Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 13. Jiangshi cantik + Rubah merah


__ADS_3

Mumpung mereka masih bertarung, Yohan memutuskan ingin pergi saja dari situasi sekarang. Merawat lukanya ke klinik Lu Xiao. Toh mereka yang kuat sedang sibuk bertarung. Rencananya begitu, tapi sebuah belati tiba tiba tertancap di pohon tepat didepan wajahnya.


"Jangan coba coba kabur!?" teriak pria assassin yang ingin membunuhnya.


Enak saja dia bilang begitu. Maksudnya Yohan harus tetap disini menunggu pertarungan, dan kalau pria assassin itu menang dia akan membunuhnya begitu? Tapi setelah pria assassin itu melempar belati pada Yohan, serangan wanita berambut putih itu makin ganas. Serangannya semakin kuat dari sebelumnya. Hingga pria assassin Itu kewalahan menghadapi nya.


Sampai akhirnya pria itu kabur ke arah dia datang. Jadi gertakannya barusan hanya gertak sambel.


"Uhuk uhuk uhuk…" darah yang keluar rasanya makin banyak. "Aku harus cepat cepat ke tabib Lu." ujarnya, serangan pria itu benar benar membuatnya kesusahan. Yohan melihat wanita penolongnya itu berjalan mendekatinya. Matanya membulat ketika melihat paras cantik wanita penolongnya itu. Mungkin apa yang ingin katakan saat ini sangar berlebihan, tapi dari seluruh wanita yang pernah ia temui wanita didepannya adalah yang paling cantik nan menawan. Hanya satu kekurangannya, dia seperti orang gila.


Lihatlah betapa elok-nya paras wanita ini, tapi kenapa pakaiannya compang camping? Wajahnya yang cantik bahkan kotor dengan tanah. Yohan jadi ragu wanita yang ditemuinya ini masih waras atau tidak. "T terima kas_" tiba tiba saja ia diterkam oleh wanita di depannya.


Bruk


Posisinya saat ini sangat tabu dibicarakan. Posisi dimana pria dibawah dan seorang wanita cantik diatasnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Yohan sedikit kesal. Dirinya kesal karena tiba tiba wanita ini berbuat seenaknya ditambah lagi lukanya jadi sakit. Tanpa diduga dan tanpa disangka, wanita ini mengendus endus lehernya dan bahkan menjilat darahnya. Sontak Yohan langsung berbalik mendorong wanita diatasnya menjadi posisinya yang berada di atas. "Aku berterima kasih kau telah menolongku, tapi bisakah kau berhenti bertingkah menjijikan seperti itu?" ujarnya yang terbilang kasar. Kemudian bangun sambil memegangi dadanya yang masih sakit.


Saat Yohan pergi, tiba tiba angin berembus kencang. Penasaran kenapa tiba tiba ada angin, ia berbalik dan meliht sesosok rubah merah berbulu putih dibawahnya. Mata rubah itu sangat cantik seperti bulu merahnya. 'Tunggu, kemana wanita itu? Dan kenapa bisa ada monster di disini? Tidak mungkin kan kalau monster didepanku ada wanita yang menolongku?' pikirnya menyangkal dengan keras. Namun setelah diam beberapa detik, ia menyadari kalau rubah ini ada wanita penolongnya.


Yohan langsung mundur dengan raut wajah ketakutan. Tidak mungkin rubah ini ingin memakannya hidup hidupkan? Kalau dipikir ulang wanita ini menjilat darahnya, apa jangan jangan ia ingin mencicipi bagaimana rasanya? 'Dia ingin membunuhku? memakanku hidup hidup? Iya, pasti begitu. Dia menjilatku barusan, dia pasti ingin memakanku. Aku harus kabur, aku harus kabur!?' pikirnya panik. Dikepalanya berteriak teriak ingin kabur dari situasinya sekarang. tapi kakinya gemetar kaku digerakkan.


"Kemana kau akan pergi? Kau tidak akan bisa melarikan diri lagi dari kami!?" tiba tiba beberapa orang muncul dengan pedang di tangan mereka. Yohan melirik mereka satu persatu, terlintas senyum diwajahnya karena akhirnya ia bisa kabur dengan memanfaatkan mereka.


Para kultivator yang tidak jelas asal usulnya itu segera menyerang rubah merah. Disaat pertarungan mereka terjadi, Yohan segera memanfaatkan waktu yang berharga ini untuk kabur dengan lukanya.


Terlanjur marah karena dihalangi oleh mereka, rubah itu mengibaskan ekor panjangnya. Membuat praktisi pemburu itu terlempar jauh. Beberapa praktisi membelalakkan mata mereka. Mereka melihat takut rubah itu. Sekali lagi kibasan ekor panjang rubah itu menghantam mereka, membuat mereka terpental jauh menabrak beberapa pohon. Setelah dirasa semua pengganggu telah disingkirkan, barulah rubah itu pergi mengejar Yohan. Tapi naasnya dia kehilangan bau pria itu.


