
Setelah kebakaran kediaman Jiang berakhir, kekaisaran Qi dan enam keluarga besar lainnya dibuat terkejut. Meskipun keluarga Jiang adalah keluarga terlemah di antara tujuah keluarga besar, tapi mereka masihlah salah satu dari pilar kekaisaran. Karena itu mereka mengadakan rapat besar di ibu kota untuk mendiskusikan masalah serius tersebut. Maka dari itu, keenam kepala keluarga yang tersisa diperintahkan oleh kaisar Qi untuk menuju ibu kota.
"Mereka sepertinya sangat panik saat salah satu pilar kekuatan mereka hancur. Jika kita ketahuan yang membuat keluarga Jiang hancur, apa jadinya, ya?" ujar Yohan sembari melihat keluar jendela. Ia melihat suasana orang orang yang sibuk seperti biasanya melalui jendela kamar penginapan. Tidak hanya itu, dia juga memperhatika kuda kuda yang ditumpaki beberapa orang penting. Sekarang mereka berada di kota Luoyang. Kota keluarga Xie berada. Salah satu keluarga besar. Dan orang orang penting yang dilihat Yohan adalah beberapa orang keluarga Xie yang akan menuju ibu kota.
"Pastinya kita akan menjadi penjahat kekaisaran, mereka akan berlomba lomba untuk memenggal kepala kita. Menunjukkannya kepada kaisar, dan membanggakannya." balas Shin yang ikut melihat keluar jendela. "Jadi, kau masih tidak ingin mengatakan siapa dirimu?" tanya Shin kini melihat Yohan.
"Aku pikir kau sudah melupakan pertanyaan itu. Kau juga, tidak memberitahukan siapa dirimu, bukan?" tanya Yohan balik.
Memang benar, Shin juga menyembunyikan identitas aslinya. Dia tidak memberitahukannya pada Yohan, dan Yoban juga tidak memberitahukan identitas aslinya pada Shin. Jadi, keduanya impas bukan? Bagi Shin, memberitahukan identitas aslinya itu merugikan. Karena sama saja mengungkapkan rahasia besarnya. Berbeda dengan Yohan, yang fleksibel dengan keputusan dan situasi apapun. Ia tidak masalah identitasnya terungkap, karena ia yakin pria didepannya ini sangatlah berhati hati dan bisa diajak kerja sama.
"Jika aku mengungkap identitasku, apa kau juga akan mengungkap identitasmu?" tanya Shin.
"Tentu saja," jawabnya.
Shin menarik nafas panjang, dia akan mulai bercerita tentang dirinya. "Aku akan membuatnya singkat. Jadi dengarkan baik baik karena aku tidak suka mengulangnya." ujarnya pertama tama.
Flashback
Buk buk buk
"Ha ha ha ha ha ha ha pukul dia sampai mati!? Tendang dia!? Jangan pukul terus!?" teriak seorang anak berusia dua belas tahun. Anak itu betnama Wei Yin, anak ke delapan keluarga Wei. Dia menyuruh para pelayan yang berbadan besar memukul juga menendang seorang anak yang berusia delapan tahun. Dan anak yang dipukuli itu adalah Shin kecil. "Cukup!?" ujar anak itu. "Jika terus memukul dan menendangnya setiap hari, permainan ini jadi membosankan. Apalagi sampah ini sama sekali tidak melawan, cuih!?" dia meludah ke atas kepala anak itu yang sedang meringkuk kesakitan.
Duak!?
"Jangan pura pura sakit, sampah!? Aku tahu kau hanya pura pura!? Bangun!?" Bentaknya.
Anak itu memaksakan dirinya untuk bangun. Dia merasa tulang rusuk ke tujuhnya retak.
Terlihat senyum miring di wajah Wei Yin. "Ikat dia dipohon!?" perintahnya pada para pelayan. Tanpa tenaga Shin kecil hanya menurut dirinya diikat. "Bagus, sekarang taruh apel di kepalanya!?" mereka menaruh apel merah di atas kepala Shin.
Wei Yin juga menyuruh pelayan mengambil busur juga panah. Setelah busur dan panah ada, dia mulai membidik apel di atas kepala Shin. Namun, bukannya membidik apel, dia malah menurunkan arahannya ke bawah menuju ke kepala Shin.
Jleb
Shin sama sekali tak berkedip ketika sebuah anak panah hampir mengenai kepalanya dan hanya merobek sedikit telinganya. Namun itu tetap saja rasanya sakit. Tapi meskipun begitu dia tidak berteriak sama sekali. Dia menahan semua penghinaan ini.
