
Sebulan lagi telah berlalu, tak terasa waktu berputar begitu cepat. Delia dinyatakan telah lulus dan menyelesaikan tugasnya sebagai seorang siswa sekolah menengah atas (SMA).
Saat ini gadis itu benar-benar telah dewasa, ia akan menghadapi segala macam hal yang akan menguji kedewasaan nya kelak.
Misha dan ketiga sahabatnya sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang sama, pula mereka juga mengambil fakultas yang sama. Memang secara kebetulan yang menguntungkan, awalnya hanya Delia dan Devi yang ingin mengambil jurusan Tata Boga, sebab Delia tertarik ingin mengembangkan bisnis kuliner mendiang orang tua nya. Sementara Devi memang gemar membuat kue. Dan pada akhirnya Dinda dan Dewi mengikut dengan alasan, bukanya anak gadis harus bisa memasak. Alasan yang sangat klasik bukan? Tapi apapun itu, mereka akan senang sebab akan selalu bersama-sama.
Tentunya saat memasuki tahun ajaran baru, Delia menyempatkan untuk pergi ke kampung halaman nya berlibur untuk seminggu.
Di sisi lain hatinya merasa senang, disisi lain pula ia merasa gundah sebab harus meninggalkan Misha. Sebenarnya bisa saja Delia meminta agar Misha ikut bersamanya, namun Dika melarangnya, takut jika liburan Delia akan terganggu, lagi pula Delia kesana tidak sepenuhnya liburan, Delia juga akan belajar untuk mengelola bisnis kuliner mendiang orang tua nya mulai saat ini. Dika takut jika Misha ikut, maka akan membagi fokus Delia disana dan yang ada Delia malah tidak belajar malah sibuk mengurus Misha.
" Misha sayang, janji yah sama Kakak, kamu harus rajin belajar, dan makan tepat waktu, selama Kakak di sana, Kakak akan terus pantau kamu lewat Vidio call " Kata Delia
Untung nya gadis kecil itu mau di bujuk dan lebih mengerti. Jadi tidak banyak drama ketika ia harus berpisah dengan Delia
" Misha janji Kak, Kakak juga yah, jaga diri di sana, janji cuma seminggu " kata Misha. meski gadis itu tersenyum tapi sorot mata nya menunjukkan kesedihan. Delia merasa ikut sedih melihat nya
" Iya Sayang, semoga selama di sana apa yang kakak kerjakan lancar yah, supaya Kakak bisa pulang tepat waktu "kata Delia, ia tidak bisa berjanji, namun ia akan berusaha untuk itu
Delia dan Misha saling berpelukan untuk beberapa waktu, rasanya sulit bagi mereka untuk berpisah, waktu seminggu itu cukup lama bagi Misha. dan sekarang ia bingung harus melakukan apa nantinya selama itu tanpa Delia.
" Misha nggak usah sedih sayang, kan ada Ayah dan juga Eyang " Bujuk Dika, pria tampan itu tahu kesedihan putri kecilnya saat ini
" Eyang juga akan menginap di sini sampai Kakak Delia pulang kok Misha " Bunda juga ikut bicara, wanita paruh baya itu juga sebenarnya sedih, bagaimana pun ia juga sudah nyaman dengan keberadaan Delia, namun demi masa depan Delia, ia juga tak boleh egois.
Setelah saling pamit dan saling memberikan pelukan, tak lupa beberapa nasehat untuk Delia selama di sana. Akhirnya Delia bertolak, dan meninggal mereka yang sekarang menjadi keluarga Delia dengan langkah yang sedikit berat menuju mobil penumpang yang akan membawa Delia ke kampung halamannya.
Sampai ketemu lagi Bunda, Misha dan Om Dika .. Aku pasti akan sangat merindukan kalian...
**
.
Tiga hari berlalu, selama itu Delia tinggal di rumah keluarga Om Ryan, yang memang keluarga itu adalah satu-satunya yang bisa Delia anggap sebagai kerabat. Selain tetangga yang paling dekat dan paling baik, Om Ryan juga sebagai penanggung jawab untuk mengelola bisnis kuliner mendiang orang tua Delia, Om Ryan jugalah yang meminta Delia agar pulang untuk beberapa waktu, sebab saat ini Delia sudah pantas untuk mengelola bisnis orang tuanya.
" Bagaimana pendapat kamu tentang restoran Ayah mu Del? " tanya Om Ryan, saat mereka sekeluarga berada di meja makan untuk makan malam bersama
" Seperti dulu Om, tidak ada yang berubah di restoran Ayah, hanya saja tadi aku liat lebih ramai dari yang aku bayangkan " ungkap Delia
" Iya, Memang akhir-akhir ini restoran Ayah kamu sedang ramai pengunjung, semoga akan tetap seperti itu " ucap Om Ryan tulus
" Aamiin "
__ADS_1
Delia senang mengetahui itu. Memang itulah harapannya, restoran yang di bangun oleh Ayahnya dengan modal nekat bisa sukses besar, bahkan saat pemiliknya sudah tiada restoran itu masih tetap berjaya. Dan entah mengapa Delia merasa jika berada di restoran itu, ia selalu merasa sangat dekat dengan orang tuanya terutama dengan Ayahnya.
Delia merindukan rumah yang penuh kenangan bersama orang tuanya. Untuk itulah ia berada di sini sekarang. Rumah yang mengukir masa kecil nya. Masih terlihat sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Rumah itu terawat sebab dua hari sekali akan ada orang yang datang membersihkan rumah itu.
