Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Rencana


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Hari-hari Delia sama seperti biasanya. Tanpa Ayah dan Ibu, namun hal itu lebih mendewasakan hati dan pikirannya. Dan selama beberapa bukan itu pula Delia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya.


Meski awalnya Om Rian dan Tante Nani keberatan, Delia tetap berusaha meyakinkan kedua pasangan suami istri itu bahwa ia akan bisa menjaga diri. Toh, rumah nya juga hanya bersebelahan yang hanya dibatasi dinding tembok, jadi kapan saja Delia atau Tante Nani bisa saling berkunjung. Meski yang terjadi adalah Delia hampir tiap hari makan malam di rumah Tante Nani, jadi tidak ada bedanya dimana gadis itu tinggal.


Besok Delia sudah memasuki ujian semester genap. Untuk itu, ia sangat giat belajar akhir-akhir ini. karena terlalu rajin belajar, Delia sampai lupa makan, kadang makan sore sudah di satukan dengan makan siang dan malam.


Ryo masuk ke kamar Delia tanpa mengetuk pintu. Anak laki-laki yang tua setahun dari Delia itu memang sudah se bar bar itu jika masuk rumah Delia.


" Kebiasaan, kalau mau masuk kamar cewek tuh, ketuk pintu dulu, punya tangan kan ? " Delia mengomel. Kebiasaan Ryo yang menurut nya buruk itu sudah sering ia keluhkan.


" Ribet, lagian pintu nya nggak di kunci, jadi buat apa di ketuk " dan jawaban anak lelaki tampan itu selalu sama. Memang faktanya, Delia tak pernah mengunci kamarnya.


" Yah, biasain lah Kak, nanti kalau tiba-tiba pake baju trus Kakak tiba-tiba buka pintu, bisa malu dong aku nya , keenakan di kak Ryo nya " Delia kembali mengomel.


" Biasa aja,, lagian siapa sih yg doyan liat barang yang serba rata, nggak ada bagus-bagus nya " Ryo memang selepas itu jika berbicara dengan Delia, baginya Delia itu masih anak kecil yang perlu ia jaga.


Dan komentar Ryo itu sukses membuat Delia berdecak kesal.


" Jadi, Tuan Ryo yang terhormat, ada perlu apa ke kamar hamba? " tanya Delia dengan gaya di bikin sopan. Ryo tertawa, bahan tanpa ia jawab pun Delia sudah pasti tahu jika ia sedang minta bantuan.


" Biasalah Dek "


Delia memutar bola matanya malas. Entah sejak beberapa bulan ini, Delia mendadak menjadi Dewi penolong bagi Ryo. Bukan masalah berat sih, hanya saja Delia selalu jadi penolong saat Ryo di kejar-kejar cewek-cewek posesif yang sangat ingin menjadi pacar Ryo. Maklum lah, Ryo ini dikenal sebagai siswa keren di sekolah. Sayangnya Ryo sendiri punya prinsip, ia tak akan pacaran sebelum lulus sekolah, hanya saja sifat buruk nya selalu membuat cewek di sekitar nya baper dengan ia selalu memberikan perhatian lebih, maka dari itu cewek-cewek yang merasa dekat dengannya selalu ingin menjadi spesial di hati Ryo.


" Ogah,, aku udah bosan jadi pacar pura-pura kak Ryo " tolak Delia mentah-mentah


" Kalau jadi pacar sungguhan, mau ? " tanya Ryo dengan menggerakkan alis nya sedikit menggoda Delia.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Delia sendiri mendadak salah tingkah.


" Bu,,, bukan gitu ish "


" Terus? "Ryo masih dengan ekspresi yang sama, yang entah mengapa sangat menjengkelkan dimata Delia


" Yah, aku nggak mau lah terus-menerus bohong sama fans-fans fanatik Kak Ryo itu,, dosa tau Kak " Delia memberi alasan, cukup masuk akal sih


" Dosa kamu biar Kakak yang tanggung deh,, untuk kali ini aja Del, pliss" Ryo memohon membuat Delia kemudian berpikir dan mempertimbangkan.

__ADS_1


" Ayolah Dek, bantu Kakak untuk kali ini saja, Kakak janji setelah ini nggak lagi deh " Ryo berkata lagi


" Untuk kali ini aja yah ? " Delia memastikan


" Iya " balas Ryo mantap


" Oke,, tapi ada syaratnya" Delia memberi penawaran, jarang-jarang ia memberi penawaran, meski keseringan Ryo lah yang mengerti akan memberikan apapun yang Delia mau, sebagai bayaran atas bantuan Delia karena telah menyingkirkan fans fanatiknya.


