Crazy Villain (revisi)

Crazy Villain (revisi)
Bab 7. Api sejati


__ADS_3

Seorang guru datang dengan membawa sebuah bola kristal dengan penyanggahnya. Seketika semua fokus tertuju pada Guru Wu, yaitu Wu Meng. Matanya melihat Yohan dengan sinis, tampaknya kabar itu juga sudah tersebar di kalangan para guru. 'Dasar, jika memiliki masalah dengan keluarga Jiang, kenapa masih disini? merepotkan saja.'


"Hari ini aku akan menjelaskan tentang elemen. Setiap manusia disini memiliki elemen mereka masing masing. Elemen terbagi menjadi tiga jenis.


Pertama, elemen umum terdiri dari air, api, angin, dan tanah. keempat elemen ini bisa naik tingkat jika melewati ranah immortal. Air menjadi es, api menjadi petir, angin menjadi gravitasi, tanah menjadi besi atau kristal.


Kedua, elemen langka terdiri dari tanaman dan pemanggil. Elemen tanaman bisa mengendalikan tanaman, elemen ini juga bisa mengendalikan dua elemen lain yaitu air dan tanah. Sedangkan elemen pemanggil adalah elemen yang bisa memanggil monster. Elemen pemanggil bahkan bisa memanggil iblis di dunia bawah jika kultivasi mereka mencukupi.


Ketiga, elemen legendaris. Hanya terdiri dari dua elemen, yaitu cahaya dan kegelapan. Untuk kedua elemen ini masih ada banyak rahasia didalamnya sehingga tidak banyak orang yang mengetahui apa kekuatan sebenarnya dari kedua elemen. Tapi beberapa ratus tahun yang lalu ada seorang pemuda dengan elemen kegelapan. Dia membuat kekacauan di kekaisaran Tang, membantai beberapa sekte, membunuh ribuan pasukan prajurit bahkan membantai seluruh kota. Kejahatannya tidak hanya sampai di situ, ia juga meminum darah setiap musuh dan menyerap semua energi kehidupan mereka. Karena perbuatannya itu dia dipanggil penjahat gila.


Sekarang aku akan mengetes and elemen apa yang kalian miliki. Di mulai dari yang paling depan, Qin Qiu!? Maju ke depan!?" Panggil Wu Meng setelah menjelaskan materi tentang elemen.


Tampak senyum senang diwajah gadis itu. Sebenarnya dia sudah tahu apa elemennya, tapi dia ingin membuat Yohan takjub dengan elemennya ini.


Qin Qiu berjalan sedikit berlari menuju ke depan. Dia berdiri menghadap semua orang dan membelakangi bola kristal. Sesekali dia juga melirik Yohan yang memperhatikannya. Dengan senyum percaya diri diwajahnya ia meletakkan kedua tangan di atas bola. Seketika bola itu mulai hercahaya terang. Dan tanaman rambat berwana hijau penuh bungapun keluar dari bola kristal disertari cahaya hijau, biru dan coklat.


"Qin Qiu, elemen tanaman!?" Ujar Wu Meng sembari mencatat di buku.


Setelah itu semua orang di kelas terkagum kagum dengan Qin Qiu yang mendapatkan elemen langka. Tapi yang paling Qin Qiu lihat adalah wajah kagum Yohan. Dia melirik Yohan untuk melihat teaksi seperti apa yang akan di tunjukkan.


Terlihat wajah datar dan biasa saja melihat elemen Qin Qiu. Itu sangat jelas membuatnya jengkel. Alhasil gadis itu kembali dengan bibir yang di kerucutkan.


Beberapa waktu berselang semua murid telah di identifikasi semua elemen mereka. Hanya Yohan yang belum memeriksa elemennya. "Baik, karena semua sudah_"


"Gu guru, aku belum mengidentifikasi elemenku." ujar Yohan sembari mengangkat tangan kanannya.


"Memangnya seseorang yang kurus kering sepertimu memiliki elemen?" ujar Wu Meng. Sontak seluruh kelas tertawa.


Hal itu tentu saja membuat Yohan malu ditertawakan seluruh murid. Tapi memangnya salah jika ia ingin mengatahui elemennya?


"Hi hi hi hi hi, orang lemah sepertinya kenapa mau mempermalukan diri?"


