
Ketika gadis-gadis sedang berkumpul pasti ada saja hal yang harus di bahas, mulai hal yang penting sampai hal yang tidak ada faedahnya sama sekali.
Di perkumpulan ini, empat anak gadis sedang berkumpul dalam satu kamar, tepatnya di rumah Dewi. Empat orang gadis yang terdiri dari Delia Dinda Devi dan Dewi sendiri memang sengaja ingin berkumpul seperti sekarang. Bukan karena mereka sedang mengerjakan tugas sekolah, melainkan mereka sedang ber quality time kata jaman sekarang, sebelum mereka memasuki ujian akhir sekolah yang tinggal dua minggu lagi.
Saat ini, yang sering terdengar suaranya adalah Dinda, yang pasal nya sedang suka sama cowok satu kelasnya sejak setahun lalu, dan ia baru berani mengungkapkannya sekarang kepada para sahabatnya.
" Asli, kamu tuh paling pinter menyembunyikan perasaan Din, aku kasi jempol deh sepuluh " Devi berkomentar
" Emang, perasaan yang kamu pendam selama lebih setahun itu nggak pernah berubah Din? maksud aku, kok bisa kamu terlihat biasa aja, padahal kita ini sekelas loh " ujar Dewi
" Yah, mungkin Dinda malu untuk mengutarakan perasaannya sama kita gaes " Delia ikut bicara
" Tapi, ini terlalu lama kamu pendam nya Din, apa nggak nyesek tuh dada ? " tanya Devi
" Hem,, kalau di tanya soal nyesek, asli setiap hari kesekolah pasti nyesek banget lah,, cuma aku kuat-kuattin aja " balas Dinda
" Tapi anehnya tampang kamu biasa aja loh Din " ujar Dewi
" Yah, itulah kehebatan aku Wi "
Sang Dewi melempar kulit kacang ke muka Dinda yang berkata kepedean.
" Emang, yang kamu suka dari si Dino tuh apa Din, kalau menurut aku sih,, dia biasa aja,, dan ada yang lebih keren di kelas kita, salah satu Ojan atau Dewa " kata Delia
" Cieee, yang udah mulai suka sama Dewa, sampai banding-bandingin sama Dino " Devi mengejek
" Apaan sih Dev, aku cuma kasi perumpamaan aja " Delia mengelak
" Udah, jujur aja sih Del, lagian nggak apa-apa kalau kamu suka sama Dewa " Dewi ikut meledek
Delia bernafas jengah, rasanya sulit jika ia harus bertarung kata dengan dua orang yang sama cerewet nya .
" Serah lah " Delia pasrah
" Cieeee " Devi dan Dewi bersorak
" Hem, menurut aku Dino itu lebih dari siapapun, memang dari paras, mungkin Dino nomor sekian, tapi ada hal yang membuat aku sangat tertarik sama Dino, salah satunya pembawaan nya yang tenang, dan nyaris tak pernah merayu gadis manapun, yah dari sudut pandang aku sih begitu, nggak tau deh penilaian cewek lain" jelas Dinda
" Kalau itu aku juga sependapat sama kamu Din,, aku juga nggak pernah liat Dino pecicilan sama cewek-cewek di sekolah ini " Devi membenarkan
" Apa mungkin si Dino udah ada cewe? " Dewi mengeluarkan pertanyaan nya
" Nggak mungkin Wi, soalnya Dewa sering banget main bareng sama Dino, hampir tiap hari malah, dan Dewa pernah bilang kalau Dino tuh nyaris nggak pernah dekat dengan cewek " Dinda menjelaskan
" Atau mungkin Dino tuh impoten? " Devi memberi kalimat yang tak masuk akal
__ADS_1
" Hus,, nggak mungkin lah Dev, masa cowok semacho itu Impoten " Dinda kesal sendiri
Delia terkikik geli, sebab ke dua sahabatnya gemar menggoda sahabatnya yang lain
" Yaudah, mending kamu jujur aja Din tentang perasaan kamu ke Dino, mana tau Dino juga suka sama kamu " Delia memberi saran
" Nggak lah Del, aku masih terlalu malu untuk itu, lagian mana ada sih cewek nembak duluan " kata Dinda
" Udah jamannya sekarang Cewek naksir duluan Di" kata Dewi
" Atau mau pake perantara nih, aku siap jadi perantara kok " Devi memberi saran
Namun Dinda kekeh menolak, Dinda ini beda-beda tipis sifatnya sama Delia, mereka berdua lebih memiliki rasa malu yang tinggi, dan sangat pandai menyembunyikan perasaan. Berbeda dengan Devi dan Dewi, dua gadis ini sangat berisik dan bar-bar, bahkan dua gadis ini lebih memilih untuk mengungkapkan atau menunjukkan rasa ketertarikan atau rasa tidak suka nya pada orang lain.
