Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Kecewa


__ADS_3

Ke empat gadis cantik itu sedang bersuka ria. anggaplah mereka hari ini sedang merayakan hari dimana mereka telah berkumpul dan menikmati indah nya kebersamaan kembali, setelah seminggu salah seorang dari mereka dalam masa tenggang karena suatu hal.


Hari ini mereka kompak untuk bolos kuliah selama sehari. Bagi mereka hal bandel itu tidak apa apa di kerjakan sekali kali seumur hidup. Toh, mereka juga adalah gadis gadis yang baik dan sangat patuh saat bersekolah dulu. Jadi untuk hari ini mereka setuju untuk meninggalkan mata kuliah demi bersenang senang di di rumah Dewi.


Mereka berempat berpesta dengan barbeque di taman belakang halam rumah Dewi. Meski mereka hanya ber empat, namun suara berisik dan canda mereka seperti sedang mengadakan pesta satu RT.


" Jadi rencana pernikahan kamu kapan Del,, duh aku udah nggak sabar mau jadi Bridesmaid kamu, pasti aku cantik dan lucu banget " kata Devi sambil memegang kedua pipinya dan membayangkan dirinya di acara pernikahan sahabatnya itu.


Dinda dan Dewi berekspresi malas, faktanya Devi sudah mengatakan itu dalam beberapa hari ini. Sejak Delia memutuskan untuk menerima pernikahannya dengan Om Dika. Devi lah yang paling pertama mengatakan bahwa dia yang akan menjadi Bridesmaid di acara sakral itu.


" Delia yang mau nikah kok kamu yang sibuk sih Dev?" kata Dewi terdengar sewot


" Sabar lah Dev,, pernikahan itu bukan hal yang gampang, segala proses nya butuh waktu " Dinda


berkomentar


Devi cemberut, gadis yang memiliki mata yang sipit bak orang cina itu mengerucutkan bibirnya.


" Aku juga nggak tau kapan Dev,, tapi Bunda bilang sih lebih cepat lebih baik " balas Delia


Ketiga sahabat Delia itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. mereka bertiga kini dengan kompak menatap Delia dengan seksama.


Sementara Delia yang di tatap seperti itu merasa sangat bingung.


" Kenapa? " tanya Delia


Ketiga gadis itu malah tidak menjawab, malah semakin menatap Delia dengan tatapan yang sulit Delia artikan.


" Apa sih?" Delia merasa risih di tatap seperti itu oleh ketiga sahabatnya.


" Del,, kamu masih perawan kan? " pertanyaan itu lolos di mulut Devi.


Delia sendiri membulatkan matanya mendapat pertanyaan seperti itu.


" Yah, masih lah " jawab Delia terdengar sedikit keras, merasa tak terima diberi pertanyaan seperti itu.


" Hem Hem Hem,, tapi kenapa Bundanya Om Dika pengen cepat cepat adain acara pernikahan? " ini Dinda yang bersuara


" Sepemikiran " sambung Dewi


Delia merasa jengah, ia menunjukkan wajah yang malas, benar benar malas menjawab pertanyaan konyol itu.


" Nggak tau,, tanya aja sendiri sama Bundanya Om Dika, yg jelas kalau di tanya soal keperawanan,, aku berani tes,, aku tuh masih segel, belum pernah di ubek ubek "


Sontak pernyataan Delia itu membuat para sahabatnya tertawa terbahak-bahak.


" Bahasamu Del,, di ubek ubek " kata Devi


" Air bilasan pakaian kali, di ubek ubek " sambung Dewi


" Yah,, abisnya pikiran kalian jorok banget " balas Delia


" Kan cuma nanya Del" ujar Dinda


" Dih, "


" Wih,, si calon pengantin sensi pemirsa "


Hari itu Delia benar-benar menjadi bahan bulan-bulanan para sahabatnya. Bahkan tak habis habisnya para gadis itu menanyakan tentang apa saja yang sudah di lakukan Delia dan Om Dika selama ini.


Tapi Delia menanggapinya dengan santai, meski kadang ia merasa risih ditanya dengan hal yang se bar bar itu, ia tetap menanggapinya, bahkan ia merasa lucu sendiri.

__ADS_1


Terkadang manusia memang harus melakukan hal konyol seperti mereka, sesekali berbuat bandel dengan cara bolos kuliah dan membahas hal hal konyol di tempat dimana mereka sedang berkumpul dan bercanda, setidaknya ketika mereka tidak lagi bersama dan masing masing sudah menjemput takdirnya, maka ada hal yang manis yang akan mereka ingat selamanya. Yaitu sebuah kenangan tentang indah nya persahabatan.


