Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Tamu


__ADS_3

Di meja bundar tepatnya di halaman kampus belakang berdekatan dengan perpustakaan, tempat dimana para pelajar biasa menghabiskan waktu membaca buku atau sekedar mengobrol ketika menunggu dosen.


Di tempat itu sedang terjadi obrolan serius diantara empat gadis cantik. Wajah mereka terlihat serius mendengarkan cerita dari satu orang. Saking seriusnya obrolan itu, mereka berempat seperti saling merapatkan kepala, seolah obrolan itu bukan hanya serius tapi juga bersifat sangat rahasia.


" Sumpah,, aku nggak percaya sama sama cerita kamu Del " kata Dewi, diantara mereka memang lah Dewi yang paling antusias ingin tahu tentang Om tampan yang menjadi idolanya saat pertama kali bertemu.


" Itu beneran Del? " kata Devi


" Aku kok jadi kasian yah sama Om Dika " Dinda ikut bersuara


Delia mengangguk, sebagai tanda bahwa apa yang ia ceritakan adalah benar adanya.


" Makanya aku tuh bingung,, bagaimana cara mengatasi masalah Om Dika ini, jujur aku nggak suka si Nenek lampir itu terus-terusan berada di sekitar Om Dika, Kasihan Om Dika kemana-mana harus merasa khawatir " lanjut Delia


"Kenapa nggak lapor polisi aja sih,, menganggu ketenangan orang setiap hari itu sudah termasuk melanggar hukum loh Del " Dewi memberi saran


" Hem, aku juga mau nya gitu, tapi kata Bunda nggak usah " kata Delia


" Kenapa? " ini Dinda yg bertanya


" Soalnya, Bunda nggak mau keluarga kita berurusan dengan kantor polisi, ribet katanya " jawab Delia


Semua teman menghela nafas, seolah membenarkan apa yang di katakan Delia tentang Bunda itu ada benarnya.


" Tapi sampai kapan Om Dika, calon suami aku itu terus-terusan di hantui sama nenek sihir itu,, dan parahnya,, Nenek sihir itu taunya Om Dika sudah menikah dengan kamu,, huuuuuu " Dewi berucap dengan penuh drama.


Yah, memang Delia sudah menceritakan semuanya, tentang ia yang harus pura-pura menjadi istri Om Dika demi menyelamatkan pria itu dari incaran makhluk berbahaya bernama Tari. Namun Delia tak menceritakan hal yang paling besar dari hidup Dika, Delia hanya menceritakan sebagian kecil saja.


" Yah, mau gimana lagi Wi,, saat itu memang nggak ada pilihan lain " ucap Delia


" Tapi bagaimana kalau sandiwara suami istri kalian menjadi nyata,, secara Om Dika itu ganteng sempurna,, aku yakin kamu nggak bakalan bisa menolak pesona nya " jelas Dewi


" Nggak akan Wi,, aku udah lama loh tinggal serumah sama Om Dika,, aku malah biasa aja tuh " kata Delia


" Untuk sekarang memang kamu nggak merasakan apa-apa Del, tapi lama-lama kamu bakalan sangat mendalami peran kamu sebagai istrinya Om Dika, dan saat itu kamu mulai jatuh cinta,, apa yang bakal kamu lakukan? " Dewi masih kekeh dengan argumen-argumen nya


" Yah,, tinggal nikah aja sih, gampang kan " ini Devi yang menjawab, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Dewi


" Enak aja,, Om Dika itu jodoh aku yah " katanya Dewi tajam


Dinda dan Delia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dewi yang terlibat berlebihan.


" Wi,, nggak usah ngarep deh,,, kamu memang cinta sama Om Dika,, tapi apakah Om Dika cinta sama kamu? " tanya Dinda telak membuat Dewi terdiam dan tertunduk.

__ADS_1


Delia yang melihat perubahan Dewi itu mendadak tak enak hati.


" Udah,, nggak usah di bahas lagi, yukk kita ke kelas, bentar lagi kuliah mulai "


gadis-gadis itu mengakhiri obrolan dan memilih untuk kembali ke kelas.


Sore hari, suasana begitu tegang di sebuah rumah. semua orang nampak duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong dan terdiam.


Di ruang tamu itu ada seseorang yang duduk dengan anggunnya.


Seorang gadis yang senyumnya tidak pernah luntur sedari tadi.


" Tenang saja, aku kesini tidak berniat menyakiti Dika atau siapapun,, aku kesini berniat baik " ujar wanita itu


" Apa lagi Tari,, aku sudah berkeluarga dan aku tidak mau kedatangan kamu itu membuat istriku salah paham " kata Dika, kali ini ia sudah bisa berbicara dengan tegas, ketakutan di wajah nya sudah tak terlihat lagi.


" Iya aku tahu,, tapi aku kesini cuma ingin memastikan sesuatu " kata Tari


Bunda dan Dika termasuk Misha yang ada di ruang tamu mendadak bingung mencerna ucapa wanita yang terlihat tidak memiliki beban itu.


" Memastikan apa? " Bunda bertanya


Tari tidak langsung menjawab, wanita itu malah berdiri dan berjalan anggun dan mengelilingi setiap sisi ruang tamu.