...***...


Di luar gunung Yohan berlari tanpa berbalik ke belakang. "Hah…hah…hah…" ia berhenti sembari memegangi lututnya. Keringatnya banyak turun membuat seluruh tubunya basah karena keringat. 'Tadi itu sangat berbahaya.' pikirnya. Saat ia menegakkan kembali tubuhnya, tiba tiba wajah seseorang ada didepannya. "Hwaa!?" teriaknya kaget.


Seseorang itu adalah Qin Qiu. Kenapa gadis itu bisa tiba tiba disini? itu yang dipikirkan Yohan saat ini.


"Hm? Kenapa kau begitu kaget? Apa kau habis dikejar hantu?" tanya gadis itu penasaran. Qin Qiu melihat darah di mulut pria itu, matanya langsung terbelalak kaget. "Astaga!? Darahnya sangat banyak!? Apa yang terjadi? Apa kau tidak apa apa?" tanya Qin Qiu histeris.


"Ah, itu…aku bertarung dengan monster saat menjalankan misi harian." jawabnya, ia melihat Qin Qiu yang tampak lebay melihatnya, "Kenapa kau bisa ada di luar akademi?" tanyanya mengalihkan topik.


"Ah, em, aku sedang mencarimu." jawab Qin Qiu mengejutkan Yohan.


"Mencariku? Kenapa?"


"Tentu saja karena kau tidak masuk beberapa hari ini, jadi aku khawatir denganmu. Yang lain juga bertanya tanya tentangmu."

__ADS_1


"Oh, terima kasih." meskipun Yohan yakin yang lainnya tidak akan mengkhawatirkan dirinya. Dan walaupun Qin Qiu memang mengkhawatirkan dirinya, itu pasti karena dia menginginkan sesuatu darinya. "Kalau begitu, ayo kita kembali!?" ujarnya mencoba terlihat baik. Tentu saja bersikap baik, karena penunjuk arahnya datang sendiri padanya.


"Ya!?" jawab gadis itu bersemangat.


Namun jalannya agak oleng, pandangannya jadi sedikit begelombang. 'Sialan, apa darahku keluar terlalu banyak?' pikirnya. Dia jadi kurang konsentrasi karena kekurangan darah. Tiba tiba Qin Qiu mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di pundak gadis itu.


"Aku akan membantumu berjalan." ujarnya.


Tanpa menjawab ucapan gadis itu Yohan hanya mengiyakan saja. Saat ini dirinya tidak dalam keadaan baik untuk jalan sendiri. Karena bisa saja ia pingsan ditengah jalan menuju akademi. Walaupun rasanya sangat aneh dipapah oleh Qun Qiu.


...***...


"Haah, lagi lagi dan lagi lagi kau yang ada disini." ujar Lu Xiao terdengar bosan melihat Yohan terbaring di atas kasur dengan kain putih basah di atas keningnya.


"Kenapa? Kau bosan hanya aku yang datang ke klinik mu?" tanya Yohan.


Lu Xiao menggerus beberapa herbal untuk pasien abadi didepannya, "Dengar ya, klinikku bukannya sepi pengunjung, tapi klinikku hanya didatangi orang orang yang istimewa saja." ujarnya. Tidak bisa dipungkiri kalau klinik Lu Xiao memang sepi. Semua murid lebih memilih membeli obat di luar akademi karena obat disini mahal. Tapi harus Yohan akui, obat di klinik Lu Xiao memang jauh lebih manjur dari klinik klinik biasa. Bisa dimaklumi kalau harganya mahal.


"Kalau begitu aku istimewa?" tanya Yohan dengan senyum jahilnya.


Sedikit lama Lu Xiao menjawab pertanyaan Yohan, "Bisa dibilang begitu." ujarnya.


"Apa?" Yohan masih tak percaya jawaban Lu Xiao. Apa yang istimewa darinya yang sakit sakitan dan bertubuh lemah tinggi resiko kematian.


Yohan bangun meskipun berat, ia menerima mangkuk berisi ramuan buatan Lu Xiao. Menatap banyangannya sendiri di pantulan air obat. Entah kenapa rasanya ia pernah melakukan ini. Tapi ia tidak ingat pernah melakukannya dimana. Ia meminum ramuan itu yang terasa sangat pahit. Tapi lagi lagi ia merasa sudah terbiasa dengan ramuan yang pahitnya luar biasa ini.


"Ngomong ngomong aku akan menambahkan biayanya di catatan hutangmu!?" ujar Lu Xiao.


