Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 20. Ilusi hati 2


__ADS_3

"Kalian dimana? Senior?" teriak Jingmi memanggil mereka. Namun percuma saja karena kabut tebal ini tidak hanya menghalangi pandangan, tapi juga menghalangi indra mereka. 'Sepertinya percuma aku memanggil mereka.' pikirnya masih berjalan mencari keberadaan yang lain. Dari kejauhan terlihat sesosok seorang wanita. Jingmi langsung teringat dengan Zhu'er, karena hanya wanita itu yang dia tahu. "Itu pasti Kak Zhu'er!?" ujarnya senang. Dia berlari menghampiri wanita itu dan memanggilnya, "Kak Zhu'_er? I ibu? Kenapa ibu bisa ada disini?" tanyanya kaget bukan main. Seharusnya yang memasuki labirin spiritual hanyalah para murid unggulan dari setiap academi. Meskipun dirinya sendiri masuk dengan cara curang, tapi tetap saja bagaimana bisa ibunya ada disini.


"Kau pasti terkejut melihat ibu disini. Tapi ibu sangat merindukanmu hingga ibu nekat menyusulmu ke labirin spiritual bersama seorang praktisi misterius. Sekarang ayo pulang bersama ibu ke rumah!?" ajak wanita itu menunjukkan senyuman hangatnya.


Saat ini matanya panas ingin menangis melihat kembali ibunya. Dirinya juga sama rindunya pada wanita itu. Rindu dengan suaranya, rindu dengan belaiannya, rindu dengan uluran tangannya yang hangat. Meskipun terkadang agak cerewet. Tapi tetap saja hatinya tidak bisa dibohongi kalau dirinya memang merindukan wanita itu. "Tapi, bukannya ibu menyuruhku untuk menjadi seseorang yang kuat? Aku masih belum cukup kuat untuk kembali."


"Siapa yang peduli? Ibu hanya ingin bersama denganmu. Kau tidak perlu berusaha begitu keras untuk menjadi kultivator yang kuat. Kita bisa melarikan diri bersama dari kediaman itu dan hanya hidup berdua. Hanya kita berdua hidup bersama dan bahagia." wanita itu membelai pipinya, terasa kehangatan ditangan lembut itu.


"Setahuku, ibuku tidak pernah menarik ucapannya kembali." ujar Jingmi tersenyum tipis. Dia berbalik berlari meninggalkan wanita itu yang kini berteriak memintanya kembali. 'Sadarlah!? Dia pasti bukan ibu!? Ibu tidak akan menarik kembali kata katanya. Jika dia menyuruhku untuk menjadi kuat, maka aku memang harus menjadi kuat.' pikirnya mengingatkan kembali kalau selain lembut, ibunya juga tegas.


...***...


Yin Fan saat ini sedang berhadapan dengan seorang gadis yang sekiranya berusia 14 tahun. Matanya yang sayu mirip sekali dengannya. 'Haah, kenapa harus Xian'er? Padahal aku sudah berusaha keras untuk melupakannya.' pikirnya.


Gadis itu tersenyum cerah melihat Yin Fan, "Kakak, kenapa kakak tidak kunjung kembali? Padahal aku berharap kakak kembali menyelamatkanku dari para pembunuh itu." ujarnya yang kini mengerucutkan bibirnya.


Yang berdiri dihadapan Yin Fan adalah seorang gadis manis bernama Yin Xian. Adik Yin Fan. Gadis itu meninggal pada umur 14 tahun ketika Yin Fan sedang menjalankan misi. Dia selalu merasa bersalah atas kematian Xiani. Apalagi mengingat dirinya selalu tidak memiliki waktu untuknya. 'Jangan katakan apapun, jika aku mengatakan satu kata saja maka ilusinya tidak akan hilang. Jika aku tetap diam maka_"

__ADS_1


"Kakak, apa kakak tahu? Kakak sangat jahat, bahkan dalam wujud ilusiku saja kakak tidak memiliki waktu untuk bicara denganku. Padahal aku selalu ingin menghabiskan waktu denganmu." ujar gadis itu, tubuhnya mulai memudar. Karena untuk menangkis ilusi didalam kabut ilusi adalah jangan pernah mengatakan satu katapun. Karena Yin Fan sudah pernah memasuki hutan kematian, ia juga tentunya tahu cara mudah memudarkan ilusinya.


Tapi yang menjadi masalah, dia tidak tahan untuk bicara dengan Yin Xiani meskipun hanya satu kata. Karena seseorang tidak akan tahan untuk bicara dengan seseorang yang dirindukan. Ilusi adiknya mulai menghilang. Saat sosok itu sudah sepenuhnya menghilang, satu kata yang hanya ingin dikatakannya, "Maaf." gumamnya pelan.


