Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Menjelaskan


__ADS_3

Delia tidak bisa tidur nyenyak rupanya, Ia terus saja memikirkan perkataan Bunda yang akan menikahkannya dengan Om Dika. Bukan ia tak suka atau tak mau, hanya saja ia memikirkan bagaimana caranya menjelaskan hal ini kepada para sahabatnya, terutama Dewi, secara sahabat Delia yang satu itu merupakan salah satu gadis pemuja Om Dika, Delia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Dewi nantinya. Hal yang paling buruk dalam pikiran Delia ketika sahabatnya akan menjauhinya nanti. Yah, meski itu hanya sebuah kemungkinan saja. Namun Delia sudah merasakan ketakutan yang luar biasa.


Disaat ia sibuk dengan segala lamunan dan segala kemungkinan yang sudah ia bayangkan, getaran ponselnya akhirnya membuyarkan segalanya.


Kenapa belum tidur?


Pesan itu rupanya dari Om Dika. Delia bingung kenapa Om Dika sampai tahu jika saat ini ia belum tidur? Apakah pria itu sedang mengawasi nya sekarang? Atau dia ada di suatu tempat dimana Delia tak bisa menemukannya dikamarnya?


Tak ingin banyak menduga-duga, akhirnya Delia memutus kan untuk membalas pesan itu.


Belum ngantuk Om..


Tak lama kemudian Om Dika membalas pesannya


Belum ngantuk atau sedang memikirkan pernikahan kita? ๐Ÿ˜


Delia menarik nafas namun kemudian tersenyum juga. Om Dika Akhir-akhir ini memang seperti Abg. Begitu pikirnya.


Yah,, salah satu yang membuat Delia susah tidur juga itu Om..


Lama Delia menatap ponselnya menunggu balasan dari Om Dika, namun Om Dika tak ada tanda tanda sedang mengetik padahal pesan itu sudah centang dia dan sudah terbaca.


Om tidur yah?


Akhirnya Delia memutuskan untuk mengirim pesan kembali.


Dan tak lama Om Dika pun membalas pesannya.


Nungguin yah? ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


Delia sedikit jengkel dengan Om Dika, rupanya pria itu sedang mengerjai nya.


Ish,, nyebelin banget sih ๐Ÿคจ


Hahaha... iya iya Maaf,, memangnya lagi mikirin apa sih calon istri Om?


Delia tak bisa menyembunyikan semburat merah malu malu saat membaca pesan Om Dika yang satu ini.


Delia kepikiran Dewi Om,, Om sendiri kan tahu bagaiamana perasaan Dewi ke Om,, Delia takut kalau Dewi tahu Bunda bakalan nikahin Delia sama Om,, Dewi pasti bakalan sakit banget.....


Delia menjelaskan semua apa yang menjadi kegundahannya.


Tenang saja,, kamu jelaskan secara baik baik,, Om yakin Dewi pasti mengerti.. Atau kamu mau Om temani?


Nggak udah Om,, Delia bisa kok....


Malam itu mereka habiskan dengan berkirim pesan hingga larut malam. Dan entah samapi dimana obrolan mereka, hingga akhirnya Delia tak tahan kantuk lalu tertidur dengan ponsel yang masih berada dalam aplikasi obrolan.


Paginya Delia mengumpulkan semua sahabatnya. Beruntung hari ini dosen yang masuk sedang berhalangan, jadi Delia pikir inilah saat yang terbaik untuk berbicara pada para sahabatnya.


Dan di tempat biasa, dimana tempat yang paling tenang dan nyaman menurut mereka, disitu lah Delia ingin menjelaskan tentang rencana Bunda.


Ketiga para sahabatnya sudah berkumpul dengan wajah yang penasaran, menunggu apa yang akan dikatakan Delia, seperti nya suatu hal yang serius, sebab rait wajah Delia terlihat sangat berbeda.


" Ada apa sih Del? kita udah nunggu selama 21 menit loh, tapi kamu belum ngomong juga " akhirnya Dinda yang pertama mengeluarkan suara


" Iya nih,, aku penasaran banget loh ini " sambung Devi


" Kayaknya ada yang serius nih " tebak Dewi


Delia menarik nafasnya dalam-dalam, seakan mengumpulkan semua kekuatannya untuk berbicara.

