Saat Jiang Jierui berbalik, dia melihat istrinya telah tertebas di dadanya. Tebasan yang besar serta miring dan dalam. Seketika matanya terbelalak kaget, "Kenapa wanita itu yang terkena seranganku? Dasar tidak berguna." ujar Jiang Jierui geram. Dia terlihat tidak menyesal atau sedih sama sekali.


"Aneh, dia istrimu bukan? Kenapa kejam sekali membunuhnya?" ujar Yohan muncul dari arah lain.


"Kep*rat!? Kaulah yang membuatku membunuhnya, benar kan? Kau pasti menggunakan jurus ilusi padaku yang membuatku membunuh istriku sendiri!?" sangkal Jiang Jierui. Meskipun benar Yohan yang membuat pria itu membunuh istrinya sendiri, tapi bagaimana mungkin tidak ada rasa bersalah atau sedih yang terpancar padanya. Umumnya lebih seseorang pasti akan sedih jika pasangat hodup mereka mati. Tapi peia itu malah terlihat geram.


Yohan tersenyum licik, "Sudah kuduga, ternyata kau melihat istrimu hanya sebagai alat pembuat anak saja." ujar Yohan.


"Lalh kenapa dengan itu? Bukankah tugas wanita adalah membuat anak? Jika tidak bisa membuat anak, mereka sama saja dengan sampah tidak berguna!?" ujarnya tanpa hati.


"Wah wah~ mendiang istrimu pasti akan sedih mendengarnya." ujar Yohan sembari melihat jasad Jiang Meilian yang tergeletak di tanah. Dengan matanya yang masih terbuka dan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Heh, jangan munafik!? Kau iuga pasti berpikiran sama sepertiku, benarkan?" ujarnya dengan senyum jahat.


"Aku? Hmm, sayangnya aku tidak berpikir seperti itu."


Jiang Jierui menatap Yohan dengan penuh kebencian. "Akui saja, dasar muna_"


Slash


Serangan horizontal yang mengeluarkan aura dingin disekitarnya dan memiliki aroma es membelah tubuh Jiang Jierui dari belakang. Ambruklah tubuh pria itu ke bawah. Lalu terlihat Shin dengan posisi menebasnya. "Yo~ lama tidak bertemu~ kenapa kau harus membuang buang waktu berbicara pada orang yang akan segera mati? Aku tidak tahan mendengar sampah ini bicara, jadi aku ingin segera membunuhnya!? Tidak apa apa bukan?" ujar Shin dengan senyum ramahnya.


"Ya, tidak apa apa. Lagipula aku juga tidak tahan mendengarnya terus mengoceh."


"Jadi… siapa kau?" tanya Shin sembari menghunuskan salah satu pedangnya ke leher Yohan.


"Apa maksudmu? Aku Liu Yohan dan aku hanya satu." ujarnya sembari mengangkat kedua tangan tanda menyerah.


"Liu Yohan? Heh, Liu Yohan yang kukenal tidak akan tersenyum saat ada pedang menghunus lehernya. Dan dia memiliki elemen api, bukan kegelapan!?"


"Aku juga memiliki elemen api, lihat?" Yohan memperlihatkan api berwarna emas di tangannya.


Tidak lama, Jingmi mengambil langkah dengan berdiri didepan Yohan. Dia terlihat seperti membela pria itu.


"Apa yang kau lakukan, bocah? Kemari!?" ujar Shin sembari mengeluarkan tekanan pada Jingmin


Jingmi menelan ludahnya kasar, "T tidak!? Aku akan melindungi Yohan'ge!?" ujarnya bercampur keraguan. Tentu saja dia ragu, pria didepannya adalah gurunya yang jahatnya tidak perlu ditanyakan.


"Apa yang membuatmu yakin dia adalah Yohan?" sentak Shin.


"Dia,…" Jingmi menengok ke belakang melihat Yohan. Lalu kembali melihat Shin, "Yohan'ge menyebutku sebagai keluarganya!?" ujarnya lantang dan percaya diri.


Shin melihat Jingmi malas, 'Ahh, aku aku lupa dia bodoh dan naif.' pikirnya. "Hanya mengakui mu sebagai keluarga, dan kau langsung percaya dia menganggapmu sebagai keluarganya? Jangan bodoh!? Kau pikir dia sebaik itu sampai menganggapmu keluarganya?" ujar Shin yang berhasil dipikir ulang oleh Jingmi.


Pemuda itu kembali melihat Yohan, berharap pria dibelakangnya benar benar menganggapnya keluarga.


Sedangkan Yohan hanya tersenyum lembut pada pemuda didepannya.


"Ya!? Aku yakin dia benar benar menganggapku keluarganya!?"

