Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Ketahuan


__ADS_3

Misha sedang memperhatikan gadis cantik yang sibuk mencatat dan mencoba menghafal atau memahami rumus, yang Misha tahu, jika pelajaran yang Delia sedang pelajari saat ini adalah mata pelajaran matematika, sebab dari tadi Delia sibuk menghitung jumlah dari angka angka yang harus gadis itu tulis.


Dimata Misha, Delia adalah sosok manusia yang sempurna menurut penilaian nya.


Sosok wanita yang beranjak dewasa, yang memiliki sifat keibuan, baik hati, ceria dan sangat penyayang. Misha menganggap bahwa Delia adalah anugerah yang indah dari segala do'a yang ia panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Dari Delia, Misha bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu, walau faktanya Delia sebenarnya hanya sebatas Kakak yang tanpa hubungan darah. Dan untuk itu, Misha tak henti-hentinya berdoa agar Tuhan selalu membuatnya bersama dengan Delia. Bahkan gadis kecil nan polos itu lupa, bahwa Delia yang ia sayangi itu kelak akan menjemput masa depannya sendiri.


Dan mungkin Misha tidak akan pernah siap jika hal itu terjadi.


" Kamu kok nggak belajar? Malah bengong liatin Kakak " kata Delia, ia masih sibuk mencatat sesuatu di atas kertas


" Aku kan nggak ada PR Kak " balas Misha


" Meski tak ada PR, bukan berarti nggak belajar kan, ilmu itu harus tetap di asa, biar nanti nggak lupa " Delia mencubit pipi Misha dengan gemas


" Kakak, Misha boleh nanya sesuatu ? " tanya gadis kecil itu


" Tanya apa sayang ? "


" Kakak, di sekolah ada pacar nggak ? "


Delia yang mulanya sibuk dengan kertas dan pulpen , tiba-tiba mengehentikan aktifitas nya. Ia bingung, kenapa anak seusia Misha bisa menanyakan hal semacam itu ?


"Kok Misha nanya gitu?" tanya nya


" Nggak apa-apa Kak, Misha cuma mau tau aja, kata teman-teman Misha, orang dewasa seperti Kakak, pasti punya pacar, Kakak teman-teman aku juga begitu " jawab Misha polos.


Delia tersenyum, mungkin teman-teman anak gadis kecil itu sering membahas hal yang tak penting seperti pertanyaan nya saat ini.


" Kakak nggak punya pacar sayang " jawab Delia


" Kenapa? apa nggak ada yang suka sama Kakak? Kakak kan cantik ? " tanya Misha


" Kalau Kakak cantik, pasti sudah ada pacar dong, artinya Kakak ini jelek " kata Delia .


" Kakak Delia itu cantik, teman-teman Misha e l juga bilang kalau Kakak cantik " kata Misha jujur


" Oh yah ? "


" Iya,, teman-teman Misha, kata nya aku beruntung punya Mama secantik Kak Delia, teman-teman Misha bahkan selalu menanyakan Kak Delia, "


" Wah, Kakak jadi terharu loh, artinya Misha udah nggak di gangguin lagi dong sama tiga anak anak itu "


Misha menggeleng, gadis kecil itu dengan semangat menceritakan semua cerita yang ia lalui di sekolah,


" Bahkan, Misha selalu dapat hadiah atau cemilan sama mereka, semenjak Kakak datang sebagai Mama Misha, mereka jadi baik banget sama Misha "

__ADS_1


Delia langsung memeluk Misha dengan sayang. Melihat gadis kecil itu senang, Delia merasa ia punya arti dalam kehidupan orang lain.


Tanpa mereka sadari, bahwa sedari tadi ada yang menguping pembicaraan mereka dari luar. Bahkan semua terdengar sangat jelas, sebab pintu kamar Delia tak tertutup rapat.


Oh, jadi selama ini Delia dan Misha pura-pura menjadi seorang Ibu dan anak, di depan teman-teman Misha. Bahkan aku tidak pernah tahu, kalau anak ku sering mendapat perlakuan diskriminasi dari beberapa temannya.


Keesokan harinya.


tepatnya di malam hari. Saat semua penghuni rumah tengah tertidur lelap.


Delia yang punya keperluan ke dapur sebab ingin mengisi botol minumnya. Tak sengaja bertemu Dika di ruang tengah.


Pria tampan itu sedang menonton acara hiburan malam. Sesekali pria itu tertawa. Dan Delia bisa melihat bahwa saat ini pria itu sedang menikmati hiburannya.


Saat Delia ingin kembali ke kamarnya , tiba-tiba ia di cegah oleh Dika. Meminta nya untuk duduk sebentar sebab ada yang ingin ia bicarakan .


" Kamu belum ngantuk kan ? " tanya Dika, saat Delia sudah duduk di sofa tunggal


" Nggak kok Om, memang nya ada apa ?"


Dika memperbaiki posisi duduknya, ia sedikit memusatkan perhatian nya pada Delia. Delia yang di tatap seperti itu langsung berubah salah tingkah.


Duh, kok liatinnya kayak gitu sih,, kan jadi salting akunya ...


Delia membatin.