__ADS_1


" Huuffttt,, ada hal yang penting yang ingin aku jelaskan sama kalian dan ini serius " kata Delia


" Apa tuh? " Devi Dinda dan Dewi serempak bertanya


" Tapi sebelum itu aku mau kalian janji,, apapun yang aku jelaskan nanti tidak akan membuat persahabatan kita putus,, kalian boleh marah,, tapi tolong jangan pernah tinggalkan aku, bagaimana? " Delia memberi penawaran


" Emang nya ada apa sih, kok pake janji segala " ini Dinda yang bertanya


" Pokoknya kalian harus janji dulu " ujar Delia sambil menaikkan jari kelingking nya


" Iya,, Jani " Devi lebih dulu menautkan jari kelingking nya.


" Iya,, aku juga janji " Dinda pun ikut menautkan hari kelingkingnya


" Hem,,, aku juga Jani,, kita bakalan sahabat terus apapun yang terjadi " kali ini giliran Dewi yang menyambut hari kelingking Dinda


" Aku.... Aku akan menikah " ucap Delia lirih


Dan terbukti respon para sahabatnya sangat terkejut, mereka semua membulatkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka.


" Apa...... " kata mereka


" Aku nggak salah dengar kan? " tanya Devi


" Sama siapa Del? " tanya Dinda


" Iya sama siapa Del,, emangnya kamu punya pacar? " tanya Dewi


Untuk beberapa detik Delia tak memjawab, ia masih mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan para sahabatnya.


" Del " Devi menyebut nama Delia yang tak juga bergeming


Delia mengangguk lemah


" Iya, kalian kenal kok " jawab Delia


" Siapa? " tanya Dewi lagi, disini ia yang paling penasaran


" Om Dika " Jawab Delia yang membuat semua diam membisu, sulit menerjemahkan dan mengartikan ucapan Delia


. " A,, apa Om Dika? " Devi memastikan sekali lagi, Dan sekali lagi Delia mengangguk lemah


" Kamu nggak serius kan Del? " kata Dinda


" Kamu pasti bercanda Del,, kamu pasti cuma mau nge prank kita, iya kan? " Dewi berharap ini hanya candaan Delia saja.


" Nggak Wi,, aku serius,, aku memang akan menikah dengan Om Dika " Ujar Delia begitu berat


" Nggak mungkin " Devi berguman tak percaya


" Tapi kenapa ? ada sesuatu yang terjadi ? kenapa tiba-tiba kamu mengabarkan akan menikah dengan Om Dika? " Dinda membombardir Delia dengan banyak pertanyaan


" Bunda yang menginginkan kami menikah " jawab Delia lirih


" Iya, tapi kenapa? " tanya Dinda lagi


Dewi sendiri sudah tak punya kata dan pertanyaan untuk di unkapkan, sebab jujur perasaannya saat ini tak karuan dengan berita yang keluar dari mulut sahabatnya.


Sakit,, tentu saja. Bahkan ia belum sempat berjuang untuk memenangkan hati Om Dika, dan sekarang ia harus menerima kenyataan pahit dan memaksanya untuk mundur teratur.


" Kalian tahukan, bahwa aku akan pura pura menjadi Mama bagi Misha jika sedang menemaninya diluar? "

__ADS_1


ketiga temannya mengangguk


" Dan kalian tahu juga kan, tentang wanita yang bernama Tari, yang tiba-tiba muncul di kehidupan Om Dika? "


lagi- lagi ketignya mengangguk.


" Awalnya karena Tari yang meminta untuk menginap di rumah kami selama tiga hari " kata Delia.


Lalu iapun menjelaskan bagaimana sandiwaranya terlihat sempurna dimata wanita itu, bagaimana ia harus meyakini Tari bahwa ialah istri Om Dika. Sampai ia juga menjelaskan tentang ia yang harus tidur sekamar dengan Om Dika selama tiga hari.