"Guru Wu benar, memangnya dia memiliki elemen? Setiap hari hanya 'uhuk uhuk' ha ha ha ha…"


"Sudah sudah!? Kau!? Cepatlah maju kedepan jika ingin mengidentifikasi elemenmu!? Jangan membuang buang waktuku!?" ujar Wu Meng.


Segera Yohan maju ke depan dengan semua orang melihatnya. Ia mulai meletakkan tangan diatas bola kristal.


...1...


...2...


...3...


Satu jam kemudian…


"Astagaaaa kapan elemennya akan muncul?"

__ADS_1


"Lama lama aku bisa berjamur menunggu elemennya keluar." Mereka mulai protes karena Yohan lama sekali memunculkan elemennya. Bahkan sebagian dari mereka ada yang tidur.


Yohan juga mulai terlihat cemas, apa mungkin dirinya tidak memiliki elemen? Tapi tidak mungkin, kan? Tiba tiba jantungnya merasa panas. Entah apa yang terjadi tapi jantung Yohan berdetak sangat kencang yang membuatnya terlihat pucat.


"Jika kau tidak memiliki elemen, maka pulang saja ke rumahmu!? Jangan menyia nyiakan membuat yang lain menunggu." Ujar Wu Meng .


"Ah, tolong tunggu sebentar lagi!? Pasti akan ada sesuatu yang muncul." Jawab jawab Yohan gelisah. Dia tetap meyakinkan dirinya kalau ia memiliki elemen sama seperti orang orang.


"AAH, sudahlah!? pria loyo yang berwajah cantik sepertimu lebih baik melayani di rumah bordil."


"Betul sekali, pasti akan langsung laris!? ha ha ha ha…"


"Sepertinya kau tidak berbakat sebagai kultivator!? ha ha ha ha ha ha ha…" Mereka mulai menertawakan Yohan yang belum juga mengeluarkan jenis elemennya. Sebab, jika seseorang masih belum mengeluarkan jenis apa elemen meraka maka sudah pasti mereka hanya orang biasa.


Seorang anak maku kedepan dengan wajah songongnya. Dia menunjuk Yohan tepat ke wajahnya, "Lebih baik kau keluar dari akademi ini baj*ngan!?"


Mendengar ejekan itu seketika membuat hatinya panas.


BLARR


"Hwaaa!?" anak itu mundur sambil terjatuh saking kagetnya.


Tiba tiba muncul api yang sangat besar membuat seisi kelas kaget. Itu adalah api terbesar yang mereka lihat. Terlihat senyum senang diwajah Yohan melihat api yang muncul.


Warna api berwarna seperti biasanya serta cahaya bola kristal yang sama dengan api.


"Liu Yohan, elemen ap_"


Begitu pula dengan bola kristal memancarkan cahaya merah, tidak sampai disitu warna api berubah lagi menjadi biru. Dan perlahan berubah menjadi emas bercahaya.


Sebelumnya mereka tak pernah melihat api yang dapat berubah rubah seperti pelangi.


Krak!?


Tapi kemudian bola kristal mulai retak sedikit demi sedikit.


PRANG!?


Seisi kelas kaget bukan main ketika bola kristal yang mendeteksi elemen Yohan pecah. Mereka masih melongo tanpa berkedip melihat pecahan bola kristal.


"I itu hanya api biasa kan? Kenapa sampai bisa membuat bola kristal pecah? Apakah bola kristalnya rusak?"


"Kau benar, pasti bola kristalnya yang rusak." Mereka benar benar tak percaya kalau api Yohan bisa menghancurkan bola kristal.


"Dia pasti sengaja tuh memecahkan bola kristal."


"Iya, dia pasti hanya mencari perhatian saja untuk terkenal."

__ADS_1


"Benar benar, ada ya orang yang seperti itu?"


Beberapa orang mulai berbisik hal hal yang membuat mereka tak suka. Yohan benar benar tak bisa berbuat apa apa, padahal itu alami karena bola kristal tiba tiba hancur.


Tiba tiba juga seorang pemuda datang yang membuat kedua pria itu hampir bertabrakan. Pemuda itu melihat tajam Yohan yang ada di depannya. Tapi kemudian ia melewati Yohan dan menghampiri Wu Meng. "Namaku Wen Shin. Aku telat karena beberapa alasan dan kepala akademi sudah mengetahuinya." ujar pemuda itu.


