
Akhirnya tiga hari yang dijanjikan Tari sudah tiba. Sore nanti gadis itu akan kembali ke tempat asalnya. Sesuai janjinya, setelah tiga hari yang ia lalui di rumah Dika, ia berjanji akan menjauh untuk selama-lamanya dari kehidupan pria yang sulit ia sentuh itu.
Meski ia begitu berat dan jujur masih ada sedikit keraguan untuk mempercayai apa yang ia saksikan, namun ia harus menepati janjinya. Ia pun juga berusaha meyakinkan diri bahwa Dika memang sudah bahagia dengan keluarganya sekarang, dan tak ada lagi tempat baginya untuk membagi kebahagiaan itu.
Tari sudah menyiapkan semua keperluan dan barang-barang miliknya kedalam travel bag. Ia juga sudah memastikan bahwa tidak ada barang satupun yang ketinggalan di rumah ini sekecil apapun benda itu. Baginya apapun tentang dirinya harus ia bawa bersamanya.
Tok.. tok.. tok...
" Masuk saja tidak di kunci " ujar Tari saat ia ada seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarnya
Delia masuk, untuk pertama kalinya wajah Delia terlihat ramah dan penuh senyum tulus. Apakah mungkin Delia sesenang itu karena Tari akan meninggalkan rumah ini nanti sore?
" Kamu sedang bersiap? " tanya Delia ketika ia sudah duduk di sisi tempat tidur
" Hem,, aku sudah memastikan bahwa tidak ada barangku yg ketinggalan " jawab Tari
Delia lagi-lagi tersenyum. Harus ia akui bahwa ada rasa tak enak dan merasa sedikit bersalah sebab selama tiga hari ini ia memperlakukan seorang tamu di rumahnya dengan tidak ramah. Yah, meskipun di balik itu ia memiliki alasan yang kuat.
Bukankah sebagai istri kita harus tegas dan judes terhadap makhluk yang ingin mencari perhatian suami kita? Yah, meski itu juga hanya sebuah sandiwara.
" Bagaimana perasaanmu selama tiga hari di sini? " tanya Delia
" Aku cukup senang, meski kehadiranku ternyata tidak diinginkan, tapi aku senang melihat Dika bahagia dengan keluarga nya " jawab Tari
" Apa sekarang kamu sudah yakin? " tanya Delia lagi
" Haruskah aku berkata jujur? "
Delia mengangguk
" Sebenarnya aku belum sepenuhnya yakin,, namun sesuai janjiku aku harus meninggalkan kalian dalam tiga hari kan? Dan harusnya aku sadar, bahwa meski aku berada di tengah kalian dengan jangka yang cukup lama sekalipun, jika Dika gak menginginkanku maka semua sama saja, intinya aku tidak boleh memaksakan kehendakku,, hahahha... aku terlalu egois yah... " jelas Tari, meski ia sedih dalam kejujuran nya, namun ia berusaha tertawa, karena ia menyadari kebodohannya dalam beberapa minggu ini.
" Baguslah jika kamu menyadarinya " balas Delia
" Seharusnya aku menyadarinya dari awal,, jika aku memakai logika ku saat bertemu Dika, mungkin Dika tidak akan setakut itu padaku,, tapi aku terlalu mementingkan perasaan dan ambisiku, sehingga membuat Dika terganggu selama ini, seharus nya dari awal aku datang dan hanya meminta maaf " Taru berucao seperti sedang menyesali semua yang terjadi.
" Sudahlah,, semua sudah terlanjur,, aku bersyukur kamu menyadari kesalahanmu " ujar Delia
" Maafkan aku karena sudah mengganggu ketenangan kalian selama ini " ucap Tari tulus
Delia mengangguk dan tersenyum hangat,, ia dapat melihat bahwa Tari yang ia lihat sekarang adalah Tari yang baik hati.
" Apakah kamu mau berbicara dengan Dika sebelum kamu pergi? " tanya Delia
" Apakah boleh? " wajah Tari berbinar
" Tentu saja boleh "
." Tapi,, apakah Dika mau diajak berbicara dengan ku? " mendadak wajah Tari berubah sendu
" Tenang saja, aku akan membujuk Dika "
__ADS_1
.
" Benarkah? "
" Iya "
" Terimakasih sebelumnya "
Tari senang bukan main, akhirnya ia bisa bicara dengan Dika, meski itu hanya sebentar. Tapi tidak apalah, yang jelas ia hanya ingin meminta maaf dengan tulus. Tari juga menyadari bahwa Delia ternyata tidak sejudes yang ia lihat, bahkan Delia hari ini merupakan sosok wanita yang paket komplit dimatanya, sudah cantik lembut dan dewasa dalam segala hal. Mungkin kemari Delia bersikap tidak baik kepadanya sebab wanita itu sedang berusaha menjaga miliknya.
