Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Telfon


__ADS_3

Waktu bergulir, tak terasa sudah sebulan Delia sudah melakukan rutinitas di desa yang tanpa jaringan seluler ini. Awalnya ia pikir mungkin ia tak akan betah dan berencana kembali ke kampus untuk meminta ijin kepada dekan untuk di pindahkan ke daerah yang lain, tidak apa-apa lebih jauh dari yang sekarang, yang penting daerah itu bisa mengankses jaringan internet atau jaringan seluler. Sungguh, Delia merasa sangat was was setiap hari jika tidak mendengar atau tidak mengabari Dika, ia juga rindu ingin bertukar suara dengan Misha dan Bunda.


Tapi, hari ini ia merasa bersemangat sebab ia yang akan bertugas ke pasar raya untuk berbelanja keperluan makanan. Itu artinya ia bisa menghubungi Dika dan Misha selama di pasar raya nanti.


"Ayo buruan Wi,, kita harus cepat ke pasarnya, keburu siang " ujar Delia bersemangat kepada Dewi


" Iya,, ini juga masih jam 7 pagi Del,, lagian pasarnya juga nggak bakalan lari " gerutu Dewi, ia sedikit kesal sebab Delia sedari tadi membuatnya buru-buru hingga ia mandi tak sempat keramas. Namun Dewi memaklumi sikap sahabatnya yang seperti itu, pasti karena gadis itu begitu semangat sebab di pasar ia bisa menghubungi Calon suaminya.


Yang di utus ke pasar untuk berbelanja kali ini adalah Delia, Dewi, Tarjo dan Miko.


Mereka akan pergi menggunakan sepeda motor yang warga pinjamkan untuk mereka.


" Jadi aku bonceng siapa nih? " tanya Miko


" Bonceng Tarjo lah Mik,, aku boncengan sama Delia " jawab Dewi


" Yah, nggak bisa gitu dong, seharusnya aku yang boncengin kamu, Delia sama si Tarjo" Miko tidak keberatan


" Iya bener itu kata Miko " Tarjo setuju dengan pendapat Miko


" Bisa dong,, Delia sama aku tuh sama sama bisa bawa motor, jadi nggak perlu boncengan sama cowok " kata Dewi.


" Yah, tapi nggak asik Neng,, masa sih sepanjang jalan harus deketan sama Tarjo " ujar Miko pelan. Pasalnya, pria itu yang paling bersemangat ketika mendapat tugas berbelanja kepasar bersama Dewi. Miko ini memang sudah mengincar Dewi sejak semester empat lalu, yang memang ia sering melihat Dewi di kampus sebab fakultas mereka berada di gedung yang sama.


" Yee, aku juga ogah di bonceng sama kamu " Tarjo pun menolak dengan dialek daerah yang sangat kental.


" Yukk jalan " Delia naik ke motor dimana Tarjo sudah ada di atasnya, hal itu membuat Dewi heran dan Miko tersnyum senang, sedangkan Tarjo sudah kegirangan dalam hati.


" Loh,, bukannya kita seharusnya boncengan Del ? " tanya Dewi, memang tidak ada kesepakatan siapa yang membonceng siapa, Dewi baru kepikiran baru baru tadi sebab ia tidak ingin berdekatan dengan Miko, sebab Dewi tahu pria itu pasti sedang curi pandang dan perhatian padanya. Dan Miko bukanlah sosok yang masuk dalam kriteria pria idama Dewi, meskipun Miko itu termasuk pria yang kalau di lihat dari tampang dan bentuk tubuh memang oke lah. Namun Dewi tidak tertarik sama sekali.


" Udah,,, pulangnya aja kita boncengan, mending kita jalan sekarang, entar kesiangan,, Ayo Jo "


Tarjo akhirnya menjalankan motor yang ia kendarai dengan semangat. Dan Dewi mau tak mau terpaksa duduk di belakang Miko dengan wajah yang tertekuk.


" Pegangan Wi, entar jatuh " kata Miko


" Uhh,, dasar modus " Dewi menggerutu kesal.


Akhirnya dengan menempuh perjalanan yang kurang lebih hampir memakan waktu dua jam. Delia dan ketiga kawannyapun tiba di pasar raya. Tanpa pikir panjang hal pertama yang Delia ingat adalah ponsel di saku celananya. Buru-buru ia mengambil benda pipih itu dan melihat nya.

__ADS_1


Dan ternyata banyak pesan dan beberapa panggilan yang sempat masuk ke ponselnya dari beberapa orang yang berbeda, termasuk dari Misha dan juga Dika.


" Belanja dulu Del,, nanti baru telfonan nya. " ujar Dewi


" Iya entar,, aku mau kabarin Dika dulu,, lima menit aja " kata Delia.


