
Dalam perjalanan Delia tak henti-hentinya menebarkan senyuman bahagia. Hari ini meski sempat di liputi rasa haru karena tengah bersedih sebab berpisah dari warga desa yang selama ini baik kepadanya dan juga teman-temannya selama menjalankan masa KKN disana. Namun tak bisa dipungkiri juga bahwa separuh hatinya yang lain sangat bahagia. Sejak kemari kemarin ia menantikan hari ini. Hari dimana ia akan bertemu kembali dengan sang pujaan hati setelah beberapa bulan terpisah.
" Dari tadi senyum aja Del, senang yah bisa pulang? " Dewi bertanya sebab dari tadi ia tak hentinya memperhatikan sahabat nya itu.
Delia tersenyum dulu sebelum menjawab "Yah senanglah Wi, memang kamu tidak senang apa bisa kembali ke kota? " katanya
" Senang dong Del,, tapi senyum kamu aku liat beda, seperti ada sesuatu gitu " ujar Dewi, meski ia sebenarnya tahu perasaan Delia sekarang seperti apa, tetap saja ia ingin menggoda sahabatnya itu. Yah, setidaknya mengusir sedikit kebosanan sebab bus yang mereka tumpangi sudah membelah jalan raya dan akhirnya melaju dan melewati beberapa kecamatan.
" Apaan sih,, nggak ada yah,, biasa aja tuh " sangkal Delia
" Ah, pake bohong segala,, muka kamu kebaca loh Del " kata Dewi
" Kebaca gimana? " tanya Delia
" Yah, kebaca aja kalau kamu sangat senang kembali ke kota dan bisa bertemu dengan Ayahnya Misha " Delia merasa malu sebab isi hatinya di ketahui oleh sahabat nya, wajahnya sudah sedikit memerah. Hal itu membuat Dewi terkikik lucu.
" Apaan sih Wi " Delia masih saja menyangkal
" Ciee... Ngaku aja sih Del, sama sahabat sendiri kok main rahasia " kata Dewi
Delia hanya tersenyum tak menanggapi. Baginya tak perlu lah mengumbar perasaan nya. Dan memang Delia ini tipikal cewek yang susah mengumbar rindu pada orang lain. Ia akan terlihat biasa saja jika sedang memendam rindu. Bahkan rasa sayang dan cinta nya tak pernah ia agung-agungkan di hadapan semua orang termasuk sahabatnya. Delia merasa biarlah rahasia itu hanya Delia yang tahu dan ia akan menunjukkan rasa itu kepada orang dimana ia menaruh hati.
Dan dalam perjalanan yang cukup panjang itu Delia berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Dewi dan Delia membahas apa saja termasuk tugas-tugas mereka yang akan mereka kerjakan setelah tiba dan kembali aktif kuliah lagi. Dan beruntung Sahabatnya yang lain Devi dan Dinda sedang melakukan panggilan video call. Dan itu sangat membuat Dewi dan Delia merasa senang. Bahkan ke empat sahabat itu menghabiskan waktu dua jam untuk berbicara lewat sambungan vidio call.
Haripun sudah gelap. Tinggal beberapa menit lagi Bis yang membawa Delia dan lainnya telah mamasuki area kampus.
Mobil Dika sudah terpakir rapi di halaman kampus. Yah, Dika datang sejam yang lalu, ia sengaja datang lebih awal sebab ia tak mau membuat Delia menunggunya.
Dika tersenyum lebar saat melihat ada bus yang sudah berhenti di halaman kampus yang jaraknya hanya beberapa meter dari mobilnya. Dan tanpa pikir panjang Dika langsung turun dari mobilnya.
Ia sudah gelisah menanti dan mengawasi mahasiswa yang turun satu per satu dari atas bus. Dan akhirnya senyumnya makin mengembang saat melihat gadis yang ia nantikan sejak tadi akhirnya turun dari atas Bus.
__ADS_1
Dika bernafas legah, akhirnya sang calon istri tiba dengan selamat. Dan seperti nya gadis pujaannya itu sehat sehat saja.
" Hon " Teriak Delia sambil melambaikan tangan kepadanya. Dikapun melakukan hal yang sama.