" Apa syaratnya, kamu mau coklat, boneka, eskrim, jalan-jalan atau apa, Kakak akan kabulkan, ngomong aja " kata Ryo


" Dih, aku nggak sebocil itu yah Kak " Delia protes


" Lah, terus mau nya apa ? "


Delia tersenyum miring, lalu mengeluarkan modul dari dalam lacinya.


" Nih " Delia menyodorkan kepada Ryo


" Modul matematika,, buat apa ?" tanya Ryo


" Aku mau Kakak kerjain semua tugas yang ada di dalam modul itu " ujar Delia


Ryo melongo, bukan apa-apa, sebab dalam satu modul itu dalam puluhan soal, dan ia haru menyelesaikan semuanya. Yah, meski memang ia termasuk mahir dalam pelajaran hitungan.


" Nggak " jawab Delia mantap


" Kalau, Kakak yang kerjain ini semua, terus kamu kerjain apa ? dan bukan nya kamu juga bisa kerjain tugas kayak gini, kenapa jadi kamu mendadak malas sih " akhirnya Ryo mengomel


" Kakak Ryo yang ganteng, aku memang bisa ngerjain soal di modul itu, tapi aku lagi malas, lagian buat kakak soal itu kecil jadi nggak ada salahnya sih " balas Delia.


Ryo nampak menimbang, ingin menerima tawaran Delia atau tidak.


" Gimana, mau nggak ? kalau nggak mau juga nggak apa-apa " kata Delia enteng


" Iya deh,, tapi kamu janji bantuin Kakak yah " kata Ryo


" Sippp,, tapi Kakak juga harus janji, ini yang terakhir kali yah... aku nggak mau bikin cewek patah hati lagi "


" Oke, Deal "

__ADS_1


mereka saling berjabat tangan menandakan bahwa mereka sudah sepakat dengan perjanjian mereka.


.Di tempat lain.


Dika sedang asik menemani Misha belajar, hari ini Dika banyak waktu luang, jadi ia bisa seharian penuh menemani gadis kecilnya.


Sesekali Misha bertanya dan Dika menjawabnya dengan lembut, tentunya dengan bahasa yang bisa dipahami oleh Misha.


" Ayah, Kan bentar lagi Misha libur nih, Ayah punya rencana nggak ajak Misha kemana gitu, Misha bosen Yah " Anak itu bercerita


" Memangnya Misha mau kemana ? " tanya Dika


" Kemana aja Yah, asal jangan di sini sini aja, Misha bosan, ketempat lain dong " Dika tertawa, sebab anak gadisnya sudah lebih cerewet sekarang .


" Oke,, bagaimana kalau kita berkunjung ke kampung Kak Delia ? " Dika memberi usul


" Kak Delia, itu siapa ?" tanya Misha


" Kakak, yang pernah Ayah cerita itu loh, yang mungkin beberapa bulan lagi akan tinggal sama kita " jawab Dika


" Oh,, boleh Yah... Misha mau ke tempat kak Delia " kata Misha girang


" Oke,, saat libur kamu tiba, kita otw ke sana "


Malam harinya, Dika memberi kabar pada Delia melalui telfon perihal dirinya yang akan berkunjung ke kota gadis itu saat libur sekolah nanti.


" Gimana, Om bisa nggak kesana sama Misha, sekalian jengukin kamu "


" Boleh Om, kebetulan Delia juga nggak kemana-mana kok saat liburan "


" Oke,, kamu tolong cariin tempat recommended buat rekreasi yah di sana, kita adakan liburan keluarga "


" Sippp Om "


Delia dan Dika memang sudah sering saling berkirim kabar, bukan setiap hari, tapi kadang saling mengomentari postingan masing-masing. Dan perlahan mereka menjadi dekat tidak Secanggung saat pertama kali bertemu.


Meski Dika selalu ragu, akankah ia mampu menjadi orang tua pengganti bagi anak gadis itu mampukah dia memberikan kebahagiaan kepada dua anak perempuan yang bersamanya? mengingat keadaan dirinya yang mustahil jika ia akan memberikan gambaran keluarga yang lengkap, sebab untuk menghadirkan sosok Ibu di antara ia dan anaknya, rasanya begitu sulit.


Ah, aku benar-benar lelah seperti ini... andaikan saja Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa keluar dari Zona ini, maka aku bersumpah akan menjaganya seumur hidup.... Aku ingin kehidupan yang normal Tuhan....

__ADS_1


_


Aku ada cerpen loh gess... judulnya ' Bekal untuk Akash ' silahkan kalian baca, dan kasi komentar yah...


__ADS_2