
Delia sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi, ia dengan telaten menata sarapan itu di meja makan. Pagi ini ia membuat roti bakar dan nasi goreng sesuai permintaan Delia.
Bahkan terhitung sejak seminggu Delia sudah tinggal bersama keluarga kecil tanpa Ibu itu. Dan sejauh itupun Delia sudah bisa merasa nyaman dengan suasana baru.
Dan sejak kehadiran Delia, asisten yang bertugas untuk menyiapkan makanan di pagi hari hanya turut membantu Delia di dapur. Delia lebih senang menyantap masakan buatannya sendiri di pagi hari. Dan untuk makan siang dan malam Delia akan menyerahkan tugas itu kepada asisten yang di tugaskan.
Dika sendiri tidak masalah dengan itu, selama Delia merasa senang, apapun yang ingin ia lakukan tidak masalah. Apa lagi Misha, gadis kecil itu merasa lebih bahagia sejak kehadiran Delia, sebab apa yang ia suka, pasti akan. di kabulkan oleh Delia, selama yang ia suka itu adalah makanan.
Pas sekali, sebab yang satu suka makan yang satu suka makan.
" Sayang, sepagi ini kamu sudah di dapur? pake menyiapkan makan segala " ini Bunda yang menghampiri Delia di dapur.
Bunda sejak sore kemarin berkunjung dan memutuskan untuk menginap beberapa hari. Dan Wanita paruh baya itu juga senang dengan kehadiran Delia.
" Iya Bund, Delia memang selalu menyiapkan sarapan pagi " Ini suara Dika yang tiba-tiba datang, dan dari cara pakaiannya, seperti nya pria tampan itu habis melakukan olahraga.
" Hem,, Bunda senang deh.. kalau begini kamu sama Misha seperti ada yang urus " balas Bunda
Delia tersenyum saja, sambil mempersilahkan yang punya rumah untuk duduk dan menyantap makanan buatan nya .
" Bunda mau di ambilin apa ? Nasi goreng atau roti bakar ? " tanya Delia
" Nggak usah sayang, biar Bunda ambil sendiri, kayaknya nasi goreng kamu enak "
Bunda lalu mengambil sendiri nasi goreng buatan Delia, yang terlihat menggoda selera.
" Om Dika ? " Delia berbalik tanya pada pria tampan yang duduk di sampingnya
" Om mau roti bakar saja "
" Mau selai coklat, kacang apa nanas Om ? "
" Nanas saja Del "
__ADS_1
Delia dengan cekatan melayani Dika. Hal itu tak luput dari pandangan sang Bunda. Wanita itu malah tersenyum dan merasa terbaru dalam hati. Ah, Andai saja Dika sekarang punya istri, mungkin akan di layani seperti itu.
Bahkan secara diam-diam Bunda memiliki kekaguman tersendiri pada Delia. Gadis yang ia rasa masih kecil itu. Ternyata berpikiran lebih dewasa, sikapnya yang ramah periang dan rajin membuat Bunda jatuh cinta. Ia jadi berharap kelak Dika bisa mendapatkan jodoh seperti Delia.
" Wah, ada nasi goreng kesukaan aku "
Misha datang dan langsung bergabung di meja makan.
" Ayo sarapan dulu Dek " kata Delia, ia dengan sigap mengambil nasi goreng untuk Misha.
Kelakuan Delia ini malah menarik perhatian Dika. Sebagai Ayah dari Misha, ia tentu ingin membuat Misha merasakan bagaimana jika memiliki seorang Ibu.
Dan perlakuan Delia ke Misha itu membuat Dika tersenyum tipis. Ia sempat bertanya dalam hati, mungkin begini rasanya jika punya istri dan Ibu dari anaknya.
" Misha senang nggak ada Kakak Delia di sini ? " ini pertanyaan dari Eyang
" Senang lah Bund, bahkan Misha sering tidur sama Kakak Delia nya, sampai kadang Ayahnya di lupakan " ini Dika yang menjawab, bahkan ia berucap seolah-olah sedang sedih
" Oh yah ? "
" Masa ? Tapi kenapa akhir-akhir ini Misha udah jarang tuh minta di temani main sama Ayah " kata Dika
" Yah, mana Ayah mau di ajak main boneka " balas Misha, dan Dika hanya tertawa
Obrolan ringan di meja makan berlangsung lama, bahkan banyak canda dan tawa di sana. Terlebih Karena ucapan pujian untuk Delia sendiri membuat gadis itu bersyukur sebab merasa di terima di keluarga baru ini.