"Ck, tidak kena!? Coba sekali lagi, mungkin saja aku mengenai kepalanya." ujarnya tanpa rasa bersalah.
Ketika Wei Yin akan memanah Shin, tiba tiba busur dan panahnya ditarik seseorang. "Sialan!? Siapa yang_"
"Dasar anak nakal!? Berani sekali kau jahat pada anakku!? Kemari kau!? Biar ku bawa kau pada ibumu!?" Bentak seorang wanita sembari menjewer kencang telinga Wei Yin.
"Aah aahh sakit!? Lepas!? Lepaskan aku dasar jal*ng!?" bentak balik Wei Yin.
"Oh, astaga!? Kau berani memakaki jal*ng dasar bed*bah kecil!? Aku akan benar benar menghukummu!?" Bentak wanita itu semakin kencang menjewer Wei Yin.
__ADS_1
"Aah aah pelayan!? Tangkap perempuan gila ini!?" perintah Wei Yin.
Saat kedua pelayan itu ingin menangkap wanita itu, "Apa? Kalian berani padaku, hah? Kemari!? Aku juga akan memberi kalian pelajaran karena telah memukul anakku!?" Teriak wanita menggila dan memukul para pelayan yang memukul Shin sebelumnya.
Terjadi keributan hanya dengan satu orang wanita yang mengamuk anaknya diganggu. Shin yang melihat ibunya mengamuk menghajar mereka bertiga hanya menatapnya datar.
Beberapa menit kemudian
"Mmhp mmhf ffhmm!?" Teriak tanpa suara Wei Yin. Sekarang dia terikat di pohon bersama dua orang pelayannya. Mulut mereka diaumpak kain agar tidak berisik.
"Rasakan itu!? Sekarang kau harus merasakan apa yang Shin'er rasakan!?" wanita itu menarik busurnya tinggi tinggi. Sedangkan Wei Yin sudah gemetar ketakutan.
Jleb
"Mmmmhf!?" teriak Wei Yin kencang.
"Astaga diamlah!? Bibi tidak membidik kepalamu, bibi hanya membidik apel di atas kepalamu!?" ujar wanita itu dengan senyum menawannya.
Wei Yin melirik ke atas kepalanya yang mana apel di atas kepalanya berhasil di bidik. Terasa air hangat di bawah celananya. Ternyata dia terkencing di celana.
"Haizz, bibibpikir kau cukup dewasa untuk tidak.kencing di celanamu!? Tapi ternyata anak anak masihlah anak anak." ujar wanita itu lagi. Wen Rudao, adalah seorang wanita bar bar yang cantik. Juga ibu dari Shin. Seorang wanita yang terus melawan kejamnya dunia yang sama sekali tidak pernah ramah padanya. "Sudahlah, Rui, lepas ikatan mereka. Ayo Shin'er, kita pergi." ajaknya sembari menggenggam tangan kecil Shin.
Mereka pergi pulang melewati taman bunga. Saat melewati beberapa bunga, Wen Rudao melihat beberapa bunga cantik. "Waah, lihat itu Shin'er!? Bunganya sangat cantik, ayo kita membuat mahkota bunga dulu sebelum pulang!?" ajaknya menarik Shin memasuki taman. Taman yang mereka masuki adalah taman yang tidak terurus, namun taman itu masih terlihat indah meskipun tidak ada yang mengurus.
Wen Rudao membuat sebuah mahkota bunga untuk dirinya sendiri dan juga untuk Shin. "Hi hi hi, jika seperti ini kau jadi seperti anak perempuan." ujarnya tertawa kecil melihat Shin memakai mahkota bunga buatannya. Lalu dia memakaikan mahkota bunga lainnya ke atas kepalanya sendiri. Seketika angin sepoi sepoi berhembus menerbangkan rambut panjang yang terurai. "Bagaimana? Apa ibu cantik?" tanya Wen Rudao dengan senyum mempesonanya yang cantik.
Respon Shin terlalu datar untu anak seusianya. Tapi wanita itu memakluminya mengapa Shin seperti itu. Lagi pula ini salahnya, yang tergoda dengan laki laki brengsek. Tapi meskipun begitu, dia tidak membenci Shin. Justru yang membuatnya bertahan adalah Shin. "Sepertinya hari semakin gelap, ayo kita pulang!?" ujar Wen Rudao.
Wanita itu kembali menggenggam tangan Shin. Tiba tiba sebuah pertanyaan munvul dari Shin, "Kenapa kau berjuang begitu keras?" tanya Shin tidak mengerti. Yang dia perhatika, ibunya sangat galak dan jahat pada semua orang, tapi tidak dengan dirinya. Wanita itu hanya baik padanya saja.
