
Yohan bergegas turun ke bawah ingin menyambut kedatangan mereka. Akan tetapi sebelum dirinya turun Zhu'er mencegatnya. "Apa?" tanyanya heran.
"Aku. Ikut." ujarnya.
"……, Baiklah," ia pikir wanita ini akan mencegahnya turun ke bawah. Zhu'er berjalan ke arah yang berlawanan dengan Yohan. "Kenapa ke sana? Bukannya tangga turun ke arah sini?" tanyanya bingung.
"Bukan. Itu. Toilet."
Sontak Yohan langsung bungkam. Hampir saja ia salah jalan. Tanpa banyak bicara lagi ia ikut dibelakang Zhu'er. Meskipun dia aneh dan gila, tapi masalah navigasi dia'lah ahlinya.
Duass
"Aahh!?"
"Kyaa!?"
Teriakan orang orang yang ketakutan menghadapi bahaya membuat suasana menjadi tambah berisik dan kacau.
Slash
Hanya sekali tebas orang orang itu terbunuh. "Bawakan saja 'Ming Jiazhen' kemari!? Kalian membuat semuanya tambah rumit dengan berteriak." ujar Lang Tian sembari berdecak sebal.
Slash
Tiba tiba saja sebuah tebasan datang hampir membelah tubuhnya. Untung saja Lang Tian segera menghindar dari tebasan yang entah siapa yang melakukannya. "Siapa baj*ngan yang berani menyerangku?" tanyanya marah.
"Aku!?" jawab seseorang datang dengan mem awa sebuah pedang , berwana hitam putih. "Apa ada masalah?" tanya Yohan denngan senyum percaya diri di wajahnya.
"Hm? Tunggu sebentar!?" Lang Tian mengeluarkan sebuah kerta yang bergambarkan wajah seseorang. Gambar pada kertas kuning itu terlihat mirip dengan wajah pria di depannya. "Heh, jadi kau yang bernama Ming Jiazhen?! Kau lebih muda dari yang ada digambar. Aku akan langsung ke intinya, ikutlah bersama kami jika kau tidak ingin mati!?" ancam Llang Tian. Tentu saja dia hanya mengancam.
Bai Zuan terkejut melihat Zhu'er yang ada dibelakang Yohan. Dia merasa pernah melihat wanita berambut putih tersebut. Tapi sayangnya ingatannya sangat buruk sehingga tidak bisa mengingat dengan jelas.
"Ikut dengan mu? Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanya Yohan sembari memainkan pedangnya.
"Karena kami akan memberitahukan semua yang ingin kau ketahui." ujar Lang Tian dengan iming iming informasi. Tapi rasanya dia sedikit tertekan mendapat tatapan dari pria didepannya. Dirinya berada di ranah Yuzhou tingkat kedua. Bagaimana bisa dia tertekan dengan seorang pria yang baru mencapai ranah Bigu.
Yohan menatap kedua orang yang ada dihadapannya. Disaat saat seperti ini akan ada suara suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya seorang. Suara suara itu selalu mengatakan hal yang sama setiap waktu.
"Bunuh mereka!? Bunuh semuanya!?"
"Jangan ada yang terlewat!?"
"Jangan beri ampun!?" Yohan tiba tiba tersenyum, "Baiklah…" gumamnya pelan.
Mendengar jawaban pelan itu Lang Tian menganggap pria itu sudah mengerti dengan baik, "Jika kau sudah mengerti maka_"
Trang!?
__ADS_1
Sontak sebuah pedang hitam putih menyerangnya dengan cepat. Beruntung refleksnya bagus. "Kukira kau sudah mengerti?" ujarnya sedikit geram.
"Baiklah, aku akan membunuhmu!?" ujarnya dengan senyum lebar.
''Berhati hatilah dengannya, karena dia sedikit gila. Meskipun dia gila, dia masih menggunakan otaknya." ternyata kata kata Tuan Lao benar, dia benar benar sudah gila.' pikirnya teringat dengan peringatan Lao Yan.
Yohan menggunakan tebasan atas untuk menyerang Tian Ming. Pedang Yu Chang memiliki ilmu pedangnya sendiri. Dan ilmu pedang itu bernama 'Seni Naga Kembar' . Dalam tingkatannya ada 7 jurus dalam seni naga kembar. Untuk menguasai ilmu pedang ini, pemilik pedang harus menguasai hal yang paling dasar. Yaitu pernapasan naga. Ketika sudah menguasai pernapasan naga, maka mempelajari seni naga kembar akan menjadi lebih mudah.
Jurus pertama yang akan digunakan adalah seni pertama…
...1st...