*
Dika pulang lebih awal hari ini, bahkan bisa dibilang Dika pulang sangat cepat di siang hari. Bagaimana tidak, ia begitu semangat setelah mendapat telfon dari Delia yang memintanya untuk segera pulang. Dan tanpa pikir panjang iapun berada di rumah sekarang.
Dika menemui istri Pura-puranya itu dikamarnya. Delia sedang merapikan pakaian Dika dan menyusunnya sesuai warnanya di dalam lemari.
Delia sendiri tak menyadari jika Dika sudah berada didalam kamar sejak tadi. Dengan perlahan Dika mendekati Delia dan langsung memeluknya dari belakang.
Delia memekik tertahan, ia terkejut sebab ia mendapat serangan mendadak.
" Kenapa menyuruhku pulang? merindukan ku? " tanya Dika yang masih merangkul gadis kecil itu
" Om, lepasin nanti diliat Bunda " Delia berusaha melepaskan tangan Dika dari tubuhnya
" Nggak akan, pintu nya sudah aku kunci " balas Dika,, ia bahkan sudah mengendus aroma wewangian dari leher Delia yang membuat gadis itu sedikit merinding
" Om, apaan sih,, hentikan " Delia berontak, tapi ia seidkit menikmati perlakuan itu
" Ish,, aku mau ngomong Om " kata Delia sedikit kesal, sebab Dika bukan lagi mengendus aromanya, melainkan sudah memberi kecupan sela-sela leher jenjang nya.
" Ngomong aja,, Om dengar kok " balas Dika tanpa mengurangi perbuatan mesumnya yang membuat Delia semakin geli
" Om, lepasin dulu,, geli tau " Delia berusaha melepaskan diri tapi Dika begitu kuat
" Geli tapi kamu suka kan " Dika menggoda, bahkan suaranya sudah terdengar serak
" Om,, aku marah loh " ancam Delia
Akhirnya Dima mengendorkan sedikit rangkulannya.
" Okee,, mau ngomong apa? " tanya Dika
" Tari nanti sore mau pulang Om " kata Delia
" Hem, terus? "
" Om bisakan ngobrol dulu sebentar sama Tari "
" Buat apa ? "
" Yah, siapa tahu Tari ada yang mau disampaikan ke Om, kan selama ini Om nggak pernah kasi dia kesempatan untuk bicara "
__ADS_1
" Nggak ada yang perlu dia bahas, kan sudah jelas kalau Om nggak mau di ganggu lagi " kata Dika, ia merasa tidak perlu membuang waktu dengan wanita yang sudah membuatnya trauma dengan semua wanita
" Paling nggak kan Tari mau mengutarakan sesuatu sama Om sebelum dia pergi, biar hatinya tenang " ucap Delia
" Kamu kira dia meninggal dunia? " balas Om Dika konyol
" bukan begitu maksudnya, ish " Tari mencubit kecil pinggang Dika, hingga membuat Dika mengaduh kesakitan
" Mau yah Om,, bentar aja kok, kasian dia sudah berubah loh " sambung Delia mencoba membujuk
" Oke,, tapi apa yang Om dapat kalau Om mau ngobrol sama Tari ? " tanya Dika
" Maksudnya? "
" Kan, kamu suruh Om untuk ngobrol sama Tari, artinya Om harus dapat untung dong dari permintaan kamu ini, kan Om nggak mau, jadi biar Om mau kamu harus kasi sesuatu dulu sama Om " jelas Dika
" Kok gitu sih? "
" Yah, memang harus begitu,,, kalau kamu nggak mau yaudah Om balik kerja lagi " Dika sudah berbalik dan ingin pergi tapi Delia dengan cepat menarik tangannya
" Eh eh, Om tunggu dong,,, iya iya Delia bakalan kasi Om apa yg Om minta " ujar Delia pasrah, ia harus melakukan nya, anggap saja ini kebaikan nya yang ia lakukan untuk Tari
" Serius? apapun yang Om minta kamu bakal kasi? " Dika memastikan
" Yah, tergantung dong permintaannya apa, asal jangan yang aneh aneh aja " jawab Delia
" Nggak aneh aneh kok " kata Dika dengan senyum jahilnya
" Oke, deal kalau gitu " kata Delia
" Jadi, kapan Om ngobrol sama Tari? " tanya Dika
" Sekarang juga boleh, kebetulan Tari ada di taman belakang " jawab Dika
" Oke,, tapi sebelum itu cium dulu dong "
Dika sudah memajukan kepalanya, namun dengan sigap Delia mendorongnya
" Ish,, mesum banget sih Om sekarang " kata Delia
" Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa " kata Dika, sekali lagi mencoba peruntungan
" Ish,, istri pura pura " Delia kembali mendorong kepala yang hampir sampai ke wajahnya.
" Jadi mau istri sungguhan,, ayok kapan maunya? " Dika semakin menggoda, sehingga membuat wajah Delia memanas dan menjadi merah
" Om Dika "
Delia sangat malu, Dika semakin membuat terpojok dan sulit berkata-kata.
_
__ADS_1