Dengan semangat Delia menghubungi Dika. Namun dua kali Delia melakukan panggilan telefon orang yang di seberang sana tidak menjawabnya. Hingga kali ke tiga akhirnya Delia bernafas legah sebab panggilan nya pun terjawab.


" Halo,,, Honn " kata Delia semangat


" Iya, halo "


Senyum Delia yang tadi sangat ceria tiba-tiba meredup setelah mendengar jawaban dari seberang sana. Delia kembali memastikan bahwa yang ia hubungi adalah benar,namun kenapa suara di balik sana bukan suara Dika, melainkan suara wanita, dan Delia baru mendengar suara itu. Dan Delia yakin bahwa pemilik suara itu bukan Bunda ataupun Misha.


Dan entah mengapa perasaan Delia mendadak tidak enak. Sedang apa Dika sekarang? Sedang bersama siapakah calo suaminya itu?


" Ini siapa? Dimana Dika? " tanya Delia


" Oh,, Dika sedang ke kamar kecil " balas wanita yang menjawab ponsel Dika


" Lalu kenapa Anda yang menjawab ponsel Dika,, Anda siapa? " tanya Delia, ia begitu penasaran, jika ingin jujur perasaan saat ini sedang tidak baik baik saja.


Belum sempat wanita itu menjawab, ternyata panggilannya terputus. Delia mencoba menghubungi Dika kembali namun tidak dapat tersambung lagi, dan itu Delia lakukan beberapa kali dan ternyata hasilnya sama, ponsel Dika tidak bisa di hubungi.


Delia akhirnya pasrah dengan perasaan yang tak karuan. Ia mendadak sesak dan tak bertenaga.


Jika ingin jujur, ia ingin percaya bahwa Dika tak mungkin bermain belakang, namun hatinya tak bisa bohong bahwa ada sedikit keraguan yang merasuk saat ini.


Dika sedang apa bersama wanita di pagi hari seperti ini? lalu siapa wanita itu?


Pertanyaan itu yang terus muncul di kepala Delia.


" Udah telfon nya? " tanya Dewi


Delia mengangguk lemah. Dewi sendiri menyadari perubahan ekspresi sahabatnya itu.


" Ada apa? Om Dika tidak mengangkat telfon kamu? " tanya Delia


" Di angkat, tapi... " Delia begitu sulit menjelaskan kepada Dewi.

__ADS_1


" Apa? " Dewi penasaran.


Delia hanya diam beberapa saat, rasanya ia ingin menangis saat ini. Namun ia tahan sebab ini tempat umum.


" Tapi Apa Del? " Dewi bertanya lagi


" Yang menjawab telfon Dika bukan dia Wi " jawab Delia terdengar parau


" Lalu siapa? " tanya Dewi lagi


" Seorang wanita " jawab Delia


" Apa,, wanita? " ulang Dewi dan Delia mengangguk


" Kamu yakin itu wanita? " tanya Dewi lagi


" Yakin Wi, aku sempat berbicara dengannya beberapa kalimat, tapi tiba-tiba ponselnya mati " Delia menjelaskan dengan getir, matanya bahkan sudah merah karena menahan tangis


" Mungkin saja itu Bundanya Om Dika Del " tebak Dewi.


" Bukan Del,, aku kenal suara Bunda,, dan wanita itu bukan Bunda melainkan orang lain " bantah Delia, ia begitu yakin dengan apa yang ia dengar tadi.


Dewi akhirnya tak bisa berkata apa-apa, ia begitu iba melihat Delia yang mendadak sedih seperti itu.


" Yasudah,, kita masih lama di sini,, barangkali Om Dika akan menelfon kembali, semoga saja wanita itu hanya teman kerja yang kebetulan ketemu sama Om Dika,, lagipun kamu juga tidak tau kebenarannya kan? jadi jangan pikir yang macam-macam "


Dewi mencoba menasehati Delia berharap sahabatnya itu bisa tenang, meski sebenarnya hatinya juga ragu dengan apa yang ia katakan tadi.


" Hem,, semoga saja Wi " gumam Delia


" Kalau begitu, kita berbelanja bekal kita dulu,, kasian Tarjo dan Miko sudah menunggu dari tadi " ujar Dewi.


Delia melangkah gontai, ia tak begitu bersemangat berbelanja, dalam pikiran nya hanya ada Dika. Dan pertanyaan tentang siapa wanita yang bersama nya saat ini.


Tenanglah wahai hati.... Yakinlah bahwa rindu itu masih tersimpan rapi bersama setia yang menyertai...


Sepanjang berbelanja, Delia terus menenangkan hatinya, bahwa semua akan baik-baik saja.


_

__ADS_1


__ADS_2