...'The dragon of darkness Zhan'...
Yohan mengayunkan pedangnya membuat tebasan besar seperti tebasan pedang seukuran gunung besar. Pada jurus pertama yang digunakan hanya tebasan. Tidak ada tusukan atau pertahanan. Untuk menguasai jurus ini hanya satu, berlatih mengayunkan pedang untuk menebas. Setidaknya diperlukan sepuluh milliar kali tebasan untuk menguasai jurus ini. Dan dua ratus tahun untuk menyempurnakannya. Karena itu Yohan melatih jurus pedangnya hanya didalam dimensi pedang. Karena didalam sana waktu akan berjalan tiga kali jauh lebih cepat.
Lang Tian menahan serangan yang begitu kuat ini. Dia merasa seperti menahan beratnya gunung daripada beratnya pedang. Ditambahblagi dibawahnya terdapat bayang bayang hitam berupa tangan yang menarik tubuhnya kebawah. 'Sialan!? Apalagi ini? Tuan Lao bilang dia belum sepenuhnya bangkit? Lalu kenapa kekuatannya bisa sekuat ini?' pikirnya kalut. "HHIAAGGH!?" Lang Tian menghempaskan serangan Yohan dengan susah payah. 'Apanya yang lemah? Bukannya dia terlalu kuat untuk dibilang lemah?' pikirnya.
"Kenapa kau bengong begitu?" ujarnya Yohan tiba tiba berada di belakang Lang Tian.
Slash
Dalam tebasan yang cepat ia menebas kepala Lang Tian.
"Sial!?" gerutu Bai Zuan. Dia melirik Zhu'er yang masih menatap Yohan. 'Ini kesempatanku untuk kabur!?' pikirnya. Dia segera berbalik kabur menuju pintu keluar. Lari selagi mereka lengah.
Bruk
"Ugh, apaan…" Bai Zuan melihat kakinya yang ditarik aura merah berbentuk tangan besar bercakar tajam. Tanyan itu berasal dari Zhu'er, yang masih memperhatikan Yohan. 'T tunggu, sekarang aku ingat. Wanita ini adalah wanita yang bebakan hewan buruannya mentah mentah waktu itu. Guang Yu bilang untuk tidak berurusan dengannya. Tapi sekarang… ukh sialan!?'
Ketika Bai Zuan sudah berada di dekatnya, Zhu'er melirik Bai Zuan. Dia menyeringai licik. Tangannya terangkat ke atas dan terbentuk aura merah yang berbentuk tangan besar bercakar tajam. Hanya dalam sekali cakar tubuh pria itu terkoyak beberapa bagian. Dengan begini sudah selesai.
Yohan berpikir setelah melihat Zhu'er membunuh lawannya dengan begitu mudah. Ia harus berlatih lebih keras lagi untuk menyaingi wanita itu. '1st The dragon of darkness Zhan, yang kupelajari masih belum sempurna. Butuh banyak latihan neraka didalam dimensi pedang. Untuk saat ini aku hanya bisa menguasainya sampai tingkat gunung.' pikirnya. Dalam setiap teknik berpedang naga kembar ada tiga tingkatan untuk mengusai secara sempurna. Pertama tingkatan gunung, kedua ombak, dan yang terakhir catastrophe.
...***...
Dimensi pedang, pedang Yu Chang.
Yohan memasuki dimensi pedang. Dia melihat kedua orang yang sedang tidur di atas dua daun besar. "Aku datang untuk berlatih lagi!?" ujar Yohan. Tapi kedua orang itu masih lelap dalam tidurnya. "Ayo bangun!? Dan ajari aku lagi!?" ujarnya sedikit bernada tinggi agar kedua naga malas itu bangun. "Hei!?" panggilnya masih tidak dihiraukan. Oke, sekarang dia mulai kesal. Ia tahu didalam dimensi pedang ini seseorang tidak bisa merasa lapar, haus, atau mengantuk terkecuali orang itu terluka parah. Jadi hanya ada satu kesimpulan mereka bersikap seperti ini. Mereka berpura pura tidur.
DUK DUK DUK
"HHEEEIII!? CEPAT BANGUUUNN!? DAN AJARI AKU LAGIII!?" Yohan membuat suara keras yang sangat nyaring sembari menginjak injakkan kakinya ke tanah dan membuat daratan disana berguncang dengan suara yang keras.
'Ukh, kakak lebih baik kita cepat bangun agar orang gila ini tenang!?'
'Sigh, tapi aku sangat malas untuk mengajarinya. Dia datang setiap waktu tanpa absen. Apa dia tidak tahu artinya lelah?'