Delia bisa merasakan bahwa Keluarga Dika ini adalah keluarga yang hangat, terbukti bagaimana Dika sangat menghormati Ibu nya, dan sangat menyayangi Misha, meski anak itu hanya anak yang di adopsi. Namun yang menjadi tanda tanya besar hingga saat ini adalah, kenapa Dika tidak menikah? Dan dimana kekasih Dika ? mana mungkin kan, pria setampan dan sangat mapan itu tidak memiliki kekasih? Lalu seperti apa kekasih Om Dika nya itu ?
Akhirnya tiba masa tahun ajaran baru. Hari ini Delia akan bersekolah di tempat yang baru. Delia tidak ingin memilih sekolah sendiri, baginya apa yang menjadi rekomendasi dari Om Dika, maka itu lah yang terbaik baginya.
Pagi ini Delia bangun lebih pagi dari biasanya. Seperti hari-hari biasa, ia akan senang membuat sarapan sendiri. Meski ia akan sangat sibuk sebab harus ke sekolah, ia begitu pandai membagi waktu.
Saat ini Delia dan Misa juga Dika sedang berada dalam satu mobil. Dika akan mengantarkan kedua anak gadis beda usia itu ke sekolah. Beruntung sekolah Misha dan Delia searah, jadi tidak memakan waktu lama untuk mengantarkan anak anak gadis itu .
__ADS_1
"Misha,ingat yah jangan pulang dan jangan kemana-mana kalau Ayah atau Bunda tidak menjemput kamu, dan jangan ikut sama orang yang tidak di kenal, oke ! " nasihat Dika yang sudah beberapa tahun kemarin memenuhi isi kepala Misha
" Iya Ayah, Misha bosan mendengar nasehat Ayah yang itu itu saja, coba di ganti dengan yang baru " Misha berceloteh membuat Delia tertawa. Anak sekecil Misha ternyata sangat lucu dan menggemaskan.
" Hem,, yaudah anak gadis Ayah jangan bandel, jangan jajan sembarangan yah " Dika mencubit gemas pipi Misha dan mencium nya .
Misha lalu pamit setelah mencium punggung tangan Dika dan Delia.
Tak butuh waktu lama, Delia pun sudah sampai di sekolah barunya. Dika mengantarkan Delia masuk, sebab ia harus bertemu wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Ia juga harus memastikan bahwa Delia nyaman bersekolah di sini.
" Delia, nanti kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan hubungi Om yah "
Mereka sudah mengurus segalanya. Dan saat ini Delia sudah akan berjalan memasuki ruang kelas nya.
" Iya Om, Delia pasti akan baik-baik aja kok " kata Delia meyakinkan
" Baguslah kalau begitu, dan ini " Dika menyodorkan kartu ATM
" Untuk apa Om ? " tanya Delia bingung
" Ini. untuk jajan kamu, kamu bisa menarik uangnya di sana " Dika menunjuk mesin Ayam yang letaknya di luar gerbang sekolah
" Om nggak punya uang tunai, jadi ATM itu kamu pegang aja " lanjut Dika
" Nggak usah Om, Delia kan ada kiriman dari Om Rina tiap bulan " Delia menolak, sebab memang biaya hidupnya sudah ditanggung, usaha orang tuanya yang masih berjalan hingga sekarang, dan di kelola oleh Om Rian pasti bisa memenuhi kebutuhan nya .
" Nggak apa-apa, kamu sekarang jadi tanggung jawab Om, uang dari Om Rian kamu tabung aja yah " kata Dika langsung menaruh ATM itu di tangan Delia. Dan mau tak mau Delia pasti akan menerima nya.
" Makasih Om "
" Oke, Om Berangkat yah... kamu yang baik sekolah nya "
Delia mencium punggung tangan Om Dika, ia merasa nyaman jika menyentuh tangan Om Dika.
__ADS_1
Delia tak langsung masuk ke kelas. Ia menatap punggung Om Dika hingga menghilang dari pandangan nya . Delia tersenyum, mungkin bertemu dengan Om Dika adalah takdir baik yang di berikan oleh Tuhan untuk nya .