"Oh, jadi kau murid yang telat masuk itu? Kebetulan hari ini sedang dilakukan tes elemen. Tapi…" Wu Meng melihat pecahan bola kristal di lantai dan kemudian melirik Yohan yang masih ada di tempatnya. Terlihat jelas tatapan sinis pada pemuda itu.


Yohan merasa tidak enak telah menghancurkan bola kristal. Dia melihat ke arah ketika seluruh kelas melihatnya.


"Tidak apa apa, aku sudah tahu elemenku. Wen Shin, elemen air." ujarnya sembari memperlihatkan gumpalan air ditangannya. Dan, seketika dia mendapat ketakjuban semua orang disini. Itu karena hampir semua murid baru tidak bisa menggunakan elemen mereka. Kultivasi saja baru mereka jalani, apalagi mempelajari kekuatan elemen yang Shin lakukan.


Seketika mereka berbisik dan memuji pemuda itu. Terutama murid perempuan, yang berbisik memuji dengan pipi merona. Dasar betina.


"Baiklah, kau boleh duduk!?" ujar Wu Meng.


Shin berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Dan yang kosong ada di paling belakang.


Yohan juga akan kembali ke tempat duduknya, tapi Wu Meng menghentikannya.


"Ingin kemana kau? Pergi tanpa tanggung jawab? Astaga, sifatmu benar benar buruk. Bereskan semua kekacauan yang kau timbulkan!?" Bentak Wu Meng yang kemudian pergi meninggalkan kelas. Beberapa orang menertawakan Yohan yang membersihkan kepingan kaca bola kristal sendirian.


Tapi Qin Qiu datang dengan senyuman dan membantu Yohan membersihkan pecahan tersebut.


"Kenapa kau selalu membantuku?" tanya Yohan.


"Tentu saja karena kita teman. Memangnya ada alasan lain?" ujar Qin Qiu menatap Yohan. "Ini, sudah selesai. Apa kau ingin diantar ke tempat sampah?" tanya Qin Qiu ramah.


Yohan melihatnya datar, "Ya." jawabnya singkat. Qin Qiu sudah tahu kalau pria ini buta arah. Dan Yohan juga sadar kalau dirinya membutuhkan teman seperti Qin Qiu walaupun dihatinya merasa ada yang mengganjal.


...**...


Yohan ingin membuang pecahan bola kristal ditangannya ke tempat sampah. Akan tetapi dari kejauhan dirinya melihat tiga orang yang mendatanginya pagi ini. Yohan kemudian melirik pecahan ditangannya. Bukannya membuang pecahan tersebut ia malah menyimpannya di cincin penyimpanan kecil yang diberikan Akademi untuk setiap murid.


Dirinya berbalik menuju Qin Qiu yang sudah menunggunya. "Sudah?" tanya Qin Qiu.


"Ya." jawabnya singkat.


"Oh iya, apa kau sudah dengar rumor yang menyebar tentang dirimu di seluruh akademi?" tanya Qin Qiu khawatir.


"Apa itu tentang aku yang sudah membunuh Jiang Feng?" tanya Yohan balik.


"Ya, entah darimana rumor itu muncul, tapi apa benar kau membunuh Jiang Feng? Aku hanya ingin memastikan agar tidak salah paham. Aku khawatir apa yang mereka katakan benar adanya. Tapi kau jangan khawatir, aku akan selalu berada dipihakmu." ujar Qin Qiu.


Yohan menatap manik perempuan itu dalam, lalu tersenyum tipis, "Kau baik sekali Qin Qiu, aku rasa di akademi ini hanya kau yang baik padaku. Aku tidak tahu jika tidak ada dirimu, pasti aku akan sendirian." ujar Yohan kembali menatap ke depan dengan pandangan sedih.


Qin Qiu tersenyum tipis mendapat jawaban Yohan yang akhirnya berbeda, "Jangan dipikirkan, aku akan selalu berpihak padamu apapun yang terjadi." ujarnya ramah, namun disaat tidak ada yang melihat senyumnya terasa sedikit licik.

__ADS_1


"Terima kasih, Qin Qiu!?" ujar Yohan sembari memperlihatkan senyum manisnya. Seketika itu membuat Qin Qiu tersipu, dia memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Yohan. Tapi ketika Yohan kembali menatap kedepan, senyumnya pudar dengan cepat. Dan sekarang malah memperlihatkan ekspresi dingin. 'Omong kosong!?'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2