__ADS_1


"Aaggh, sadarlah!? Dia menipumuu!?" teriaknya frustasi dengan kebodohan Jingmi. Shin sudah kehabisan kesabarannya menghadapi muridnya yang naif.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!?" tawa Yohan pecah karena tidak tahan bmelihat kedua guru dan murid ini bertengkar. Gurunya berpikiran pintar dan analitis, sedangkan muridnya yang berpikiran bodoh dan naif. Mereka melihat Yohan dengan pandangan heran dan bingung. Ekspresi mereka terlihat jelas dan mengatakan, 'Kenapa dia tiba tiba tertawa?' kata kata itulah yang terlihat di wajah keheranan mereka. "Aku_"


Wuss


Tiba tiba suara kedatangan seeorang yang melompat dari atas, memperlihatkan , seorang gadis cantikk berambut putih dengan ujyng rambut merah, kulitnya putih pucat, matanya berwarna merah, dengan memakai pakaian yang terlihat menawan di tubuhnya. Memperlihatkan senyum jahat yang mana membuat wajah cantiknya sirna. "Ketemu. Kau!? Ki ki ki ki ki ki ki ki ki ki ki…" tawanya yang membuat ketika laki laki itu merinding.


'Apa benar dia perempuan? Bukan perempuan jadi jadian, kan?' pikir mereka bertiga bersamaan.


Saat melihat Zhu'er, Yohan langsung teringat dengan gadis itu dan janjinya. "Kau!? Yueyin Zhu!?"


"Yueyin Zhu? Siapa?" tanya Jingmi.


'Yueyin Zhu? Tunggu, maksudnya Yueyin Zhu yang itu? cucu dari kepala akademi Chen yang sudah meninggal? Yueyin Zhu masih hidup? Tidak mungkin.' pikirnya masih belum percaya.


Zhu'er melangkah mendekati Yohan selangkah demi selangkah. "Kau. Harus. Menepati. Janji. Mu!?" ujarnya dengan senyum jahat di wajah cantiknya.


"Eh, itu…" Sebenarnya Yohan ingin sekali mengingkari janjinya pada wanita itu, tapi… "Berjanjilah, untuk menjaga cucuku!?" ia teringat janjinya dengan Chen Zinyu. Janji dengan dua orang sekaligus yang saling terhubung, ia seperti sudah dijebak oleh mereka berdua. 'Dasar kakek dan cucu licik!?' pikirnya. Dia tidak bisa mengingkari janji, apalagi kepada seseorang yang sudah meninggal. "Baiklah, kau boleh mengikutiku. Tapi dengan satu syarat. Kau harus mengikuti semua yang kukatakan, paham?" tanya Yohan.


"Ya." jawabnya singkat.


Tidak lama datang seorang pria dengan nafas memburu mengejar Zhu'er, "Tungguu!? Kenapa… kau… cepat… sekali!?" ujarnya terpotong potong. Dia menegakkan tubuhnya untuk melihat sekitar. Ada tiga orang laki laki yang baru dilihatnya. Dia memperhatikan ketiga laki laki tersebut, 'Aku tebak mereka adalah penyebab kegaduhan ini. Laki laki yang memegang dua pedang itu terlihat cukup kuat. Dia berada di ranah Yuzhou alam ketiga. Laki laki yang sepertiperempuan itu berada di ranah surgawi. Dan… eh? Bukannya dia adalah pelayan tetua Chen yanv waktu itu? Ada apa dengan Qi yang tidak stabil ini? Qi nya terlihat berantakan dan hampir meledak, normalnya orang biasa akan sangat kesakitan dengan Qi yang terlalu besar dan tidak murni ini. Tapi dia terlihat tidak kesakitan sama sekali. Dan… apa yag ternadi sekarang? Qi didalam tubuhnya perlahan lahanbmenjadi Qi murni, semula yang akan meledak memadat menjadi arah yang teratur dan bergerak seperti arus sungai. Bagaimana mungkin?'


"……man, paman!? Paman!?" sentak Yohan karena pria bercaping hitm itu terlalu sibuk dengan pikirannya.


Karena sentakan Yohan, pria itu kembali sadar dengan dunia nyata. "A ada apa?" ujar pria itu menarik caapingnya menutupi wajahnya.


"Hm? Kau tidak mengingatku? Bukankah paman pernah bertemu denganku di kediaman kakek Chen? Kenapa pelupa sekali?" tanya Yohan mengenali pria itu.


Seketika pria itu terbelalak kaget, 'Bagaimana dia bisa mengenaliku? Padahal aku selalu berganti topeng wajah dan suara.' pikiirnya bingung. "Ah, i iya, kita pernah bertemu. Seperti yang kau tahu, aku lemah dalam mengingat." ujar pria itu dengan senyum canggungnya.


Yohan tersenyum jahil, "Wah~ paman bahkan belum tua, tapi sudah pikun seperti kakek Chen. Eh, sebentar, dari penampilaan paman, sepertinya paman sudah 'tua', ya?" ujar Yohan sengaja menekan kata 'tua'.


Seketika urat kekesalan terukir di dahi pria itu, "Ha ha ha ha, mana mungkin. Seperti yang kau lihat, aku masih berumur 18 belas tahun." ujarnya dengan senyum kekesalan. Pria itu memang menggunakan wajah pemuda 18 tahun. Meskipun perkataan Yohan tidak salah, tapi dibilang tua itu menyebalkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2