" Seperti yang kalian bilang,, bahwa Dika sudah menikah,, tapi kenapa di rumah ini tak menunjukkan sesuatu yang menandakan bahwa di rumah ini pernah terjadi pernikahan,, seperti foto pernikahan atau album misalnya " kata Tari


mendadak Dika dan Bunda terdiam dan menunjukkan kepanikan, hal itu tentu tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


" Itu... " Bunda Dika bingung harus memberi jawaban apa


" itu karena, foto pernikahan kami jatuh dan kacanya pecah beberapa hari yang lalu, jadi aku membawanya ke studio foto untuk di perbaiki, mungkin besok pigura pernikahan kami sudah selesai dan akan saya pasang lagi ditempat semula"


Delia datang tepat waktu dan langsung menjawab apa yang di pertanyakan oleh Tari, meskipun jawaban dari Delia itu adalah bohong, tapi paling tidak mampu untuk menyelamatkan keluarga ini dari wanita itu.


" Mama,,, " Misha langsung berlari dan memeluk Delia yang baru saja datang dari arah pintu masuk


Melihat interaksi antara Misha dan Delia, Tari tidak memiliki keraguan jika mereka adalah ibu dan anak. Kedekatan keduanya membuat siapapun percaya bahwa mereka adalah keluarga.


Dika dan Bunda merasa pegah dengan kedatangan Delia yang tiba-tiba itu. Dika langsung berinisiatif menghampiri Delia dan langsung meberikan pelukan.


" Sayang,, kenapa tidak menelfon kalau mau pulang, kan aku bisa jemput " Dika memulai drama rumah tangga


" Ah, tidak apa apa Sayang,, tadi kebetulan teman aku pulang nya searah jadi aku numpang mobil nya saja " balas Delia

__ADS_1


Tari memicingkan matanya, saat ini ada keraguan dalam hatinya, ia pernah beberapa kali bertemu Delia, tapi entah kenapa hari ini Delia terlihat lebih muda, apakah karena pakaian yang Delia kenakan sehingga ia terlihat lebih muda?


" Mama Misha kuliah? artinya Dika menikahi wanita yang masih sangat muda,, jika di lihat dari usia Misha, sepertinya kalian menikah saat usia Delia di bawah 17 tahun, benar? "


perkataan Tari sontak membuat semuanya kaget, jelas bahwa tidak ada yang bisa berbohong terhadap usia. Dan bagaimana Dika dan Delia harus menjawab pertanyaan Tari.


" Ehem,,, saya rasa Anda tidak perlu mengetahui lebih dalam tentang apa yang terjadi dalam keluarga kami,, anda ini orang luar kan, jadi kami tidak perlu menjelaskan apa yang menurut kami tidak perlu " Delia berucap tegas. Dika sempat menarik nafas lega saat mendengar ucapan Delia, tak memyangka jika gadis yang baru tumbuh dewasa itu, bisa berpikiran setegas ini.


" Lagi pula anda hanya ingin menghilangkan keraguan bahwa kami benar benar suami istri kan? jadi cukup sampai disitu " sambung Delia lagi


" Okee,, untuk itu aku datang sebagai tamu disini, dan sebagai tamu, aku ingin meminta sesuatu kepada tuan rumah " kata Tari


" Apa itu? " tanya Dika


Tari tersenyum manis


" Jika kalian tak keberatan, aku ingin menginap selama tiga hari di sini " jawab Tari santai


" apa, tapi kenapa? " tanya Dika


" Tidak mungkin " Delia berucap sinis


" Yah, seperti yang kalian bilang, aku hanya butuh pembuktian bahwa benar kalian adalah suami istri, dan selama aku disini, aku akan mengamati semua perilaku kalian " Tari berucap seolah-olah permintaannya itu adalah hal yang wajar, padahal semua orang sudah hampir pingsan di buatnya.


" Bagaimana bisa kamu mengamati perilaku orang yang sudah berkeluarga, apa kamu tidak punya otak " Delia akhirnya kelepasan emosi


" Yah, anggap saja aku tidak punya otak,, aku memang setidak tahu malu ini,, tapi untuk membuktikan kalian memang pasangan aku memang harus begini kan? "


Tari memamg tidak waras, dia memang punya kelainan jiwa yang akan membuat semua orang stres jika memikirkannya.


" lalu apa untungnya bagi kami jika kami membuktikan bahwa kami memang pasangan? " tanya Dika


" Maka aku tidak akan pernah mengusik kamu atau keluarga kamu lagi,, plis Dika hanya dengan cara seperti aku akan bisa melupakan kamu,, jika keraguanku hilang maka aku siap menyerah dan menjauh dari hidup mu " kata Tari dengan nada sendu.


" Baiklah, biarkan dia tinggal disini selama tiga hari, dan setelah itu dia harus pergi selamanya dari hidup kita " Bunda menyetujui keinginan Tari


" Tapi Bunda, bagaimana mungkin " Delia menyela dan tak habis pikir


" Tidak masalah Sayang, lagi pula apa yang kalian takutkan, faktanya memang kalian adalah suami istri, dan biarkan dia menyaksikan bagaimana harmonisnya hubungan kalian " Bunda memberi penjelasan.


Delia tak mampu berucap lagi, ia juga tak bisa membantah ucapan Bunda. Dia hanya bisa meninggalkan keributan yang terjadi di rumah tamu sambil mengumpat kesal.


" Dasar, wanita tidak waras " umpatnya yang ditujukan pada Tari yang tersenyum senang.

__ADS_1


_


__ADS_2