Delia berlari ke arah Dika, tak ada Dewi di sisi gadis itu, sebab Dewi sudah turun sejak tadi, karena arah ke kampus jelas melewati rumah Dewi.
Dika dan Delia saling berhadapan dan saling pandang untuk beberapa saat. Seperti mereka sedang berbicara melalui mata.
" Akhirnya kamu pulang juga Bi " ujar Dika akhirnya
" Iya, akhirnya tiga bulan berlalu, dan aku bisa bersama kamu lagi Hon " balas Delia
Mungkin jika ini bukan di tempat umum, mereka sudah berpelukan sejak tadi. Namun mereka masih punya rasa malu untuk tidak mempertontonkan kemesraan mereka di tempat umum.
" Kita pulang sekarang " Dika langsung menarik Delia masuk kedalam mobil, setelah menarub koper gadis itu di dalam bagasi.
Mobil Dika sudah keluar dari area kampus. Namun entah apa yang terjadi baru berjalan beberapa meter saja, Dika mendadak menepikan mobilnya.
Namun Dika tak menjawab, pria itu hanya sibuk memandangi Delia dengan tatapan yang tak terbaca yang membuat Delia salah tingkah.
" Ada apa Hon? " tanya Delia lagi
" Apa kamu tahu Delia,, kalau aku sangat merindukan kamu " ujar Dika.
Delia bernafas legah, ia pikir calon suaminya itu kenapa.
" Astagah Hon,, aku pikir kamu kenapa,, aku jug-"
Belum sempat Delia melanjutkan ucapannya, tubuh gadis itu sudah di tarik dan kini sudah berada dalam dekapan Dika.
" Aku tahu Bi.... aku tahu bahwa kita sedang menanggung rindu yang begitu besar, maka dari itu aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak memelukmu " ujar Dika
__ADS_1
Nyaman? Tentu saja nyaman. Delia merasa tak ingin lepas dalam dekapan hangat itu.
Dika memang benar, bahwa mereka berdua sedang bertaruh rindu untuk waktu yang cukup lama. Dan saat ini, tidak ada yang salah jika mereka ingin membalas rindu itu.
Beberapa menit akhirnya Dika melepaskan pelukan itu lebih dulu. Mereka berdua saling beradu pandang seolah tak ingin melihat wajah yang lain selain mereka saja.
Dika mengamati wajah Delia yang tak ada perubahan, malah makin cantik di matanya. Perlahan ia memandangi bibir ranum yang selalu berwarna merah jambu meski tanpa polesan lipstik. Tak tahan akhirnya Dika membenamkan ciuman disana.
Delia tak terkejut, sebab ia sudah tahu apa yang memang Dika akan lakukan. Ia malah ikut menikmati ciuman itu yang semakin lama semakin dalam.
Satu menit dua menit tiga menit, akhirnya pangeran itu terlepas. Dika meletakkan keningnya tepat di kening Delia. Saling menarik nafas yang ternyata sudah habis oleh dahsyat nya pangutan mereka tadi.
" Hon "
Dika melakukannya sekali lagi, ia tak membiarkan Delia berbicara sepatah katapun. Baginya ini cara menunjukkan rasa rindunya yang kemarin terpendam.
Dan dengan terpaksa Delia kembali menikmati serangan yang memabukkan itu. Meski ada rasa ingin melakukan hal yang lebih dari itu. Namun Dika berusaha untuk mengontrol pikiran kotor nya. Ia tak mau merusak Delia dan kepercayaan Bunda, walaupun ada sesuatu di dalam sana yang terasa sesak dan meminta untuk di bebaskan.
Sama halnya Delia, bohong jika saat ini ia tak tergoda, bahkan ia lebih di rasuki oleh hawa nafsu. Ia sudah berpikir jika Dika saat ini meminta lebih, maka ia akan memberikan nya dengan ikhlas.
Ciuman itupun lagi lagi terlepas. Mereka lagi lagi saling menatap
" Aku tidak bisa menahannya lagi Bi " kata Dika parau
" Maksudnya? " tanya Delia
" Cukup sudah,, besok kita akan menikah " jawab Dika.
" Eh ? "
_
__ADS_1