
Cinta adalah hal yang sangat membingungkan. Kadang sensitif untuk dibicarakan, kadang pula rumit untuk dimengerti.
Cinta itu memang seperti angin, bisa dirasakan kehadirannya namun sulit untuk disentuh.
Cinta juga kadang melegahkan, dan terkadang menyesakkan.
Dan, cinta itu melemahkan yang kuat dan menguatkan yang lemah.
Jadi, cinta itu banyak definisinya, tergantung bagaimana sudut pandang setiap manusia.
(𝚆𝚞𝚕𝚊𝚗'𝙹𝚊𝚍𝚑𝚘𝚘)
Di sudut kantin yang paling berisik, terdapat sekumpulan gadis-gadis yang sibuk dengan canda tawanya. Namun, tidak ada yang merasa terganggu dengan hal itu. Sebab yang lain juga sibuk dengan diri mereka masing-masing.
Devi sedang bercerita bagaimana pengalaman nya saat pertama kali bertemu dengan pria yang ia kenal lewat sosial media. Kabarnya, Devi selama dua bulan ini memang sedang dekat dengan pria yang berasal dari kota lain. Dan selama dua bulan itu Devi merasa nyaman dengan pria itu hingga ia dan pria itu keseringan saling bertukar kabar. Bisa dibilang hubungan antara keduanya sudah sangat dekat, atau mereka menganggap hubungan ini memang seperti teman tapi mesra, sebab tiap hari saling memberi perhatian.
Hingga kemarin, pasangan teman tapi mesra di sosial media ini memutuskan untuk bertemu secara lagsung. Dan Devipun menceritakan tentang bagaimana kesan pertemuan pertamanya dengan pria online yang ia kenal itu.
Devi menganggap bahwa semua tidak sesuai ekspektasi. Faktanya pria online itu sangat berbeda dengan foto-foto nya yang ia publish dan yang dikirim ke Devi. Di sosial media pria itu terlihat seperti cowok yang sangat. macho gagah dan tampan. Namun kenyataannya yang datang adalah pria yang berpenampilan culun dengan pakaian yang super duper rapi, seperti anak SD yang akan berangkat ke sekolah begitulah menurut pendapat Devi.
Beruntung wajah pria online itu masih terlihat tampan meski ditutupi oleh kaca mata tebal.
Tapi, Devi adalah tipikal gadis yang sangat menghargai orang, meski ia sangat kaget dengan kenyataan yang ada. Devi tetap mengobrol santai dan tidak menunjukkan sikap yang berbeda, Devi tetap merespon dengan baik setiap ucapan pria itu. Bahkan Devi berjanji jika besok pria itu ingin bertemu lagi, maka Devi bersedia, dan ia bersungguh akan itu.
" Wah, jadi kamu masih tetap berteman baik Dev? " tanya Dinda
" Iya dong,, memang nya kenapa aku harus tidak berteman baik? lagi pula dia juga baik kok " kata Devi
" Tapi kan penampilannya beda Dev, kalau aku sih udah ogah " Ini Dewi yang bucara. Dewi ini memang sangat lebih mementingkan penampilan.
" Nggak apa-apa, toh yang datang orang yang sama kok, jadi nggak ada masalah buat aku " balas Devi
" Aku salut deh sama kamu Dev, mungkin kalau cewek lain pasti sudah kabur dan hilang tanpa kabar " kata Delia
" Kenapa harus kabur sih, toh kita bertemu dengan orang baik, buat aku selama orangnya mau berteman baik, yaudah aku welcome saja "
Ucapan Devi mendapat tepuk tangan dari Delia Dinda dan Dewi. Mereka tentunya bangga punya sahabat sebaik Devi.
Tapi, obrolan asik mereka harus terhenti saat salah satu ponsel mereka berdering.
" Eh Del, HP kamu tuh bunyi " kata Dinda
" Dari Om Dika Del " kata Dewi yang memang sangat kepo dengan hal-hal yang menyangkut Delia
"Angkat Del, siapa tahu Om ganteng aku nyariin aku " sambung Dewi dengan rasa PDnya
" Dih, PD banget nih anak orang " Devi berkomentar sewot
Delia menjauh dan pamit kepada para Sahabat nya untuk menjawab telfon sebentar.
Tidak begitu lama, Delia kembali di meja bersama para sahabatnya.
" Kenapa Del? " tanya Dewi penasaran
" Ada sesuatu di rumah " jawab Delia seadanya
" Penting? " tanya Dinda
__ADS_1
" Hem, lumayan " balas Delia
" Yaudah pulang duluan aja Del, lagian udah nggak ada kuliah lagi kok " kata Devi
" Iya deh, aku pulang dulu yah " Delia mengemasi barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas.
" Perlu aku antar Del? " tawar Dewi
" Huh, modus " sindir Dinda
" Yee biarin, aku kan sahabat yang baik " kata Dewi
" Halah, bilang aja kamu mau ketemu Om Dika kan? " tebak Devi
" Nah, itu tau " Dewi membenarkan
" Uuu dasar " Dinda dan Devi mengumpat
Delia hanya tertawa kecil, sebab sahabatnya itu memang lucu jika sedang berdebat.
" Aku pulang sendiri saja Wi, lagian aku bawa motor kok " kata Delia
" Yaudah, Hati-hati yah... "
*
Di tempat lain.