" Demi Tuhan, aku sama Om Dika tak melakukan apa apa meski kami berada dalam satu kamar, Namun aku merasa bahwa Om Dika selalu terlihat beda selama kedatangan Tari di rumah. Hingga pada saat Tari berpamitan pulang, Om Dika masih saja memerankan sandiwara itu. Hingga pada malam itu, Bunda memergoki kami sedang berdua dimalam hari didalam kamarku "


Delia menunduk seakan tak punya muka setelah menjelaskan segalanya.


" Dan karena itu Bunda ingin kalian menikah? " tanya Devi dan Delia menjawab dengan anggukan


" Tapi kalian tidak melakukan sesuatu yang aneh kan? " ini Dinda yang bertanya


" Sumpah Demi Tuhan, Demi Ayah dan Ibu ku yang sudah tiada, kami tak pernah melakukan sesuatu yang macam-macam " ujar Delia, ia rasanya ingin menangis, apa lagi melihat raut wajah Dewi yang sudah berubah.


" Maafin aku,, terutama buat kamu Dewi,, aku tahu bagaimana perasaan kamu,, tapi aku nggak bisa menolak permintaan Bunda "


Delia menatap Dewi dengan mata yang berkaca, sementara Dewi sudah mengeluarkan beberapa tetes air mata sejak tadi. Wajah sahabatnya itu sudah tidak bisa dijelaskan. Semua yakin bahwa Dewi saat ini sedang tidak baik baik saja.


" Sudahlah, tidak apa -apa,, aku sudah menduga ini sejak awal,, dan akhirnya kejadian juga kan " ucap Dewi yang memaksakan senyumnya


" Dewi,, aku tidak bermaksud menghianatimu " Delia memelas, dan memenangi tangan Dewi


" Tidak apa- apa Delia,, aku ucapkan selamat untukmu,,, aku pergi dulu " Dewi melepaskan genggaman tangan Delia dan pergi begtu saja


" Dewi " Delia memanggilnya, namun yang di panggil tak lagi peduli.


Devi segera menyusul Dewi, ia tak ingin membiarkan Dewi sendirian di situasi seperti ini.


Dan akhirnya Delia pun menangis.


" Del, kamu nggak perlu nangis, ini semua di luar kuasa kamu " Dinda berusaha menenangkan


" Tapi aku merasa bersalah sama Dewi, Din " kata Delia


" Iya,, tapi ini bukan salah kamu kan,, mungkin memang kamu sudah ditakdirkan berjodoh dengan Om Dika " Dinda sendiri tak menyalahkan nasib Delia, meski sebenarnya ia juga kasiahan kepada Dewi


" Dewi pasti marah banget sama Aku, dia pasti sudah tidak mau bersahabat dengan ku " kata Delia semakin sesegukan


" Itu nggak akan Del, aku kenal Dewi, dia gadis yang baik,, Dewi hanya butuh waktu saja,, bagaimana pun ini begitu menyakitkan untuknya " ujar Dinda, ia memeluk Delia yang sudah tak kuasa dengan tangisnya, beruntung tak ada yang memperhatikan mereka.


" Bagaimana kalau Dewi ternyata sangat marah, dan memilih untuk memutuskan persahabatan denganku,, aku nggak akan sanggup Din " kata Delia


'' itu nggak akan terjadi Del, biarkan Dewi sendiri dulu, kita berikan dia waktu untuk menerima keadaan ini, baru setelah itu kita ajak bicara baik- baik " kata Dinda


" Apa kamu yakin Dewi akan menerima semua ini? " Delia sedikit mulai tenang


" Aku yakin " balas Dinda


" Terimakasih Dinda,, aku sayang sama kamu, aku sayang sama kalian semua " Delia memeluk Dinda dengan erat


" Aku juga sayang banget sama kamu Dek,, sudah jangan menangis lagi,, kita pasti bisa melewati ini "


Sungguh Delia sangat beruntung bisa di pertemukan dengan sahabat seperti Dinda Dewi dan Devi. Maka dari itu, ia tak ingin membuat sahabat nya terluka.


_

__ADS_1


__ADS_2