*


Hujan turun begitu deras malam ini. Entah sudah waktunya musim hujan atau sekedar cuaca yang lewat. Tapi kenapa hujan yang begitu deras ini membuat siapapun akan takut jika sedang bepergian.


Delia begitu gelisah, seharusnya jam begini Dika sudah tiba di rumah. Namun, entah berapa kali Delia melirik jam dan dan arah jalan, namun tak ada tanda tanda jika mobil Dika sudah tiba.


Tiba-tiba saja Delia merasa takut jika Dika terjebak macet atau terhalau jalanan yang terkena banjir. Sebab kota ini cukup padat penduduk dan jika hujan ada beberapa titik yang rawan kebanjiran, termasuk titik-titik yang di lalui Delia saat pergi dan pulang kampus, serta titik yang di lalui oleh Om Dika.


Beruntung Bunda ada di rumah dan Misha sedang ingin bersama Emangnya itu. Entah mengapa gadis kecil itu lebih suka bersama Eyangnya saat mendapat tugas membuat cerita dari sekolahnya.


Delia beberapa kali menghubungi ponsel Om Dika, namun tidak dapat terhubung. Delia semakin khawatir dan sudah berpikir yang tidak-tidak.


" Semoga Om Dika baik-baik saja " Delia begumam.


Karena terus mengkhawatirkan Om Dika, Delia jadi tak berselera untuk makan. Ia menyuruh Bunda dan Misha untuk makan malam lebih dulu, dan dia akan makan setelah Dika pulang nanti.


Hari sudah begitu gelap. Misha dan Bunda sudah masuk kedalam kamar. Sementara Delia masih setiap menunggu di ruang tamu.


Tak lama setelah itu, suara ketukan pintu terdengar begitu keras, mungkin karena hujan, sehingga seseorang yang berada diluar sengaja mengetuk pintu dengan keras.


Delia langsung bergegas membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati Om Dika pulang dalam keadaan basah kuyup.


" Om Dika,, kok bisa hujan hujan nan"


Delia tak menunggu jawaban dari Om Dika, ia berlari untuk mengambil handuk dan juga segelas teh hangat.


Saat Om Dika sudah menerima handuk dari Delia dam juga sudah meminum Teh hangat yang diberikan Delia, barulah Delia mengajukan pertanyaan lagi.


" Kok Om Dika bisa basah begini? terus mobil Om Dika mana? "


" Tadi terjebak macet di tempat yang rawan banjir, apesnya Mobil Om mogok, jadi terpaksa Om naik ojek saja,, daripada terjebak semalaman, mending hujan hujanan" jawab Om Dika


Lalu bergegas Delia menyuruh Om Dika untuk mandi, sebab ia sudah menyiapkan air panas untuk pria itu mandi.


Dika sendiri tak banyak berkomentar, ia langsung melaksanakan perintah Delia. Ia juga senang sebab Delia begitu memperhatikan nya dan gadis itu terlihat begitu mengkhawatirkan nya.


Delia menyiapkan makan malam untuk Om Dika, ia menghangatkan kembali makanan itu agar Om Dika dapat menyantap nya dengan nyaman. Cuaca seperti ini memang cocok untuk menyantap makanan yang berkuah dan masih panas. Jadi Delia rasa mungkin soto ayam dan sedikit sambel dan perasan jeruk nipis sangat cocok. Delia menaruh dua mangkok soto ayam di atas nampan, kali ini ia akan membawa makanan itu ke kamar Om Dika.


Dika yang sudah berpakaian tebal, langsung meringkuk masuk kedalam selimut. Ia merasa bahwa cuaca begitu dingin. Bahkan saat menginjak lantai serasa ingin membeku saja.


Saat Dika ingin memejam mata dan menikmati hangatnya selimut. Delia masuk ke kamarnya.


Dika berdecak sebal karena lupa bahwa ia belum makan apa apa. Ia tersenyum senang sebab gadis yang sebentar lagi jadi istrinya itu begitu memperhatikan dirinya.


" Makan dulu Om,, baru setelah itu tidur,, nih aku sudah siapkan soto ayam "


Dika bangun dari pembaringan, soto ayam dengan asap mengepul serta wanginya begitu menggoda selera. Ia bergegas meraih mangkuk itu dan melahap nya setelah berdo'a dalam hati.


Delia melihat Om Dika yang begitu lahap menyantap makanan, ia tersenyum saat Om Dika begitu menikmati makanan yang ia bawa.


" Kenapa berdiri saja, kamu sudah makan ? " tanya Om Dika


" Belum " jawab Delia


Dika menghentikan aktivitas makannya, dan menatap Delia dengan datar.