Delia tersenyum menatap pigura yang terpajang di dinding.
Padahal baru kemarin ia berada dalam dekapan hangat dalam sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Namun dalam sekejap takdir mengubah segalanya. Di sini ia sendirian, meski rumah yang dulunya selalu menjadi tempat pulang yang di selalu di rindukan saat di luar, sekarang begitu berbeda. Sepi dan hening dibalut rasa rindu ingin mengulang masa itu.
Delia menghapus jejak basah yang ia tak tahu kapan buliran itu menetes. Namun yang ia rasakan saat ini adalah rindu yang teramat sangat.
" Ayah, Ibu... Delia akan berusaha hidup bahagia, Aku juga akan menghargai setiap hari ku lalui meski tanpa kalian.... Delia sangat merindukan Ayah dan Ibu " lirihnya.
Sebuah tangan kekar datang merangkul pundak mungil itu. Delia terkejut, ia berbalik, ternyata tangan kekar itu adalah milik seseorang yang selalu melindungi nya dulu.
" Kak Ryo,,,, "
Delia memeluk pria yang usianya setahun lebih tua darinya.
"Kapang datang? Kok nggak kabarin ? " tanya Delia
" Barusan aja sampai, aku mau kasi kejutan buat Ayah sama Bunda,,, eh malah aku yang terkejut sebab ternyata kamu juga pulang... kok nggak kabarin Kakak kalau kamu pulang, kan bisa bareng ? " tanya Ryo
" Aku nggak mau ganggu Kakak, aku liat story' Kakak selalu ada kegiatan, jadi aku pikir Kakak sibuk " jawab Delia jujur
Delia hanya bisa terkikik sambil memohon maaf pada pria yang sudah ia anggap seperti Kakak sendiri.
Delia dan Ryo berpindah tempat dan memilih untuk duduk di ruang tamu di kursi yang sama. Tangan mereka masih sangat menggenggam. Tak ada yang bisa menebak bagaimana perasaan keduanya, hanya saja memang antara Ryo dan Delia sangat dekat hingga tak ada yang bisa menebak antara nyaman sebagai Kakak atau sebagai wanita dan pria.
Hanya saja, Delia selalu melihat Ryo sebagai sosok yang pantas di kagumi. Cara Ryo melindungi dan menyayangi Delia membuat Delia merasa cukup berharga. Hingga ia lupa bahwa rasa nyaman itu akan membawanya pada sesuatu yang mungkin nantinya akan membuatnya bahagia atau malah sebaliknya.
Dan sampai detik ini. Delia sendiri tak bisa melihat kekaguman lain untuk pria di luar sana.
Jika dulu ia selalu menampik bahwa rasa itu hanya sekedar hubungan persaudaraan, namun semakin dewasa ia mulai merasa bahwa rasa itu berbeda, semacam ada rindu yang tak mampu ia ungkapkan.
Namun Delia bisa meminimalisir perasaan itu. Sebab hari-hari nya juga di penuhi oleh Misha yang selalu mengalihkan perhatian nya.
Setiap kali Delia merasa rindu dengan sosok Ryo, maka Misha selalu datang untuk menemani nya.
" Nggak nyangka yah, ternyata kamu sudah sebesar ini, padahal kita di kota yang sama, tapi baru dua kali ketemu selama di sana " ujar Ryo
" Hem,, itu karena Kak Ryo sangat sibuk selama kuliah, jadi susah deh menemui Aku " kata Delia
__ADS_1
" Iya Maaf, selama Kakak terhubung dengan salah satu organisasi, Kakak jadi sering lupa mau ketemu kamu "
Delia memanyunkan bibirnya. Dan itu sangat lucu di mata Ryo
" Jangan-jangan Kak Ryo juga sudah punya pacar, makanya sudah tidak perduli lagi sama aku "
Rasa ingin tahu Delia tentang dunia asmara sang Abang angkat mulai kelihatan.
Dan Ryo nampan tersenyum sambil berpikir. Hal itu membuat Delia sedikit curiga dan was-was.
" Kakak, beneran udah punya pacar ? " tanyanya penasaran
" Pacar sih nggak ada Dek,,, " jawab Ryo jujur
" Lalu ? "
" Lalu apa? Yah nggak Dek "
" Tapi pasti ada yang sedang Kakak incar kan,, PDKT gitu " tanya Delia ragu-ragu. Sebenarnya ia ragu menanyakan hal ini. Namun rasa ingin tahunya lebih besar
lagi-lagi pria tampan itu tersenyum,
" Ada sih,, tapi nggak PDKT, cuma teman biasa " kata Ryo
wajah Delia tiba-tiba berubah datar, ia tak tahu jika jawaban Ryo akan membuatnya kehilangan mood
" Tapi Kak Ryo suka sama Dia ? " dan bodohnya lagi, ia menanyakan hal yang akan. membuat nya sakit.
" Suka sih, Tapi _ "
" cewek itu cantik nggak ? " belum selesai Ryo menjawab malah Delia menambah pertanyaan baru
" Yah, cantik dong " Ryo menjawab ringan
Delia merasa ada rasa sedikit nyeri di hatinya. Jadi dia memutuskan untuk tidak menanyakan hal yang lain lagi.
" Nanti kalau ada waktu, Kakak kenalin ke kamu deh " kata Ryo.
Delia memaksakan senyuman di wajahnya. Bagaimanapun, apa yang ia rasakan tetap harus menjadi rahasia.
Resiko mengagumi seseorang dalam diam. Maka harus siap patah hati.
__ADS_1
_
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like and komen yah ..