__ADS_1
'Meskipun begitu sudah tugas kita mengajarinya ilmu pedang, walaupun dia sangat menyebalkan dan mengancam akan menghancurkan jiwaku jika dia tidak bisa.'
'Sialan, dia benar benar psikopat, orang gila, stres!?'
Kedua naga itu berkomunikasi melalui transmisi suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saja. Tidak lama setelah itu kedua orang itu bangun dan turun dari daun besar.
"Berhentilah membuat keributan, kami sudah bangun!?" ujar Tuan muda Shen.
Tidak lama setelah itu Yohan berhenti membuat suara keras. Meluhat dua orang itu bangun langsung membuat wajahnya ceria lagi. "Kalian sudah bangun?" tanya dengan nada riang.
"Ya." jawab singkat Tuan muda Zhan.
"Sekarang kalian bisa mengajariku tingkatan selanjutnya dari 1st The dragon of darkness Zhan, bukan?" tanyanya masih membuat senyuman senang dibibirnya.
"Ya." jawab mereka bersamaan dengan malas.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan? Aku sudah menguasai tingkatan gunung, jadi selanjutnya apa?"
Tuan muda Zhan tampak sedang berpikir. Jika Yohan sudah menguasai tingkatan gunung pada jurus 1st The dragon of darkness Zhan, maka tingkatan selanjutnya adalah ombak. Bukankah ombak identik dengan air? Dia ingat kalau pria itu benci air. Sekarang dia memiliki ide bagus untuk memberinya pelajaran karena telah mengganggu istirahatnya. 'Dasar bocah bau kencur!? Aku akan memberimu pelajaran sedikit pada psikopat ini.' pikir Tuan muda Zhan sedikit mengulas senyum.
"Kau lihat samudra luas yang ada disana, kan?" tanya Tuan muda Zhan sembari menunjuk laut.
Yohan mengikuti arah yang ditunjuk Tuan muda Zhan. "Ya," jawabnya singkat.
"Tingkatan selanjutnya adalah ombak. Sebelum mencapai catastrophe kau harus melalui ombak. Jadi, mengayunlah sebanyak tiga milliar kali didalam air laut dalam tanpa keluar sekalipun. Apa kau, bisa melakukannya?" tanya Tuan muda Zhan dengan senyum liciknya.
Yohan melirik pria yang tengah tersenyum licik itu. 'Dia ingin menjebakku atau apa? Wajahnya mencurigakan.' pikir Yohan curiga. Ia melihat Tuan muda Zhan dingin. "Kupikir, latihan yang kau sebutkan tadi sedikit berlebihan. Kau sedang tidak bercanda, kan?" tanya Yohan curiga.
Melihat Tuan muda Zhan tampak gugup menjawab pertanyaan Yohan, Tuan muda Shen ingin membantu. "Tentu saaja itu latihannya. Kau tidak berpikir kaami ingin membunuhmu bukan? Kita sudah saling megikat kontrak. Jika kaami melanggar kontraknya dengan membahayakan nyawamu maka jiwa kami akan lenyap." ujar Tuan muda Shen segera membantu Tuan muda Zhan.
"Lalu, apa alasannya aku harus berlatih didalam air? Ditambah lagi untuk tidak keluar? Bagaimana caraku bernafas nanti?"
"Justru latihan ini untuk mengasah pernafasan mu saat berada di dalam air, bodoh!? Untuk mencapai tingkat ombak kau harus memahami air itu sendiri, apa kau mengerti sekarang?"
Beberapa saat kemudian Yohan pergi ke bawah untuk berlatih bernafa didalam air dan meningkatkan jurus 1st The dragon of darkness Zhan nya ke tingkat kedua.
Tuan muda Shen melirik adiknya yang masih diam. Karena biasanya Zhan banyak bicara, rasanya agak aneh tidak kalau tiba tiba jadi pendiam. "Apa kau baik baik saja?" tanya Tuan muda Shen khawatir.
"Apa kau mencium baunya?" tanya balik Tuan muda Zhan.
"Bau? Ah, maksudmu bau kematian darinya? Penciumanku tidak setajam dirimu. Jadi, kau mencium bau apa darinya?"
"Ya, aku selalu ****b******ertanya tanya kenapa dia selalu tercium seperti seseorang yang akan mati? Setiap hari baunya semakin kuat**."
"Mungkin saja itu bawaannya sejak lahir. Sudahlah, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Dia hanya orang gila yang tergila gila dengan latihan dan membuat kekacauan."
'Dan juga ada bau lain yang mulai tercium. Ada bau ras naga darinya.' pikir Tuan muda Zhan masih ada bal mengganjal hatinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...