...***...


Didalam tebalnya kabut, Zhu'er terlihat berjalan sendiri mencari Yohan. Dia mengengok kesana kemari yang tentunya hanya disandingkan dengan kabut. Dimana mana hanya ada kabut, kabut, dan kabut. Pohon dan batu sebagai pengecualian.


"Hallo!?" sapa seseorang yang terdengar seperti anak kecil. Zhu'er berbalik ke belakang melihat siapa anak kecil yang juga tersesat didalam hutan kematian. Sosok anak kecil itu ternyata lebih lebih kecil dari perkiraannya. Dan melihatnya mengingatkannya pada seseorang.


"Apa kau mencari teman temanmu?" tanya anak itu lagi.


Sekali lagi Zhu'er mengangguk. Meskipun yang dicarinya bukan teman teman, tapi lebih tepatnya Yohan.


"Ayo!? Aku akan mengantarmu bertemu mereka!?" ajak anak itu memperlihatkan senyum polosnya. Dia mengulurkan tangan kecilnya yang memperlihatkan banyak sayatan.


Zhu'er melirik tangan kecil dan senyuman polos itu. Tanpa ragu dia meraih tangan kecil itu. Terasa kulit dingin yang sama dinginnya dengan tangannya. Menggenggam tangan itu memasuki kabut yang lebih tebal.

__ADS_1


...***...


Di siai lain, Yohan sedang panik karena ia telah membunuh seseorang didalam kabut. Padahal ia berusaha untuk menjadi anak baik, tapi masa iya anak baik harus membunuh. Itu namanya anak jahat. Setelah bertemu ilusi lain setelah Jiafen, entah kenapa rasanya ia jadi gila sesaat. "Bagaimana ya, apa aku akan dihukum karena telah membunuh peserta lain? Eh, tapi sebelumnya aku juga pernah membunuh peserta lain. Tapi yang ini sedikit spesial, jadi mungkin mereka akan balas dendam padaku, kan? Tidak tidak tidak, aku akan selamat selama menutup mulut dan…" pria itu terus bergumam sesuatu yang tidak jelas. Jelas sekali kalau saat ini ia panik bukan main. Tolong jangan lupa kalau pria satu ini sering panik pada situasi tidak tentu.


"Ukh…" rintih seseorang dibawah Yohan.


Ia langsung melirik ke bawah melihat seseorang yang dibunuhnya ternyata belum meninggal. Seketika ia berjongkok ke bawah dengan raut setengah senang. Mungkin sebagian dari keinginannya menginginkan orang itu mati, "Yang Mulia, apa anda baik baik saja?" tanya Yohan.


Yang mulia yang dimaksud ialah Qi Tianwen. Pria itu saat ini terluka parah karena pria gila didepannya sekarang, "K kau!? Jangan mendekat!?" teriaknya langsung berkesiap mundur meskipun lukanya cukup parah. Dia masih mengingat jelas kalau pria didepannya ini tertawa saat menghajar dirinya. "Pergi dasar pria gila!?" teriaknya lagi.


"Tapi…" Yohan melirik luka yang ia buat diperut Qi Tianwen, sayang sekali ia tidak menebasnya lebih dalam. "Bukankah Yang Mulia terluka?Aku akan mengobatimu. Jadi, kemarilah!?" tawaran baik yang malah terdengar seperti perintah.


Mendengar itu membuat Qi Tianwen membeku, apalagi saat bertatapan dengan mata merah yang menyala di tempat seperti ini. Semakin membuat sekujur tubuh nya merasakan takut. Saat Yohan merangkak mendekatinya sontak dia berdiri dengan darah menetes dari perutnya. Dia berlari dengan tertatih tatih menjauhi Yohan gang menatapnya heran.


Padahal ia berbaksud baik menolongnya. "Dengan luka seperti itu dia akan kehabisan darah, kan? Cincin penyimpanannya juga tertinggal disini. Tapi aku sudah menawarinya untuk diobati, jadi… aku baik kan? Kalau dia mati, itu bukan salahku. Itu salahnya sendiri yang lari." ujarnya terlihat senang. "Untuk jaga jaga aku akan mengambil cincin ini dan mengembalikannya." ia mengambil cincin yang masih terpasang di jari. Benar, jari tangan yang sempat Yohan potong karena melihat Qi Tianwen berusaha mengeluarkan sesuatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2