Seorang Nenek sedang sibuk membujuk cucunya untuk makan. Yah, setelah acara ulang tahun Misha beberapa hari itu, Misha kembali sakit, namun ia hanya terkena flu dan demam, dan selama dua hari itu Misha tak kesekolah.
Dan sekarang, Bunda sedang kewalahan membujuk anak kecil itu untuk makan.
" Eyang, Misha nggak lapar " kata Misha
" Tapi, ini sudah siang sayang, kamu harus makan yah " bujuk Eyang lagi.
Sampai Bunda sendiri tidak tahu harus berbuat apa agar si kecil itu mau makan. Bahkan Bunda sudah beberapa kali menelfon Dika, tapi sayang Dika sedang sibuk bekerja hingga tak bisa pulang untuk membujuk putri kecil nya agar mau makan.
" Eyang, Misha mau tanya sesuatu boleh? "
" Boleh dong sayang, ,mau tanya apa memangnya?"
" Kok, Ayah nggak menikah Eyang? Misha mau deh punya Mama sungguhan " untuk pertama kalinya selama Misha berada di rumah itu, Misha menanyakan hal yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.
Bunda sendiri terkejut dengan apa yang di ucapkan Misha, bahkan ia tak tahu harus menjawab apa.
" Kalau Ayah nikah, otomatis Misha punya Mama, dan kalau Misha punya Mama, Kakak Delia nggak perlu repot-repot lagi jadi Mamanya Misha " sambung Misha lagi
Bunda menarik nafas dalam-dalam. Ia bahkan mengharapkan yang sama bagi Dika putra semata wayangnya.
" Misha sabar saja yah, karena jodoh itu di tangan Tuhan, .mungkin Ayah Dika belum ketemu yang cocok " kata Bunda
Misha mengangguk paham.
Bahkan Eyang pun berharap dari jauh jauh sebelumnya, bahwa Dika bisa menikah dan memiliki keluarga sebelum Eyang meninggal...
" Emmm, Eyang, Misha mau tanya satu kali lagi boleh? "
__ADS_1
" Boleh dong sayang, tanya dua kali pun boleh "
Mereka tertawa dulu....
" Emmm, kalau Misalnya Kakak Delia menikah sama Ayah Dika, apa nggak dosa? "
Mata Bunda membulat mendengar pertanyaan Misha yang begitu polosnya.
" Emmm gimana yah,, Kalau -"
" Assalamu'alaikum,, Kakak datang "
belum sempat Eyang menjawab pertanyaan Misha, Delia sudah datang dan langsung bergabung di meja makan.
" Loh, kamu kok sudah pulang, memangnya kuliah kamu sudah selesai? "tanya Bunda
" Masih ada satu kuliah lagi Bund, tapi dosennya nggak ada, makanya Delia pulang, lagi pula Om Dika tadi telfon kalau Anak kesayangannya nggak mau makan "
Delia melirik Misha yang tersenyum dengan wajah kuyu.
" Oh, Tadi juga Bunda telfon Dika, tapi dia sibuk nggak bisa pulang "
" Hem,,, kan ada Delia Bund,,, Nah.. sekarang Misha makan yah, biar bisa sehat lagi, Kakak nggak mau ah tidur sama orang sakit " kata Delia
" Kenapa? Kakak nggak sayang sama aku karena aku sakit " wajah Misha berubah murung
" Bukan begitu sayang, kalau kamu sakit terus Kakak tidur sama kamu, yang ada Kakak juga akak tertular nangi, memangnya kamu mau Kakak sakit? Nanti kalau Kakak sakit siapa yang akan jadi Mama kamu? "
Delia mengeluarkan senjata ampuh. Hal yang paling di sukai Misha adalah ketika Delia berubah menjadi Mamanya. Bahkan sudah sering mereka jalan berdua dengan status pura-pura sebagai Ibu dan anak. Dan hal itu sangat menyenangkan bagi Misha.
" Misha mau sembuh Kak" Semangat Misha bangkit lagi
" Yaudah, kalau begitu Misha makan yah.. Sini Kakak suapin " Delia mengambil alih piring dan sendok dan siap menyuapi Misha.
Tak selang beberapa lama Dika datang membawa banyak kantong plastik, yang seperti nya didalamnya ada banyak makanan.
" Ayah pulang.. Apakah anak Ayah sudah makan ? " Dika langsung duduk di meja makan
" Sudah dong Ayah, makanya lahap lagi " ini Delia yang menjawab.
" Ayah, Misha mau sembuh, biar bisa jalan-jalan berdua lagi sama Kakak Delia " kata Misha semangat
" Wah, cuma berdua,, kok Ayah nggak di ajak? " kata Dika
" Memangnya Ayah mau ikut? " tanya Misha
" Mau dong "
" Yaudah, kalau Misha sudah sembuh, Ayah ikut aja, nggak apa-apa kok "
Di meja itu mereka bercerita sambil bercanda tawa. Misha sendiri bahkan tidak sadar bahwa ia sudah makan berapa banyak, bahkan makanan yang dibawa oleh Dika juga sempat di makan.
Hal menyenangkan itu tak luput dari perhatian Bunda yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di dapur.
Dalam pandangan wanita tua itu, Delia Dika dan juga Misha persis gambaran kuluarga yang bahagia.
Tuhan, semoga kelak,, Dika bisa memiliki keluarga yang utuh..
__ADS_1
_