" Kalau begitu ayo makan, mumpung masih panas " Dika mberikan satu mangkok soto ayam itu pada Delia, dan gadis itu menerimanya. Namun Delia tak langsung memakannya, ia masih sibuk menatap Om Dika yang makan dengan begitu lahap nya.


" Om tahu bahwa Om begitu tampan,, tapi kamu tidak akan kenyang hanya dengan menatap Om seperti itu "

__ADS_1


Ternyata Dika tahu jika sejak tadi dirinya di perhatikan.


Delia kelabakan merasa tertangkap basah telah memperhatikan Om Dika. Ia jadi salah tingkah dan segera menyendok kuah soto itu.


" Habiskan makanmu,, setelah itu kita tidur,, cuaca seperti ini lebih baik tidur lebih awal " ujar Dika, pria itu sudah menghabiskan jatah makannya tanpa sisa.


" Hah,, kita? tidur? "


Delia kaget dengan ucapan Om Dika.


" Iya,, kita tidur,, memang nya mau apa lagi? tanya Om Dika, rupanya pria itu belum sadar jika perkataan nya barusan sudah membuat otak Delia tak terkoreksi.


" Kita tidur Om? " Delia sekali lagi memastikan


" Iya Delia sayang,,, habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, Om Disini di kamar Om, dan kamu di kamar kamu " jelas Om Dika.


" Ohhhhh " Delia bernafas legah, ternyata hanya otaknya yang sedikit geser sebab menyalah artikan ucapan Om Dika.


Tapi Om Dika mendadak terkoneksi dengan hal buruk di kepalanya. Ia tersenyum jahil, sebab telah menyadari sesuatu.


" Atau,, kamu mau kita tidur berdua? " tanya Om Dika dengan tatapan yang begitu jahil.


Delia buru-buru menghabiskan sisa makanannya. Ia tak mau jika Om Dika sampai merealisasikan pertanyaannya sendiri. Bisa gawat jika Bunda sampai memergokinya lagi.


" Aku sudah selesai Om,, dan silahkan tidur,, mimpi yang indah yah " Delia segera membereskan peralatan makannya. Ia harus segera keluar dari kamar ini.


Dika ingin tertawa saat melihat Delia yang ketat katir ingin kabur dari kamarnya. Dan dengan sigap ia meraih tangan Delia dan menariknya hingga jatuh ke tubuhnya.


" Aw... "


Delia meringis, bukan karena sakit, tapi karena mendapat seranagan mendadak dari Om Dika yang membuat nya harus berada pada posisi yang begitu intim.


Delia tepar berada di atas Om Dika.


" Delia,, cuaca seperti ini seseorang pasti membutuhkan kehangatan,, jadi Om pikir, dari pada selimut ini lebih baik kamu saja " kata Om Dika dengan suara serak.


Delia sudah tak merasakan hawa kedinginan, melainkan berganti dengan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuh nya.


" Lepasin Om, "


Sungguh ucapan Delia tak sesuai dengan apa yang ada di hatinya.


Bahkan gerak tubuh nya mengharapkan lebih saat tangan kekar Dika sudah merangkulnya dengan begitu erat.


" Kamu yakin ingin ku lepaskan, Hem? "


Dika sebenar nya tak ingin melakukan sesuatu terhadap gadis belia yang ada di atas tubuhnya itu. Dia ingin menggoda saja. Meski ada sesuatu dalam dirinya yang sedang bergejolak hebat dan butuh pelepasan. Namun ia tak ingin merusak gadis yang sangat berarti dalam hidupnya itu sebelum waktunya.


"I... iya Om.. lepaskan aku " ujar Delia lirih.


Gadis itu memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang ada pada tubuhnya. Mungkin jika saat ini Om Dika menginginkan nya. Maka ia akan menyerahkan nya.


Dan perlahan tangan kekar yang melilit tubuh nya tiba-tiba melemah. Dan Dika membantunya untuk bangun dari atas tubuhnya.


" Pergilah Delia,, maaf karena Om telah berbuat nakal padamu " kata Dika. Ia bisa melihat raut kecewa pada wajah gadis yang ia goda itu. Dan mungkin jika imannya tak kuat, maka ia akan melakukan hal yang di luar batas. Namun Dika tak akan melakukan apapun sebelum gadis itu benar-benar sah menjadi istrinya.


Delia segera berlalu dari kamar Om Dika. Entah mengapa ia merasa begitu kecewa saat Om Dika malah membiarkannya pergi.


Apa yang terjadi pada dirinya?


" Aku pasti sudah gila... "

__ADS_1


_


__ADS_2