" Eh,, itu emmm " Delia makin salah tingkah


" Jujur saja, Om sudah penasaran sejak kemarin-kemarin, soalnya Misha suka panggil kamu Mama dengan tidak sengaja, itu sudah beberapa kali, tapi,, maaf Om sempat dengar obrolan kalian berdua kemarin malam " kata Dika lagi jujur


Delia mengigit bibirnya, serta jari jemarinya saling meremas satu sama lain. Saking takut atau gugupnya ia hanya mampu menunduk.


" Delia,,, kamu nggak usah takut... Om cuma tanya saja " kata Dika lembut. Seperti nya ia tahu bahwa gadis itu sedang ketakutan sekarang


" Maafin Delia Om " kata Delia ragu


Dika malah tersenyum


" Memang nya Misha sering di ganggu sama teman-teman nya yah di sekolah ? " tanya Dika.


Kali ini Delia memberanikan diri untuk menatap Om Dika


" Yang aku tahu, memang seperti itu Om, tapi aku baru sekali melihat saat Misha di ganggu sama teman-teman nya " jawab Delia


Dika menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa gagal sebagai orang tua. Bisa-bisanya ia tak tahu hal sebesar ini, dan mirisnya mungkin putri kecilnya sudah mengalami itu sejak lama.

__ADS_1


" Dan karena Misha tidak punya Mama, akhirnya kamu mengusulkan untuk menjadi Mama pura-pura nya , supaya Misha tidak di ganggu lagi, begitu ? " kata Dika


" Iya Om,, Delia cuma mau menolong Misha kok, nggak ada niat lain " kata Delia ragu. Ia takut jika perbuatan nya yg ingin menolong Misha malah di salah artikan oleh Dika


" Om tidak berpikir kamu punya maksud lain kok, dan Om makasih banget karena kamu sudah menolong Misha " ujar Dika


" Om nggak marah ? " tanya Delia


" Tidak Delia,, hanya saja Om takut " kata Dika


" Takut kenapa Om ? " tanya Delia bingung


" Om takut, Misha akan semakin nyaman sama kamu, dan benar-benar menganggap kamu adalah Mamanya "


" Tidak masalah Om, selama Misha senang aku nggak masalah,, lagian aku kan tinggal di sini, enggak kemana-mana " kata Delia enteng. Gadis itu sepertinya tidak paham maksud dari ucapan Dika.


" Bukan itu maksud Om Delia "


" Lalu? "


" Kamu tidak akan mungkin terperangkap di antara aku dan Misha selamanya di sini, Delia. Kelak kamu akan menjemput takdir mu sendiri. Dan saat itu tiba, bukannya kamu akan meninggalkan rumah ini ? Maksud Om, kamu pasti punya mimpi untuk menikah dan memiliki keluarga, memang hal itu masih lama, tapi cepat atau lambat hal itu akan kamu hadapi nantinya " tutur Om Dika panjang lebar.


Delia mulai paham kemana arah pembicaraan mereka. Untuk beberapa waktu mereka saling diam, menyelami pikiran masing-masing.


." Jadi Delia harus bagaimana Om ? kalau di suruh jaga jarak sama Misha, jujur Delia nggak bisa,, soalnya Delia sudah terlanjur sayang sama Misha " Delia mengutarakan perasaannya


" Om tidak mungkin juga menyuruh kamu untuk menjaga jarak dengan Misha, bagaimanapun kedekatan kalian sudah sangat seperti keluarga kandung, dan Om sangat senang melihat itu " ujar Dika


Delia tersenyum kecil. Awalnya ia begitu takut jika rahasianya dan Misha akan ketahuan dan membuat Om Dika marah, tapi sekarang ia sudah tenang, sebab Om Dika rupanya tidak mempermasalahkannya.


" Mulai sekarang, sebaiknya kamu dan Om lebih memberikan pengertian kepada Misha secara perlahan, Om yakin Misha akan mengerti nantinya " lanjut Om Dika


" Dan mengenai panggilan Mama itu, apakah aku harus melarang Misha Om ? " tanya Delia


" Tidak usah Del, nanti biar Om yang memberikannya pengertian, panggilan itu biar jadi sandiwara kalian saja ketika di depan teman-teman Misha " ujar Om Dika


Delia pamit masuk ke kamarnya. Pembicaraan nya dengan Om Dika malam ini cukup lama. Banyak mereka obrolkan mulai dari Misha sampai apa rencana Delia nanti nya.


Sayangnya, Delia tak mampu bertanya apa rencana Om Dika nanti. Apakah pria itu akan tetap sendiri membesarkan Misha nantinya ?


Sungguh Delia dibuat penasaran, bagaimanapun, dalam pandangannya, Om Dika adalah sosok pria yang sangat normal. pikiran jernihnya bahkan menolak fakta bahwa Om Dika adalah pria yang tidak tertarik dengan lawan jenis.


Andai aku punya cara agar bisa menolong Om Dika. Paling tidak membuatnya sedikit tertarik pada perempuan... tapi bagaimana caranya ? Bahkan Dewi saja yang sudah terang-terangan menyukainya tidak direspon sama sekali . Jika Dewi saja yang secantik itu tidak menarik di matan Om Dika, lalu gadis seperti apa yang bisa membuatnya sedikit bergetar?


_

__ADS_1


jangan lupa like dan komen yah....


__ADS_2