"Ukh!?" hampir saja Yohan keselek ramuan ini ketika Lu Xiao mengatakan tagihannya. Tidak bisakah dia melihat situasinya dulu sebelum mengatakannya? Yohan mengusap air yang keluar dari sela sela mulutnya. "Baiklah." jawabnya terpaksa.


Sebenarnya ada seseorang yang membayar semua tagihan pemuda ini. Tapi tidak mungkin Lu Xiao mengatakan siapa orangnya. Jadi lebih baik ia menambahkan tagihan hutang yang padahal ia tidak pernah menerima hutang.


...***...


Di samping kasurnya saat ini terdapat kakek tua yang tengah menjenguk Yohan. "Apa kau bertemu seseorang dihutan?" tanya Chen Zinyu membuat Yohan terkejut di kasurnya.


"Tidak," jawabnya bohong. Lagian kenapa pak tua ini menanyakan orang lain lebih dulu dari pada pasien yang jelas didepan matanya.


"Tidak?"


Pertanyaan pak tua ini makin lama makin aneh. "Tidak, aku sungguh terluka karena monster. Apa kau berpikir aku bertemu seorang perempuan cantik? Kalau iya, aku tidak akan sakit seperti ini." jawab Yohan sangat yakin.

__ADS_1


"Ya, aku pikir kau bertemu dengan seorang perempuan cantik berambut putih, dengan paras cantik melebihi bidadari." ujarnya.


"Mana ada perempuan seperti itu." meskipun ia baru bertemu dengan perempuan seperti itu.


"Ada. Cucuku seperti bidadari!?" ujarnya final.


Yohan twrdiam sejenak. Cucunya? Cucu yang mana? Yang berubah menjadi rubah besar dan ingin memakannya itu? Tidak mungkin. Chen Zinyu manusia, jadi wanita gila itu tidak mungkin cucunya. Karena cucu Chen Zinyu sudah meninggal.


"Apa kau tidak ingin tahu namanya?" tanya Chen Zinyu lagi.


"Nama?"


"Nama cucuku, dia pasti akan senang bertemu denganmu. Meskipun dia sedikit tidak waras."


"Cucumu… gila?" tanya Yohan sedikit tak percaya. Tapi semakin mencurigai monster rubah di hutan itu.


"Apa yang kau katakan? Dia tidak gila!? Cucuku adalah gadis paling cantik, paling lucu, paling jenius, paling hebat, meskipun dia sedikit aneh dan kurang waras, tapi dia tetaplah yang terbaik didunia!?" bentaknya sembari membangga banggakan cucu tersayangnya itu. "Apa kau ingin kuperkenalkan dengan cucuku?" tanyanya ulang menawarkan seperti pedagang handal. Sepertinya pak tua Chen sudah benar benar bahwa cucunya sudah meninggal. Yah, itu wajar. Istri dan anaknya sudah lama meninggal. Lalu cucu satu satunya yang dia besarkan sejak bayi sampai gadis, malah meninggalkan dirinya.


Yohan melihat Chen Zinyu sedikit kasihan, "Yah, terserah kau saja."


"Baiklah baiklah, nanti akan kuberitahukan padanya. Apa kau sungguh tidak ingin mengetahui namanya?"


Tanpa mempedulikan Chen Zinyu, Yohan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan memaksakan tidur. Untungnya obat yang diberikan Lu Xiao memberikan efek samping tidur.


"Namanya adalah… Yueyin Zhu!? Kau harus ingat ini!?…


…Yueyin Zhu!?" dengar Yohan samar samar.


...***...


Di kelas Yohan terus memperhatikan guru Wu menjelaskan didepan. Meskipun ia memperhatikan, tapi pikirannya masih melayang ke gunung kun jian. Sejujurnya tatapan mata rubah itu tidak seperti memusuhi walaupun tatapannya tajam.


"Liu Yohan!? Jika kau tidak bisa fokus di kelasku lebih baik kau keluar!?" ujar guru Wu menatap Yohan sinis.


Dari pada membalas ucapan guru Wu yang nantinya berakhir panjang lebir, Yohan memilih berdiri, "Baiklah." ia pergi keluar kelas. Lagipula ia tidak bisa fokus berada di dalam.


"Heh, lihatlah dia!? Sekarang dia sudah tidak memiliki rasa malu di suruh keluar."


"Benar, dia juga sudah jarang masuk. Kenapa tidak dikeluarkan dari akademi saja?"


"Ya, dia seperti beban disini, sangat tidak berguna!?"

__ADS_1


Lupakan saja mereka ingin berkata apa, ia sudah tidak peduli. Lagipula yang akan tertawa paling akhir adalah dirinya. Terukir senyum samar di bibirnya, yang lebih mirip seperti senyum penuh kelicikan di baliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2