"Supaya ibu bisa melindungimu. Karena itu, ibu harus berjuang lebih keras dari siapapun disini."
Mata besar Shin membulatkan matanya mendengar jawaban Wen Rudao. "Bagaimana jika mereka berusaha membunuh ibu? Apa ibu masih akan berjuang?" tanya Shin lagi. Dia berharap jawaban yang lain, tapi…
Wen Rudao melihat Shin, lalu tersenyum sangat cantik, "Tentu saja. Apapun akan ibu lakukan untukmu!?" ujarnya yang entah mengapa membuat hati Shin sakit.
...***...
"Bunuh dia!? Bunuh penganut ilmu sesat itu!?"
"Jangan biarkan bocah setan itu hidup!?"
"Gara gara dia aku terkena kutukan!?"
"Aku juga terkena kutukan dari bocah itu!?"
__ADS_1
Di tempat hukuman terikat Shin di tengah altar. Dia tidak tahu bagaimana mereka bisa menyimpulkan kalau dirinya mempelajari ilmu sesat dari aliran hitam. Di keluarga Wei, tidak diperbolehkan untuk mempelajari ilmu dari aliran hitam. Itu adalah peraturan paling dasar dalam keluarga.
"Tidak!? Shin'er tidak mungkin mempelajari ilmu hitam!?" sangkal Wen Rudao berlari ke tengah tengah altar.
"Jika bukan anakmu lalu siapa lagi?" bentak Istri ketiga dari kepala keluarga Wei.
"Mungkin saja anakmu!?" balas Wen Rudao ketus.
"Apa?!" wanita itu terlihat marah ketika anaknya dituduh balik. Tapi kemarahannya ditahan oleh Wei Yanji, kepala keluarga Wei saat ini. "Ah, t tuanku!?" ujarnya lembut dengan malu malu.
Wei Yanji melihat Wen Rudao berusaha melindungi Shin. "Apa yang kau lakukan? Melindungi anakmu yang jelas jelas melanggar peraturan keluarga? Jika kau ingin mati silahkan, tapi jangan salahkan aku nantinya." ujar Wei Yanji.
Seberapa banyakpun orang orang berkata buruk tentang Shin, Wen Rudao tetap percaya anaknya tidak akan melakukan itu. ketika panah mulai diangkat dan diarahkan pada Shin, wanita itu segera berlari menuju Shin dan memeluknya untuk melindunginya. 7
"Apa yang ibu lakukan? Menyingkirlah!? Jika tidak,"
8eeed
"Sssttt , apapun yang terjadi, kau harus tetap hidup!? Apa kau mengerti?"
Lama Shin menjawab.
Jleb
Sebuah panah menancap di tubuh Wen Rudao. Dan dibarengi dengan itu dia muntah darah. "Bertahanlah, ibu pasti akan melindungimu. Meskipun kau benar benar mempelajari kultivasi iblis, ibu akan tetao melindungimu." ujarnya yang semakin membuat Shin sedih.
Sekarang
Shin menjelaskan secara singkat sebagian masa lalunya. Sampai sekarang, dirinya masih mengingat peristiwa itu. Tidak akan pernah dia lupakan kejadian disaat mereka membunuh ibunya. "Sekarang, bagaimana denganmu?" tanya Shin. Dia menuntut rahasia pria itu. Karena tidak adil jika hanya dirinya yang bercerita tentang masa lalunya.
"Tidak ada yang menarik dariku. Aku tidak begitu mengingat diriku, karena sebagian besar ingatanku hilang. Lalu aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang kehilangan anaknya, jadi aku membuat kesepakatan dengannya. Karena aku memerlukan sebuah identitas."
Shin berpikir, mungkin saja pria ini berbahaya, "Lalu bagaimana kau memiliki teknik penghisap darah dan roh?" tanya Shin.
"Itu juga aku tidak tahu. Saat membunuh musuh secara spontan aku meminum darah mereka." jawabnya.
"Kalau begitu, apa tujuanmu ingin bekerja sama denganku?" tanya Shin.
"Aku ingin kau membantuku mendapatkan ingatanku kembali. Setelah aku mendapatkan ingatanku, aku akan membantumu apapun itu. Apa kau setuju?" tawar Yohan. Interaksi mereka jadi berubah seperti simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain.
Terlihat senyum miring di wajah Shin, "Itu menarik. Kalau begitu_"
"W waaa!?"
Bruk!?
__ADS_1
Seketika perhatian mereka beralih ke arah pintu. Terlihat tiga orang yang jatuh bersamaan ke lantai karena diam diam menguping.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...