*
Sore hari.
Delia dan Misha sedang serius mengerjakan tugas sekolah, tepatnya Delia membantu Misha untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Pembawaan Delia yang tenang dan begitu sabar mengajari anak seusia Misha, membuat Misha betah dan cepat tangkap dalam menerima penjelasan dari Delia yang terdengar lebih sederhana dalam menyampaikannya.
" Kak,, tau nggak matematika ini sudah banget kalau Misha kerjain di sekolah, tapi kalau kak Delia yang jelaskan kok Misha bisa mengerti ? "
Delia tersenyum
" Mungkin kamu ngantuk di sekolah "
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah, dan terdengar seorang wanita sedang memberi salam.
" Kayaknya ada tamu deh " kata Delia
" Orang minta sumbangan mungkin Kak " balas Misha asal
" Bentar yah, Kakak ke depan dulu, Misha kerjaan aja tugas yang menurut Misha gampang "
Delia berlalu, dan menghampiri seseorang yang ia sangka adalah tamu.
Namun hal yang membuatnya tercengang saat membuka pintu adalah sosok wanita yang sangat ia kenal.
" Loh, Dewi "
" Hai, Del,, aku mampir nih heheheh "
Delia meneliti penampilan Dewi dari atas hingga ke bawah, nampak berbeda sebab teman sekolah nya itu terlihat lebih dewasa cara berpakaian nya. Yang membuat fokus Delia terhenti adalah, apa yang ada di tangan gadis itu. Dewi memegang kotak yang mungkin isinya adalah cake atau makanan lain.
" Kamu memang mau kesini atau memang kebetulan lewat ? " tanya Delia
__ADS_1
"Hem,, aku nggak di persilahkan masuk nih ? "
" Eh, iya ... masuk dulu Wi heheh "
Mereka duduk di ruang tamu, Dewi meletakkan kotak bawaan nya di atas meja.
" Nih, aku buat cake tadi, dan aku sengaja bawain ini buat kamu dan orang rumah, Dan mana tau Om Dika suka heheh " akhirnya tersampaikan juga maksud Dewi datang secara tiba-tiba di rumah itu.
" Hem,, jadi ini buat aku apa Om Dika ? " tanya Delia menggoda
" Yah, buat kamu Om Dika dan semua yang ada di rumah ini dong " jawab Dewi
tak lama keduanya mengobrol, Dika masuk sambil mengucap kan salam. Kedua gadis itu menjawab salam secara bersamaan.
Dika terhenti sebab melihat ada tamu.
" Hai, Om Dika,, baru pulang yah ? " tanya Dewi basa-basi
" Iya,, kamu sendiri ? " balas Dika juga basa-basi, hal itu membuat Dewi senang, sebab ia mendapat respon baik dari incaran nya
" Iya, Om... aku juga bawa kue,, semoga aja Om suka " kata Dewi
" Oh, makasih yah,, entar Om cicipi, Om masuk dulu yah, kalian ngobrol aja " kata Dika langsung berlalu
"Iya Om " balas Delia dan Dewi bersamaan
Delia menaikkan sebelah alisnya melihat Dewi yang tak berhenti tersenyum sejak kedatangan Om Dika tadi.
" Kamu kenapa Wi ? " tanya Delia
" Ya, ampun Del,, Om kamu tuh cakep bangat kalau pas pulang kerja, mana ramah banget lagi sama aku,, kayaknya Om Dika sudah mulai buka hati deh sama aku " kata Dewi kepedean
Delia memutar bola matanya malas.
" Om Dika emang begitu Wi, Om Dika tuh ramah sama semua orang " kata Delia
" Masa sih Del,, berarti aku sama Om Dika tuh serasi dong... soalnya aku juga ramah banget sama orang orang hehehe "
Delia terdiam, ia hanya merespon sebisanya saat Dewi bercerita tentang ketertarikan nya pada Om Dika. Sesekali ia mencicipi kue yang Dewi klaim adalah hasil olahannya. Dan dari rasanya, Delia bisa pastikan bahwa kue itu memang buatan Dewi, sebab rasanya hanya biasa saja, dan Delia yakin kue ini Dewi buat atas bantuan orang lain juga, sebab ia tahu, bahwa Dewi adalah gadis yang paling anti dengan pekerjaan dapur.
" Kira- kira aku udah cocok belum jadi Ibu sambung nya Misha ?"
Delia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia tak ingin memberi jawaban yang membuat Dewi semakin berharap. Bagaimana pun ia tahu bahwa yang Dewi impikan akan sulit tercapai.
Andai kamu tahu Wi,, secantik dan semenarik apapun kamu, Om Dika tidak akan pernah tertarik padamu bahkan pada gadis manapun......
__ADS_1
-
jangan lupa like and komen yah....